Sleep Disorder Clinic - Jakarta

Gaya Hidup yang Merampas Tidur

Suatu pagi Anda bangun dari tidur dengan rasa lelah dan penat. Semalam, entah kenapa Anda menghabiskan bayak waktu bolak balik di atas ranjang tanpa bisa tertidur. Mungkin dibutuhkan waktu hingga 2 jam, baru terlelap mimpi. Padahal hari sebelumnya Anda lalui dengan sibuk dan melelahkan. Orang yang lelah seharusnya mudah tidur bukan?

Ternyata tidak demikian. Selain stres banyak faktor-faktor lain yang mempengaruhi proses tidur kita. Berikut adalah beberapa kebiasaan atau gaya hidup yang dapat memperpanjang kondisi terjaga.

Stimulan

Minuman berkafein dan alkohol. Di Indonesia kebiasaan minum alkohol tidak begitu populer. Tetapi sebagian orang beranggapan bahwa dengan minum alkohol akan mempermudah tidur. Ini ada benarnya, tetapi begitu tidur efek alkohol justru membuat tidur tidak dalam. Akibatnya kualitas tidur seseorang jadi buruk. Sedangkan minuman berkafein sudah terlanjur menjadi minuman sehari-hari. Tak jarang, banyak orang yang bergantung pada kafein untuk menopang produktivitasnya. Padahal, kafein hanya akan menyingkirkan rasa kantuk tanpa meningkatkan kemampuan otak. Jalan terbaik sebenarnya adalah dengan mengatur tidur dan pola konsumsi kafein. Kafein akan bekerja selama 9-15 jam di badan kita. Untuk itu batasi konsumsinya hingga 12-15 jam sebelum tidur. Minuman yang mengandung kafein antara lain kopi, teh, cola dan berbagai minuman berenergi.

Olah raga

Berolah raga di malam hari juga sudah menjadi kebiasaan masyarakat perkotaan. Entah karena menunggu macet, atau dengan alasan kesibukan, banyak orang baru sempat berolah raga di malam hari. Padahal jarak waktu selesai berolah raga dan tidur yang ideal adalah 3 jam. Dengan berolah raga memang tubuh akan terasa capek, tetapi adrenalin akan meningkat. Adrenalin akan membuat kita lebih terjaga. Akibatnya walaupun badan terasa lelah, otak seolah tak mau berhenti beristirahat.

Olah raga memang menjadi faktor penting demi menjaga kesehatan dan penampilan. Tapi olah raga saja ternyata tidak menjamin kesehatan seseorang. Sesuai dengan konsep The Triumvirate of Health, untuk mencapai kesehatan yang paripurna, dibutuhkan tiga komponen penting, yaitu kebugaran fisik (olah raga), keseimbangan nutrisi dan tidur yang sehat. Tidur yang sehat juga akan meningkatkan produktivitas.

Kebiasaan Tidur


Kebiasaan tidur yang baik akan menjamin tidur yang nyaman. Biasakan untuk tidur diwaktu-waktu yang sama. Dengan demikian Anda telah men-set jam biologis untuk beristirahat. Setelah terbiasa, kantuk akan datang dengan sendirinya pada jam-jam tersebut. Sebaliknya, jam tidur yang tidak teratur akan mengacaukan pola tidur Anda.

Tidur tanpa persiapan akan merampas tidur. Siap untuk tidur bukan hanya mengantuk saja. Siap untuk tidur adalah mengantuk dan rileks. Padahal banyak orang yang demi produktivitas, ingin terus bekerja hingga kantuk tak tertahankan lagi. Akibatnya mereka merasa lelah tanpa bisa memejamkan mata. Setengah jam atau lima belas menit sebelum tidur, lepaskan semua pekerjaan dan aktivitas yang terlalu menyibukkan mata serta pikiran. Televisi termasuk didalamnya. Lalu lakukan aktivitas yang menyenangkan dan menenangkan. Sekedar membaca atau melakukan perawatan kulit. Setelah merasa cukup santai dan mengantuk, barulah naik ke tempat tidur.

0 Comments

Ngorok dan Serangan Jantung di Malam Hari

Sebuah berita menyedihkan masuk ke dalam inbox pagi ini. Seorang rekan meninggal pada pukul 1.00 dini hari karena diduga terkena serangan jantung. Meskipun tidak didapati kronologis yang jelas, berita ini mengingatkan saya pada gangguan tidur bernama sleep apnea. Keprihatinan saya langsung terarah ke masyarakat Indonesia yang belum menyadari bahaya sesungguhnya dari tidur mendengkur (ngorok).

Mendengkur, disertai dengan kantuk berlebih merupakan dua gejala utama dari Obstructive Sleep Apnea. Sleep apnea, berarti henti nafas saat tidur, merupakan penyebab hipertensi, diabetes, berbagai gangguan jantung dan stroke.

Saat tidur, saluran napas kita melemah hingga menyempit. Saat menyempit inilah aliran udara terhambat sehingga menggetarkan dinding saluran nafas yang lembek. Ini yang menyebabkan suara dengkuran yang mengganggu. Dalam proses tidur selanjutnya, jalan napas yang melemas ini dapat menyempit total hingga mengakibatkan sumbatan jalan napas. Walaupun dada dan perut masih bergerak berusaha menarik napas, sesungguhnya tidak ada udara yang dapat lewat sehingga dikategorikan sebagai henti napas. Akibatnya, kerja jantung yang seharusnya berdenyut santai pada saat tidur jadi berat. Belum lagi akibat gangguan metabolisme yang meningkatkan kekentalan darah.

Bulan Juli 2008, sebuah penelitian yang diterbitkan pada Journal of the American College of Cardiology, menyarankan agar orang-orang yang pernah mengalami serangan jantung saat tidur harus diperiksakaan kemungkinan mereka menderita sleep apnea.

Dari 92 orang pasien yang pernah mengalami serangan jantung, melalui pemeriksaan tidur, didapati 64 diantaranya menderita sleep apnea. Pasien yang menderita sleep apnea ataupun tidak, memiliki latar belakang pengobatan yang mirip. Yang menarik, waktu terjadinya serangan jantung pada kedua kelompok ini amatlah berbeda. Pasien yang menderita sleep apnea memiliki kemungkinan 6 kali lebih besar untuk mengalami serangan jantung di antara tengah malam hingga pukul 6 pagi. Sedangkan, pasien yang tidak menderita sleep apnea (tidak ngorok) kemungkinan besar mengalami serangan jantung antara pukul 6 pagi hingga sore hari. Jelasnya, pasien yang terkena serangan jantung antara tengah malam hingga jam 6 pagi, 91%-nya adalah penderita sleep apnea!

