Lab TidurMudik, Tanda Kantuk Membahayakan Keselamatan Berkendara

Informasi Seputar Kesehatan Tidur


Blog For Free!


Archives
Home
2009 June
2009 May
2009 April
2009 March
2009 February
2009 January
2008 December
2008 November
2008 October
2008 September
2008 August
2008 June
2008 May
2008 April
2008 March
2008 January
2007 November
2007 October
2007 August
2007 July
2007 May
2007 March
2007 February
2006 September
2006 July
2006 June
2006 May
2006 April
2006 March

My Links
Tanya Dokter Anda
sehat-online
Respironics
Tidur Sehat dan Gangguannya, Harian "Suara Merdeka"
Artikel Gangguan Tidur "Tabloid NOVA"
Liputan 6 SCTV
American Academy of Sleep Medicine
RES MED
hanyawanita.com
Mendengkur, Jurnal Nasional
Mitra Keluarga
Kelompok Tidur Sehat, Facebook

tBlog
My Profile
Send tMail
My tFriends
My Images


Sponsored
Blog


blog-indonesia.com
Click here to join tidur_sehat
Click to join tidur_sehat

Mudik, Tanda Kantuk Membahayakan Keselamatan Berkendara
09.23.08 (12:59 pm)   [edit]

Setiap tahun, menjelang Hari Raya Idul Fitri ada sebuah tradisi menyenangkan yang biasa dikenal dengan sebutan mudik. Berbondong-bondong kaum urban pulang ke kampung halaman untuk berkumpul dan berbagi suka dengan sanak keluarga.

Segala upaya dilakukan, dari menumpang pesawat terbang, kapal laut, kereta api, bus, mengendara mobil atau motor, bahkan bajaj pun tak ketinggalan meramaikan jalur-jalur mudik. Lalu lintas darat, laut dan udara meningkat drastis. Berdasarkan pengalaman dari tahun ke tahun kecelakaan lalu lintas pun semakin kerap terjadi. Kebahagiaan Hari Raya jadi ternoda akibat luka dan sakit karena kecelakaan di perjalanan. Bahkan tak jarang nyawa pun melayang sia-sia.

Untuk itu kita harus mempersiapkan diri dengan baik. Mulai dari kelengkapan kendaraan, peta, bekal makan-minum hingga tak ketinggalan juga berbagai bentuk stimulan, seperti kopi atau minuman bernergi, untuk mempertahankan stamina di perjalanan. Tetapi sering kali kita lupa untuk memperhatikan kesehatan tidur. Padahal tidur merupakan persiapan terpenting sebelum berkendara jauh.

Jika kita perhatikan berita di berbagai media, kantuk adalah penyebab kecelakaan lalu lintas nomor satu. Bayangkan jika para pengendara bus harus bolak-balik melayani trayek-trayek antar propinsi tanpa henti. Mereka harus berjaga sepanjang malam dan hanya punya waktu beberapa jam saja di siang hari untuk tidur. Pengendara kendaraan pribadi pun tak lepas dari bahaya kantuk.

Manusia adalah makhluk cahaya, yang artinya harus beraktivitas di siang hari dan beristirahat di malam hari. Kita tidak diciptakan untuk berjaga sepanjang malam. Namun berkat kemajuan teknologi, semakin banyak pekerjaan yang dapat dilakukan hingga jauh menembus malam, salah satunya adalah berkendara.

Semua ini diatur oleh jam biologis yang menentukan kapan saat beraktivitas dan kapan harus beristirahat. Ketika kita beraktivitas di saat seharusnya beristirahat, jam biologis secara otomatis akan mendatangkan kantuk. Untuk lebih mudah memahami tanda-tanda kantuk mulai membahayakan, mari kita bayangkan sebuah perjalanan mudik yang menyenangkan bersama keluarga.

Dalam perjalanan, setelah beberapa waktu anggota keluarga yang lain sudah mulai tertidur satu persatu. Sendirian terjaga, kantuk pun mulai datang. Ketika kantuk menyerang, segala fungsi yang kita perlukan untuk mengendara akan menurun drastis. Kita mulai menguap untuk menarik lebih banyak oksigen ke otak, dan mata pun mulai terasa pedih dan berair. Ini adalah tanda awal kantuk yang paling mudah dikenali. Saatnya untuk beristirahat? Nanti dulu, perjalanan masih jauh, jika berhenti bisa terlambat. Kita pun menenggak kopi atau minuman berenergi untuk mempertahankan kesadaran. Untuk sementara kesegaran kembali menopang mata, tapi tahukah Anda bahwa dalam kondisi seperti ini kewaspadaan dan kemampuan refleks tidak ikut disegarkan! Jawaban yang lebih tepat adalah, beristirahat sejenak lalu melanjutkan perjalanan setelah minum sedikit kopi atau minuman berenergi.

