Tidur Berkualitas, Bangun pun Badan Segar
dimuat di Intisari Mind, Body & Soul, 10
Saat bangun tidur, harusnya semangat pagi yang kita rasakan. Tetapi kadang badan kok malah lemas ya? Padahal rasanya tidur cukup nyenyak, malah lebih awal dari biasanya. Wah, kenapa ya hal ini bisa terjadi?
Tidur merupakan salah satu kebutuhan biologis yang harus dipenuhi oleh setiap orang selain makan dan bernapas. Sebagian besar waktu hidup seseorang dihabiskan dengan tidur. Bayangkan saja, untuk orang dewasa muda yang usianya berkisar 20-30 tahun, kebutuhan tidur yang harus dipenuhi berkisar 8,5 - 9,25 jam per harinya. Artinya, dari 24 jam sehari sekitar 1/3 hari dihabiskan untuk tidur.
Padahal banyak sekali orang di daerah perkotaan dan berada dalam usia produktif selalu dituntut dengan pekerjaan yang menumpuk dan seperti tidak ada habisnya. Hal ini dapat mengakibatkan kondisi kurang tidur. Kantuk berlebihan, badan lemas, dan rasa sebal yang ditimbulkan akhirnya berdampak pada produktivitas kerja. Tak hanya produktivitas, kualitas kerja pun bisa menurun karena kondisi badan yang tidak segar mempersulit konsentrasi. Tugas sehari-hari pun terhambat.
Proses dalam tidur
Sebenarnya tidur adalah sebuah proses aktif. Bukan seperti pandangan umum yang menganggap tidur adalah fase pasif dari siklus kehidupan, karena tampaknya kita hanya diam saja tidak bergerak. Proses aktif ini dapat dibuktikan dengan perekaman gelombang otak atau yang dikenal juga dengan elektroensefalografi (EEG) dengan alatnya yang disebut polisomnografi (PSG). PSG sendiri adalah sebuah perangkat laboratorium tidur yang mampu menganalisis peristiwa yang terjadi di dalam tubuh, termasuk gelombang otak selama kita tidur.
Andreas Prasadja, RPSGT, dokter pertama di Indonesia yang mengambil spesialisasi masalah tidur, menyatakan, proses dalam tidur atau bisa kita sebut dengan istilah “Arsitektur Tidur”, dibagi menjadi 2 fase yaitu fase REM (Rapid Eye Movement) dan fase NREM (Non Rapid Eye Movement). Fase-fase ini sangat penting dalam menunjukkan tidur yang berkualitas baik bila dilihat dari perekaman gelombang otak selama aktivitas tidur menggunakan PSG.
Hasil pemeriksaannya harus memenuhi syarat sebagai berikut: fase REM meliputi 20-25% dari seluruh waktu tidur, sedangkan fase NREM dibagi menjadi keadaan N1 sekitar 5% dari seluruh waktu tidur, N2 yang paling banyak di antara fase-fase lainnya yaitu 50% dari seluruh waktu tidur, dan yang terakhir yaitu N3, 20-25% dari keseluruhan waktu tidur.
Dalam siklus tidur, yang pertama akan dialami seseorang adalah fase N1. Pada fase ini orang mulai merasa mengantuk, perlahan-lahan mulai tertidur akan tetapi masih sangat mudah terbangun atau masih merasa mendengar pembicaraan orang di sekitarnya atau suara radio atau TV yang menyala. Tak lama kemudian tidur akan masuk ke fase N2, yang ditunjukkan dengan keadaan masih dapat dibangunkan dengan sentuhan atau panggilan yang berulang-ulang, meskipun benar-benar sudah dalam keadaan tidur. Sedangkan bila seseorang sudah masuk ke fase N3, kurang-lebih sepuluh menit dari fase N2, maka akan sulit sekali untuk dibangunkan. Inilah keadaan tidur paling dalam, tanpa mimpi dan akan timbul disorientasi atau kebingungan saat terbangun.
Lain halnya dengan fase REM, fase ini menunjukkan keadaan seseorang masuk ke dalam mimpi, yang selama satu siklus tidur akan mengalami 4-6 kali mimpi, yang mungkin akan diingat atau tidak saat terbangun keesokan harinya. Pada fase ini pun semua kemampuan gerak otot hilang sama sekali. Kemudian fase akan kembali ke N2 dan berulang-ulang.
Rincian persentase di atas sebenarnya agak sulit untuk dipahami. Sederhananya saja, menurut Ade, panggilan akrab dr. Andreas, tidur yang berkualitas dapat kita peroleh bila saat bangun kita merasa segar, kemudian siang harinya tidak merasa mengantuk, dan produktivitas kerja tidak terganggu. “Cukup tiga hal itu saja yang diperhatikan bila kita mau mengetahui tidur kita berkualitas atau tidak,” tambahnya.
Kondisi kurang tidur
Seperti diungkapkan di atas, bila tidur yang berkualitas tidak terpenuhi, maka seseorang akan jatuh ke dalam kondisi kurang tidur. Keadaan kurang tidur ini harus dianggap sebagai kondisi yang tidak hanya disebabkan karena jumlah tidur yang kurang, akan tetapi mungkin juga disebabkan oleh kualitas tidurnya pun berkurang. Dari segi jumlah jam tidur yang kurang bisa disebabkan karena penyakit yang menyebabkan gangguan tidur seperti insomnia. Selain itu juga banyak penyakit kronik yang menyebabkan gangguan tidur, antara lain tekanan darah tinggi, hipertiroid, nyeri tulang belakang, sindroma pramenstruasi, dan lain sebagainya. “Bila gangguan tidur seperti ini yang menyebabkan kurangnya jumlah jam untuk tidur, masih dapat diobati sesuai dengan penyakit yang mendasarinya dan juga dibantu oleh dokter spesialis tidur dengan pemberian terapi, baik obat-obatan atau mengubah kebiasaan tidur,” ujar Ade. Yang menjadi kesulitan terbesar dalam mengatasi kondisi kurang tidur, apabila penyebabnya adalah kurangnya kesempatan untuk beristirahat atau tidur, mungkin saja karena pekerjaan yang tidak ada hentinya dan tuntutan produktivitas yang sangat berat. Untuk kasus ini, tambah Ade, pemberian obat tidur atau cara lainnya tidak akan membantu karena kesempatan dan waktunya yang tidak ada. Hal-hal seperti ini yang akhirnya akan menyebabkan kondisi kurang tidur yang kronik.
Kondisi kurang tidur yang lama pun dapat dijumpai bila kualitas tidur buruk. Karena kualitas tidur yang buruk seseorang akan jatuh ke dalam keadaan hipersomnia atau kantuk yang berlebih yang dikenal pula dengan Excessive Daytime Sleepiness (EDS). Rasa kantuk yang dirasakan tidak pada tempat dan waktu yang semestinya. Pada pagi hari keadaan tubuh saat bangun dalam kondisi yang segar bugar, akan tetapi akan merasa mengantuk dan tertidur di tengah rapat atau seminar tengah hari. Selain itu ada juga beberapa gejala penyakit yang menyebabkan kualitas tidur menjadi buruk meski kelihatannya seseorang tertidur pulas. Pada banyak kasus, seseorang merasa tidur pulas, tapi di saat bangun ia masih merasa kurang segar dan beberapa jam kemudian mengantuk lagi. Gejala tersebut antara lain mendengkur atau sleep apnea yang memiliki bahaya kematian yang sangat tinggi. Bila seseorang memiliki kebiasaan mendengkur dalam tidur sebaiknya perlu dilakukan pemeriksaan rutin PSG untuk mengetahui mendengkurnya mengakibatkan henti napas yang berbahaya dan kualitas tidur yang buruk atau tidak. Karena mungkin pula pada sebagian orang ditemukan kualitas tidur yang baik walaupun mereka memiliki kebiasaan mendengkur.
