TIDURLAH… DAN JADI LEBIH PRODUKTIF

TIDURLAH… DAN JADI LEBIH PRODUKTIF

Tingkatkan kualitas tidur Anda dan dapatkan hasilnya...

Oleh Lucky F. C. Lombu

Banyak orang yang terlanjur memposisikan tidur sebagai aktivitas biasa, yang dilakukan tiap malam. Setelah bekerja seharian, lelah, kemudian tidur. Tapi faktanya, tidur dan segala hal yang menyertainya tidaklah sesederhana meletakkan tubuh di atas kasur. Banyak hal yang bisa mempengaruhi dan dipengaruhi olehnya.

Menurut dr. Andreas Prasadja, RPSGT, ahli kesehatan tidur dari RS Mitra Kemayoran yang juga adalah dokter kesehatan tidur pertama di klinik tidur pertama di Indonesia, kualitas tidur seseorang juga bisa mempengaruhi produktivitasnya. “Saya ingin mematahkan mitos: Tidur identik dengan malas. Salah! Tidur justru produktif,” kata dr. Ade –sapaan akrab dr. Andreas. Menurutnya, kemampuan produktivitas seseorang bergantung pada kualitas tidur. “Tidak ada satu zat pun yang bisa menggantikannya, termasuk stimulan seperti kopi maupun multivitamin. Stimulan hanya menghilangkan rasa ngantuk, tapi tidak menggantikan manfaat tidur,” kata penulis buku Ayo Bangun! Dengan Bugar Karena Tidur yang Benar.

ATASI GANGGUAN TIDUR
Banyak faktor yang membuat Anda tidak bisa tidur dengan mudah. Ingin mengatasinya? Coba baca dan temukan kebenaran –atau kesalahan– dari mitos-mitos berikut ini untuk mendapatkan tidur yang lebih berkualitas lebih baik.

Mitos: Olahraga sebelum tidur, membantu Anda tidur
Anda mengira, olahraga selain akan menambah vitalitas, juga akan membuat Anda lelah. Dengan kata lain akan membantu Anda tertidur. “Itu pendapat yang salah,” kata dr. Ade. “Badan memang capek, tapi dengan berolahraga adrenalinnya naik, sehingga otaknya menjadi semakin segar.”
Solusi: “Misalnya Anda selesai fitnes jam 9 malam. Kalau Anda tidur di atas jam 12 malam, mungkin masih bisa. Tapi kalau seperti saya yang biasa tidur jam 9 atau 10, hasilnya… tidak bisa tidur.” Maka, jagalah jarak waktu antara olahraga dengan jam tidur. Sebaiknya lebih dari tiga jam, menurut dr. Ade.

Mitos: Alkohol membuat Anda tertidur
Alkohol memang bisa membuat Anda tertidur. Atau untuk beberapa kasus lebih tepat disebut teler. Tapi, alkohol juga memiliki efek buruk. Anda tidak akan tertidur pulas, mudah terbangun, dan kepala Anda akan terasa pusing (karena mabok) saat Anda bangun. Alkohol membuat tidur seseorang tidak ‘mulus’, “Malah membuat kualitas tidur Anda menjadi tidak baik,” kata dr. Ade.
Solusi: Untuk menghasilkan tidur yang berkualitas, sebaiknya Anda tidak meminum alkohol menjelang tidur.

Mitos: Mendengkur tanda pulas
Selain rasa kantuk yang berlebih, mendengkur adalah tanda Anda terkena sleep apnea, atau henti napas saat tidur. Dan penyakit ini sangat berbahaya karena bisa menyebabkan hipertensi, diabetes, gangguan jantung, bahkan stroke.
Solusi: “Karena ini masalah yang serius sekali sehingga harus diperiksa,” katanya. Untuk itu, pasien harus menginap di laboratorium tidur. Ia akan ditempeli sensor yang akan merekam gelombangnya ketika ia tidur. Kemudian hasilnya akan diteliti dan diberikan tindakan lebih lanjut.

Mitos: Mendengar musik dan membaca adalah penghantar tidur
Semua hal yang membuat relaks bisa membantu Anda tidur. Tapi ingat, harus benar-benar membuat Anda relaks. Artinya, jika Anda sudah mendengar belasan jenis musik, atau membaca beberapa judul buku tapi Anda tidak relaks, Anda tetap tidak akan tertidur.
Solusi: “Saya selalu membiasakan pasien memiliki kebiasaan sebelum tidur. Sesuatu yang sehat, menyenangkan dan memberi efek relaks,” kata dr. Ade. Dan dengan asumsi orang pada umumnya mudah sekali bosan dengan aktivitas rutin, persiapkan penghantar tidur alternatif setiap harinya.

Mitos: Suhu udara dan cahaya mempengaruhi tidur
Mengenai suhu udara, itu tergantung selera masing-masing. “Tapi soal cahaya, harus gelap. Tidak bisa ditawar.” Alasannya, melatonin, semacam hormon tidur, hanya diproduksi oleh tubuh saat gelap.
Solusi: Sesuaikan suhu udara dengan kondisi yang Anda inginkan, lalu matikan lampu di ruangan Anda, dan tidurlah.

