Pemeriksaan di Laboratorium Tidur / Polysomnography (PSG)

Pemeriksaan di Laboratorium Tidur / Polysomnography (PSG)

 

Sebuah kepedulian baru mulai berkembang dalam masyarakat Indonesia, kepedulian akan kesehatan tidur. Kesadaran ini dipicu oleh perkembangan dunia kedokteran tidur tanah air yang mengikuti perkembangan teknologi kedokteran internasional.

Kemajuan teknologi dibidang kesehatan tidur dipelopori oleh William C. Dement dan mentornya Nathaniel Kleitman di awal tahun 50-an dengan penelitian-penelitan mereka terhadap proses tidur. Dement dan Kleitman adalah dua orang dokter psikiatri yang mendedikasikan diri mereka untuk meneliti tidur manusia dengan menggunakan perekaman gelombang otak (EEG) dan gerakan bola mata (EOG.) Penelitian mereka mencapai puncak dengan dirumuskannya arsitektur tidur berupa tahapan-tahapan tidur yang berulang secara periodik setiap malam. Penemuan ini kemudian menjadi inspirasi bagi peneliti-peneliti lain untuk mulai bertualang menjelajahi dunia baru, yaitu dunia tidur.

Kemudian dunia kedokteran tidur mulai membuahkan hasil berupa berbagai gangguan tidur. Penemuan terpenting adalah narkolepsi dimana penderitanya selalu dalam keadaan mengantuk dan sering mengalami serangan lumpuh otot sementara. Berlawanan dengan pemahaman sebelumnya bahwa gangguan tidur adalah tidak dapat tidur atau tidur kurang berkualitas yang lebih dikenal dengan insomnia, kini dunia mengenal gejala gangguan tidur yang sering disebut sebagai Excessive Daytime Sleepiness (EDS) atau hypersomnia.

Menjelang tahun 1970 muncul pasien-pasien yang semula diduga menderita narkolepsi, tetapi ternyata hasil pemeriksaan laboratorium tidur tidak menunjukkan tanda-tanda narkolepsi. Setelah penelitian panjang, ditemukanlah sebuah gangguan tidur bernama Obstructive Sleep Apnea (OSA.) Selain menderita kantuk berlebihan di siang hari (EDS,) pasien-pasien ini ditemukan tidur dalam keadaan mendengkur diikuti periode henti nafas yang diakhiri dengan periode bangun mini (mini arousals) yang hanya terbaca pada perekaman gelombang otak namun sama sekali tidak diketahui oleh si penderita.

Dengan ditemukannya sleep apnea sebagai sebuah gangguan tidur yang banyak diderita oleh masyarakat luas, perekaman standar dalam laboratorium tidur menyertakan juga perekaman kadar oksigen darah, aliran nafas hidung, dan gerakan nafas. Baru di tahun 1974, Holland, Dement dan Raynal memperkenalkan istilah Polysomnography (PSG) untuk menyebut prosedur pemeriksaan sleep study yang dilakukan di laboratorium tidur.

Kini, laboratorium-laboratorium tidur berkembang di seluruh dunia. Setiap rumah sakit di negara maju telah memiliki laboratorium tidur. Laboratorium tidur telah menjadi standar pemeriksaan untuk menegakkan diagnosa bagi penderita yang diduga menderita gangguan tidur.

Standar internasional PSG meliputi perekaman:

  • Gelombang listrik otak (EEG)
  • Gerakan bola mata (EOG)
  • Tegangan otot (EMG)
  • Irama jantung (EKG)
  • Dengkuran
  • Gerakan nafas (dada dan perut) 
  • Aliran udara nafas
  • Gerakan anggota tubuh
  • Posisi tubuh saat tidur
  • Kadar oksigen dalam darah 
Yang membuatnya berbeda dari pemeriksaan medis lainnya adalah PSG memberikan gambaran keseluruhan aktifitas tubuh selama tidur. Bukan hanya potongan-potongan sesaat kondisi tubuh, seperti pemeriksaan darah misalnya. PSG merekam segala sesuatu yang terjadi mulai dari saat pasien tertidur, melewati tahapan-tahapan tidur serta setiap proses perubahan nafas, tegangan otot, gelombang otak, gerakan mata yang terjadi dalam setiap tahap tidur, hingga saat bermimpi dan akhirnya bangun.

0 Comments

Your Name:


Your Comment:


Google
blog-indonesia.com
Click here to join tidur_sehat
Click to join tidur_sehat

Apnea
Uploaded by prasadja

Wawancara Penderita OSA
Uploaded by prasadja

Penderita OSA
Video sent by prasadja

Wawancara Penderita OSA - TPI
Uploaded by prasadja

Sleep Lab
Uploaded by prasadja