Sleep apnea disebabkan oleh bentuk anatomis dari saluran pernapasan bagian atas ataupun bentuk rahang yang sempit. Akan tetap, bila ternyata mendengkur ini mengakibatkan gangguan pernapasan yang serius, ada baiknya menjalani terapi untuk memperbaiki kualitas tidurnya dan menghindarkannya dari penyakit-penyakit berbahaya seperti hipertensi, diabetes, gangguan jantung, dan stroke.
Jam biologis vs utang tidur
Sebenarnya untuk mendapatkan kualitas tidur yang baik kita perlu mengetahui dan menyadari mengenai konsep jam biologis dan juga utang tidur yang berbeda pada setiap individu. Jam biologis dengan irama sirkadiannya sangat dipengaruhi oleh umur. Irama sirkadian sendiri secara harafiah dapat diartikan sebagai sebuah siklus yang berlangsung sekitar 24 jam. Dalam tubuh manusia irama sirkadian diatur di Supra Chiasmatic Nucleus (SCN), bagian dari otak yang terletak tepat di atas persilangan saraf mata.
Agar mendapatkan tidur yang berkualitas sangat penting bagi seseorang untuk menyesuaikan aktivitas yang akan dilakukannya berdasar jam biologis dan sistem homeostatis tubuhnya. Jam biologis memiliki pola seperti gelombang longitudinal yang akan naik dan turun berdasarkan waktu dan berbeda kondisi setiap jamnya. Sedangkan sistem homeostatis menunjukkan utang tidur yang bertambah seiring dengan berjalannya waktu semakin siang hingga malam. Jam biologis akan memberikan rangsang terjaga, sedangkan utang tidur akan mendorong kita untuk tidur.
Sebagai contoh, saat bangun tidur utang tidur kita dapat dikatakan nol, dan jam biologis kita masih di titik terendah hingga mencapai puncak pertama pada sekitar jam 9-10 pagi. Pada waktu ini, bagi seorang pelajar, dia akan dapat menyerap pelajaran dengan mudah dan untuk mereka yang bekerja, konsentrasi masih dalam keadaan penuh. Kemudian pada siang hari jam biologis mulai menurun dan utang tidur pun meningkat. Hal ini menyebabkan kondisi mengantuk dan terkadang kita butuh waktu untuk sedikit refreshing setelah jam makan siang. Akan tetapi jam biologis akan meningkat lagi sehingga kondisi lebih segar terutama di atas jam 6 petang hingga mencapai puncaknya pada pukul 9-10 malam. Peningkatan jam tidur ini menyebabkan seseorang terutama usia dewasa muda sulit untuk memulai tidur pada waktu tersebut. Mereka baru akan mulai mengantuk bila jam biologis menurun kembali dan utang tidur yang sudah menumpuk yaitu pada jam 12-1 malam, membuat orang mudah untuk mengantuk dan tertidur.
Selain itu, untuk dapat memulai tidur diperlukan pula kondisi yang relaks dan menyenangkan, tidak berada dalam tekanan dan stres. Mungkin bagi seorang wanita sebelum beranjak tidur dapat melakukan perawatan wajah yang membuat dirinya relakks, atau mendengarkan musik yang disukai dan juga bisa pula dengan membaca buku bacaan yang ringan. o Margareta Amelia, di Jakarta
Panduan Kebiasaan Tidur yang Sehat
- & nbsp; &n bsp; Cukupi kebutuhan tidur, sekurangnya 8 jam per hari
- & nbsp; &n bsp; Sembilan jam sebelum tidur, hindari konsumsi kafein. Kafein baru habis dari peredaran darah setelah 9-12 jam. Jika Anda merasa dapat menikmati kafein tanpa mengganggu tidur, hati-hati, ini bisa jadi tanda Anda kekurangan tidur atau menderita hipersomnia, tidur yang berlebihan.
- & nbsp; &n bsp; Tiga jam sebelum tidur, usahakan Anda sudah selesai berolahraga. Olahraga memang membuat tubuh lelah, tetapi justru meningkatkan kadar adrenalin yang menyegarkan otak.
- & nbsp; &n bsp; Satu jam sebelum tidur, tinggalkan semua pekerjaan, dan biasanya untuk mengistirahatkan tubuh dan pikiran isi dengan kegiatan menyenangkan namun bersifat santai. Hindari aktivitas yang membuat kita “excited”.
- & nbsp; &n bsp; Jika sudah benar-benar mengantuk baru naik ke tempat tidur. Jangan melakukan kegiatan apa pun di tempat tidur selain tidur dan seks.
Sumber : Sleep Disorder Clinic, RS Mitra Kemayoran Jakarta
Tanda-tanda Kantuk Mulai Membahayakan:
- & nbsp; &n bsp; Kehilangan konsentrasi, sering mengerjapkan mata, atau mata terasa berat.
- & nbsp; &n bsp; Pikiran menerawang.
- & nbsp; &n bsp; Sulit mengingat apa-apa yang telah dilewati atau melewatkan beberapa rambu atau lampu merah saat berkendara.
- & nbsp; &n bsp; Berulang kali menguap dan mengusap-usap mata
- & nbsp; &n bsp; Sulit menjaga kepala dalam posisi tegak
- & nbsp; &n bsp; Melenceng dari jalur, dan melanggar marka-marka jalan
- & nbsp; &n bsp; Merasa lelah dan mudah terpancing emosi
Sumber : buku Ayo Bangun dengan Bugar karena Tidur yang Benar, dr. Andreas Prasadja, RPSGT (2009)
Dengkuran Bukan Penanda Tidur Pulas
Sudah beberapa bulan ini Lina (27) mengenali suaminya tidur mendengkur keras sekali. Awalnya Lina menyangka sang suami kelelahan setelah seharian bekerja. Dondi (35) sang suami, adalah seorang manajer di sebuah perusahaan consumer good yang sangat sibuk. Hampir dipastikan setiap hari lembur.
Lina menandai sejak sering lembur tubuh Dondi melar alias menjadi gemuk. “Saya perhatikan kebiasaan mendengkur Dondi makin intens saat tubuhnya menggemuk,” ujar Lina, seorang ibu rumah tangga dengan 2 anak.
Namun anehnya, imbuh Lina, meskipun tidur sepanjang malam dengan mendengkur keras, Dondi tetap saja mengaku kurang tidur, akibatnya dia terbangun dalam kondisi yang tidak segar.
Kegemukan dan dengkuran memang berhubungan. Menurut Mayoclinic.com, timbunan lemak di sekitar saluran pernapasan bagian atas kemungkinan bisa mengganggu pernapasan sehingga menghasilkan bunyi dengkuran.
Kita seringg beranggapan bahwa tidur mendengkur pertanda seseorang tertidur pulas. Padahal tidak demikian lho. Ini pemahaman yang salah kaprah dan kerap menyesatkan. Tidur mendengkur sama sekali bukan pertanda tidur pulas, sebaliknya malah menjadi indikasi sleep apnea, istilah yang dipakai untuk merujuk pada gangguan tidur yang ditandai dengan mendengkur. Sleep apnea merupakan henti napas saat tertidur, tanpa si penderita menyadarinya.
Apa saja faktor risiko terjadinya sleep apnea? Coba cek daftarnya di bawah ini:
1. Kegemukan. Timbunan lemak di saluran pernapasan bagian atas akan mengganggu pernapasan. Namun tak semua orang yang mengalami sleep apnea berbadan gemuk. Si kurus bisa saja terkena sleep apnea,khususnya ras Asia.
