Mengapa Kita Tidur

Mengapa Kita Tidur

Prof. William Dement, sang bapak kedokteran tidur, pernah mengatakan bahwa jika tidur tidak mempunyai manfaat berarti tidur merupakan sebuah kesalahan besar dari proses penciptaan. Tidak mungkin kita menghabiskan sepertiga hidup untuk tidur yang sia-sia. Lagi pula, bila kita lihat makhluk hidup di sekitar kita, semuanya mulai dari binatang peliharaan, reptil, ikan hingga nyamuk pun mempunyai fase tidak aktif yang bisa disebut sebagai tidur.

Mengapa kita tidur? Ini adalah pertanyaan yang sampai saat ini belum dapat dijawab secara pasti oleh para ilmuwan. Sementara, kebanyakan orang berpendapat bahwa tidur adalah saat istirahat bagi tubuh, agar siap menghadapi tantangan baru. Beberapa orang malah menjawab mereka tidur supaya tidak mengantuk. Sebuah jawaban yang lucu tapi mengandung kebenaran, karena seperti rasa lapar yang dihilangkan dengan makan, kantuk juga dihilangkan dengan tidur. Dan sama halnya dengan rasa lapar, kita pun tidak tahu pasti mengapa kita mengantuk.

Manfaat Tidur

Tidur tidaklah sia-sia. Untuk tahu manfaatnya, mudah saja. Apa yang Anda rasakan jika kurang tidur? Capek? Lelah? Sulit berkonsentrasi? Mudah sakit? Ya. Itulah manfaat tidur yang dapat kita rasakan.

Tidur merupakan sebuah proses yang amat aktif. Tidak seperti pandangan kita selama ini yang menganggap tidur sebagai fase pasif dari keseharian. Ketika kita berada dalam kondisi tidak sadar, bukan berarti tubuh kita mati. Justru amat aktif. Kerja otak kita berubah. Sedikit melambat, lalu memunculkan gelombang-gelombang otak yang diklasifikasikan oleh Dement dan Kleitman sebagai tahapan-tahapan tidur.

Melalui tahapan-tahapan tidur ini, tubuh kita juga memberikan respons yang berbeda-beda. Otot-otot tubuh yang melemas, nafas yang semakin teratur, denyut nadi yang melambat dan seiring dengan semakin dalamnya tidur berbagai hormon dan neurotransmiter pun dikeluarkan oleh tubuh. Salah satunya adalah Growth Hormone, yang pada anak-anak berperan penting dalam proses tumbuh kembang, sedangkan pada orang dewasa dianggap berperan dalam perbaikan jaringan-jaringan tubuh yang rusak. Bagian tubuh yang paling mudah diperhatikan adalah kulit. Bagaimana kulit orang yang kurang tidur? Lebih kusam bukan?

Selain itu, tubuh pun menghasilkan berbagai zat-zat anti untuk mempertahankan tubuh dari serangan virus dan kuman dari lingkungan. Ini diperlihatkan oleh sebuah penelitian yang diterbitkan oleh Journal of the American Medical Association di tahun 2002, yang menunjukkan respon munculnya antibodi setelah penyuntikan vaksinasi influenza pada dua kelompok orang. Kelompok pertama mempunyai kecukupan tidur yang baik, sementara kelompok kedua hanya tidur 4 jam selama 6 malam sebelum dilakukan penyuntikan. Sepuluh hari kemudian, kadar antibodi terhadap virus influenza diukur. Pada kelompok kedua, ternyata kadar antibodi terhadap virus influenza ternyata hanya 50% dibanding kelompok pertama yang cukup tidur.

Selain penelitian ini, banyak sekali penelitian-penelitian yang lebih terfokus pada berbagai  sel daya tahan tubuh. Dan semuanya menunjukkan korelasi yang nyata antara tidur dan daya tahan tubuh terhadap penyakit infeksi maupun tumor. Namun demikian, cara paling mudah memahami hubungan antara tidur dan daya tahan tubuh adalah dengan melihat kondisi badan saat kita sakit. Ketika terserang demam, badan kita terasa lemah dan terus mengantuk. Nah, jika Anda ingin meningkatkan daya tahan tubuh, sepertinya penambahan berbagai vitamin saja belumlah cukup.

Tidur dan Produktifitas

Tahap tidur mimpi dipercaya sebagai tahapan tidur dimana kemampuan mental, kognitif dan emosional kita dijaga. Freud percaya bahwa pada tahap tidur ini emosi-emosi terpendam dapat dikeluarkan secara aman. Penelitian lainnya, mengaitkan kecukupan tahap tidur R (mimpi) dengan prestasi akademik. Pada anak-anak dengan tidur R yang cukup, mempunyai prestasi yang lebih baik.

Sementara penelitian lain melihat efek tidur cukup pada kemampuan mental seseorang. Penelitian yang dilakukan oleh National Sleep Foundation tersebut menunjukkan bahwa kelompok yang kurang tidur, walaupun mampu menghapal dengan baik, kurang dapat mengeluarkan ide-ide kreatif dari data yang dikumpulkan. Disamping itu, tarik pendapat yang dilakukan oleh yayasan yang sama menunjukkan bahwa angka kenakalan dan angka absensi para murid yang mencukupi kebutuhan tidurnya jauh lebih baik dari yang tidak.

Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda merasa cukup produktif dan penuh vitalitas? Apakah Anda merasa dapat menghadapi semua tantangan? Kebanyakan dari Anda pasti menjawab, ya. Anda merasa cukup aktif, cerdas dan penuh vitalitas walaupun dengan tidur yang pas-pasan. Tapi nanti dulu. Ada sebuah penelitian yang meneliti sejumlah orang muda. Mereka merasa cukup produktif dan bahagia dengan cara hidup mereka. Untuk beberapa minggu, mereka menghabiskan setiap sore di laboratorium tidur. Sementara di pagi dan siang hari, mereka beraktivitas seperti biasa. Selama mengikuti penelitian, mereka tidur secara teratur. Awalnya mereka tidur selama 9-10 jam, sepertinya ini untuk membayar hutang dari kekurangan tidur selama ini. Setelah satu minggu, tidur mereka berkembang secara teratur menjadi 7,5–8 jam. Yang mengejutkan, setelah satu bulan semua peserta ingin meneruskan pola tidur seperti ini. Mengapa? Karena menurut pengakuan mereka, kini mereka lebih produktif, percaya diri dan bahagia!

Anda mau mencoba?



posted by: arhiderrr (reply)
post date: 02.28.09 (4:33 am)

Nice article



posted by: arhiderrr (reply)
post date: 02.28.09 (12:24 pm)

Nice article



posted by: arhiderrr (reply)
post date: 02.28.09 (9:17 pm)

Nice article



posted by: arhiderrr (reply)
post date: 03.01.09 (5:07 am)

Nice article



posted by: arhiderrr (reply)
post date: 03.01.09 (1:01 pm)

Nice article

Your Name:


Your Comment:


Google
blog-indonesia.com
Click here to join tidur_sehat
Click to join tidur_sehat

Apnea
Uploaded by prasadja

Wawancara Penderita OSA
Uploaded by prasadja

Penderita OSA
Video sent by prasadja

Wawancara Penderita OSA - TPI
Uploaded by prasadja

Sleep Lab
Uploaded by prasadja