Gangguan Tidur Bukan Insomnia Semata

Gangguan Tidur Bukan Insomnia Semata

Keluhan gangguan tidur disebabkan terutama oleh ‘kondisi kurang tidur’ (sleep deprivation.) Kondisi kurang tidur disebabkan oleh jumlah tidur yang kurang atau kualitas tidur yang kurang. Sehingga keluhan pasien dengan ‘kondisi kurang tidur’ bisa luas sekali, mulai dari sulit tidur, tidur-tidur ayam, tidur tidak dalam, bangun tidak segar, selalu mengantuk, cepat lelah, mudah tertidur, sakit kepala yang menetap, vertigo, depresi, hipertensi hingga berbagai gangguan jantung.

Sayangnya di Indonesia frasa gangguan tidur terlanjur identik dengan insomnia. Sementara keluhan kantuk berlebih, juga biasa disebut hipersomnia, kurang diperhatikan. Padahal kantuk berlebih amat mengganggu produktivitas bahkan menyimpan potensi bahaya yang tidak kecil.

Persentase penderita gangguan tidur amat bervariasi. Di klinik gangguan tidur kami, yang terbanyak adalah kasus sleep apnea (henti nafas saat tidur,) diikuti dengan insomnia, sindroma tungkai gelisah, parasomnia baru lalu narkolepsi.

Penderita sleep apnea terbanyak adalah pria dengan perbandingan 90% pria dan 10% wanita. Padahal berdasarkan penelitian di luar negri penderita pria dan wanita sama besarnya. Penyebabnya adalah gejala sleep apnea pada wanita tidak sejelas pada pria. Jika pria mendengkur keras, wanita mempunyai dengkuran yang lebih ‘sopan’. Dan lagi wanita lebih tahan kantuk dibanding pria, sehingga jika pada pria jelas terdapat kantuk berlebih, pada wanita hanyalah keluhan cepat lelah atau kesulitan berkonsentrasi. Di negara-negara maju, penanganan sleep apnea sudah menjadi bagian dari tata laksana hipertensi. Bahkan International Diabetes Federation, sejak Februari 2008 sudah menyarankan agar pasien diabetes diperiksakan kemungkinannya menderita sleep apnea.

Penderita dengan diagnosa insomnia dua pertiga-nya adalah wanita dengan sebaran usia terbanyak pada usia 40 tahunan. Patut diwaspadai juga, bahwa banyak remaja / dewasa muda yang mengeluhkan kesulitan tidur namun sebenarnya masih dalam batas normal. Begini, dalam tubuh kita ada jam biologis yang mengatur segala denyut kehidupan seperti rasa lapar, menstruasi dan kantuk. Usia dewasa muda mempunyai jam biologis yang unik, dimana mereka butuh tidur selama 8,5 jam – 9,25 jam seharinya dengan jam kantuk baru lewat tengah malam. Tak heran, jika banyak orang muda yang merasa sulit tidur pada jam-jam 10 malam sementara orang lain di rumahnya sudah terlelap. Ini juga sebabnya banyak orang muda yang betah ‘gaul’ hingga larut malam, dan tertidur di kampus atau kantor. Ini akan berlangsung hingga letupan-letupan hormon mereda di usia mendekati 30 tahun. Nah, banyak pasien di usia ini yang datang dengan keluhan sulit tidur namun akhirnya dinyatakan normal dan tidak menderita insomnia. Banyak juga pasien wanita yang datang dengan keluhan sulit tidur, ternyata terdiagnosa menderita sleep apnea atau sindroma tungkai gelisah. Mereka biasanya merasakan kualitas tidur yang buruk sehingga cepat merasa lelah di siang hari.

 Penderita sindroma tungkai gelisah tidak mengenal gender. Mereka mengeluhkan sulit tidur, akibat rasa tidak nyaman pada kaki yang mendorong mereka untuk menggerak-gerakkan kaki. Rasa tak nyaman ini digambarkan sebagai rasa pegal, sakit, keram atau sekedar kesemutan. Gangguan ini biasanya disebabkan oleh penyakit syaraf degeneratif (parkinson, alzheimer), tingginya kadar ureum dalam darah atau malah kekurangan zat besi.

 Parasomnia adalah gerakan yang tidak diinginkan selama tidur. Bisa berjalan dalam tidur, berbicara, atau bahkan makan dalam tidur! Jumlah penderitanya tidaklah banyak dan tidak memerlukan tindakan khusus. Terutama pada anak-anak, gangguan ini bisa hilang dengan sendirinya. Yang diperlukan adalah edukasi pada keluarga penderita agar memahami gangguan tidur yang dialami. Salah satu parasomnia yang menakutkan adalah night terrors/pavor nocturnus dimana seorang anak, ditengah malam seolah duduk terbangun, dengan pandangan mata terfiksasi pada satu sudut, menangis keras tanpa bisa ditenangkan. Ketika ditenangkan ia malah menangis semakin keras. Tapi setelah beberapa menit, ia akan diam lalu kembali tidur atau terbangun dalam kondisi bingung. Si anak biasanya tidak ingat sama sekali episode ini, karena memang tidak terjadi pada tahap tidur mimpi.

Narkolepsi tidak banyak diderita, hanya beberapa orang saja. Gangguan tidur ini ditandai dengan serangan kantuk tak tertahankan, otot lemas tiba-tiba setelah emosi kuat, dan fenomena 'tindihan.'

 

 

 



posted by: arhiderrr (reply)
post date: 02.28.09 (7:04 am)

Nice article



posted by: arhiderrr (reply)
post date: 02.28.09 (3:59 pm)

Nice article



posted by: arhiderrr (reply)
post date: 02.28.09 (11:46 pm)

Nice article



posted by: arhiderrr (reply)
post date: 03.01.09 (7:38 am)

Nice article

Your Name:


Your Comment:


Google
blog-indonesia.com
Click here to join tidur_sehat
Click to join tidur_sehat

Apnea
Uploaded by prasadja

Wawancara Penderita OSA
Uploaded by prasadja

Penderita OSA
Video sent by prasadja

Wawancara Penderita OSA - TPI
Uploaded by prasadja

Sleep Lab
Uploaded by prasadja