2. Sleep apnea bisa terjadi pada laki-laki dan perempuan, namun demikian lelaki yang mengorok jumlahnya dua kali lipat dibandingkan perempuan. Kaum Hawa peluang mengoroknya meningkat jika kelebihan berat badan dan setelah mengalami menopause.
3. Bentuk leher pendek. Ukuran leher mengindikasikan risiko seseorang terkena sleep apnea. Leher pendek membuat saluran napas menyempit. Jika tonsil atau adenoid membesar, halini akan menghalangi jalan napas, akibatnya keluar dengkuran.
4. Dengkuran akan makin sering, dua hingga tiga kali lebih tinggi, pada orang di atas usia 65 tahun
5. Orang yang mengonsumsi alkohol, sedatif atau obat penenang. Substansi yang dikandungnya melemaskan otot-otot di tenggorokan
6. Perokok tiga kali lebih besar berpotensi mengalami obstructive sleep apnea (OSA) dibandingkan mereka yang tidak pernah merokok. Merokok akan meningkatkan jumlah inflamasi dan retensi cairan di jalan napas bagian atas. Risiko ini menurun jika yang bersangkutan berhenti merokok.
Gejala awal dari sleep apnea adalah tidur mendengkur, sering buang air keci di malam hari, mulut terasa asam karena asam lambung meningkat, dan sering terbangun di malam hari karena tersedak akibat henti napas.
Kasus henti napas saat tidur ini tak boleh disepelekan. Pasalnya, saat jalan napas tersumbat, pasokan oksigen ke dalam darah dan otak pun berkurang sehingga memicu otak untuk terjaga.Tapi meski otak terjaga, orang itu tidak terbangun. Hal ini memotong proses tidur dan kualitas tidur menjadi buruk. Akibatnya, saat bangun jadi tidak segar, capek, sulit konsentrasi, masih mengantuk meski sudah tidur 8 jam, dan mengantuk di siang hari.
Menurut pakar tidur dr. Andreas Prasadja, dengkuran terjadi karena penyempitan jalan napas yang mengakibatkan udara tidak dapat masuk atau keluar. Gerakan napas akan menghebat karena sesak. Oksigen menurun sementara kadar kabondioksida meningkat, seseorang dengan sleep apnea biasanya ‘terbangun’ disertai suara entakan keras seolah napas baru terbebas.
Nah, episode bangun ini disebut sebagai episode bangun mikro karena walau gelombang otak terbangun, namun si pendengkur tidak terjaga. “Episode ini terus berulang sepanjang malam hingga mengganggu kualitas tidur. Akibatnya, ia akan terus berada dalam kondisi kurang tidur, walaupun sebenarnya sudah tidur cukup,” ujar Andreas yang berpraktik di RS Mitra Kemayoran Jakarta.
Sleep apnea, kata Andreas, tidak boleh dianggap sepele. Pasalnya pada orang dewasa bisa menjadi penyebab hipertensi, penyakit jantung, diabetes hingga stroke.
Apakah mendengkur hanya ‘konsumsi’ orang dewasa? Sayangnya tidak. Ada juga anak-anak yang mengorok. Anak yang mengorok bisa terganggu kecerdasannya karena terjadi pada malam hari saat di mana hormon pertumbuhan bekerja sangat aktif. “Intinya sleep apnea berpotensi menghambat tumbuh kembang anak jika tak ditangani dengan baik,” ujar dia.
Proses tidur amatlah penting bagi seorang anak, karena proses tumbuh kembang justru terjadi pada saat tidur. Pada tahap tidur dalam, dikeluarkan hormon pertumbuhan yang berperan dalam proses pertumbuhan. Sedangkan pada tahap tidur mimpi, dipercaya sebagai tahap tidur di mana kemampuan kognitif, mental dan emosional dijaga.
“Dengan adanya sleep apnea, proses tidur akan terpotong-potong. Akibatnya proses tumbuh kembang pun terganggu. Kecerdasan dan potensi-potensi mental lain yang seharusnya tumbuh dan berkembang saat tidur, tidak tumbuh,” tandas Andreas. Anak yang punya masalah tidur biasanya secara emosional labil, mudah marah dan rewel.
Nah, apakah hanya mereka yang berbadan gemuk yang cenderung mengorok? Ternyata tidak lho. “Orang Asia lebih cenderung mendengkur karena struktur rahang yang lebih sempit dan leher yang lebih pendek dibandingkan ras Eropa. Jadi penderita sleep apnea belum tentu bertubuh gemuk,” ujar Andreas.
Tidak semua dengkuran menjadi pertanda sleep apnea. “Untuk memastikannya harus dicek di laboratorium klinik tidur,” jelas Andreas. Dalam pemeriksaan, si pendengkur akan direkam fungsi-fungsi tubuhnya selama tidur sepanjang malam dengan menggunakan Apnea Hypopnea Index. Dari sini akan diketahui berapa kali dia mengalami henti napas setiap jamnya.
Lebih lanjut Andreas memaparkan, berat-ringannya sleep apnea bukan ditentukan oleh keras-lembutnya volume dengkuran, melainkan frekuensi henti napas yang terjadi setiap jam. Dan, jika terjadi 15–30 kali dalam satu jam sudah termasuk gangguan sedang, dan berat jika frekuensinya mencapai lebih dari 30 kali per jam.
”Makanya untuk mengetahui adanya gangguan, Anda bisa datang ke laboratorium tidur untuk direkam kondisi selama tertidur seperti pernapasan, gelombang otak dan jantung,”ungkapnya.
Lantas, bagaimana solusi mendengkur ini? “ Tidak ada obat untuk gangguan tidur. Jika ada henti napas, harus pakai alat disebut CPAP (continous positive airway pressure). CPAP mirip masker yang dilengkapi tabung kecil untuk memompa udara bertekanan positif ke dalam saluran pernapasan, bentuknya sangat fleksibel sehingga tidak menggangu tidur. Untuk mencegah terjadinya sleep apnea datang kembali, CPAP ini sebaiknya digunakan selama tidur,” papar Andreas seraya menambahkan solusi lainnya adalah dengan operasi.
Jadi olahraga tak bisa mengurangi dengkuran? “Tidak, kecuali kalau penyebab mengorok karena murni kegemukan,” tandasnya.
Sindroma Tungkai Gelisah
Salah satu diagnosa yang sering terlewatkan adalah sindroma tungkai gelisah atau restless legs syndrome (RLS). RLS merupakan gangguan tidur yang cukup sering diderita. Berdasarkan penelitian yang diterbitkan oleh American Academy of Neurology, prevalensi RLS adalah 10.6% (14.2% wanita, 6.6% pria.)
Penderita RLS di Indonesia biasanya datang dengan keluhan insomnia, sulit tidur. Di sinilah penting diketahui riwayat tidur penderita. Pasien RLS yang khas, juga akan mengeluhkan rasa tidak nyaman di kaki dan/atau lengan, yang hanya dapat dihilangkan dengan cara menggerak-gerakannya. Penderita biasanya sulit menggambarkan gangguan ini. Ada yang mengeluhkan sakit, ada yang ngilu, pegal, kesemutan, gatal dan lain-lain. Dan rasa ini hanya muncul menjelang tidur, hingga penderitanya merasa harus bangun dan berjalan-jalan. Berdasarkan pengalaman, ada juga penderita yang mengenakan kaos kaki ketat atau minta dipijat pasangan sebelum tidur.