Setelah beberapa waktu tangan kita berulang kali mengusap-usap mata yang mulai terasa penat. Tanpa sadar kepala pun mulai terantuk-antuk, tawaran rekan seperjalanan untuk menggantikan ditolak setelah menenggak lebih banyak kopi. Bahaya semakin mengintai karena tanpa sadar kita sudah masuk dalam periode tidur mikro yang ditandai dengan antukan kepala. Tapi untunglah ajakan rekan untuk bergantian telah membangunkan kita. Dosis kafein dalam darah yang ditingkatkan, sekali lagi dipercaya sebagai penopang kesadaran.

Setelah beberapa waktu, tiba-tiba kita tersadar telah mendekati tujuan tanpa ingat perjalanan yang telah kita lalui selama 10-15 menit terakhir. Seolah sadar dari lamunan kita pun meneruskan perjalanan dengan tenang. Apa yang terjadi? Sebenarnya, saat berkendara dengan kantuk ada sebuah mekanisme otomatis yang membimbing kita melalui perjalanan jika tertidur. Jadi kita telah tertidur dengan mata terbuka! Selama 10-15 menit itu kesadaran kita tertidur dan tubuh bergerak secara otomatis. Sekali lagi Tuhan Yang Maha Kuasa menyelamatkan kita dari maut. Saat-saat seperti itu kita masih dapat berkendara tanpa sadar, tetapi kemampuan untuk bereaksi terhadap kemungkinan kecelakaan adalah nol!

Setelah tiba di tujuan, kegembiraan dan kebahagiaan berjumpa dengan keluarga benar-benar menghilangkan lelah dan kantuk. Seluruh episode penuh bahaya yang baru saja dilalui sama sekali jauh dari benak kita, dan kita pun terlarut dalam kesibukan baru menyiapkan perayaan Hari Kemenangan.

Di kampung halaman penuh dengan hari-hari bahagia yang sibuk dan ramai. Tak jarang kita bercengkerama hingga larut malam untuk memuaskan rasa kangen. Di siang hari kita berkeliling untuk bersilaturahmi dengan para kerabat. Tanpa kita ketahui kita menumpuk hutang tidur tanpa sempat membayarnya. Setelah beberapa hari kita pun bersiap-siap untuk kembali ke ibu kota. Waktu perjalanan dipilih siang hari karena tubuh masih terasa lelah. Di pagi keberangkatan sedikit kantuk masih terasa, tetapi masih dapat diatasi, dan kita pun berangkat pulang. Dengan kelelahan Hari Raya dan hutang tidur yang menumpuk sebenarnya kita mengulangi perjalanan penuh bahaya sama seperti waktu berangkat. Walaupun perjalanan kita lalui di siang hari, kantuk tetap menyerang dengan intensitas yang sama. Oleh sebab itu istirahat yang cukup sebelum perjalanan pulang juga sama pentingnya.

Ada hal penting yang benar-benar harus dicamkan. Kecelakaan disebabkan kantuk masih sering terjadi walaupun peringatan untuk beristirahat sudah dicanangkan di spanduk-spanduk besar di sepanjang jalur mudik. Kenapa? Kecelakaan kerap terjadi karena pengendara tidak tahu kapan harus beristirahat. Pengendara sering kali menganggap dirinya masih terjaga penuh dan tidak tahu bahwa kantuk sudah membahayakan diri dan penumpang yang menjadi tanggung jawabnya. Untuk itu ingat-ingat dan kenalilah tanda-tanda kantuk yang dapat membahayakan.
Kenali juga gangguan-gangguan tidur yang menyebabkan kantuk berlebih, bukan saja insomnia. Rasa kantuk yang datang bukan pada waktunya justru lebih berbahaya. Tanyakan pada keluarga tentang tidur Anda. Bagaimana kondisi tidur? Apakah gelisah? Apakah kaki suka bergerak-gerak? Apakah mendengkur? Jika Anda merasakan gejala-gejala tersebut berkonsultasilah dengan dokter Anda atau Klinik Gangguan Tidur terdekat.