Mitos: Obat tidur tidak baik untuk tidur
Yang paling ditakuti dari obat tidur adalah adiksi dan toleransi. “Adiksi artinya kecanduan, dan toleransi dalam arti badan bertoleransi dengan dosis obat. Sehingga lama kelamaan butuh dosis yang makin tinggi. Di masa tahun 1960-an, jenis obat tidur masih terbatas sekali. Dan memang membuat kecanduan,” katanya.
Solusi: Obat-obatan sekarang, walau tetap ada efek sampingnya, cenderung aman. Untuk itu gunakan obat tidur dalam dosis yang tepat dan dalam pengawasan dokter.

Mitos: Utang tidur Anda bisa dibayar
Kalau hanya kurang setengah jam masih bisa dibayar. Kalau usia 30-an, paling tidur siang hanya 15 menit. Kalau usia 20-an, masih bisa tidur satu-dua jam. Sehingga kalau tidur malam kurang, siangnya masih bisa,” katanya. Hal ini disebabkan karena kemampuan adaptasi seseorang akan semakin menurun seiring bertambahnya usia. Termasuk juga kebutuhan tidurnya.
Solusi: Ketahui berapa lama kebutuhan tidur Anda. Banyak orang menganggap waktu tidurnya sudah cukup, tapi belum tentu benar. Cobalah tidur sampai Anda benar-benar merasa puas. Dan rasakan apakah Anda menjadi lebih produktif.

Mitos: Tidur lebih cepat lebih baik
“Itu hanya mitos!” kata dr. Ade. Misalnya Anda terbiasa tidur di atas jam 12 malam. Dan Anda dipaksa tidur jam 10. “Mana bisa? Ada jam biologis. Jam biologis saya dengan jam biologis Anda belum tentu sama. Jam biologis ini yang menentukan kapan kita segar, kapan kita ngantuk,” lanjutnya
Solusi: Ikuti saja jam biologis Anda.

Mitos: Stres bikin tidur
“Orang stres karena masalah sudah pasti tegang dan tidak bisa tidur,” kata dr. Ade. Tapi kalau stres karena beban pekerjaan yang bertumpuk, ditambah banyaknya beban utang tidur, Anda bisa saja mengantuk. Jadi, Anda mengantuk bukan karena Anda stres, tapi karena kurang tidur.
Solusi: Kendalikan stres Anda. Anda bisa menggunakan metode hipnoterapi untuk membantu memperbaiki kualitas tidur. Tetap, kebiasaan tidur yang baik harus diutamakan. “Ada pasien yang sudah sembuh, tapi kembali melakukan kebiasaan yang buruk. Hasilnya, kembali lagi,” katanya. (NIN)

[Dikutip dari Rubrik Solusi Majalah Men's Health Indonesia edisi Agustus 2009]
 
link: http://www.facebook.com/note....;id=112469360963&ref= mf 



posted by: King Midas (reply)
post date: 09.01.09 (12:01 am)

Baru pertama kali saya baca tulisan tentang tidur

Saya sendiri akhir2 ini kurang tidur malamnya, max hanya 6jam

Kenapa saya merasa, semakin bertambah usia waktu yang saya butuhkan untuk tidur itu semakin pendek



posted by: sleepclinicjakarta (reply)
post date: 09.04.09 (2:32 am)

Reply to:
Dear king Midas,

Memang dengan bertambahnya usia kebutuhan tidur kita akan semakin pendek. memang demikianlah jam biologis kita.



posted by: IDK (reply)
post date: 09.23.09 (2:41 am)

Saya usia 55 tahun, sudah 2 bulan selalu terbangun tengah malam (+/- 1 jam). Istri saya pernah mengamati saya sedang tidur berhenti bernafas beberapa detik. Mohon saran Dr. Ade. Terimakasih



posted by: sleepclinicjakarta (reply)
post date: 09.24.09 (6:45 am)

Reply to:
Bpk. IDK yang baik,
Jika ada henti nafas seperti yang istri Bpk. ceritakan, ada kemungkinan Bpk. menderita sleep apnea yg artinya henti nafas saat tidur. Ini adalah masalah serius bagi kesehatan. Untuk itu Bpk. harus menjalani pemeriksaan tidur, agar kita tahu persis yang terjadi pada pernafasan Bpk selama tidur.

Salam,
Dr. Andreas Prasadja, RPSGT

Your Name:


Your Comment:


Google
blog-indonesia.com
Click here to join tidur_sehat
Click to join tidur_sehat

Apnea
Uploaded by prasadja

Wawancara Penderita OSA
Uploaded by prasadja

Penderita OSA
Video sent by prasadja

Wawancara Penderita OSA - TPI
Uploaded by prasadja

Sleep Lab
Uploaded by prasadja