Gejala lain yang biasanya menyertai adalah rasa kantuk berlebih dan periodic limbs movements in sleep (PLMS). PLMS adalah gerakan kaki secara periodik, yang jika dilihat dgn polysomnography (PSG) di laboratorium tidur, mengakibatkan gangguan pada kelangsungan gelombang otak tidur. Akibatnya pasien terbangun-bangun singkat tanpa ia sadari.
Untuk menegakkan diagnosa RLS, cukup dengan tarik riwayat tidur saja. Sedangkan untuk mengonfirmasi adanya PLMS diperlukan pemeriksaan tidur di laboratorium tidur.
RLS merupakan suatu gangguan saraf dimana terjadi ketidak seimbangan dopamin. Dopamin merupakan sebuah zat penghantar pada sistem saraf kita. Lima belas persen penderita RLS dapat diturunkan dalam keluarga.
Secara primer, penyebab RLS belum dapat diketahui. Sementara secara sekunder, RLS bisa disebabkan oleh:
• Kondisi medis: kekurangan zat besi, payah ginjal dan kerusakan saraf.
• Gangguan saraf sebagai komplikasi dari diabetes, kecanduan alkohol atau infeksi HIV.
• Kehamilan.
• Obat-obatan: antidepresan, antikonvulsan, beta blocker, atau H2 blockers
• Bisa juga diperburuk oleh kebiasan mengonsumsi alkohol, kafein dan/atau nikotin.
RLS adalah kondisi yang dapat disembuhkan. Selain pengobatan yang tepat, diperlukan juga perubahan gaya hidup untuk mencapai hasil yang optimal.
Hilangkan Henti Nafas dengan CPAP
Sleep apnea atau lengkapnya Obstructive Sleep Apnea (OSA) adalah henti nafas saat tidur yang disertai dengan mendengkur. Menurut Praktisi Kesehatan Tidur, Dr. Andreas Prasadja, RPSGT, OSA dianggap berbahaya karena dapat menyebabkan beberapa penyakit seperti hipertensi, gangguan jantung dan storke. Bahkan berbagai penelitian pun menunjukkan hubungan erat antara diabetes dan sleep apnea.
Obstructive Sleep Apnea terjadi karena adanya penyumbatan jalan nafas. Penyumbatan jalan nafas ini bisa disebabkan oleh faktor anatomis jalan nafas, struktur rahang yang kecil dan neuromotor yang melemah.
Sedangkan anatomi jalan nafas yang sempit bisa disebabkan oleh bentuk leher yang pendek tetapi besar, besarnya pangkal lidah, melunaknya langit-langit mulut, pembesaran amandel dan adenoid, serta besarnya uvula atau anak lidah. Sementara struktur rahang yang kecil, seperti banyak terdapat pada orang Asia juga dapat mempersempit jalan nafas.
Suara dengkuran merupakan tanda penyempitan saluran napas atas. Ketika udara melawati saluran yang sempit, tekanannya akan meninggi. Tekanan inilah yang menyebabkan struktur jalan nafas yang lunak bergetar dan timbullah suara dengkuran.
Derajat Keparahan Sleep Apnea
Derajat keparahan OSA diketahui dengan menghitung rata-rata jumlah berhenti nafas per jam (Apnea-Hypopnea Index/AHI). Pembagiannya sebagai berikut :
AHI 0-5/jam : normal, hanya mendengkur tetapi tanpa OSA.
AHI 5-15/jam : OSA ringan.
AHI 15-30/jam : OSA sedang, dan
AHI >30/jam : OSA berat.
Penanganan Sleep Apnea
Seperti penanganan medis lainnya, perawatan sleep apnea juga dimulai dengan cara konservatif. Jika dinilai kurang memadai, maka dilanjutkan dengan tindakan invasif atau pembedahan.
Dijelaskan oleh Dr. Andreas, cara konservatif dimulai dengan usaha untuk menurunkan berat badan, tidur miring serta menghindari alkohol dan obat-obat hipnotik. Dengan tidur miring, maka lidah akan terjatuh ke samping sehingga tidak menghalangi jalan nafas. Efek alkohol memang dapat membantu awal tidur, tetapi juga dapat melemaskan otot-otot pernafasan sehingga dapat menyebabkan sleep apnea. Sementara itu, beberapa obat tidur pun dapat menghambat rangsang nafas.
Continuous Positive Airway Pressure pertama kali diperkenalkan oleh Prof. Colin Sullivan di tahun 1981. Tahun 1985, CPAP sangat populer di kalangan medis sehingga d igunakan secara luas di seluruh dunia. Sedangkan di Indonesia sendiri baru digunakan di tahun 2000-an. Kini CPAP menjadi standar emas bagi perawatan sleep apnea.
Menurut Dr. Andreas, prinsip unit CPAP itu mudah. Alat tersebut akan meniupkan udara bertekanan positif untuk membuka sumbatan di jalan nafas. Dengan demikian, henti nafas yang menyebabkan proses tidur terpotong tidak terjadi.
Penggunaan CPAP memerlukan beberapa waktu untuk beradaptasi. Kebanyakan penderita dapat langsung merasakan manfaatnya. Namun edukasi tentang penggunaan, perawatan, dan cara beradaptasi menjadi sangat penting. Untuk itu, klinik gangguan tidur yang baik juga memiliki program CPAP trial, dimana tenaga kesehatan yang terlatih secara khusus dapat memperkenalkan dan melatih penderita menggunakan CPAP dengan baik dan nyaman.
Dr. Andreas mengatakan, pasien dengan OSA yang ringan, maka diindikasikan untuk menggunakan CPAP. Sedangkan untuk OSA sedang dan berat, maka diwajibkan untuk memakai CPAP.
Berbagai Jenis Masker
Dr. Andreas memberitahukan, ada berbagai jenis masker, yaitu :
Selain itu, ada pula macam-macam CPAP seperti, Fixed yaitu CPAP dengan moda tekanan yang sama sepanjang malam; Auto-PAP yaitu CPAP dengan moda tekanan otomatis yang dapat disesuaikan sepanjang malam dengan kebutuhan pasien dan Bi-level PAP yaitu PAP dengan tekanan inspirasi (tarikan napas) dan ekspirasi (buang nafas) yang berbeda.
Dr. Andreas memberitahukan, CPAP ini dapat digunakan selama orang tertidur. Alat yang harga termurahnya sembilan jutaan ini minimal digunakan selama 4 jam dalam sehari. Dengan menggunakan CPAP, maka orang yang tadinya mendengkurpun menjadi tidak mendengkur sama sekali. Sehingga sleep apnea juga pastinya tidak terjadi. So.. jika Anda tidak ingin mengalami henti nafas, maka gunakan saja alat ini..tentunya dengan terlebih dahulu berkonsultasi dengan dokter . Deppy Marlinda
Perhatikan Posisi Tidur & Waktu Tidur Anda!
Semua orang pasti pernah tidur. Entah itu tidur siang atau malam. Tidur biasanya diidentikkan dengan waktunya mengistirahatkan mata dan tubuh. Namun apakah posisi dan waktu tidur Anda sudah benar?
Menurut praktisi kesehatan tidur Dr. Andreas Prasadja, RPSGT, sebenarnya semua posisi tidur itu baik. Namun sebenarnya dalam konteks kesehatan, posisi tidur yang baik berkaitan dengan posisi tulang belakang. Posisi tidur yang terbaik adalah tulang belakang tegak dan bukan lurus. Yang dimaksud dengan tegak di sini memang bukan berarti tulang belakang lurus. Sebab dalam keadaan normal tulang belakang memang melengkung dalam derajat tertentu dan tidak sepenuhnya lurus.