Dr. Virend Somers dari Klinik Mayo, peneliti senior pada penelitian ini mengatakan bahwa ia mengamati adanya perubahan EKG (rekam irama jantung) saat tidur pada penderita sleep apnea, yang menunjukkan bahwa jantung tidak mendapat suplai darah yang cukup saat tidur. Hingga ia berkesimpulan bahwa sleep apnea dapat menjadi pemicu serangan jantung di malam hari. Meskipun belum dapat dibuktikan secara nyata, melihat bukti-bukti yang ada, beliau tetap menyarankan agar setiap orang yang pernah mengalami serangan jantung di malam hari untuk diperiksakan sleep apnea-nya.

0 Comments

Yang Mendengkur Jangan Mengendara!

Sebuah penelitian yang diterbitkan pada the Annals of Internal Medicine, menunjukkan bahaya mengendara bagi penderita sleep apnea. Kelompok peneliti dari Australia tersebut menyatakan bahwa penderita sleep apnea yang tidak dirawat lebih rentan terhadap alkohol dan kekurangan tidur dibanding orang sehat yang tidak mendengkur, sehingga memiliki resiko tinggi untuk mengalami kecelakaan lalu lintas.

Sleep apnea adalah sebuah gangguan tidur yang ditandai dengan tidur mendengkur dan rasa kantuk berlebih (hipersomnia). Penderita sleep apnea mengalami penyempitan saluran nafas sehingga nafasnya terhenti berulang kali sepanjang malam. Karena sesak, otak penderita akan terbangun-bangun tanpa terjaga. Akibatnya ia merasa kantuk tanpa mengetahui penyebabnya. Sayangnya henti nafas ini, di mata orang awam hanya dikenali sebagai ngorok atau mendengkur.

Efek kantuk yang disebabkan sleep apnea tidak dapat dianggap remeh. Sebuah laporan di Amerika menyatakan angka kematian hingga 1.400  per tahunnya disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas yang berkaitan dengan penderita sleep apnea. Sedangkan di Inggris disebutkan bahwa penderita OSA (obstructive sleep apnea), mengalami kecelakaan lalu lintas 2 sampai 7 kali lebih sering dibanding orang lain.

Pada penelitian terbaru, kemampuan mengendara diujikan pada 38 penderita sleep apnea yang tidak dirawat dan 20 peserta normal. Penelitian tersebut juga menguji ketahanan penderita terhadap kekurangan tidur dan alkohol. Kedua faktor ini diketahui sebagai faktor utama yang menurunkan kemampuan mengendara seseorang.

Awalnya pengemudi yang menderita sleep apnea mengalami kesulitan untuk tetap berada di jalurnya. Bahkan kebanyakan mengalami tabrakan selama 90 menit pengujian.

Kemampuan mengendara penderita OSA semakin memburuk setelah tidur hanya 4 jam malam sebelumya. Begitu pula setelah mengonsumsi alkohol hingga kadarnya di darah mencapai 0,05 (masih dalam batas legal di Australia.)

Setelah mengalami kekurangan tidur, 12 penderita sleep apnea mengalami tabrakan, sementara 8 orang lainnya mengalami hal yang sama setelah minum alkohol. Padahal pengendara yang sehat sama sekali tidak mengalami kecelakaan.

Dalam kondisi normal, 4 penderita sleep apnea mengalami kecelakaan, dibandingkan hanya satu orang dari kelompok peserta yang sehat.

Peneliti utama dari Adelaide Institute for Sleep Health, Andrew Vakulin, mengatakan bahwa, mengendara dalam keadaan kurang tidur atau setelah minum alkohol sudah cukup berbahaya bagi siapa pun. Tapi penemuan terkini mendapati bahwa penderita sleep apnea harus jauh lebih hati-hati lagi. Terutama jika mereka akan mengemudi lebih dari satu jam.

Sementara penelitian-penelitian sebelumnya telah menunjukkan peningkatan dalam keselamatan berkendara pada penderita sleep apnea yang telah dirawat.

Di negara-negara maju, kesehatan tidur dan keselamatan mengendara sudah amat diperhatikan. Inggris misalnya, semua pengendara yang diketahui mendengkur harus melaporkan dirinya pada Driver & Vehicle Licensing Agency (DVLA). Menurut peraturan di sana, jika seorang pengemudi terdiagnosa atau terduga menderita sleep apnea, ia tidak diperbolehkan mengendara sampai gejala kantuknya berkurang dan telah dikonfirmasi oleh tenaga medis. Bahkan pengendara kendaraan umum yang menderita sleep apnea harus diperiksa ulang secara berkala demi keselamatan penumpangnya. Ada pun perawatan utama sleep apnea adalah dengan menggunakan Continuous Positive Airway Pressure (CPAP).

Kematian akibat sleep apnea dapat terjadi disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas maupun kecelakaan kerja. Tetapi bukan itu saja, para ahli kesehatan tidur juga mengingatkan bahwa sleep apnea juga menjadi penyebab hipertensi, gangguan jantung, diabetes dan stroke, yang kesemuanya dapat meningkatkan resiko kematian seseorang.

 

 

0 Comments

Olah Raga, Diet dan Tidur

Berbagai informasi di sekeliling menyarankan agar kita menjaga kesehatan dengan berolahraga rutin dan makan makanan yang sehat. Bahkan teman-teman di ‘gym’ pun terus mengingatkan hal yang sama, kurangi makanan berlemak, jangan yang manis-manis, lakukan kardio… dan lain sebagainya. Tapi nyatanya, banyak dari kita sudah bersusah payah menjaga makan dan terus nge-’gym’ masih saja merasa tak bersemangat, cepat lelah dan sulit menurunkan berat badan.

 

Ada sesuatu yang kurang, dan itu adalah tidur. Ya, kita kurang memperhatikan tidur kita. Dengan tidur yang sehat (cukup dan berkualitas) kita bangun dengan segar, bugar dan penuh semangat. Kita pun tahu bahwa semua makhluk hidup membutuhkan tidur. Sedemikian pentingnya proses tidur, hingga bayi yang baru lahir menghabiskan 22 jam sehari dalam kondisi tidur. Ini untuk menjamin proses tumbuh kembang yang normal. Dan tahukah Anda, bahwa sistem daya tahan tubuh kita hanya bekerja optimal pada saat tidur? Ya, sehingga prlu diingat, segala macam vitamin yang kita berikan pada putra-putri kita akan percuma saja jika tidurnya kurang.

 

Tidur dan Obesitas

 

Masalah tidur yang paling berbahaya saat ini adalah sleep apnea, atau henti nafas saat tidur, yang ditandai dengan mendengkur dan kantuk berlebih. Kita juga juga tahu bahwa orang yang gemuk rata-rata tidur mendengkur. Tapi nanti dulu, bagi ras Asia (termasuk Indonesia) tidak perlu gemuk untuk menderita sleep apnea. Ini disebabkan oleh struktur rahang yang sempit dan leher yang pendek pada orang Asia. Henti nafas saat tidur, akan menyebabkan penderitanya terbangun-bangun (tanpa tersadar) dalam tidur. Akibatnya ia akan selalu berada dalam kondisi kurang tidur, walaupun sudah tidur cukup. Tak heran jika penderitanya mudah sekali mengantuk.

