Sering kali, ketika berjalan-jalan di Mal, saya sedih memperhatikan orang-orang di sekitar. Begitu banyak orang yang terlihat sehat namun tidak mempunyai vitalitas yang semestinya. Mereka tampak lesu tak bersemangat, dengan kantong mata lebam mengggantung, seolah terpaksa mengikuti keluarga mengisi akhir pekan. Bahkan ada juga yang duduk di kursi menahan kantuk sambil menunggu keluarga berbelanja. Tua, muda, pria ataupun wanita tidak sedikit yang tampak menanggung hutang tidur. Mungkin detak hidup yang terlalu tergesa memaksa mereka untuk mengorbankan waktu tidur. Andai saja mereka tahu bahwa dengan tidur yang baik produktivitas bisa ditingkatkan dengan drastis. Dengan mengorbankan tidur, mereka justru membutuhkan waktu lebih lama untuk menyelesaikan sebuah pekerjaan. Belum lagi efeknya pada status emosional, temperamen, semangat dan motivasi dalam bekerja. Saya juga memperhatikan bahwa beberapa dari mereka mungkin sekali menderita gangguan tidur tanpa pernah menyadari. Perlu juga diingat, gangguan tidur bukan hanya insomnia!!! Banyak gangguan tidur lain yang justru lebih berbahaya dari insomnia. Mereka mudah sekali tidur, bahkan terlalu mudah. Ini disebut hipersomnia. Hipersomnia, jika ditemukan pada orang dengan kebiasaan tidur mendengkur merupakan gejala dari Obstructive Sleep Apnea (OSA.) Dan OSA yang artinya henti nafas saat tidur adalah gangguan tidur yang paling berbahaya karena menjadi penyebab hipertensi, gangguan jantung, stroke dan diabetes. Sedihnya ini justru yang paling sering saya temukan. Wajah-wajah mengantuk dengan leher pendek dan besar, beberapa mempunyai dagu yang kecil, ada yang kegemukan, bahkan ada juga yang telah menggunakan tongkat karena terkena stroke. Saya berani bertaruh, bahwa beberapa dari mereka pasti dengan rutin meminum obat hipertensi atau jantung. Ingin rasanya memberitahu tentang gangguan tidur yang mungkin mereka derita. Tapi rasanya koq aneh. Dokternya saja tidak bilang apa-apa. Ya ini yang justru menjadi salah satu keprihatinan saya. Dokter di Indonesia masih belum peka terhadap berbagai gangguan tidur. Waktu saya kuliah saja, tidur cuma dibahas sebanyak 1 SKS. Padahal di luar sana, setiap pasien yang kegemukan, menderita hipertensi, diabetes atau pasca stroke pasti langsung diperiksakan di sleep laboratory. Sambil terus melamun, keprihatinan saya terus bertambah. Apalagi ketika mengingat berbagai kecelakaan lalu lintas di Indonesia. Di media, sering saya baca bahwa penyebabnya mungkin dikarenakan pengendara yang mengantuk. Tetapi tidak pernah dibahas lebih lanjut kenapa si pengendara mengantuk. Apakah karena jadwal yang terlalu menumpuk atau karena kebiasaan tidur yang kacau atau karena gangguan tidur yang diderita? Kantuk dan tidur memang hal yang biasa, tapi akibatnya nyawa bisa melayang. Akibat dari kantuk bukan itu saja. Kemampuan mental dan emosional pun bisa terganggu. Seseorang yang cerdas dan kritis di masa muda, setelah menderita gangguan tidur, bisa saja menjadi si pemalas yang ‘nrimo’ atau menjadi si pemarah tanpa solusi. Lihatlah berbagai masalah di negeri ini. Bukannya tidak mungkin, jika para wakil rakyat itu tidur dengan baik, mereka dapat menelurkan kebijakan-kebijakan yang cerdas dan membangun, bukannya terkantuk-kantuk hingga tertidur dalam sidang. Ingat juga bahwa kantuk bukan tanda seseorang itu pemalas, tapi kurang mengatur tidur dengan tepat atau bisa juga merupakan tanda menderita gangguan tidur.  Presiden dan beberapa mantan presiden pun terindikasi menderita gangguan tidur. Dari kolega di luar negri saya tahu beberapa mantan pemimpin dan ekonom Indonesia yang menderita gangguan tidur dan sedang dalam perawatan. Bagaimana dengan Presiden kita sekarang? Pada beberapa acara, perhatikanlah foto beliau yang tampak lelah dibalik senyumnya yang khas. Apakah hanya dikarenakan stres (seperti yang kebanyakan orang anggap)? Atau beliau sebenarnya menderita gangguan tidur? Tidakkah para dokter kepresidenan memperhatikan? Sungguh disayangkan jika gangguan yang begitu jelas namun menjadi kabur karena para dokter di Indonesia tidak mempunyai tradisi memperhatikan kebiasaan tidur pasiennya. Untunglah banyak dokter yang kini sudah tergerak untuk memperhatikan kesehatan pasiennya dengan menyeluruh. Namun jumlah mereka masih amat sedikit. Semoga dengan kerja keras dan bantuan dari banyak pihak, kesadaran akan kesehatan tidur semakin meluas. Dan Indonesia pun dapat menyongsong fajar baru dengan penuh kesegaran, vitalitas dan harapan akan Nusantara yang lebih baik. Dirgahayu Republik Tercinta, Indonesia.
|