Lab TidurBeberapa Gangguan Tidur Yang Menyebabkan Kantuk Berlebih

Informasi Seputar Kesehatan Tidur


Blog For Free!


Archives
Home
2008 September
2008 August
2008 June
2008 May
2008 April
2008 March
2008 January
2007 November
2007 October
2007 August
2007 July
2007 May
2007 March
2007 February
2006 September
2006 July
2006 June
2006 May
2006 April
2006 March

My Links
Tanya Dokter Anda
sehat-online
Online Education in Sleep Management
Respironics
Tidur Sehat dan Gangguannya, Harian "Suara Merdeka"
Artikel Gangguan Tidur "Tabloid NOVA"
Liputan 6 SCTV
American Academy of Sleep Medicine
RES MED
hanyawanita.com
Resindo Medika
Mendengkur, Jurnal Nasional
Mitra Keluarga
Puritan Bennett Sleep

tBlog
My Profile
Send tMail
My tFriends
My Images


Sponsored
Blog


blog-indonesia.com
Click here to join tidur_sehat
Click to join tidur_sehat

Beberapa Gangguan Tidur Yang Menyebabkan Kantuk Berlebih
02.22.07 (8:52 am)   [edit]

Sudah terlalu lama masyarakat menganggap gangguan tidur sebagai insomnia semata. Padahal kini begitu banyak gangguan tidur berupa kantuk berlebih atau Excessive Daytime Sleepiness (EDS) yang dikenali oleh kalangan medis. Berikut adalah beberapa gangguan tidur penting yang banyak diderita namun jarang dikenali. Tidak jarang penderitanya ternyata orang terdekat kita.

Narkolepsi

Narkolepsi dalam bahasa awam, bisa dikatakan sebagai serangan tidur, dimana penderitanya amat sulit mempertahankan keadaan sadar. Hampir sepanjang waktu ia mengantuk. Rasa kantuk biasanya hilang setelah tidur selama 15 menit, tetapi dalam waktu singkat kantuk sudah menyerang kembali. Sebaliknya di malam hari, banyak penderita narkolepsi yang mengeluh tidak dapat tidur.

Gangguan terjadi pada mekanisme pengaturan tidur. Tidur, berdasarkan gelombang otak, terbagi dalam tahapan-tahapan mulai dari tahap 1, 2, 3, 4 dan Rapid Eye Movement (REM.) Tidur REM adalah tahapan dimana kita bermimpi. Pada penderita narkolepsi gelombang REM seolah menyusup ke gelombang sadar. Akibatnya kantuk terus menyerang, dan otak seolah bermimpi dalam keadaan sadar.

Untuk mengenali penderita narkolepsi, terdapat 4 gejala klasik (classic tetrad):

  1. Rasa kantuk berlebihan (EDS)
  2. Katapleksi (cataplexy)
  3. Sleep paralysis
  4. Hypnagogic/hypnopompic hallucination.

Katapleksi merupakan gejala khas narkolepsi yang ditandai dengan melemasnya otot secara mendadak. Otot yang melemas bisa beberapa otot saja sehingga kepala terjatuh, mulut membuka, menjatuhkan barang-barang, atau bisa juga keseluruhan otot tubuh. Keadaan ini dipicu oleh lonjakan emosi, baik itu rasa sedih maupun gembira. Biasanya emosi positif lebih memicu katapleksi dibanding emosi negatif. Pada sebuah penelitian penderita narkolepsi diajak menonton film komedi, dan saat ia terpingkal-pingkal tiba-tiba ia terjatuh lemas seolah tak ada tulang yang menyangga tubuhnya.

Kondisi mimpi yang menyusup ke alam sadar bermanifestasi sebagai halusinasi. Penderita narkolepsi biasanya berhalusinasi seolah melihat orang lain di dalam ruangan. Orang lain tersebut bisa orang yang dikenal, teman, keluarga, sekedar bayangan, hantu atau bahkan makhluk asing, tergantung pada latar belakang budaya penderita.

Dengan gejala-gejala yang tidak biasa ini, tidak jarang keluarga menganggap penderita narkolepsi mengidap gangguan jiwa.

Sindroma Tungkai Gelisah

Sindroma tungkai gelisah, Restless Legs Syndrome (RLS) adalah rasa tidak nyaman pada kaki yang dirasakan saat duduk atau berbaring diam untuk waktu yang lama. Rasa tidak nyaman yang sulit digambarkan dengan kata-kata ini hanya dapat dihilangkan dengan cara digerak-gerakkan atau dengan pijatan. Rasa tidak nyaman digambarkan sebagai rasa kesemutan, pegal, sakit atau rasa ada sesuatu yang merambat di dalam.

Gangguan syaraf ini meyulitkan penderitanya untuk jatuh tidur. Sedangkan di saat tidur, otak berulang kali terbangun (micro arousal) akibat kaki yang bergerak-gerak secara periodik tanpa disadari. Sehingga proses tidur pun jadi terpotong-potong. Tidak heran jika salah satu gejala khasnya adalah rasa kantuk berlebih di siang hari (EDS.)