 

Kondisi kurang tidur, baik karena kualitas tidur yang buruk atau jam tidur yang kurang, memiliki nafsu makan yang tinggi. Ini disebabkan oleh menurunnya kadar leptin (hormon pengontrol nafsu makan.) Belum lagi pengaruh kondisi kurang tidur yang menyebabkan seseorang jadi malas untuk berolah raga. Ini menjadi semacam lingkaran setan. Dan untuk memutusnya, sleep apnea harus diatasi terlebih dahulu. Setelah kualitas tidur diperbaiki, akan lebih mudah bagi seseorang untuk menurunkan berat badan.

 

Berbagai penelitian juga menunjukkan bahwa perawatan sleep apnea akan memperbaiki kondisi kesehatan seseorang. Sleep apnea telah lama dihubungkan dengan hipertensi, gangguan jantung dan stroke. Bahkan di bulan Juni 2008, IDF (International Diabetes Federation) sudah menyarankan agar semua pasien diabetes tipe 2 diperiksa tentang kemungkinan sleep apnea. Caranya, mudah saja, tanyakan kebiasaan mendengkur!

 

Bagaimana dengan Anda sendiri? Untuk beraktifitas sehari-hari, berapa cangkir kopi yang harus Anda minum? Bagaimana dengan minuman berenergi? Coba pertimbangkan. Semakin Anda merasa lelah, semakin banyak kafein yang Anda butuhkan. Dan bukan saja kafein, pendampingnya seperti gula atau pemanis artifisial juga sudah menjadi konsumsi sehari-hari. Bahkan anak remaja pun minum minuman Cola sebagai pelengkap makan. Ini tentu kurang sehat. Semakin banyak kafein yang diminum, semakin terganggu juga tidur kita di malam hari. Ini menciptakan lingkaran setan yang lain. Kafein akan memberi pengaruh 9-15 jam. Untuk itu, aturlah konsumsi kafein. Nikmati kafein dengan aman, yaitu kira 12 jam sebelum tidur.

 

Olah raga dan Tidur

 

Semua orang sudah tahu manfaat olah raga bagi kesehatan. Dengan olah raga yang teratur, seseorang menjadi sehat, bugar, ‘alert’ dan penuh vitalitas. Penderita sleep apnea yang sudah dalam perawatan pun tetap dianjurkan untuk berolah raga. Tetapi untuk mendapatkan manfaat maksimal berolah raga, seseorang harus mengatur ‘timing’-nya dengan baik. Jarak waktu yang dianjurkan adalah tiga jam.

 

Banyak orang yang berpendapat bahwa dengan berolah raga, tubuh akan merasa lelah sehingga mudah tidur. Ini tidak sepenuhnya benar, saat olah tubuh adrenalin akan meningkat kadarnya dalam darah. Akibatnya walaupun tubuh capek, pikiran kita tetap segar sehingga menyulitkan untuk tidur. Penelitian Prof. Livingston juga menunjukkan hubungan antara suhu inti tubuh dengan tidur. Menjelang tidur, suhu inti tubuh akan menurun. Olah raga akan meningkatkan suhu tubuh, sehingga kita memerlukan waktu untuk menurunkannya sebelum tidur.

 

Celakanya, banyak pusat kebugaran yang buka hingga larut malam. Banyak juga manusia modern yang berolah raga di malam hari karena berbagai alasan seperti baru sempat, menunggu macet atau untuk membantu tidur. Padahal waktu yang paling tepat untuk berolah raga adalah di pagi atau sore hari. Olah raga di malam hari, akan mempersulit tidur. Pada beberapa orang, karena beban utang tidur, ia masih dapat tidur setelah berolah raga, tapi kualitas tidur akan berkurang. Tak heran jika ia nantinya masih merasa lelah setelah tidur cukup.

 

Hanya tidurlah yang mampu meningkatkan kemampuan kognitif, mental dan emosional. Tidak ada satu zat pun yang dapat menggantikan tidur. Artinya, kemampuan konsentrasi, analisa, kreativitas dan ketelitian kita amat bergantung pada tidur malam sebelumnya. Tidur bukanlah suatu sikap kemalasan. Justru tidur yang sehat akan meningkatkan produktivitas kita.

 

**************

 

Prof. Dement, bapak kedokteran tidur, mengemukakan konsep kesehatan yang disebut Triumvirate of Health. Dimana untuk mencapai kesehatan yang paripurna kita perlu memperhatikan tiga faktor: keseimbangan nutrisi, olah raga teratur dan Tidur yang sehat!

 

0 Comments

Peluncuran Buku

Peluncuran Buku tentang Kesehatan Tidur "Ayo Bangun! dengan Bugar karena Tidur yang Benar."

 

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

 

0 Comments

Healthy Life Metro TV

Di Sonora

Bersama Trans7

 

 

 

 

 

 

0 Comments

Istirahat Dulu, Ngopi Kemudian

Tidak ada satu zat pun yang bisa menggantikan tidur.

Heru Triyono, Koran Tempo, 24 September 2009.
Link: http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2009 /09/24/Gaya_Hidup/krn.20090924.177089.id.html" title="http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2009 /09/24/Gaya_Hidup/krn.20090924.177089.id.html" target="_blank"http://www.korantempo.com/kor...

Entah firasat buruk apa yang merundung Andreas Prasadja pagi itu. Tiga kecelakaan sepeda motor secara berentetan terjadi di depan mata-kepalanya sendiri. Mulai perjalanan dari rumahnya di Cikini sampai tempat kerjanya di Kemayoran--dia melihat kejadian--peristiwa nahas itu terjadi di dekat Gambir, di Jalan Garuda, dan di Kemayoran.

Peristiwa ini terjadi pada pekan pertama Ramadan lalu. Menurut dia, sebagai ahli kesehatan tidur dari Rumah Sakit Mitra Kemayoran, rasa kantuk menjadi musabab rentetan kecelakaan tersebut.

Andreas, yang merupakan dokter kesehatan tidur pertama di klinik tidur pertama di Indonesia, menjelaskan, di bulan puasa banyak orang yang terlilit utang tidur karena mereka fokus menjalani ritual ibadah selama satu bulan penuh.

Dalam konteks mudik dengan berkendara sepeda motor atau mobil tentu saja sangat berbahaya bagi si pengendara dan orang lain. "Sayangnya, persepsi masyarakat bahwa rasa kantuk itu berbahaya sangatlah kurang," ujar Andreas saat berbincang-bincang lewat telepon dengan Tempo Rabu pekan lalu.

Maka para pemudik harus memperhatikan kesehatan tidur sebelum mereka berkendara. Persiapkan dengan baik, mulai kondisi kendaraan dan kelengkapannya, hingga bekal makanan dan minuman berenergi--seperti kopi--demi menjaga stamina selama perjalanan jauh.

Dan jangan lupa tidur yang cukup sebelum berangkat. Sebab, menurut dokter berkacamata, ini tidak ada satu zat pun yang bisa menggantikan tidur--termasuk dengan minum kopi.

