Problematika Tidur Pada Wanita

Problematika Tidur Pada Wanita

 

 

Karena perbedaan faktor hormonal, wanita mempunyai problematika tidurnya sendiri seturut dengan pertambahan usia. Hormon progesteron dan estrogen mempunyai reseptor tersendiri di hipotalamus, sehingga dianggap memiliki andil pada irama sirkadian dan pola tidur secara langsung.

Pada masa produktif, gangguan tidur banyak disebabkan oleh siklus menstruasi. Menjelang menstruasi, kita mengenal adanya sindroma premenstruasi yang terdiri dari sakit kepala, nyeri payudara, kondisi emosional yang tidak stabil, berkurangnya konsentrasi dan pada beberapa orang juga termasuk gangguan tidur. Sementara kebanyakan wanita justru memperpanjang waktu tidurnya hingga 12 jam atau lebih, akan tetapi tidak sedikit yang juga melaporkan kualitas tidur yang kurang. Saat menstruasi, gangguan tidur lebih disebabkan oleh rasa sakit atau kram di sekitar perut.

Masa kehamilan dan sesudah melahirkan merupakan masa yang rawan bagi seorang wanita untuk mengalami gangguan tidur. Pada awal kehamilan, seorang wanita biasanya lebih banyak menghabiskan waktu untuk tidur. Yang biasanya tidur 6-7 jam bisa menjadi 8-10 jam seharinya. Mendekati saat melahirkan, gangguan tidur dalam bentuk insomnia bisa muncul akibat kekhawatiran akan proses melahirkan, posisi tidur yang serba sulit dan juga seringnya buang air kecil.

Resiko untuk menderita Obstructive Sleep Apnea (OSA) pun meningkat, terutama pada wanita yang mengalami terlalu banyak peningkatan berat badan. Sebuah penelitian berskala kecil menghubungkan hipertensi pada kehamilan (preeklamsia) dengan gangguan tidur seperti, OSA dan Periodic Limb Movements. Penyempitan saluran nafas atas bisa diakibatkan oleh faktor kegemukan atau pembengkakkan (oedema) saluran nafas itu sendiri. Akibat penyempitan saluran nafas ini, ia menjadi seorang pendengkur. Wanita dengan lingkar leher yang lebih besar mempunyai resiko lebih besar untuk mendengkur dan menderita OSA. Penggunaan Continuous Possitive Airway Pressure (CPAP,) terbukti dapat memperbaiki tidur, tekanan darah dan kadar asam urat dalam darah wanita yang mengalami preeklamsia.

Setelah melahirkan (masa postpartum) seorang ibu sering mengalami insomnia akibat pola tidur bayi yang belum teratur dan juga depresi setelah melahirkan. Pada masa ini, biasanya keluhan insomnia dapat diatasi dengan penyesuaian diri terhadap pola tidur bayi. Cobalah untuk tidur lebih awal dan bergantian dengan suami.

Insomnia terberat menyerang wanita yang memasuki masa menopause. Selain akibat perubahan hormonal, insomnia biasanya dikaitkan juga dengan gangguan emosi dan keluhan rasa panas yang sering menyerang. Rasa panas ini mengganggu tidur karena harus berganti-ganti baju akibat terlalu banyak mengeluarkan keringat. Untuk mengurangi keluhan-keluhan ini, dulu dianjurkan untuk menjalin terapi sulih hormon. Akan tetapi pengggantian hormon dari luar ini sudah tidak dianjurkan lagi, karena ternyata dalam jangka panjang malah dapat mengganggu proses tidur normal. Keluhan mendengkur juga patut diperhatikan, mengingat dengan bertambahnya usia semakin bertambah pula resiko menderita OSA.



posted by: enerurnAdutty (reply)
post date: 05.19.08 (2:57 pm)

Hello my friends :)
;)



posted by: Canggih nailil (reply)
post date: 09.25.08 (2:26 am)

yach biasa-biasa aja,tapi te2p bagusss...



posted by: sleepclinicjakarta (reply)
post date: 09.25.08 (7:55 pm)

Reply to:
Canggih nailil,

Terima kasih.

Your Name:


Your Comment:


Google
blog-indonesia.com
Click here to join tidur_sehat
Click to join tidur_sehat

Apnea
Uploaded by prasadja

Wawancara Penderita OSA
Uploaded by prasadja

Penderita OSA
Video sent by prasadja

Wawancara Penderita OSA - TPI
Uploaded by prasadja

Sleep Lab
Uploaded by prasadja