Tahukah Anda bahwa salah satu penyebab hipertensi adalah mendengkur? Ya, Anda tentu terkejut dengan pernyataan ini. Ngorok atau kebiasaan mendengkur, ternyata merupakan salah satu gejala gangguan tidur yang bernama sleep apnea yang artinya henti nafas saat tidur. Penelitian oleh Peppard dan kawan-kawan menyatakan bahwa sepertiga penderita hipertensi juga menderita sleep apnea. Sementara pengalaman di klinik kami menunjukkan bahwa 42% dari penderita sleep apnea ternyata memiliki riwayat hipertensi atau mempunyai peningkatan tekanan darah berarti saat bangun tidur. Komite khusus penangan hipertensi di Amerika pada tahun 2003 juga telah menerbitkan sebuah lembar panduan yang menyebutkan sleep apnea sebagai salah satu penyebab hipertensi. Obstructive Sleep Apnea, nama lengkap dari sleep apnea, merupakan gangguan tidur yang paling banyak diderita, namun paling sering juga diabaikan. Sebab, disamping masyarakat yang sudah terlanjur menganggap mendengkur sebagai tidur lelap yang wajar, para dokter pun hanya memperhatikan kondisi pasiennya pada koridor saat terjaga. Untunglah penelitian di bidang kedokteran tidur telah berkembang pesat hingga, kini di negara-negara maju, pengamatan tidur pasien sudah menjadi tindakan pemeriksaan rutin pada pasien-pasien hipertensi yang mendengkur. Pemeriksaan polysomnography (PSG) merupakan pemeriksaan standar di laboratorium tidur untuk mendiagnosa berbagai gangguan tidur termasuk sleep apnea. Pada orang normal, tekanan darah selalu mengalami sedikit penurunan saat tidur, yang biasa disebut dengan ‘dipping.’ Sedangkan pada penderita sleep apnea dengan tekanan darah normal yang tidak mengalami ‘dipping,’ biasanya akan beresiko untuk menderita hipertensi di kemudian hari. Orang yang mendengkur biasanya mengalami periode ‘tanpa dengkuran’ yang kemudian diikuti dengan suara dengkuran keras (gasping/chocking.) Sebenarnya periode tanpa dengkuran itu adalah periode henti nafas. Henti nafas disini berarti tidak adanya pertukaran udara akibat tersumbatnya saluran nafas, walaupun gerakan nafas tetap ada. Setelah mengalami henti nafas, tubuh akan merespons dengan membangunkan otak agar dapat mengambil nafas sejenak. Tetapi periode bangun singkat ini pun tidak disadari oleh penderitanya. Akibatnya proses tidur terpotong-potong sepanjang malam, hingga penderita sleep apnea merasa tidurnya tidak pernah memberikan rasa segar. Itu sebabnya penderita sleep apnea sering merasa kantuk di siang hari (hypersomnia.) Periode bangun singkat ini juga mengakibatkan peningkatan aktivitas syaraf simpatis yang juga meningkatkan tekanan darah. Peningkatan tekanan darah saat tidur, lama kelamaan akan diikuti dengan peningkatan tekanan darah saat terjaga. Disamping itu, kadar oksigen yang rendah juga turut berperan. Fluktuasi kadar oksigen dalam darah akan merusak lapisan endotel pembuluh darah. Padahal endotel amat penting untuk menjaga kelenturan pembuluh darah, akibatnya ia akan mengeras dan meningkatkan tekanan darah. Wanita hamil yang mengalami peningkatan berat badan drastis juga rentan untuk menjadi pendengkur. Penumpukan lemak di daerah leher dapat mempersempit saluran nafas. Akibatnya para wanita pendengkur ini pun beresiko untuk mengalami hipertensi pada kehamilan yang dapat berakhir pada kondisi pre-eklamsia. Penggunaan Continuous Possitive Airway Pressure (CPAP) yang merupakan standar emas perawatan sleep apnea dapat mengembalikan tekanan darah menjadi normal. Berbagai penelitian telah menunjukkan efek terapi berupa berkurangnya rasa kantuk di siang hari, hilangnya suara dengkuran hingga terkontrolnya tekanan darah dengan penggunaan CPAP. Selain hipertensi, sleep apnea juga dapat menyebabkan berbagai gangguan jantung, diabetes hingga stroke.
|