Akhir kata, dengan pengetahuan akan bahaya kantuk terhadap keselamatan berkendara saya harap kita semua dapat lebih memperhatikan kesehatan tidur. Sehingga perjalanan mudik pun menjadi lebih aman dan membahagiakan bagi Anda serta seluruh keluarga.
Selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin.

Dr. Andreas Prasadja, RPSGT
    & nbsp; Sleep Technologist
Sleep Disorder Clinic – Mitra Kemayoran Hospital
Jl. HBR. Motik, Kemayoran
Jakarta 10630

    & nbsp; 

Tanda-tanda kantuk mulai membahayakan:

  • Kehilangan konsentrasi, sering mengerjapkan mata atau mata terasa berat.
  • Pikiran menerawang.
  • Sulit mengingat apa-apa yang telah dilewati; atau melewatkan beberapa rambu atau lampu merah.
  • Berulang kali menguap dan mengusap-usap mata.
  • Sulit menjaga kepala dalam posisi tegak.
  • Melenceng dari jalur, dan melanggar marka-marka jalan.
  • Merasa lelah dan mudah terpancing emosi.
Apakah Anda beresiko? Sebelum berkendara, periksa apakah Anda:
  • Kurang tidur atau lelah (tidur kurang dari 6 jam akan meningkatkan resiko hingga tiga kali lipat.)
  • Menderita insomnia, gangguan tidur yang menyebabkan kualitas tidur buruk (sleep apnea/mendengkur), atau menanggung banyak hutang tidur.
  • Mengendara jarak jauh tanpa jeda istirahat yang cukup.
  • Mengendara pada jam-jam biasanya tidur.
  • Mengkonsumsi obat-obatan yang membuat kantuk (antihistamin, antidepresan atau obat flu.) 
  • Bekerja lebih dari 60 jam seminggu (meningkatkan resiko hingga 40%.)
  • Mengerjakan dua pekerjaan sekaligus dan pekerjaan utamanya adalah pekerjaan dengan shift malam.
  • Minum minuman beralkohol (walaupun hanya sedikit.)
  • Mengendara sendirian atau melewati jalan yang panjang, sepi dan membosankan.
Sebelum mengendara seorang pengemudi sebaiknya:
  • Tidur yang cukup. Pada orang dewasa 7,5-8,5 jam, sedangkan pada remaja atau dewasa muda (18-29 tahun) adalah 8,5-9,25 jam.
  • Untuk perjalanan jauh, usahakan jangan berkendara sendirian. Teman seperjalanan dapat membantu melihat tanda-tanda kantuk dan dapat menggantikan untuk sementara waktu. Penumpang juga sebaiknya tidak tidur dan terus mengobrol dengan pengendara.
  • Hindari alkohol dan obat-obatan yang menyebabkan kantuk.
  • Berkonsultasilah pada dokter atau klinik gangguan tidur jika mengalami kantuk berkepanjangan, sulit tidur di malam hari dan/atau tidur mendengkur.
 


posted by: oddie (reply)
post date: 09.27.08 (8:45 am)

Wah... aku baru tahu tidurpun ada ilmunya...heheheh
salam kenal



posted by: gabi (reply)
post date: 10.03.08 (4:50 am)

dok, saya mahasiswa psikologi, sedang mencari data tentang prevalensi insomnia di indonesia. saya akan sangat berterimakasih kalu dokter mungkin punya datanya dan bersedia memberitahu saya lewat reply comment di site ini. terima kasih banyak dok.



posted by: sleepclinicjakarta (reply)
post date: 10.12.08 (7:19 pm)

Reply to:
Dear gabi,
Mohon maaf, saya tidak memiliki data yang dimaksud. Karena bidang kedokteran tidur masihlah amat baru di Indonesia. Mungkin Anda bisa mencoba bertanya ke bagian Psikiatri FKUI.

Salam,
Dr. Andreas Prasadja, RPSGT

Your Name:


Your Comment:


Google

Apnea
Uploaded by prasadja

Wawancara Penderita OSA
Uploaded by prasadja

Penderita OSA
Video sent by prasadja

Wawancara Penderita OSA - TPI
Uploaded by prasadja

Sleep Lab
Uploaded by prasadja