Saat mengantuk, segala fungsi yang diperlukan untuk berkendara bakal menurun drastis. Termasuk fungsi paling penting, yakni kemampuan refleks menghadapi kemungkinan kecelakaan. Kala itu pengendara mulai menguap untuk menarik lebih banyak oksigen ke otak. Mata pun mulai terasa pedih dan berair. Ini adalah tanda awal kantuk.

Untuk menyiasatinya, para pengendara menenggak kopi atau minuman berenergi. Dan rasanya, zat kafein berhasil sementara dalam menjaga kesadaran dan kesegaran mata.

Namun, Andreas menjelaskan bahwa kondisi yang dipulihkan kopi tersebut tidak menyentuh ihwal kewaspadaan dan kemampuan refleks. "Yang bagus adalah istirahat sejenak lalu melanjutkan perjalanan setelah minum sedikit kopi atau minuman berenergi."

Selesai istirahat sejenak bukan berarti risiko mengantuk sirna begitu saja. Saat perjalanan semakin jauh, bahaya tetap mengintai ketika tanpa sadar pengendara sudah masuk dalam periode tidur mikro yang ditandai dengan antukan kepala. Dalam banyak kasus, banyak pengendara mobil atau motor yang ditinggal tidur oleh penumpang lainnya, sehingga sang pengendara tidak punya pengalihan akan rasa kantuknya. "Seharusnya ada salah satu penumpang (di mobil) yang menemani," kata Andreas.

Dari rasa lelah dan kantuk yang tak tertahankan itu, banyak pengendara yang lupa akan perjalanan yang mereka lalui selama 10-15 menit terakhir. Namun, pada umumnya mereka tetap meneruskan perjalanan dengan tenang.

Andreas memaparkan bahwa saat berkendara dengan rasa kantuk berat sebenarnya ada sebuah mekanisme otomatis yang membimbing mereka. "Tetapi saat itu otak sebenarnya sudah tertidur, sudah shutdown, dan pengendara menyetir pure dengan insting," dia menjelaskan.

Lebih jauh, berkendara--siang maupun malam hari--sama berisikonya. Dengan kelelahan hari raya dan utang tidur yang menumpuk, kantuk akan tetap menyerang dengan intensitas yang sama. Namun, menurut Andreas, manusia itu adalah makhluk cahaya yang beraktivitas di siang hari dan istirahat di malam hari. Semua diatur oleh jam biologis yang menentukan kapan beraktivitas dan kapan harus beristirahat. Bila orang beraktivitas di saat seharusnya istirahat, jam biologis secara otomatis akan mendatangkan kantuk.

Tip dari Andreas, bagi pemudik yang berusia di atas 30 tahun, tidur 15 menit sudah bisa mencukupi satu siklus tidur. Lalu kenali juga gangguan-gangguan tidur yang menyebabkan kantuk berlebih. Seperti sleep apnea (ditandai dengan mendengkur), sindroma tungkai gelisah (kaki gerak-gerak saat tidur), dan narkolepsi atau sleep attack.

Suara musik dari walkman atau speaker mobil tetap tidak efektif memulihkan rasa kantuk. Karena itu, kenalilah tanda-tanda kantuk yang dapat membahayakan. "Berkendara dalam kondisi mengantuk sama bahayanya dengan berkendara sambil mabuk," Andreas mengingatkan.HERU TRIYONO

Tanda-tanda kantuk mulai membahayakan:
- Kehilangan konsentrasi, sering mengerjapkan mata atau mata terasa berat
- Pikiran menerawang
- Sulit mengingat yang telah dilewati, melewatkan rambu atau lampu lalu lintas
- Berulang kali menguap dan mengusap-usap mata
- Sulit menjaga kepala dalam posisi tegak
- Melenceng dari jalur, dan melanggar marka-marka jalan
- Merasa lelah dan mudah emosi

Apakah Anda berisiko? Sebelum berangkat periksa apakah Anda:
- Kurang tidur atau lelah (tidur kurang dari 6 jam memicu risiko 3 kali lipat)
- Menderita insomnia, gangguan tidur yang menimbulkan kualitas tidur buruk (mendengkur), atau menanggung banyak utang tidur
- Melakukan perjalanan jarak jauh tanpa jeda istirahat yang cukup
- Berkendara pada jam-jam tidur
- Mengkonsumsi obat-obatan yang membuat kantuk (antihistamin, antidepresan)
- Bekerja lebih dari 60 jam seminggu (meningkatkan risiko hingga 40 persen)
- Mengerjakan dua pekerjaan sekaligus dan pekerjaan utamanya dengan shift malam
- Meminum minuman beralkohol (walau sedikit)
- Berkendara sendirian atau melewati jalan yang panjang, sepi, dan membosankan

Sebelum berkendara, pengemudi sebaiknya:
- Tidur cukup. Pada orang dewasa 7,5-8,5 jam, sedangkan pada remaja atau dewasa muda (18-29 tahun) 8,5-9,25 jam. Persiapan tidur sebaiknya sudah dimulai, sekurangnya tiga hari sebelum keberangkatan.
- Untuk perjalanan jauh, usahakan jangan berkendara sendirian. Teman seperjalanan dapat membantu melihat tanda-tanda kantuk dan dapat menggantikan untuk sementara waktu. Penumpang sebaiknya tidak tidur dan mengobrol dengan pengendara.
- Hindari alkohol dan obat-obatan yang menyebabkan kantuk.
- Berkonsultasilah pada dokter atau klinik gangguan tidur jika mengalami kantuk berkepanjangan, sulit tidur di malam hari, dan/atau tidur mendengkur.

Sumber: buku Ayo Bangun! dengan Bugar karena Tidur yang Benar (dr Andreas Prasadja RPSGT, ahli kesehatan tidur Sleep Disorder Clinic, RS Mitra Kemayoran)HERU TRIYONO

0 Comments

Seorang Pasien Restless Legs Syndrome



Sekitar seminggu yang lalu saya mendapat konsul dari RS lain di kawasan Kelapa Gading. Di telpon, perawat memberikan keterangan singkat bahwa pasien mengalami gangguan tidur dan sedang dirawat karena permasalahan jantung yang ia derita. Dalam pikiran saya, pasti sleep apnea.

Tapi ternyata, kasus yang dijumpai begitu rumit. Pasien seorang wantia berusia 73 th. dengan riwayat jantung koroner pasca pemasangan ring dua kali dalam setahun kemarin. Suami pasien menceritakan bahwa pasien sudah tidak tidur selama satu tahun! Mana mungkin?!?! Pikir saya. Suaminya sampai merasa ikut tak bisa tidur karena harus menjagai istrinya. Pasien bisa tertidur sejenak untuk kemudian terbangun kaget dan tak bisa tertidur kembali. Ketika ditanya tentang nafas, sang suami menyangkal kalau pasien mendengkur.

