Lab TidurHipertensi dan Mendengkur (Ngorok)

Informasi Seputar Kesehatan Tidur


Blog For Free!


Archives
Home
2008 September
2008 August
2008 June
2008 May
2008 April
2008 March
2008 January
2007 November
2007 October
2007 August
2007 July
2007 May
2007 March
2007 February
2006 September
2006 July
2006 June
2006 May
2006 April
2006 March

My Links
Tanya Dokter Anda
sehat-online
Online Education in Sleep Management
Respironics
Tidur Sehat dan Gangguannya, Harian "Suara Merdeka"
Artikel Gangguan Tidur "Tabloid NOVA"
Liputan 6 SCTV
American Academy of Sleep Medicine
RES MED
hanyawanita.com
Resindo Medika
Mendengkur, Jurnal Nasional
Mitra Keluarga
Puritan Bennett Sleep

tBlog
My Profile
Send tMail
My tFriends
My Images


Sponsored
Blog


blog-indonesia.com
Click here to join tidur_sehat
Click to join tidur_sehat

Hipertensi dan Mendengkur (Ngorok)
10.23.07 (6:26 pm)   [edit]

Tahukah Anda bahwa salah satu penyebab hipertensi adalah mendengkur? Ya, Anda tentu terkejut dengan pernyataan ini. Ngorok atau kebiasaan mendengkur, ternyata merupakan salah satu gejala gangguan tidur yang bernama sleep apnea yang artinya henti nafas saat tidur.

Penelitian oleh Peppard dan kawan-kawan menyatakan bahwa sepertiga penderita hipertensi juga menderita sleep apnea. Sementara pengalaman di klinik kami menunjukkan bahwa 42% dari penderita sleep apnea ternyata memiliki riwayat hipertensi atau mempunyai peningkatan tekanan darah berarti saat bangun tidur. Komite khusus penangan hipertensi di Amerika pada tahun 2003 juga telah menerbitkan sebuah lembar panduan yang menyebutkan sleep apnea sebagai salah satu penyebab hipertensi.

Obstructive Sleep Apnea, nama lengkap dari sleep apnea, merupakan gangguan tidur yang paling banyak diderita, namun paling sering juga diabaikan. Sebab, disamping masyarakat yang sudah terlanjur menganggap mendengkur sebagai tidur lelap yang wajar, para dokter pun hanya memperhatikan kondisi pasiennya pada koridor saat terjaga.

Untunglah penelitian di bidang kedokteran tidur telah berkembang pesat hingga, kini di negara-negara maju, pengamatan tidur pasien sudah menjadi tindakan pemeriksaan rutin pada pasien-pasien hipertensi yang mendengkur. Pemeriksaan polysomnography (PSG) merupakan pemeriksaan standar di laboratorium tidur untuk mendiagnosa berbagai gangguan tidur termasuk sleep apnea.

Pada orang normal, tekanan darah selalu mengalami sedikit penurunan saat tidur, yang biasa disebut dengan ‘dipping.’ Sedangkan pada penderita sleep apnea dengan tekanan darah normal yang tidak mengalami ‘dipping,’ biasanya akan beresiko untuk menderita hipertensi di kemudian hari.

Orang yang mendengkur biasanya mengalami periode ‘tanpa dengkuran’ yang kemudian diikuti dengan suara dengkuran keras (gasping/chocking.) Sebenarnya periode tanpa dengkuran itu adalah periode henti nafas. Henti nafas disini berarti tidak adanya pertukaran udara akibat tersumbatnya saluran nafas, walaupun gerakan nafas tetap ada.

Setelah mengalami henti nafas, tubuh akan merespons dengan membangunkan otak agar dapat mengambil nafas sejenak. Tetapi periode bangun singkat ini pun tidak disadari oleh penderitanya. Akibatnya proses tidur terpotong-potong sepanjang malam, hingga penderita sleep apnea merasa tidurnya tidak pernah memberikan rasa segar. Itu sebabnya penderita sleep apnea sering merasa kantuk di siang hari (hypersomnia.)

Periode bangun singkat ini juga mengakibatkan peningkatan aktivitas syaraf simpatis yang juga meningkatkan tekanan darah. Peningkatan tekanan darah saat tidur, lama kelamaan akan diikuti dengan peningkatan tekanan darah saat terjaga.

Disamping itu, kadar oksigen yang rendah juga turut berperan. Fluktuasi kadar oksigen dalam darah akan merusak lapisan endotel pembuluh darah. Padahal endotel amat penting untuk menjaga kelenturan pembuluh darah, akibatnya ia akan mengeras dan meningkatkan tekanan darah.

Wanita hamil yang mengalami peningkatan berat badan drastis juga rentan untuk menjadi pendengkur. Penumpukan lemak di daerah leher dapat mempersempit saluran nafas. Akibatnya para wanita pendengkur ini pun beresiko untuk mengalami hipertensi pada kehamilan yang dapat berakhir pada kondisi pre-eklamsia.

Penggunaan Continuous Possitive Airway Pressure (CPAP) yang merupakan standar emas perawatan sleep apnea dapat mengembalikan tekanan darah menjadi normal. Berbagai penelitian telah menunjukkan efek terapi berupa berkurangnya rasa kantuk di siang hari, hilangnya suara dengkuran hingga terkontrolnya tekanan darah dengan penggunaan CPAP.

Selain hipertensi, sleep apnea juga dapat menyebabkan berbagai gangguan jantung, diabetes hingga stroke.

 


posted by: sebastianjoshua (reply)
post date: 11.05.07 (5:33 pm)

sesetengah orang memberitahu bahawa dengkur itu asalnya apabila kita mempunyai masalah jantung....

mungkin satu kajian harus diadakan :-)



posted by: sleepclinicjakarta (reply)
post date: 11.06.07 (4:14 pm)

Reply to: sebastianjoshua
Dengkur menyebabkan gangguan jantung, akibat tekanan dalam dada meningkat saat henti nafas. Dalam tidur, jantung jadi tidak beristirahat.
Belum lagi akibat periode bangun singkat yang mengakibatkan pengentalan darah.
Thanks 4 visiting...

Your Name:


Your Comment:


Google

Apnea
Uploaded by prasadja

Wawancara Penderita OSA
Uploaded by prasadja

Penderita OSA
Video sent by prasadja

Wawancara Penderita OSA - TPI
Uploaded by prasadja

Sleep Lab
Uploaded by prasadja