Meski kepala menggunakan bantal dan tubuh ditopang kasur, posisi tulang belakang tetaplah harus tegak. Begitu pula dengan berbagai posisi tidur baik telentang, miring kanan-kiri maupun tengkurap. Hal yang terpenting adalah posisi tidur haruslah tegak. Untuk ibu hamil disarankan untuk miring, karena perut sudah membesar.
Manfaat dari tulang belakang yang tegak adalah menghindari terjadinya kelainan bentuk tulang belakang. Seperti sakit pinggang, HNP (Hernia nukleus pulposus: pergeseran piringan tulang belakang), kiposis (bungkuk), dan lain-lain.
Untuk masalah tidur, sulit rasanya untuk orang mengatur posisinya. Sebab ketika orang tertidur pulas, maka ia tidak menyadari bagaimana posisi tidurnya. Namun menurut Dr. Andreas, ketika orang tidur dan merasa tidak nyaman dengan posisinya, maka orang tersebut akan mengubah posisinya.
Sesak Napas Bukan Karena Posisi Tidur
Mungkin anda salah satu orang yang sering mengalami sesak napas saat tidur. Menurut Dr. Andreas, sesak napas bukan disebabkan salah posisi tidur. Namun, gejala tersebut mungkin disebabkan oleh sleep apnea, yaitu sebuah gangguan tidur berupa henti napas saat tidur.
Bagaimana dengan Waktu Tidur Anda?
Waktu tidur anak usia sekolah yang terbaik adalah 10 sampai 11 jam. Sedangkan untuk orang dewasa muda adalah 9 jam 15 menit sampai 9,5 jam. Lalu untuk orang dewasa adalah 8 jam. Sedangkan usia di atas 50 tahun adalah 6 – 7 jam.
Dr. Andreas memberitahukan, bahwa orang harus memahami, bahwa kurang tidur itu sebenarnya sebuah kondisi pola tidur yang berbeda-beda antara orang remaja, dewasa maupun anak-anak.
Secara umum, kebutuhan tidur orang dewasa muda berkisar 8,5 – 9,25 jam per hari. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, orang dewasa muda memiliki cara tersendiri dalam mengatur pola tidurnya. Namun biasanya pola tidur orang dewasa muda berubah-ubah alias tidak menentu. Saat orang lain mulai mengantuk pada pukul 21.00 atau 22.00, justru mereka bersemangat untuk bekerja, belajar atau menyelesaikan tugas-tugasnya. Rasa kantuk baru akan menyerang sekitar tengah malam, yaitu pada pukul 00.00 – 01.00, bahkan ada yang tidak tidur hingga pagi.
Oleh karena itu, maka orang yang kurang tidur akan mengalami hutang tidur. Hutang tidur yang menumpuk dapat berakibat pada berkurangnya kemampuan mental, konsentrasi, daya ingat, prodktivitas dan refleks sewaktu berkendara.
Selain itu, menurut Dr. Andreas, efek dari kekurangan tidur bisa mengakibatkan gangguan matobolisme, buruknya daya tahan tubuh, perbaikan sel-sel jaringan yang jelek, mengantuk dan lelah. Intinya orang kurang tidur sama dengan tidak produktif.
Nah… Jika Anda ingin terhindar dari sakit yang disebabkan karena tulang belakang dan tidak ingin menjadi orang yang tidak produktif, maka mulai sekarang perhatikanlah posisi dan waktu tidur Anda!.Deppy Marlinda
O Klinik, O Channel TV


Berawal Coba-coba, Justru Jadi Pertama
Majalah Dokter Kita, Desember 2009
Siapa yang mengira, kalau seseorang dapat gelar dokter karena tidak sengaja? Dan siapa juga yang menyangka, jadi dokter kesehatan tidur pertama di Indonesia karena keceblos? Itulah Dr. Andreas Prasadja, RPSGT, yang mengakui bahwa semuanya itu serba kebetulan dan coba-coba.
Setelah lulus SMA, Dr. Andreas tidak memiliki tujuan ingin kuliah dimana dan mengambil jurusan apa. Lalu Dr. Andreas mencoba mengikuti tes perguruan tinggi dan mengambil jurusan kedokteran. Siapa yang mengira, hasil coba-coba itulah membuat dirinya diterima menjadi mahasiswa di Universitas Katolik Atmajaya.
Selama menjalani pendidikan kedokterannya dan setelah lulus kuliah tahun 2000, tak pernah sedikitpun terbesit di otaknya apakah setelah lulus dokter umum akan menjalani pendidikan spesilisasi atau tidak. Begitu juga untuk menjadi dokter kesehatan tidur pertama di Indonesia.
Dokter Tidur Pertama
Beberapa tahun setelah lulus dari kuliah kedokteran, Dr. Andreas praktek di salah satu rumah sakit swasta di daerah Kemayoran sebagai dokter jaga. Dari situlah akhirnya dirinya menjadi dokter kesehatan tidur pertama di Indonesia.
Dr. Andreas bercerita, bahwa semua berawal dari dirinya yang diperkenalkan kedokteran tidur oleh pemilik rumah sakit tempatnya bekerja. Saat itu, di rumah sakit tersebut telah memiliki laboratorium tidur, hanya saja belum ada dokter yang menjalani. Akhirnya Dr. Andreas diminta untuk belajar tentang hal tersebut.
”Sempat bingung. Untuk apa laboratorium tidur? Kalau orang ingin tidur, ya tidur saya,” ungkap dokter kelahiran Jakarta, 16 Mei 1975.
September 2005, Dr. Andreas dikirim ke Singapura untuk mengikuti Polysomnography Course and Sleep Medicine Review. Dari sanalah Dr. Andreas terbuka terhadap kesehatan tidur. Akhirnya ketika pulang dari sana, Dr. Andreas pun kembali meminta dikirim untuk menambah pengetahuannya tentang Sleep Medicine and Technology di Sydney University, Australia.
Berapa tahun kemudian, Dr. Andreas mengikuti ujian tentang kesehatan tidur dan mendapatkan gelar RPSGT atau Registered Polysomnographic Technologist di Amerika Serikat tahun 2008. Selain itu, ujian tersebut pun untuk mendapatkan pengakuan internasional dalam bidang kesehatan tidur. Beruntungnya Dr. Andreas adalah dokter pertama di Indonesia dengan keahlian tersebut.
”Ibaratnya semua itu berawal dari saya dicemplungin, lalu kelelep dan jadi asik,” ujar suami dari Kristanti Madona.
Pendidikan yang dijalani Dr. Andreas berupa kursus selama dua minggu. Meskipun waktunya singkat, tetapi ilmu yang diperoleh dan pendidikan yang dijalani sangat penting. Sehingga membuat dirinya menjadi tertarik untuk mendalami masalah kesehatan tidur.
Jatuh Cinta Kesehatan Tidur
Dokter yang memiliki anak bernama Chiara Monica ini tidak pernah menyangka bahwa kesehatan tidur sangatlah menarik dan penting. Itulah yang membuat dirinya jatuh cinta pada kesehatan tidur.
Selama ini dirinya berpikir bahwa gangguan tidur itu hanyalah sebatas tidak bisa tidur. Padahal, kenyataannya salah satu gangguan tidur seperti mengantuk justru bisa menurunkan kualitas hidup seseorang.
Selain itu, ketertarikan Dr. Andreas pada masalah kesehatan tidur itu juga karena dirinya jadi bisa membaca dan menganalisa gelombang otak dan fungsi tubuh yang lain ketika tidur, serta melihat gangguan tidur seperti henti nafas (sleep apneu).
