Perawatan OSA sedapat mungkin dimulai dengan pendekatan konservatif. Jika pendekatan konservatif tidak dapat dilakukan atau tidak sesuai dengan harapan pasien maupun dokter, baru dipertimbangkan pendekatan operatif. Pendekatan konservatif pertama, adalah dengan perubahan gaya hidup. Seperti mengatur tidur agar cukup 8 jam sehari, mengurangi berat badan (jika gemuk) dan tidur dengan posisi miring. Jika hasil pemeriksaan PSG menyatakan OSA yang parah, pendekatan awal tadi tidaklah cukup, sehingga diperlukan bantuan alat bantu berupa CPAP (Continuous Positive Airway Pressure.) Perawatan konservatif ini tidaklah menyakitkan, aman dan tanpa tindakan infasif maupun obat-obatan. Pasien hanya perlu mengenakan masker yang dihubungkan dengan unit CPAP selama tidur. Unit ini hanya meniupkan udara bersih bertekanan yang akan membuka saluran nafas atas. Pada awalnya penggunaan masker selama tidur dirasakan kurang nyaman, tetapi setelah merasakan manfaat di pagi hari semua rasa kurang nyaman tadi menjadi tak berarti. Apalagi dengan kemajuan teknologi dibidang kedokteran tidur, CPAP masa kini sudah jauh lebih nyaman. Tak mengherankan jika kedokteran tidur internasional menyatakan bahwa CPAP adalah terapi pilihan bagi penderita OSA sedang dan berat. Sebelum ditemukannya CPAP terapi pilihan OSA adalah dengan melakukan tracheostomy, yaitu dengan melubangi leher dan memasang sebuah selang pernafasan, sehingga penderita dapat bernafas bebas melalui saluran nafas buatan tersebut. Tetapi prosedur ini sudah lama ditinggalkan. Pendekatan operatif juga merupakan pilihan yang baik. Namun pemilihan jenis terapi haruslah hati-hati berdasarkan PSG (sleep lab.) dan pemeriksaan THT yang teliti. Setiap tindakan, harus sesuai dengan kondisi masing-masing pasien. Misalkan pada pasien dengan OSA ringan atau normal (AHI 0-15) namun merasa tidak nyaman dengan suara dengkurannya dapat memilih prosedur Pillar (pemasangan implant.) Atau operasi pengangkatan amandel dan adenoid yang menjadi terapi pilihan bagi penderita OSA usia kanak-kanak. Uvulo palato pharyngeo plasty merupakan salah satu teknik operasi yang bisa dilakukan. Namun tidak semua pasien dapat dioperasi dengan teknik ini Bahkan banyak literatur dan penelitian di luar negeri masih menyatakan bahwa keberhasilan teknik ini masihlah terlalu bervariasi. Penggunaan laser pada teknik ini sempat mencuat, namun kembali tenggelam dengan dilaporkannya berbagai rasa tidak nyaman yang dirasakan pasien pasca operasi. Sementara ini teknik yang operasi yang paling maju adalah dengan face-enhancement procedure, dimana ruangan di saluran nafas atas diperbesar dengan memotong lalu memajukan kedua rahang pasien. Keberhasilan teknik yang memakan waktu paling tidak 4 jam di ruangan operasi ini dilaporkan cukup baik di negara-negara maju. Teknik lain yang dilakukan pada pendengkur tanpa sleep apnea adalah dengan somnoplasty yang bisa dilakukan dengan mudah dan cepat. Teknik ini dilakukan dengan melukai jaringan menggunakan energi radio-frequency. Diharapkan luka tersebut akan menyembuh dan membentuk jaringan parut yang lebih keras sehingga dapat meluaskan jalan nafas.
|