Sekilas Sejarah Kedokteran Tidur
Ilmu dan seni kedokteran tidur baru berkembang setengah abad terakhir, akan tetapi pemikiran tentang tidur terdapat berserakan di sepanjang sejarah kehidupan manusia. Kepercayaan tradisional banyak berkembang di seputar proses penuh misteri ini. Tengok saja kepercayaan-kepercayaan akan tafsir mimpi, atau pendapat yang mengatakan bahwa dalam tidur jiwa berkelana menjelajahi semesta. Beberapa pemikir-pemikir ternama juga menyumbangkan idenya tentang proses seputar tidur dan mimpi, diantara mereka tersebutlah Aristoteles, Hippocrates, Freud, Pavlov dan masih banyak lagi
Perkembangan ilmiah yang penting, antara lain:
- 1875 Richard Caton, merekam aktifitas otak dengan EEG (elektroencefalografi)
- 1937 Loomis dkk, menggunakan EEG untuk merekam aktifitas otak saat tidur. Menghasilkan dasar-dasar penggolongan tahapan tidur.
- 1953 Kleitman dan Aserinsky, mengungkap tahapan tidur REM dan hubungannya dengan mimpi.
- 1957 Kleitman dan Dement, dasar-dasar kedokteran tidur berupa arsitektur tidur yang menyempurnakan penggolongan tahapan tidur menjadi 4 tahap NREM (baca: non REM) dan 1 tahap REM. Dimulai dengan tidur ringan di tahap 1 NREM, semakin dalam ke tahap 2 hingga 4, kembali ke tahap 3, 2, lalu jatuh bermimpi pada tahap tidur REM dan kembali ke tahap 2 dan seterusnya. Siklus ini terus berulang selama tidur.
Seiring dengan perkembangan di bidang ilmiah, gangguan-gangguan tidur pun semakin dikenali. Ini mendorong para dokter untuk semakin mengenali kelainan-kelainan tersebut, dan mulai mencari jalan keluarnya. Di Amerika pusat-pusat penelitian dan penanganan gangguan tidur mulai bermunculan. Kesadaran akan kesehatan tidur semakin meluas, hingga terungkap bahwa jutaan orang ternyata menderita gangguan tidur tanpa menyadarinya.
Standard emas dalam mendiagnosa maupun meneliti gangguan tidur adalah sleep study yang lebih dikenal dengan sebutan Polisomnografi (PSG.) Istilah PSG diperkenalkan oleh Holland, Dement dan Raynal di tahun 1974.

PSG terdiri dari:
- Perekaman gelombang listrik otak (EEG)
- Gerakan bola mata (EOG)
- Tegangan otot (EMG)
- Denyut jantung (EKG)
- Gerakan nafas
- Aliran udara nafas
- Gerakan kaki
- Posisi tubuh
- Kadar oksigen dalam darah
Yang membuatnya berbeda dari pemeriksaan medis lainnya adalah PSG memberikan gambaran keseluruhan aktifitas tubuh selama tidur. Bukan hanya potongan-potongan sesaat kondisi tubuh, seperti pemeriksaan darah misalnya. PSG merekam segala sesuatu yang terjadi mulai dari saat pasien tertidur, melewati tahapan-tahapan tidur serta setiap proses perubahan nafas, tegangan otot, gelombang otak, gerakan mata yang terjadi dalam setiap tahap tidur, hingga saat bermimpi dan akhirnya bangun.