Meskipun Dr. Andreas tertarik melihat itu semua, tapi sejujurnya dirinya merasa kasihan pada pasiennya yang mengalami gangguan tidur. Sebab ketika tidur, di antara mereka ada yang mengalami henti nafas sekian detik, atau sangat mengantuk, lemas, tidak bisa konsentrasi dan lain-lain.
Kerap kali orang menganggap bahwa orang-orang yang sering mengantuk atau banyak tidur adalah orang yang pemalas dan tidak produktif. Padahal mereka mengantuk mungkin karena tidurnya terganggu. ”Tidur adalah langkah awal untuk meningkatkan produktivitas,” tegas Dr. Andreas.
Dr. Andreas menyontohkan, jika sebuah pekerjaan yang dikerjakan oleh orang yang cukup tidur dapat dikerjakan dalam waktu setengah jam, tapi jika dikerjakan oleh orang yang kurang tidur atau mengantuk, tugas tersebut dikerjakan selama dua jam. Manakah yang produktif?
Menurut Dr. Andreas, yang dikutip dari pendapat Bapak Kedokteran Tidur Prof. William C. Dement, ”Sayang sekali banyak orang yang berada dalam kondisi mengantuk dan tidak produktif.” Padahal itu semua bisa diatasi, kalau saja mereka mau mengatur pola tidurnya dan mengetahui mekanisme tidur, seperti adanya hutang tidur, jam biologis dan lain-lain.
Selain itu, kutipan favorit Dr. Andreas yang lain adalah lebih mudah menilai status kesehatan seseorang itu dari mengamati tidurnya, bukan dari mengamati kebiasaan olahraga maupun kebiasan makanannya. Karena untuk mencapai kesehatan yang paripurna, diperlukan tiga komponen kesehatan yaitu olahraga, nutrisi yang seimbang dan tidur.
Dokter Pun Mengalami Gangguan Tidur, Bagaimana dengan Anda?
Dr. Andreas memiliki harapan agar masyarakat bisa perhatian terhadap masalah kesehatan tidurnya. Sebab bukan hanya masalah kurang tidur atau mengantuk saja yang terjadi karena gangguan tidur, tetapi banyak faktor dan ini bisa terjadi oleh siapapun, bahkan dirinya yang dokter kesehatan tidur pun mememiki gangguan tidur.
Dr. Andreas mengakui bahwa dirinya juga mengalami gangguan tidur yaitu sleep apnea atau henti napas ketika tidur. Untuk itu, ketika tidur, Dr. Andreas selalu mengunakan masker hidung yang dihubungkan dengan unit CPAP atau Continuous Positive Airway Pressure yang dapat menghindari terjadinya gangguan tersebut.
Dokter yang selalu bersepeda pulang-pergi kantor ini, tidak merasa malu atau kerepotan menggunakan alat transportasi tersebut. Menurutnya, orang yang merasa dirinya sehat, lalu menggunakan alat tersebut pasti akan merasa tidak nyaman. Namun orang yang mengalami sleep apnea, pasti akan merasa nyaman dan terlelap saat tidur.
”Motivasi saya menggunakan alat itu, karena saya tidak ingin mengalami sleep apnea dan penyakit lainnya. Apalagi menggunakan alat itu membuat saya tertidur pulas dan bangun dengan segar,” ujar dokter yang memiliki hobi fotografi dan bersepeda.
Perkembangan Kesehatan Tidur
Menurut Dr. Andreas, perkembangan kesehatan tidur sudah berjalan di Indonesia. Dilihat dari pendidikan, beberapa spesialisasi seperti THT, neurologi dan interna sudah mulai menyinggung soal kesehatan tidur di kurikulumnya. Meski belum ada mata kuliah khusus tentang kesehatan tidur.
Kalau dilihat dari pelayanan kesehatan, sudah banyak rumah sakit yang memiliki keinginan untuk membuka klinik tidur dan laboratorium tidur. Selain itu juga sudah ada beberapa rumah sakit yang membuat klinik tidur, hanya saja berdasarkan penglihatan Dr. Andreas, ada beberapa rumah sakit yang justru salah memilih alat. Menurutnya, mungkin disebabkan karena pengetahuan yang kurang tentang hal tersebut dan itu sangat disayangkannya.
Dr. Andreas berharap, bagi mereka yang memiliki fasilitas kesehatan, semoga saja bisa melayani masalah tersebut. Karena kasihan sekali, orang-orang dari daerah yang jauh seperti Papua, Banjarmasin, Medan, Palembang, Bali dan lain-lain, jika harus datang ke Jakarta hanya untuk berobat. Apalagi banyak pasien yang datang padanya karena mengalami sleep apnea dan tidak bisa tidur.
Ayo Bangun!
Sebagai dokter kesehatan tidur pertama di Indonesia, ia memiliki tanggung jawab besar bagi negaranya terutama tentang permasalahan kesehatan tidur. Untuk itu Dr. Andreas selalu berusaha untuk tetap aware terhadap masalah tesebut. Hal yang telah dilakukannya adalah dengan menulis buku Ayo Bangun!, yang membahas tentang masalah gangguan tidur. Selain itu Dr. Andreas juga melibatkan diri dalam seminar dan website yang membahas tentang kesehatan tidur.
”Selanjutnya saya ingin membuat buku lagi tentang kesehatan tidur. Hanya saja waktunya makin sempit, karena sudah banyak pasien yang membutuhkan saya,” ujar dokter yang baru saja menekuni hobi memasak. Deppy Marlinda
Gaya Hidup yang Merampas Tidur
Ternyata tidak demikian. Selain stres banyak faktor-faktor lain yang mempengaruhi proses tidur kita. Berikut adalah beberapa kebiasaan atau gaya hidup yang dapat memperpanjang kondisi terjaga.
Stimulan
Minuman berkafein dan alkohol. Di Indonesia kebiasaan minum alkohol tidak begitu populer. Tetapi sebagian orang beranggapan bahwa dengan minum alkohol akan mempermudah tidur. Ini ada benarnya, tetapi begitu tidur efek alkohol justru membuat tidur tidak dalam. Akibatnya kualitas tidur seseorang jadi buruk. Sedangkan minuman berkafein sudah terlanjur menjadi minuman sehari-hari. Tak jarang, banyak orang yang bergantung pada kafein untuk menopang produktivitasnya. Padahal, kafein hanya akan menyingkirkan rasa kantuk tanpa meningkatkan kemampuan otak. Jalan terbaik sebenarnya adalah dengan mengatur tidur dan pola konsumsi kafein. Kafein akan bekerja selama 9-15 jam di badan kita. Untuk itu batasi konsumsinya hingga 12-15 jam sebelum tidur. Minuman yang mengandung kafein antara lain kopi, teh, cola dan berbagai minuman berenergi.
Olah raga
Berolah raga di malam hari juga sudah menjadi kebiasaan masyarakat perkotaan. Entah karena menunggu macet, atau dengan alasan kesibukan, banyak orang baru sempat berolah raga di malam hari. Padahal jarak waktu selesai berolah raga dan tidur yang ideal adalah 3 jam. Dengan berolah raga memang tubuh akan terasa capek, tetapi adrenalin akan meningkat. Adrenalin akan membuat kita lebih terjaga. Akibatnya walaupun badan terasa lelah, otak seolah tak mau berhenti beristirahat.
Olah raga memang menjadi faktor penting demi menjaga kesehatan dan penampilan. Tapi olah raga saja ternyata tidak menjamin kesehatan seseorang. Sesuai dengan konsep The Triumvirate of Health, untuk mencapai kesehatan yang paripurna, dibutuhkan tiga komponen penting, yaitu kebugaran fisik (olah raga), keseimbangan nutrisi dan tidur yang sehat. Tidur yang sehat juga akan meningkatkan produktivitas.