Obstructive Sleep Apnea (OSA)

Henti nafas sewaktu tidur merupakan penemuan terpenting dari dunia kedokteran tidur yang disebabkan oleh menyempitnya saluran nafas atas. Dalam keadaan tidur, saluran nafas melemas sehingga menyebabkan penyempitan. Akibatnya walaupun dada dan perut berusaha menarik nafas, tidak ada udara yang dapat lewat.

Ciri utama dari OSA adalah kebiasaan tidur mendengkur dan adanya rasa kantuk berlebih di siang hari. Gejala lainnya berupa sering terbangun untuk buang air kecil di malam hari, bangun dengan rasa kurang segar, sakit kepala di pagi hari, kemampuan konsentrasi dan daya ingat yang menurun, emosi yang sulit dikontrol, hingga libido yang menurun. Rasa kantuk berlebih berujung pada kualitas hidup yang buruk, seperti turunnya produktifitas dan kemampuan berkendara atau mengoperasikan mesin.

Ini diakibatkan oleh kualitas tidur yang buruk. Saat saluran nafas tersumbat, aliran udara akan berhenti dan mengakibatkan turunnya kadar oksigen dan naiknya kadar karbondioksida dalam darah. Sebuah sensor dalam tubuh akan aktif jika kadar karbondioksida terlalu tinggi. Selanjutnya ia akan membangunkan otak (micro arousal) untuk bernafas. Pada saat ini penderitanya mengeluarkan suara khas seperti tercekik atau tersedak (gasping/choking) yang lalu diikuti dengan kembalinya suara dengkuran. Perlu ditekankan bahwa penderita OSA tidak ingat bahwa dirinya berulang kali terbangun sepanjang malam.

OSA merupakan gangguan yang serius. Tidak jarang penderitanya meninggal dunia akibat kecelakaan kerja maupun lalu lintas. Sedangkan pada kesehatan, OSA merupakan faktor resiko independen dari hipertensi gangguan jantung hingga stroke. Di tahun 1998, WHO bahkan telah menyatakan bahwa OSA merupakan salah satu penyebab dari Hipertensi Arteri Pulmonal.
 


posted by: asrul (reply)
post date: 10.27.07 (11:20 am)

bgaus sekali artikel diatas coz sangat bermanfaat...



posted by: sleepclinicjakarta (reply)
post date: 10.28.07 (5:01 pm)

Reply to:
Terima kasih sudah mampir...
Just spreading the knowledge...



posted by: L_jeki (reply)
post date: 11.20.07 (10:43 pm)

artikelnya sangat membantu saya dlm mempresentasikan TBR ttg Narkolepsi, terima kasih.
kalo ada gambar/video ttg penderita narkolepsi akan lbh menarik lg.coba liat di med.stanford.edu




posted by: baby (reply)
post date: 01.21.08 (11:08 pm)

Bener, artikelnya bagus banget.
Aku termasuk yang sering kena gangguan tidur. Sering banget kena RLS n aku juga pernah kena OSA.
Sampai skrg bingung cara ngatasinya. Tolong dibantu donk!



posted by: sleepclinicjakarta (reply)
post date: 01.22.08 (7:54 pm)

Reply to: baby
Benar sering kena RLS san OSA?
Penanganannya harus diperiksa dulu di lab. tidur.
Coba kontak 6545555 untuk informasi lebih lanjut.




posted by: lisda (reply)
post date: 01.22.08 (11:41 pm)

yes akhirnya ku tau kenapa ngantuk terus padahal baru aja tidur



posted by: sleepclinicjakarta (reply)
post date: 01.23.08 (6:28 pm)

Reply to: Lisda,
Senang bisa membantu.




posted by: adhe (reply)
post date: 05.26.08 (1:31 am)

Weits.. ada jg yg bahas soal gangguan tdr.
Hmm.. bagus nih artikelnya, tapi.. solusinya gmn ya?
Bnr2 m'ganggu nih ngantuk di jam kerja :(



posted by: sleepclinicjakarta (reply)
post date: 05.26.08 (4:40 pm)

Reply to:
adhe,

Pertama, cukupi kebutuhan tidur. Dewasa muda 8,5-9,25 jam sehari, Dewasa (>30 th.) 8 jam sehari.
Kedua, jika sudah tidur cukup namun masih mengantuk, baru lihat gejala-gejala di atas. Ada yang cocok dengan kondisi yang dialami? Jika ada, kunjungi dokter Anda.

cheers,
Dr. Andreas Prasadja, RPSGT

Your Name:


Your Comment:


Google

Apnea
Uploaded by prasadja

Wawancara Penderita OSA
Uploaded by prasadja

Penderita OSA
Video sent by prasadja

Wawancara Penderita OSA - TPI
Uploaded by prasadja

Sleep Lab
Uploaded by prasadja