Suami pasien juga berpesan agar istrinya jangan diberi obat tidur, karena pernah suatu kali ia tertidur hingga 10 jam tanpa bisa dibangunkan setelah mengkonsumsi sebutir obat tidur.

Pasien tampak lelah tak bersemangat, pandangannya kuyu khas orang yang kekurangan tidur. Ia tak bisa berbaring lama. Ia merasa lelah namun bingung, karena ia mengantuk namun tak bisa tidur. Sebelum tidur ia biasa bermeditasi, tetapi belakangan untuk sekedar duduk diam dan berkonsentrasi pun ia sudah tak sanggup. Sebentar-sebentar ia harus berjalan atau mengurut-urut kakinya.

Ia tampak menggunakan kaus kaki. Saya tanya, apakah ia kedinginan. Tidak, menurutnya ia lebih nyaman menggunakan kaus kaki. Apakah ada rasa tidak nyaman di kaki ibu? Sakit, sebab asam urat yang tinggi.

Dalam wawancara, pasien tampak tertidur sejenak dan tiba-tiba terbangun kembali saat kaki bergerak kaget. Binggo!!!

Kemudian saya jelaskan bahwa ia menderita Restless Legs Syndrome (sindroma tungkai gelisah), berupa gangguan pada saraf kaki yang menyebabkan rasa tak nyaman (bisa sakit, pegal, kesemutan dan lain-lain.) Yang khas, rasa tidak nyaman tersebut baru hilang jika kaki digerak-gerakkan atau dipijat. Akibatnya penderita tidak bisa tidur karena dorongan untuk menggerakkan kaki. Yang merepotkan RLS sering dibarengi dengan PLMS (periodic limb movements in sleep) berupa gerakan periodik kaki seperti terkejut-kejut yang menyebabkan si penderitanya bangun.

Setelah dijelaskan bahwa obat yang diberikan bukanlah obat tidur, pasien mau meminumnya secara teratur sebelum tidur. Keesokan hari, putranya menghubungi saya, setelah setahun tak bisa tidur ibunya telah dapat tidur tanpa terputus selama 2 jam! Ibunya pun merasa jauh lebih segar dan merasa dapat berpikir jernih kembali. Malam-malam berikutnya pun ia dapat tidur dengan lebih baik lagi.

3 Comments

TIDURLAH… DAN JADI LEBIH PRODUKTIF

Tingkatkan kualitas tidur Anda dan dapatkan hasilnya...

Oleh Lucky F. C. Lombu

Banyak orang yang terlanjur memposisikan tidur sebagai aktivitas biasa, yang dilakukan tiap malam. Setelah bekerja seharian, lelah, kemudian tidur. Tapi faktanya, tidur dan segala hal yang menyertainya tidaklah sesederhana meletakkan tubuh di atas kasur. Banyak hal yang bisa mempengaruhi dan dipengaruhi olehnya.

Menurut dr. Andreas Prasadja, RPSGT, ahli kesehatan tidur dari RS Mitra Kemayoran yang juga adalah dokter kesehatan tidur pertama di klinik tidur pertama di Indonesia, kualitas tidur seseorang juga bisa mempengaruhi produktivitasnya. “Saya ingin mematahkan mitos: Tidur identik dengan malas. Salah! Tidur justru produktif,” kata dr. Ade –sapaan akrab dr. Andreas. Menurutnya, kemampuan produktivitas seseorang bergantung pada kualitas tidur. “Tidak ada satu zat pun yang bisa menggantikannya, termasuk stimulan seperti kopi maupun multivitamin. Stimulan hanya menghilangkan rasa ngantuk, tapi tidak menggantikan manfaat tidur,” kata penulis buku Ayo Bangun! Dengan Bugar Karena Tidur yang Benar.

ATASI GANGGUAN TIDUR
Banyak faktor yang membuat Anda tidak bisa tidur dengan mudah. Ingin mengatasinya? Coba baca dan temukan kebenaran –atau kesalahan– dari mitos-mitos berikut ini untuk mendapatkan tidur yang lebih berkualitas lebih baik.

Mitos: Olahraga sebelum tidur, membantu Anda tidur
Anda mengira, olahraga selain akan menambah vitalitas, juga akan membuat Anda lelah. Dengan kata lain akan membantu Anda tertidur. “Itu pendapat yang salah,” kata dr. Ade. “Badan memang capek, tapi dengan berolahraga adrenalinnya naik, sehingga otaknya menjadi semakin segar.”
Solusi: “Misalnya Anda selesai fitnes jam 9 malam. Kalau Anda tidur di atas jam 12 malam, mungkin masih bisa. Tapi kalau seperti saya yang biasa tidur jam 9 atau 10, hasilnya… tidak bisa tidur.” Maka, jagalah jarak waktu antara olahraga dengan jam tidur. Sebaiknya lebih dari tiga jam, menurut dr. Ade.

Mitos: Alkohol membuat Anda tertidur
Alkohol memang bisa membuat Anda tertidur. Atau untuk beberapa kasus lebih tepat disebut teler. Tapi, alkohol juga memiliki efek buruk. Anda tidak akan tertidur pulas, mudah terbangun, dan kepala Anda akan terasa pusing (karena mabok) saat Anda bangun. Alkohol membuat tidur seseorang tidak ‘mulus’, “Malah membuat kualitas tidur Anda menjadi tidak baik,” kata dr. Ade.
Solusi: Untuk menghasilkan tidur yang berkualitas, sebaiknya Anda tidak meminum alkohol menjelang tidur.

Mitos: Mendengkur tanda pulas
Selain rasa kantuk yang berlebih, mendengkur adalah tanda Anda terkena sleep apnea, atau henti napas saat tidur. Dan penyakit ini sangat berbahaya karena bisa menyebabkan hipertensi, diabetes, gangguan jantung, bahkan stroke.
Solusi: “Karena ini masalah yang serius sekali sehingga harus diperiksa,” katanya. Untuk itu, pasien harus menginap di laboratorium tidur. Ia akan ditempeli sensor yang akan merekam gelombangnya ketika ia tidur. Kemudian hasilnya akan diteliti dan diberikan tindakan lebih lanjut.

Mitos: Mendengar musik dan membaca adalah penghantar tidur
Semua hal yang membuat relaks bisa membantu Anda tidur. Tapi ingat, harus benar-benar membuat Anda relaks. Artinya, jika Anda sudah mendengar belasan jenis musik, atau membaca beberapa judul buku tapi Anda tidak relaks, Anda tetap tidak akan tertidur.
Solusi: “Saya selalu membiasakan pasien memiliki kebiasaan sebelum tidur. Sesuatu yang sehat, menyenangkan dan memberi efek relaks,” kata dr. Ade. Dan dengan asumsi orang pada umumnya mudah sekali bosan dengan aktivitas rutin, persiapkan penghantar tidur alternatif setiap harinya.

