Seorang Pasien Restless Legs Syndrome
09.24.09 (10:52 pm) [edit]
Sekitar seminggu yang lalu saya mendapat konsul dari RS lain di kawasan Kelapa Gading. Di telpon, perawat memberikan keterangan singkat bahwa pasien mengalami gangguan tidur dan sedang dirawat karena permasalahan jantung yang ia derita. Dalam pikiran saya, pasti sleep apnea.
Tapi ternyata, kasus yang dijumpai begitu rumit. Pasien seorang wantia berusia 73 th. dengan riwayat jantung koroner pasca pemasangan ring dua kali dalam setahun kemarin. Suami pasien menceritakan bahwa pasien sudah tidak tidur selama satu tahun! Mana mungkin?!?! Pikir saya. Suaminya sampai merasa ikut tak bisa tidur karena harus menjagai istrinya. Pasien bisa tertidur sejenak untuk kemudian terbangun kaget dan tak bisa tertidur kembali. Ketika ditanya tentang nafas, sang suami menyangkal kalau pasien mendengkur.
Suami pasien juga berpesan agar istrinya jangan diberi obat tidur, karena pernah suatu kali ia tertidur hingga 10 jam tanpa bisa dibangunkan setelah mengkonsumsi sebutir obat tidur.
Pasien tampak lelah tak bersemangat, pandangannya kuyu khas orang yang kekurangan tidur. Ia tak bisa berbaring lama. Ia merasa lelah namun bingung, karena ia mengantuk namun tak bisa tidur. Sebelum tidur ia biasa bermeditasi, tetapi belakangan untuk sekedar duduk diam dan berkonsentrasi pun ia sudah tak sanggup. Sebentar-sebentar ia harus berjalan atau mengurut-urut kakinya.
Ia tampak menggunakan kaus kaki. Saya tanya, apakah ia kedinginan. Tidak, menurutnya ia lebih nyaman menggunakan kaus kaki. Apakah ada rasa tidak nyaman di kaki ibu? Sakit, sebab asam urat yang tinggi.
Dalam wawancara, pasien tampak tertidur sejenak dan tiba-tiba terbangun kembali saat kaki bergerak kaget. Binggo!!!
Kemudian saya jelaskan bahwa ia menderita Restless Legs Syndrome (sindroma tungkai gelisah), berupa gangguan pada saraf kaki yang menyebabkan rasa tak nyaman (bisa sakit, pegal, kesemutan dan lain-lain.) Yang khas, rasa tidak nyaman tersebut baru hilang jika kaki digerak-gerakkan atau dipijat. Akibatnya penderita tidak bisa tidur karena dorongan untuk menggerakkan kaki. Yang merepotkan RLS sering dibarengi dengan PLMS (periodic limb movements in sleep) berupa gerakan periodik kaki seperti terkejut-kejut yang menyebabkan si penderitanya bangun.
Setelah dijelaskan bahwa obat yang diberikan bukanlah obat tidur, pasien mau meminumnya secara teratur sebelum tidur. Keesokan hari, putranya menghubungi saya, setelah setahun tak bisa tidur ibunya telah dapat tidur tanpa terputus selama 2 jam! Ibunya pun merasa jauh lebih segar dan merasa dapat berpikir jernih kembali. Malam-malam berikutnya pun ia dapat tidur dengan lebih baik lagi.

