TIDURLAH… DAN JADI LEBIH PRODUKTIF
Oleh Lucky F. C. Lombu
Banyak orang yang terlanjur memposisikan tidur sebagai aktivitas biasa, yang dilakukan tiap malam. Setelah bekerja seharian, lelah, kemudian tidur. Tapi faktanya, tidur dan segala hal yang menyertainya tidaklah sesederhana meletakkan tubuh di atas kasur. Banyak hal yang bisa mempengaruhi dan dipengaruhi olehnya.
Menurut dr. Andreas Prasadja, RPSGT, ahli kesehatan tidur dari RS Mitra Kemayoran yang juga adalah dokter kesehatan tidur pertama di klinik tidur pertama di Indonesia, kualitas tidur seseorang juga bisa mempengaruhi produktivitasnya. “Saya ingin mematahkan mitos: Tidur identik dengan malas. Salah! Tidur justru produktif,” kata dr. Ade –sapaan akrab dr. Andreas. Menurutnya, kemampuan produktivitas seseorang bergantung pada kualitas tidur. “Tidak ada satu zat pun yang bisa menggantikannya, termasuk stimulan seperti kopi maupun multivitamin. Stimulan hanya menghilangkan rasa ngantuk, tapi tidak menggantikan manfaat tidur,” kata penulis buku Ayo Bangun! Dengan Bugar Karena Tidur yang Benar.
ATASI GANGGUAN TIDUR
Banyak faktor yang membuat Anda tidak bisa tidur dengan mudah. Ingin mengatasinya? Coba baca dan temukan kebenaran –atau kesalahan– dari mitos-mitos berikut ini untuk mendapatkan tidur yang lebih berkualitas lebih baik.
Mitos: Olahraga sebelum tidur, membantu Anda tidur
Anda mengira, olahraga selain akan menambah vitalitas, juga akan membuat Anda lelah. Dengan kata lain akan membantu Anda tertidur. “Itu pendapat yang salah,” kata dr. Ade. “Badan memang capek, tapi dengan berolahraga adrenalinnya naik, sehingga otaknya menjadi semakin segar.”
Solusi: “Misalnya Anda selesai fitnes jam 9 malam. Kalau Anda tidur di atas jam 12 malam, mungkin masih bisa. Tapi kalau seperti saya yang biasa tidur jam 9 atau 10, hasilnya… tidak bisa tidur.” Maka, jagalah jarak waktu antara olahraga dengan jam tidur. Sebaiknya lebih dari tiga jam, menurut dr. Ade.
Mitos: Alkohol membuat Anda tertidur
Alkohol memang bisa membuat Anda tertidur. Atau untuk beberapa kasus lebih tepat disebut teler. Tapi, alkohol juga memiliki efek buruk. Anda tidak akan tertidur pulas, mudah terbangun, dan kepala Anda akan terasa pusing (karena mabok) saat Anda bangun. Alkohol membuat tidur seseorang tidak ‘mulus’, “Malah membuat kualitas tidur Anda menjadi tidak baik,” kata dr. Ade.
Solusi: Untuk menghasilkan tidur yang berkualitas, sebaiknya Anda tidak meminum alkohol menjelang tidur.
Mitos: Mendengkur tanda pulas
Selain rasa kantuk yang berlebih, mendengkur adalah tanda Anda terkena sleep apnea, atau henti napas saat tidur. Dan penyakit ini sangat berbahaya karena bisa menyebabkan hipertensi, diabetes, gangguan jantung, bahkan stroke.
Solusi: “Karena ini masalah yang serius sekali sehingga harus diperiksa,” katanya. Untuk itu, pasien harus menginap di laboratorium tidur. Ia akan ditempeli sensor yang akan merekam gelombangnya ketika ia tidur. Kemudian hasilnya akan diteliti dan diberikan tindakan lebih lanjut.
Mitos: Mendengar musik dan membaca adalah penghantar tidur
Semua hal yang membuat relaks bisa membantu Anda tidur. Tapi ingat, harus benar-benar membuat Anda relaks. Artinya, jika Anda sudah mendengar belasan jenis musik, atau membaca beberapa judul buku tapi Anda tidak relaks, Anda tetap tidak akan tertidur.
Solusi: “Saya selalu membiasakan pasien memiliki kebiasaan sebelum tidur. Sesuatu yang sehat, menyenangkan dan memberi efek relaks,” kata dr. Ade. Dan dengan asumsi orang pada umumnya mudah sekali bosan dengan aktivitas rutin, persiapkan penghantar tidur alternatif setiap harinya.