Mitos: Suhu udara dan cahaya mempengaruhi tidur
Mengenai suhu udara, itu tergantung selera masing-masing. “Tapi soal cahaya, harus gelap. Tidak bisa ditawar.” Alasannya, melatonin, semacam hormon tidur, hanya diproduksi oleh tubuh saat gelap.
Solusi: Sesuaikan suhu udara dengan kondisi yang Anda inginkan, lalu matikan lampu di ruangan Anda, dan tidurlah.

Mitos: Obat tidur tidak baik untuk tidur
Yang paling ditakuti dari obat tidur adalah adiksi dan toleransi. “Adiksi artinya kecanduan, dan toleransi dalam arti badan bertoleransi dengan dosis obat. Sehingga lama kelamaan butuh dosis yang makin tinggi. Di masa tahun 1960-an, jenis obat tidur masih terbatas sekali. Dan memang membuat kecanduan,” katanya.
Solusi: Obat-obatan sekarang, walau tetap ada efek sampingnya, cenderung aman. Untuk itu gunakan obat tidur dalam dosis yang tepat dan dalam pengawasan dokter.

Mitos: Utang tidur Anda bisa dibayar
Kalau hanya kurang setengah jam masih bisa dibayar. Kalau usia 30-an, paling tidur siang hanya 15 menit. Kalau usia 20-an, masih bisa tidur satu-dua jam. Sehingga kalau tidur malam kurang, siangnya masih bisa,” katanya. Hal ini disebabkan karena kemampuan adaptasi seseorang akan semakin menurun seiring bertambahnya usia. Termasuk juga kebutuhan tidurnya.
Solusi: Ketahui berapa lama kebutuhan tidur Anda. Banyak orang menganggap waktu tidurnya sudah cukup, tapi belum tentu benar. Cobalah tidur sampai Anda benar-benar merasa puas. Dan rasakan apakah Anda menjadi lebih produktif.

Mitos: Tidur lebih cepat lebih baik
“Itu hanya mitos!” kata dr. Ade. Misalnya Anda terbiasa tidur di atas jam 12 malam. Dan Anda dipaksa tidur jam 10. “Mana bisa? Ada jam biologis. Jam biologis saya dengan jam biologis Anda belum tentu sama. Jam biologis ini yang menentukan kapan kita segar, kapan kita ngantuk,” lanjutnya
Solusi: Ikuti saja jam biologis Anda.

Mitos: Stres bikin tidur
“Orang stres karena masalah sudah pasti tegang dan tidak bisa tidur,” kata dr. Ade. Tapi kalau stres karena beban pekerjaan yang bertumpuk, ditambah banyaknya beban utang tidur, Anda bisa saja mengantuk. Jadi, Anda mengantuk bukan karena Anda stres, tapi karena kurang tidur.
Solusi: Kendalikan stres Anda. Anda bisa menggunakan metode hipnoterapi untuk membantu memperbaiki kualitas tidur. Tetap, kebiasaan tidur yang baik harus diutamakan. “Ada pasien yang sudah sembuh, tapi kembali melakukan kebiasaan yang buruk. Hasilnya, kembali lagi,” katanya. (NIN)

[Dikutip dari Rubrik Solusi Majalah Men's Health Indonesia edisi Agustus 2009]
 
link: http://www.facebook.com/note....;id=112469360963&ref= mf 

4 Comments

Risiko Kerja Malam Hari

Selasa, 11 Agustus 2009 | 11:00 WIB

KOMPAS.com - Normalnya orang bekerja sejak pagi hingga petang. Malam hari adalah waktu ideal untuk merebahkan raga dan pikiran. Namun, sekarang di banyak kota besar, malam juga cukup benderang untuk beraktivitas.

Selain sekadar hang out atau clubbing, ada juga yang memang harus menekuni profesi, seperti dokter, perawat, penyiar radio, atau wartawan.

"Saya sering kebagian kerja malam di Jumat malam," kata Oky Andrianto, seorang penyiar radio. Awalnya ia susah mengatur tidur. Saat pulang seusai siaran malam, badan biasanya pasti pegal. "Perlu waktu berjam-jam untuk membayar tidur. Dan saat bangun, kepala pusing dan badan terasa lemas," tambahnya.

Oky sempat kena tifus, akibat jam tidurnya tak beraturan. Namun, lama kelamaan tubuhnya dapat menyesuaikan diri. Kerja malam hari memang memiliki risiko gangguan kesehatan. Apalagi sejumlah kecelakaan seringkali terjadi menjelang pagi hari, saat dorongan untuk tidur teramat kuat.

"Mengendara saat mengantuk jauh lebih berbahaya dibandingkan mengendara sambil mabuk. Karena biasanya kita menganggap enteng rasa kantuk," tutur dokter Andreas Prasadja, RPSGT, ahli tidur dari Sleep Disorder Clinic, RS Mitra Kemayoran Jakarta.

Yang perlu diperhatikan adalah kemampuan bekerja. Di waktu-waktu menjelang subuh, biasanya kita sedang amat mengantuk, sehingga kemampuan menganalisis data ataupun monitoring akan terasa sangat berat.

Karenanya, jika memungkinkan, pada mereka yang bekerja malam harus diselingi tidur sejenak, guna mempertahankan kemampuan kerja. Waktu tak bisa diganti karena pola tidur malam dan siang hari amat berbeda. Meski demikian, sangat disarankan untuk segera tidur setelah selesai menjalankan kerja malam.

Ditambahkan oleh Dr Andreas, kerja gilir (shift) harus diatur dengan baik. Idealnya, kerja gilir per dua hari searah jarum jam, misalkan dengan siklus dua hari masuk pagi, lalu dua hari masuk siang, dua haris masuk malam, dan dua hari libur.

Mereka yang mengalami kerja gilir, menurut Dr Andreas, rawan menderita gangguan tidur. Itu sebabnya mereka sebaiknya langsung tidur ketika pulang kerja, dengan menjaga suasana kamar tetap gelap dan sunyi.

Waktunya hormon kerja

Sebenarnya waktu tidur dari malam hari tidak bisa digantikan menjadi pagi atau siang hari. Itu karena irama sirkadian kita tidak bisa dibohongi. Walaupun kamar sudah digelapkan, tubuh kita tetap mengenali waktu sebagai siang hari.

Tidur diperlukan, terutama malam hari karena di saat tidur banyak hormon yang bekerja. Selain hormon melatonin, hormon yang hanya diproduksi saat gelap, di tahap tidur juga dikeluarkan hormon pertumbuhan.

Hormon ini berperan dalam proses peremajaan sel. Itu sebabnya jika kualitas tidur tidak baik, orang akan kelihatan cepat tua.

International Classification of Sleep Disorder menyebutkan, pekerja shift berisiko lebih tinggi untuk menderita penyakit kardiovaskular dan pencernaan. Bekerja di luar jam normal juga menghilangkan waktu bersosialisasi, sehingga memengaruhi kesehatan jiwa seseorang.