Kebiasaan Tidur
Kebiasaan tidur yang baik akan menjamin tidur yang nyaman. Biasakan untuk tidur diwaktu-waktu yang sama. Dengan demikian Anda telah men-set jam biologis untuk beristirahat. Setelah terbiasa, kantuk akan datang dengan sendirinya pada jam-jam tersebut. Sebaliknya, jam tidur yang tidak teratur akan mengacaukan pola tidur Anda.
Tidur tanpa persiapan akan merampas tidur. Siap untuk tidur bukan hanya mengantuk saja. Siap untuk tidur adalah mengantuk dan rileks. Padahal banyak orang yang demi produktivitas, ingin terus bekerja hingga kantuk tak tertahankan lagi. Akibatnya mereka merasa lelah tanpa bisa memejamkan mata. Setengah jam atau lima belas menit sebelum tidur, lepaskan semua pekerjaan dan aktivitas yang terlalu menyibukkan mata serta pikiran. Televisi termasuk didalamnya. Lalu lakukan aktivitas yang menyenangkan dan menenangkan. Sekedar membaca atau melakukan perawatan kulit. Setelah merasa cukup santai dan mengantuk, barulah naik ke tempat tidur.
Ngorok dan Serangan Jantung di Malam Hari
Mendengkur, disertai dengan kantuk berlebih merupakan dua gejala utama dari Obstructive Sleep Apnea. Sleep apnea, berarti henti nafas saat tidur, merupakan penyebab hipertensi, diabetes, berbagai gangguan jantung dan stroke.
Saat tidur, saluran napas kita melemah hingga menyempit. Saat menyempit inilah aliran udara terhambat sehingga menggetarkan dinding saluran nafas yang lembek. Ini yang menyebabkan suara dengkuran yang mengganggu. Dalam proses tidur selanjutnya, jalan napas yang melemas ini dapat menyempit total hingga mengakibatkan sumbatan jalan napas. Walaupun dada dan perut masih bergerak berusaha menarik napas, sesungguhnya tidak ada udara yang dapat lewat sehingga dikategorikan sebagai henti napas. Akibatnya, kerja jantung yang seharusnya berdenyut santai pada saat tidur jadi berat. Belum lagi akibat gangguan metabolisme yang meningkatkan kekentalan darah.
Bulan Juli 2008, sebuah penelitian yang diterbitkan pada Journal of the American College of Cardiology, menyarankan agar orang-orang yang pernah mengalami serangan jantung saat tidur harus diperiksakaan kemungkinan mereka menderita sleep apnea.
Dari 92 orang pasien yang pernah mengalami serangan jantung, melalui pemeriksaan tidur, didapati 64 diantaranya menderita sleep apnea. Pasien yang menderita sleep apnea ataupun tidak, memiliki latar belakang pengobatan yang mirip. Yang menarik, waktu terjadinya serangan jantung pada kedua kelompok ini amatlah berbeda. Pasien yang menderita sleep apnea memiliki kemungkinan 6 kali lebih besar untuk mengalami serangan jantung di antara tengah malam hingga pukul 6 pagi. Sedangkan, pasien yang tidak menderita sleep apnea (tidak ngorok) kemungkinan besar mengalami serangan jantung antara pukul 6 pagi hingga sore hari. Jelasnya, pasien yang terkena serangan jantung antara tengah malam hingga jam 6 pagi, 91%-nya adalah penderita sleep apnea!
Dr. Virend Somers dari Klinik Mayo, peneliti senior pada penelitian ini mengatakan bahwa ia mengamati adanya perubahan EKG (rekam irama jantung) saat tidur pada penderita sleep apnea, yang menunjukkan bahwa jantung tidak mendapat suplai darah yang cukup saat tidur. Hingga ia berkesimpulan bahwa sleep apnea dapat menjadi pemicu serangan jantung di malam hari. Meskipun belum dapat dibuktikan secara nyata, melihat bukti-bukti yang ada, beliau tetap menyarankan agar setiap orang yang pernah mengalami serangan jantung di malam hari untuk diperiksakan sleep apnea-nya.
Yang Mendengkur Jangan Mengendara!
Sebuah penelitian yang diterbitkan pada the Annals of Internal Medicine, menunjukkan bahaya mengendara bagi penderita sleep apnea. Kelompok peneliti dari Australia tersebut menyatakan bahwa penderita sleep apnea yang tidak dirawat lebih rentan terhadap alkohol dan kekurangan tidur dibanding orang sehat yang tidak mendengkur, sehingga memiliki resiko tinggi untuk mengalami kecelakaan lalu lintas.
Sleep apnea adalah sebuah gangguan tidur yang ditandai dengan tidur mendengkur dan rasa kantuk berlebih (hipersomnia). Penderita sleep apnea mengalami penyempitan saluran nafas sehingga nafasnya terhenti berulang kali sepanjang malam. Karena sesak, otak penderita akan terbangun-bangun tanpa terjaga. Akibatnya ia merasa kantuk tanpa mengetahui penyebabnya. Sayangnya henti nafas ini, di mata orang awam hanya dikenali sebagai ngorok atau mendengkur.
Efek kantuk yang disebabkan sleep apnea tidak dapat dianggap remeh. Sebuah laporan di Amerika menyatakan angka kematian hingga 1.400 per tahunnya disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas yang berkaitan dengan penderita sleep apnea. Sedangkan di Inggris disebutkan bahwa penderita OSA (obstructive sleep apnea), mengalami kecelakaan lalu lintas 2 sampai 7 kali lebih sering dibanding orang lain.
Pada penelitian terbaru, kemampuan mengendara diujikan pada 38 penderita sleep apnea yang tidak dirawat dan 20 peserta normal. Penelitian tersebut juga menguji ketahanan penderita terhadap kekurangan tidur dan alkohol. Kedua faktor ini diketahui sebagai faktor utama yang menurunkan kemampuan mengendara seseorang.
Awalnya pengemudi yang menderita sleep apnea mengalami kesulitan untuk tetap berada di jalurnya. Bahkan kebanyakan mengalami tabrakan selama 90 menit pengujian.
Kemampuan mengendara penderita OSA semakin memburuk setelah tidur hanya 4 jam malam sebelumya. Begitu pula setelah mengonsumsi alkohol hingga kadarnya di darah mencapai 0,05 (masih dalam batas legal di Australia.)
Setelah mengalami kekurangan tidur, 12 penderita sleep apnea mengalami tabrakan, sementara 8 orang lainnya mengalami hal yang sama setelah minum alkohol. Padahal pengendara yang sehat sama sekali tidak mengalami kecelakaan.
Dalam kondisi normal, 4 penderita sleep apnea mengalami kecelakaan, dibandingkan hanya satu orang dari kelompok peserta yang sehat.
Peneliti utama dari Adelaide Institute for Sleep Health, Andrew Vakulin, mengatakan bahwa, mengendara dalam keadaan kurang tidur atau setelah minum alkohol sudah cukup berbahaya bagi siapa pun. Tapi penemuan terkini mendapati bahwa penderita sleep apnea harus jauh lebih hati-hati lagi. Terutama jika mereka akan mengemudi lebih dari satu jam.
Sementara penelitian-penelitian sebelumnya telah menunjukkan peningkatan dalam keselamatan berkendara pada penderita sleep apnea yang telah dirawat.
