Tidur Yuk...
Rabu, 04 Maret 2009 | 10:52 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: ........Sleep my child and peace attend thee, All through the night .....
Boleh jadi, itu adalah penggalan dari syair favorit yang juga Anda nyanyikan saat mengantar si kecil tidur. Tapi tidur bukan cuma nyaman karena memejamkan mata atau membaringkan tubuh di ranjang yang empuk dan hangat. Tidur juga bisa membuat Anda lebih sehat, bahkan saat tidurlah hormon pertumbuhan diproduksi.
Ironisnya, tidur masih menjadi sesuatu yang tak penting di negeri ini. Tidur masih dianggap sebagai fase pasif yang tidak produktif. Tengok saja di kiri kanan Anda, berapa banyak rekan yang mengeluh pusing, mudah lelah, mengantuk dan tak fokus di siang hari. Lalu, apa tindakan mereka? “Kebanyakan memilih minum kopi, multivitamin, minuman berenergi, atau zat stimulan lainnya,” ujar dr. Andreas Prasadja, spesialis ahli di bidang tidur dari Sleep Disorder Clinic -Rumahsakit Mitra Kemayoran, Jakarta. Padahal, menurut Andreas, mereka seharusnya memperhatikan kesehatan tidurnya.
Bagaimana sebetulnya tidur sehat itu? “Salah satu tandanya, saat bangun, kita merasa segar, penuh vitalitas dan bersemangat,” ujar Andreas.
Jika mengikuti proses tidur yang baik, maka kita akan melalui dua tahap gelombang otak yang di dunia kedokteran, dibagi menjadi tahap Non REM dan tahap REM (R). Tahap Non REM dibagi tiga menjadi N1, N2 dan N3.
Saat mulai memejamkan mata, perlahan kita masuk tahap N1. Ini ditandai dengan melambatnya nafas sehingga orang akan melihat kita sudah tertidur. Tapi, sebetulnya kita masih cukup sadar dengan sekeliling. Lalu, masuk tahap N2, dan kita tidak lagi sadar akan sekeliling, tetapi masih mudah dibangunkan.
Semakin dalam, kita akan masuk ke tahap N3 dimana terjadi perbaikan sel-sel tubuh yang rusak. Seseorang yang dibangunkan pada tahap tidur N3 akan merasa sedikit disorientasi sebelum bisa sadar penuh. Pada anakanak, dalam tahap ini dihasilkan growth hormone yang berperan penting pada proses tumbuh kembangnya. Pada orang dewasa, hormon pertumbuhan ini berperan untuk memperbaiki berbagai sel dan jaringan yang rusak.
Berlanjut ke tahap N3, kita akan kembali ke N2 dan masuk ke tahap R. Dalam tidur R, kita bermimpi. Gelombang otak menjadi sangat aktif, namun sebaliknya tubuh malah dilumpuhkan sebagai mekanisme pengaman agar tubuh tak bergerak sesuai mimpi. Para ahli kesehatan tidur percaya bahwa pada tahap tidur R inilah kemampuan kognitif, mental dan emosional seseorang dijaga.
Tahapan tidur dari R akan kembali ke N2, lalu ke N3, N2 lagi, lalu R , begitu seterusnya hingga bangun. Siklus tidur yang terpenuhi inilah yang membuat seseorang bangun dengan rasa segar, sehat dan penuh vitalitas.
Satu hal lagi, dalam tidur itu juga daya tahan tubuh kita bekerja optimal. Yang ini, kita bisa melihat perilaku saat tubuh lemah, hidung tersumbat, badan menggigil pasti selalu ingin ‘lari’ ke tempat tidur. Menurut Andreas, perilaku itu merupakan reaksi tubuh untuk melawan infeksi, dan tidur menjadi bagian penting. “Dalam kondisi itu, interleukin, salah satu sistem daya tahan tubuh meningkat, dan akan membuat tubuh cenderung untuk tidur,” ujarnya.
Tapi, proses tidur memang tak selamanya mulus. Salah satu gangguan tidur yang perlu diwaspadai adalah mendengkur. Mendengkur dianggap wajar oleh masyarakat kita. Padahal mendengkur merupakan salah satu tanda dari sleep apnea.
Sleep apnea atau henti nafas saat tidur menurut Andreas amat berbahaya karena menjadi penyebab hipertensi, penyakit jantung, diabetes dan stroke. Tragisnya, kebanyakan orang Indonesia rawan menderita sleep apnea. Jika literatur asing menyebutkan obesitas sebagai penyebab, tidak demikian dengan ras Asia. Ini karena struktur rahang kita yang lebih sempit, dan leher yang lebih pendek. Sebuah penelitian menyatakan 4 persen pada pria, dan 2 persen pada wanita, tapi data tersebut terjadi di Amerika. “Di Indonesia dicurigai jauh lebih banyak,” katanya menambahkan.
.....Guardian angels God will send thee, All through the night. SUSANDIJANI
TIP
4 Langkah Sebelum Tidur
Sulit tidur? Simak tip dari dr. Andreas Prasadja, RPSGT., spesialis ahli di bidang tidur dari Sleep Disorder Clinic -Rumahsakit Mitra Kemayoran, Jakarta. Pertama, sembilan jam sebelum tidur, hindari konsumsi kafein. Kafein baru hilang dari peredaran darah setelah 9-12 jam. Kedua, tiga jam sebelum tidur, usahakan menyelesaikan aktivitas berolahraga. Olahraga memang membuat tubuh lelah, tetapi justru meningkatkan kadar adrenalin yang menyegarkan otak. Ketiga, satu jam sebelum tidur, tinggalkan semua pekerjaan dan biasakan untuk mengistirahatkan tubuh dan pikiran dengan kegiatan-kegiatan menyenangkan namun bersifat santai. Keempat, jika sudah benar-benar mengantuk baru naik ke tempat tidur. Jangan melakukan kegiatan apa pun di tempat tidur selain tidur dan seks. SDJ
link: http://www.tempointeraktif.co...,20090304-163049,id.html