Para pekerja gilir malam juga berisiko mengalami kanker. Pada saat tidur, kadar sel-sel pembunuh alami dalam darah sangat tinggi. Ini adalah sel penguat daya tahan tubuh, termasuk dari serangan sel tumor atau kanker. Karena itu, tidurlah kalau sudah malam. Betah melek cuma mengundang penyakit.

(GHS/Diana Yunita Sari)

link: http://kesehatan.kompas.com/r...

0 Comments

Tidur Kurang, Diabetes Datang

Kamis, 13 Agustus 2009 | 15:27 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta -Satu lagi faktor yang terbukti meningkatkan munculnya penyakit diabetes selain gaya hidup malas-malasan dan makan banyak. Kurang tidur juga jadi penyebab penyakit yang yang diakibatkan meningkatnya kadar gula dalam darah ini.  

"Temuan kami menyimpulkan mengkombinasikan gaya hidup tak sehat ala Barat dengan kurangnya waktu tidur akan meningkatkan risiko kelebihan berat badan hingga memunculkan diabetes," kata Dr. Plamen Penev, dari University of Chicago, Illinois, dan peneliti senior dalam penelitian ini.

Penev dan koleganya meneliti 11 perempuan dan lelaki sehat usia paruh baya yang memiliki gaya hidup tak aktif selama 14 hari. Selama itu pula mereka mendapat akses makanan gratis dengan perngurangan waktu tidur mulai dari 8,5 jam hingga 5,5 jam tiap malam.

Selama masa pengurangan waktu tidur ini tiap orang diminta tidur lebih lambat dan bangun lebih cepat secara berangsur-angsur, hingga berhutang waktu tidur sampai dua jam per hari.  Pada saat pengujian inilah para partisipan menunjukkan perubahan respon pada hasil tes gula darah. Mereka menunjukkan hasil yang mirip dengan orang yang menjelang terjangkit penyakit diabetes.

"Jika bisa dikonfirmasi dengan hasil penelitian lain, penelitian ini akan menunjukkan bahwa gaya hidup sehat tak hanya soal pola makan sehat dan aktifitas fisik, tapi juga bagaimana  tidur berkualitas," kata Penev. Hasil penelitian ini akan diterbitkan di Journal of Clinical Endocrinology and Metabolism, edisi September 2009. 

REUTERS

link: http://www.tempointeraktif.co...,20090813-192446,id.html

0 Comments

Urusan Tidur? Pria dan Wanita Memang Berbeda

Rabu, 15 Juli 2009 | 00:31 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta - Wanita dan pria ternyata memang berbeda, salah satunya dalam urusan tidur. Setidaknya, itulah yang hasil penelitian yang dilakukan para ahli dari Duke University Medical Center, North Carolina, Amerika Serikat, yang dirilis Maret 2008. Penelitian tersebut mengungkapkan bahwa wanita yang tidak tidur dengan baik, ternyata cenderung lebih memiliki perasaan buruk, mudah marah, dan depresi, dibandingkan dengan kaum pria.

Bahkan, salah seorang penelitinya, Edward Suarez, PhD., yang juga gurubesar psikiatri di universitas tersebut, menyatakan bahwa gangguan tidur pada wanita juga menunjukkan gejala naiknya risiko terkena penyakit kardiovaskular. Hal itu tidak terjadi pada pria yang mengalami gangguan tidur yang sama.

Mengapa ada perbedaan seperti itu? Jawabannya, karena pria dan wanita memiliki sistem hormonal yang berbeda. Menurut Suarez, kondisi hormon pada wanita, sangat berpengaruh pada suasana hati, kondisi perasaan, keseimbangan insulin, dan tentu saja kualitas tidur. Contohnya, asam amino tritophan dan hormon melatonin yang membantu tidur, terkait pada fungsi serotonin pada otak, yang bekerja mengendalikan mood. Artinya, jika tidur terganggu, maka fungsi serotonin pun otomatis bakal ikut kocar-kacir.

Hal senada juga disebutkan dr. Andreas Prasadja, spesialis di bidang tidur dari Sleep Disorder Clinic, Rumah Sakit Mitra Kemayoran, Jakarta. “Karena faktor hormonal pula, masalah tidur pada wanita menjadi lebih kompleks,” ujarnya

Pada saat hamil, misalnya. Pada trimester pertama, akibat tingginya hormon progesteron, seorang wanita yang biasanya tidur 5-6 jam sehari, biasanya jadi tidur lebih banyak, antara 7-8 jam sehari. Memasuki trimester kedua, progesteron masih meningkat, namun lebih lamban. Pada masa trimester kedua inilah wanita hamil baru dapat tidur dengan lebih baik.

Tapi, di usia kehamilan ini pula, banyak wanita yang justru menderita sleep apnea. “Ini ditandai dengan tidur mendengkur,” kata Andreas. Sleep apnea pada masa kehamilan bisa terjadi akibat pertambahan berat badan dan membengkaknya saluran napas. Kondisi ini sebaiknya benar-benar diperhatikan. Soalnya, menurut Andreas sleep apnea pada masa kehamilan amat berbahaya, karena dapat memicu hipertensi dan berujung pada pre-eklamsia.

Saking seriusnya, di sejumlah rumah sakit di negara- negara maju, khususnya di bagian perawatan ibu hamil, sudah banyak didirikan pusat-pusat CPAP (Continuous Positive Airway Pressure) atau terapi untuk sleep apnea. Dan, pada trimester terakhir, gangguan tidur berupa insomnia bisa menyerang kembali, akibat posisi tidur yang serba sulit dan kecemasan akan proses kelahiran.

Di Indonesia, meski tidak dikhususkan untuk ibu hamil, kini ada laboratorium tidur yang bisa memonitor aktivitas tidur Anda. Sudah dibuka di beberapa tempat. Di Jakarta misalnya, ada di RS Persahabatan, RS Mitra Keluarga Kemayoran, dan RS Medistra. Seperti telah disebutkan dalam artikel tidur sebelumnya (Koran Tempo, 8 Juli 2009), sebaiknya Anda memilih laboratorium dengan fasilitas polysomnography tipe 1 yang memiliki minimal tujuh channel. Yaitu bisa merekam gelombang otak, mengukur tonus otot di dagu dan kaki, menganalisa suara dengkuran, membaca gerakan bola mata, mengukur aliran udara nafas, gerakan nafas (dada dan perut), melakukan rekam jantung, mengukur kadar oksigen, juga menilai posisi tidur (miring kiri, kanan, terlentang, tengkurap), dan lainlain. Dan Lab tersebut juga harus ditunggu oleh tenaga profesional khusus di bidangnya, serta hasil dari analisa alat tersebut harus dianalisa serta dibaca oleh dokter yang khusus di bidang tidur. TIM INFO TEMPO   

TIP

Jangan Merokok


Ada berbagai cara dan siasat ampuh untuk mengatasi gangguan sulitnya tidur. Selain berkonsultasi dengan ahlinya, minum segelas susu hangat mungkin bisa membantu. Ini karena susu mengandung tritophan, yaitu senyawa kimia yang bisa membantu kita terlelap. Hindari kafein dan minuman beralkohol, yang bisa membuat Anda terjaga sepanjang malam. Ini juga berlaku untuk nikotin. Hindari merokok saat hendak tidur atau jika Anda terbangun di tengah malam.