Di negara-negara maju, kesehatan tidur dan keselamatan mengendara sudah amat diperhatikan. Inggris misalnya, semua pengendara yang diketahui mendengkur harus melaporkan dirinya pada Driver & Vehicle Licensing Agency (DVLA). Menurut peraturan di sana, jika seorang pengemudi terdiagnosa atau terduga menderita sleep apnea, ia tidak diperbolehkan mengendara sampai gejala kantuknya berkurang dan telah dikonfirmasi oleh tenaga medis. Bahkan pengendara kendaraan umum yang menderita sleep apnea harus diperiksa ulang secara berkala demi keselamatan penumpangnya. Ada pun perawatan utama sleep apnea adalah dengan menggunakan Continuous Positive Airway Pressure (CPAP).
Kematian akibat sleep apnea dapat terjadi disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas maupun kecelakaan kerja. Tetapi bukan itu saja, para ahli kesehatan tidur juga mengingatkan bahwa sleep apnea juga menjadi penyebab hipertensi, gangguan jantung, diabetes dan stroke, yang kesemuanya dapat meningkatkan resiko kematian seseorang.
Olah Raga, Diet dan Tidur
Berbagai informasi di sekeliling menyarankan agar kita menjaga kesehatan dengan berolahraga rutin dan makan makanan yang sehat. Bahkan teman-teman di ‘gym’ pun terus mengingatkan hal yang sama, kurangi makanan berlemak, jangan yang manis-manis, lakukan kardio… dan lain sebagainya. Tapi nyatanya, banyak dari kita sudah bersusah payah menjaga makan dan terus nge-’gym’ masih saja merasa tak bersemangat, cepat lelah dan sulit menurunkan berat badan.
Ada sesuatu yang kurang, dan itu adalah tidur. Ya, kita kurang memperhatikan tidur kita. Dengan tidur yang sehat (cukup dan berkualitas) kita bangun dengan segar, bugar dan penuh semangat. Kita pun tahu bahwa semua makhluk hidup membutuhkan tidur. Sedemikian pentingnya proses tidur, hingga bayi yang baru lahir menghabiskan 22 jam sehari dalam kondisi tidur. Ini untuk menjamin proses tumbuh kembang yang normal. Dan tahukah Anda, bahwa sistem daya tahan tubuh kita hanya bekerja optimal pada saat tidur? Ya, sehingga prlu diingat, segala macam vitamin yang kita berikan pada putra-putri kita akan percuma saja jika tidurnya kurang.
Tidur dan Obesitas
Masalah tidur yang paling berbahaya saat ini adalah sleep apnea, atau henti nafas saat tidur, yang ditandai dengan mendengkur dan kantuk berlebih. Kita juga juga tahu bahwa orang yang gemuk rata-rata tidur mendengkur. Tapi nanti dulu, bagi ras Asia (termasuk Indonesia) tidak perlu gemuk untuk menderita sleep apnea. Ini disebabkan oleh struktur rahang yang sempit dan leher yang pendek pada orang Asia. Henti nafas saat tidur, akan menyebabkan penderitanya terbangun-bangun (tanpa tersadar) dalam tidur. Akibatnya ia akan selalu berada dalam kondisi kurang tidur, walaupun sudah tidur cukup. Tak heran jika penderitanya mudah sekali mengantuk.
Kondisi kurang tidur, baik karena kualitas tidur yang buruk atau jam tidur yang kurang, memiliki nafsu makan yang tinggi. Ini disebabkan oleh menurunnya kadar leptin (hormon pengontrol nafsu makan.) Belum lagi pengaruh kondisi kurang tidur yang menyebabkan seseorang jadi malas untuk berolah raga. Ini menjadi semacam lingkaran setan. Dan untuk memutusnya, sleep apnea harus diatasi terlebih dahulu. Setelah kualitas tidur diperbaiki, akan lebih mudah bagi seseorang untuk menurunkan berat badan.
Berbagai penelitian juga menunjukkan bahwa perawatan sleep apnea akan memperbaiki kondisi kesehatan seseorang. Sleep apnea telah lama dihubungkan dengan hipertensi, gangguan jantung dan stroke. Bahkan di bulan Juni 2008, IDF (International Diabetes Federation) sudah menyarankan agar semua pasien diabetes tipe 2 diperiksa tentang kemungkinan sleep apnea. Caranya, mudah saja, tanyakan kebiasaan mendengkur!
Bagaimana dengan Anda sendiri? Untuk beraktifitas sehari-hari, berapa cangkir kopi yang harus Anda minum? Bagaimana dengan minuman berenergi? Coba pertimbangkan. Semakin Anda merasa lelah, semakin banyak kafein yang Anda butuhkan. Dan bukan saja kafein, pendampingnya seperti gula atau pemanis artifisial juga sudah menjadi konsumsi sehari-hari. Bahkan anak remaja pun minum minuman Cola sebagai pelengkap makan. Ini tentu kurang sehat. Semakin banyak kafein yang diminum, semakin terganggu juga tidur kita di malam hari. Ini menciptakan lingkaran setan yang lain. Kafein akan memberi pengaruh 9-15 jam. Untuk itu, aturlah konsumsi kafein. Nikmati kafein dengan aman, yaitu kira 12 jam sebelum tidur.
Olah raga dan Tidur
Semua orang sudah tahu manfaat olah raga bagi kesehatan. Dengan olah raga yang teratur, seseorang menjadi sehat, bugar, ‘alert’ dan penuh vitalitas. Penderita sleep apnea yang sudah dalam perawatan pun tetap dianjurkan untuk berolah raga. Tetapi untuk mendapatkan manfaat maksimal berolah raga, seseorang harus mengatur ‘timing’-nya dengan baik. Jarak waktu yang dianjurkan adalah tiga jam.
Banyak orang yang berpendapat bahwa dengan berolah raga, tubuh akan merasa lelah sehingga mudah tidur. Ini tidak sepenuhnya benar, saat olah tubuh adrenalin akan meningkat kadarnya dalam darah. Akibatnya walaupun tubuh capek, pikiran kita tetap segar sehingga menyulitkan untuk tidur. Penelitian Prof. Livingston juga menunjukkan hubungan antara suhu inti tubuh dengan tidur. Menjelang tidur, suhu inti tubuh akan menurun. Olah raga akan meningkatkan suhu tubuh, sehingga kita memerlukan waktu untuk menurunkannya sebelum tidur.
Celakanya, banyak pusat kebugaran yang buka hingga larut malam. Banyak juga manusia modern yang berolah raga di malam hari karena berbagai alasan seperti baru sempat, menunggu macet atau untuk membantu tidur. Padahal waktu yang paling tepat untuk berolah raga adalah di pagi atau sore hari. Olah raga di malam hari, akan mempersulit tidur. Pada beberapa orang, karena beban utang tidur, ia masih dapat tidur setelah berolah raga, tapi kualitas tidur akan berkurang. Tak heran jika ia nantinya masih merasa lelah setelah tidur cukup.
Hanya tidurlah yang mampu meningkatkan kemampuan kognitif, mental dan emosional. Tidak ada satu zat pun yang dapat menggantikan tidur. Artinya, kemampuan konsentrasi, analisa, kreativitas dan ketelitian kita amat bergantung pada tidur malam sebelumnya. Tidur bukanlah suatu sikap kemalasan. Justru tidur yang sehat akan meningkatkan produktivitas kita.
**************
Prof. Dement, bapak kedokteran tidur, mengemukakan konsep kesehatan yang disebut Triumvirate of Health. Dimana untuk mencapai kesehatan yang paripurna kita perlu memperhatikan tiga faktor: keseimbangan nutrisi, olah raga teratur dan Tidur yang sehat!
Peluncuran Buku
Peluncuran Buku tentang Kesehatan Tidur "Ayo Bangun! dengan Bugar karena Tidur yang Benar."
















