Banyak gangguan tidur yang ‘heboh’ dan misterius, seperti berjalan sewaktu tidur, mengigau, teror saat tidur (night terrors) dan gangguan perilaku saat tidur REM (REM Behavior Disorder - RBD.) Semua gangguan ini masuk dalam kategori parasomnia (dari bahasa latin yang berarti menjelang / hampir tidur.) Menurut Prof. Dement, perekaman gelombang otak penderita parasomnia tampak bolak-balik antara tidur dan bangun, seolah otak cukup terjaga untuk mengirimkan impuls-impuls gerakan, tetapi tidak cukup untuk mengingat atau sadar akan keadaan sekeliling. Inilah sebabnya penderita parasomnia tidak ingat akan kejadian sewaktu serangan. Sleepwalking & Sleeptalking Sleepwaking, somnabulism atau tidur berjalan adalah gangguan dimana penderitanya berjalan dalam tidur. Fenomena yang dikenal di Indonesia sebagai ngelindur ini cukup sering terjadi. Yang khas, saat bangun penderitanya tidak ingat sama sekali akan kejadian itu, maupun mimpi yang berkaitan dengan gerakan yang ia lakukan malam sebelumnya. Ini karena gangguan terjadi pada tahap tidur NREM, dan terutama pada awal-awal tidur dimana hutang tidur masih banyak menumpuk. Tidur NREM adalah fase tidur tanpa mimpi (meskipun beberapa literatur mengatakan bahwa mimpi bisa terjadi di semua tahapan tidur.) Begitu pula dengan mengigau, somniloquy atau sleeptalking. Mengigau merupakan vokalisasi saat tidur, bisa berupa kata-kata yang jelas atau hanya sekedar gumaman. Kondisi ini bisa dipicu oleh keadaan emosional-psikologis, demam atau tidur yang terganggu. Mengigaui biasanya berlangsung pada tahap tidur dangkal, atau kadang kala pada tahap mimpi (tidur REM.) Jika terjadi dalam tahap tidur mimpi, biasanya terjadi bersesuaian dengan mimpi yang mengejutkan, seperti melihat pencuri atau melihat sebuah kecelakaan. Kata-kata yang keluar bisa berkaitan erat dengan mimpi atau bahkan berlainan sama sekali, misalkan dalam mimpi meneriakkan “maling!” tetapi kata yang keluar adalah “mama!“ Walau demikian, biasanya si pengigau tidak ingat apa yang dikatakan atau bahkan mimpinya sendiri. Kedua gangguan ini sering terjadi pada usia muda, bahkan pernah dilaporkan kejadian sleepwalking pada balita yang baru bisa berjalan, meskipun lebih sering tejadi pada anak usia 4 hingga 7 tahun. Kebanyakan kebiasaan ini hilang sendiri setelah menginjak dewasa. Tetapi saat dalam kondisi kurang tidur yang ekstrem, gangguan sewaktu-waktu bisa menyerang. Pavor Nocturnus Sebuah parasomnia lainnya yang sering terjadi pada anak-anak adalah night terror, sleep terror, pavor nocturnus atau teror malam. Seorang anak bisa terbangun dengan tangisan histeris dan pandangan yang mengarah ke satu titik seolah takut akan sesuatu yang tak terlihat oleh kita. Kejadian ini begitu menakutkan karena anak sama sekali tidak merespon pelukan atau belaian orang tua untuk menenangkan. Setelah berlangsung sekitar 5-15 menit si anak, terdiam, memejamkan mata dan kembali tidur. Bagi orang tua anak yang menderita night terror, tetap dianjurkan untuk memeluk dan menenangkan anak yang sedang mengalami serangan walaupun usaha Anda sepertinya sia-sia. Jika si anak akhirnya bangun dalam keadaan disorientasi, peran Anda untuk menenangkan amat penting. Bimbing ia kembali tidur, dan baru tanyakan tentang kejadian semalam di pagi harinya. Pavor nocturnus sering terjadi pada usia antara 2-5 tahun, dan biasanya hilang dengan sendirinya di usia 7 tahun. Seperti tidur berjalan dan mengigau, pavor nocturnus juga dapat ditemukan riwayatnya dalam keluarga, meskipun tidak dikatakan menurun secara genetis. Perawatan Jika dalam keluarga Anda ada penderita parasomnia, perawatan terbaik adalah dengan memberikan pengertian dan support baginya. Buatlah lingkungan tidur yang aman, dengan memastikan tidak ada benda-benda pecah belah yang dapat tersenggol. Tidak jarang penderita sleepwalking tidur di kamar yang berperabotan minimal. Biasakan juga menempatkan kunci di tempat yang cukup rumit untuk mengambilnya, misalkan dalam kotak di dalam laci lemari tempat tidur. Karena biasanya penderita parasomnia kurang sadar dengan lingkungan sekitarnya, ia dapat mengenali sebuah pintu, tapi tidak dapat membuka atau mengambil kuncinya. Ini juga penting agar penderita tidak berjalan keluar rumah. Kebanyakan kasus parasomnia tidak memerlukan pengobatan. Gangguan yang diderita bukanlah suatu bentuk gangguan psikologis maupun suatu penyakit yang berbahaya. Hanya saja ada beberapa hal yang harus dihindari, yaitu narkotika, alkohol dan kondisi kekurangan tidur. Karena ini semua dapat memicu serangan. Sedangkan terapi-terapi tambahan seperti psikoterapi, relaksasi, hipnotis dan meditasi dilaporkan cukup membantu sebagai perawatan jangka panjang. Menarik untuk disimak bahwa serangan parasomnia (tidur berjalan, mengigau maupun night terror) terjadi pada saat-saat awal tidur dimana hutang tidur masih tinggi. Dengan demikian, kondisi tersebut dapat memicu episode parasomnia. Untuk penderita sleepwalking usia remaja atau dewasa muda harus benar-benar memperhatikan jadwal tidurnya. Pahami jam biologis dan kebutuhan tidur satu harinya, dan hindari beraktivitas melewati waktu istirahat (baca bagian: Tidur pada Remaja – Dewasa Muda.)
|