Tahukah Anda bahwa 55% kecelakaan lalu lintas disebabkan oleh kantuk. Menurut National Sleep Foundation tidak tidur selama 18 jam mempunyai bahaya yang sama dengan orang yang mengendara dengan kadar alkohol 0,08% dalam darah. Kita tahu, mengendara setelah minum minuman beralkohol itu berbahaya. Tapi perlu kita akui bahwa kita masih kurang peduli dengan keamanan berkendara saat mengantuk. Dengan kondisi kurang tidur, sering kali kita mengesampingkan rasa kantuk dan tetap mengendara. Saat mengendara, dengan kewaspadaan penuh, rasa kantuk seolah hilang, apalagi dengan berbekal minuman berenergi yang konon meningkatkan vitalitas. Setelah beberapa kilometer dilewati, kita mulai menguap untuk menarik lebih banyak oksigen ke otak. Tanpa disadari mata pun mulai berkedip dan berair. Saatnya untuk berhenti? Mungkin nanti dulu, karena setelah dua tikungan berikut ada kedai kopi yang bisa mengembalikan kewaspadaan. Gas pun semakin ditekan, dengan anggapan bahwa menambah kecepatan dapat meningkatkan kewaspadaan dan mengatasi kantuk. Tetapi setelah satu tikungan, untuk beberapa detik tiba-tiba mata terpejam dan tanpa sadar mobil keluar dari jalur dan menabrak pohon di tepi jalan. Kecelakaan pun terjadi. Kopi dan obat-obatan stimulan terbukti dapat mengurangi kantuk untuk sementara waktu, tetapi kemampuannya untuk menjaga refleks dan kewaspadaan seseorang masih dipertanyakan. Tanda-tanda kantuk mulai membahayakan: Kehilangan konsentrasi, sering mengerjapkan mata atau mata terasa berat. Pikiran menerawang. Sulit mengingat apa-apa yang telah dilewati; atau melewatkan beberapa rambu atau lampu merah. Berulang kali menguap dan mengusap-usap mata. Sulit menjaga kepala dalam posisi tegak. Melenceng dari jalur, dan melanggar marka-marka jalan. Merasa lelah dan mudah terpancing emosi.
Apakah Anda beresiko? Sebelum berkendara, periksa apakah Anda: Kurang tidur atau lelah (tidur kurang dari 6 jam akan meningkatkan resiko hingga tiga kali lipat.) Menderita insomnia, kualitas tidur yang buruk (OSA), atau menanggung banyak hutang tidur. Mengendara jarak jauh tanpa jeda istirahat yang cukup. Mengendara pada jam-jam biasanya tidur. Mengkonsumsi obat-obatan yang membuat kantuk (antihistamin, antidepresan atau obat flu.) Bekerja lebih dari 60 jam seminggu (meningkatkan resiko hingga 40%.) Mengerjakan dua pekerjaan sekaligus dan pekerjaan utamanya adalah pekerjaan dengan shift malam. Minum minuman beralkohol (walaupun hanya sedikit.) Mengendara sendirian atau melewati jalan yang panjang, sepi dan membosankan.
Sebelum mengendara seorang pengemudi sebaiknya: - Tidur yang cukup. Pada orang dewasa 7,5-8,5 jam, sedangkan pada remaja atau dewasa muda 8,5-9,25 jam.
- Untuk perjalanan jauh, usahakan jangan berkendara sendirian. Teman seperjalanan dapat membantu melihat tanda-tanda kantuk dan dapat menggantikan untuk sementara waktu. Penumpang juga sebaiknya tidak tidur dan terus mengobrol dengan pengendara.
- Hindari alkohol dan obat-obatan yang menyebabkan kantuk.
- Berkonsultasilah pada dokter atau klinik gangguan tidur jika mengalami kantuk berkepanjangan, sulit tidur di malam hari dan/atau tidur mendengkur.
|