Jika tak bisa meninggalkan kopi di malam hari, setidaknya minumlah dalam waktu empat hingga enam jam sebelum waktu tidur. Cara tersebut akan membuat Anda tertidur dengan lebih mudah.

link: http://www.tempointeraktif.co...,20090715-187196,id.html

0 Comments

Tidur Yuk...

Rabu, 04 Maret 2009 | 10:52 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: ........Sleep my child and peace attend thee, All through the night .....

Boleh jadi, itu adalah penggalan dari syair favorit yang juga Anda nyanyikan saat mengantar si kecil tidur. Tapi tidur bukan cuma nyaman karena memejamkan mata atau membaringkan tubuh di ranjang yang empuk dan hangat. Tidur juga bisa membuat Anda lebih sehat, bahkan saat tidurlah hormon pertumbuhan diproduksi.

Ironisnya, tidur masih menjadi sesuatu yang tak penting di negeri ini. Tidur masih dianggap sebagai fase pasif yang tidak produktif. Tengok saja di kiri kanan Anda, berapa banyak rekan yang mengeluh pusing, mudah lelah, mengantuk dan tak fokus di siang hari. Lalu, apa tindakan mereka? “Kebanyakan memilih minum kopi, multivitamin, minuman berenergi, atau zat stimulan lainnya,” ujar dr. Andreas Prasadja, spesialis ahli di bidang tidur dari Sleep Disorder Clinic -Rumahsakit Mitra Kemayoran, Jakarta. Padahal, menurut Andreas, mereka seharusnya memperhatikan kesehatan tidurnya.

Bagaimana sebetulnya tidur sehat itu? “Salah satu tandanya, saat bangun, kita merasa segar, penuh vitalitas dan bersemangat,” ujar Andreas.

Jika mengikuti proses tidur yang baik, maka kita akan melalui dua tahap gelombang otak yang di dunia kedokteran, dibagi menjadi tahap Non REM dan tahap REM (R). Tahap Non REM dibagi tiga menjadi N1, N2 dan N3.

Saat mulai memejamkan mata, perlahan kita masuk tahap N1. Ini ditandai dengan melambatnya nafas sehingga orang akan melihat kita sudah tertidur. Tapi, sebetulnya kita masih cukup sadar dengan sekeliling. Lalu, masuk tahap N2, dan kita tidak lagi sadar akan sekeliling, tetapi masih mudah dibangunkan.

Semakin dalam, kita akan masuk ke tahap N3 dimana terjadi perbaikan sel-sel tubuh yang rusak. Seseorang yang dibangunkan pada tahap tidur N3 akan merasa sedikit disorientasi sebelum bisa sadar penuh. Pada anakanak, dalam tahap ini dihasilkan growth hormone yang berperan penting pada proses tumbuh kembangnya. Pada orang dewasa, hormon pertumbuhan ini berperan untuk memperbaiki berbagai sel dan jaringan yang rusak.

Berlanjut ke tahap N3, kita akan kembali ke N2 dan masuk ke tahap R. Dalam tidur R, kita bermimpi. Gelombang otak menjadi sangat aktif, namun sebaliknya tubuh malah dilumpuhkan sebagai mekanisme pengaman agar tubuh tak bergerak sesuai mimpi. Para ahli kesehatan tidur percaya bahwa pada tahap tidur R inilah kemampuan kognitif, mental dan emosional seseorang dijaga.

Tahapan tidur dari R akan kembali ke N2, lalu ke N3, N2 lagi, lalu R , begitu seterusnya hingga bangun. Siklus tidur yang terpenuhi inilah yang membuat seseorang bangun dengan rasa segar, sehat dan penuh vitalitas.

Satu hal lagi, dalam tidur itu juga daya tahan tubuh kita bekerja optimal. Yang ini, kita bisa melihat perilaku saat tubuh lemah, hidung tersumbat, badan menggigil pasti selalu ingin ‘lari’ ke tempat tidur. Menurut Andreas, perilaku itu merupakan reaksi tubuh untuk melawan infeksi, dan tidur menjadi bagian penting. “Dalam kondisi itu, interleukin, salah satu sistem daya tahan tubuh meningkat, dan akan membuat tubuh cenderung untuk tidur,” ujarnya.

Tapi, proses tidur memang tak selamanya mulus. Salah satu gangguan tidur yang perlu diwaspadai adalah mendengkur. Mendengkur dianggap wajar oleh masyarakat kita. Padahal mendengkur merupakan salah satu tanda dari sleep apnea.

Sleep apnea atau henti nafas saat tidur menurut Andreas amat berbahaya karena menjadi penyebab hipertensi, penyakit jantung, diabetes dan stroke. Tragisnya, kebanyakan orang Indonesia rawan menderita sleep apnea. Jika literatur asing menyebutkan obesitas sebagai penyebab, tidak demikian dengan ras Asia. Ini karena struktur rahang kita yang lebih sempit, dan leher yang lebih pendek. Sebuah penelitian menyatakan 4 persen pada pria, dan 2 persen pada wanita, tapi data tersebut terjadi di Amerika. “Di Indonesia dicurigai jauh lebih banyak,” katanya menambahkan.

.....Guardian angels God will send thee, All through the night. SUSANDIJANI

TIP

4 Langkah Sebelum Tidur

Sulit tidur? Simak tip dari dr. Andreas Prasadja, RPSGT., spesialis ahli di bidang tidur dari Sleep Disorder Clinic -Rumahsakit Mitra Kemayoran, Jakarta. Pertama, sembilan jam sebelum tidur, hindari konsumsi kafein. Kafein baru hilang dari peredaran darah setelah 9-12 jam. Kedua, tiga jam sebelum tidur, usahakan menyelesaikan aktivitas berolahraga. Olahraga memang membuat tubuh lelah, tetapi justru meningkatkan kadar adrenalin yang menyegarkan otak. Ketiga, satu jam sebelum tidur, tinggalkan semua pekerjaan dan biasakan untuk mengistirahatkan tubuh dan pikiran dengan kegiatan-kegiatan menyenangkan namun bersifat santai. Keempat, jika sudah benar-benar mengantuk baru naik ke tempat tidur. Jangan melakukan kegiatan apa pun di tempat tidur selain tidur dan seks. SDJ

link: http://www.tempointeraktif.co...,20090304-163049,id.html

0 Comments

Google
blog-indonesia.com
Click here to join tidur_sehat
Click to join tidur_sehat

Apnea
Uploaded by prasadja

Wawancara Penderita OSA
Uploaded by prasadja

Penderita OSA
Video sent by prasadja

Wawancara Penderita OSA - TPI
Uploaded by prasadja

Sleep Lab
Uploaded by prasadja