Mitos: Suhu udara dan cahaya mempengaruhi tidur
Mengenai suhu udara, itu tergantung selera masing-masing. “Tapi soal cahaya, harus gelap. Tidak bisa ditawar.” Alasannya, melatonin, semacam hormon tidur, hanya diproduksi oleh tubuh saat gelap.
Solusi: Sesuaikan suhu udara dengan kondisi yang Anda inginkan, lalu matikan lampu di ruangan Anda, dan tidurlah.
Mitos: Obat tidur tidak baik untuk tidur
Yang paling ditakuti dari obat tidur adalah adiksi dan toleransi. “Adiksi artinya kecanduan, dan toleransi dalam arti badan bertoleransi dengan dosis obat. Sehingga lama kelamaan butuh dosis yang makin tinggi. Di masa tahun 1960-an, jenis obat tidur masih terbatas sekali. Dan memang membuat kecanduan,” katanya.
Solusi: Obat-obatan sekarang, walau tetap ada efek sampingnya, cenderung aman. Untuk itu gunakan obat tidur dalam dosis yang tepat dan dalam pengawasan dokter.
Mitos: Utang tidur Anda bisa dibayar
Kalau hanya kurang setengah jam masih bisa dibayar. Kalau usia 30-an, paling tidur siang hanya 15 menit. Kalau usia 20-an, masih bisa tidur satu-dua jam. Sehingga kalau tidur malam kurang, siangnya masih bisa,” katanya. Hal ini disebabkan karena kemampuan adaptasi seseorang akan semakin menurun seiring bertambahnya usia. Termasuk juga kebutuhan tidurnya.
Solusi: Ketahui berapa lama kebutuhan tidur Anda. Banyak orang menganggap waktu tidurnya sudah cukup, tapi belum tentu benar. Cobalah tidur sampai Anda benar-benar merasa puas. Dan rasakan apakah Anda menjadi lebih produktif.
Mitos: Tidur lebih cepat lebih baik
“Itu hanya mitos!” kata dr. Ade. Misalnya Anda terbiasa tidur di atas jam 12 malam. Dan Anda dipaksa tidur jam 10. “Mana bisa? Ada jam biologis. Jam biologis saya dengan jam biologis Anda belum tentu sama. Jam biologis ini yang menentukan kapan kita segar, kapan kita ngantuk,” lanjutnya
Solusi: Ikuti saja jam biologis Anda.
Mitos: Stres bikin tidur
“Orang stres karena masalah sudah pasti tegang dan tidak bisa tidur,” kata dr. Ade. Tapi kalau stres karena beban pekerjaan yang bertumpuk, ditambah banyaknya beban utang tidur, Anda bisa saja mengantuk. Jadi, Anda mengantuk bukan karena Anda stres, tapi karena kurang tidur.
Solusi: Kendalikan stres Anda. Anda bisa menggunakan metode hipnoterapi untuk membantu memperbaiki kualitas tidur. Tetap, kebiasaan tidur yang baik harus diutamakan. “Ada pasien yang sudah sembuh, tapi kembali melakukan kebiasaan yang buruk. Hasilnya, kembali lagi,” katanya. (NIN)
[Dikutip dari Rubrik Solusi Majalah Men's Health Indonesia edisi Agustus 2009]
Risiko Kerja Malam Hari
KOMPAS.com - Normalnya orang bekerja sejak pagi hingga petang. Malam hari adalah waktu ideal untuk merebahkan raga dan pikiran. Namun, sekarang di banyak kota besar, malam juga cukup benderang untuk beraktivitas.
Selain sekadar hang out atau clubbing, ada juga yang memang harus menekuni profesi, seperti dokter, perawat, penyiar radio, atau wartawan.
"Saya sering kebagian kerja malam di Jumat malam," kata Oky Andrianto, seorang penyiar radio. Awalnya ia susah mengatur tidur. Saat pulang seusai siaran malam, badan biasanya pasti pegal. "Perlu waktu berjam-jam untuk membayar tidur. Dan saat bangun, kepala pusing dan badan terasa lemas," tambahnya.
Oky sempat kena tifus, akibat jam tidurnya tak beraturan. Namun, lama kelamaan tubuhnya dapat menyesuaikan diri. Kerja malam hari memang memiliki risiko gangguan kesehatan. Apalagi sejumlah kecelakaan seringkali terjadi menjelang pagi hari, saat dorongan untuk tidur teramat kuat.
"Mengendara saat mengantuk jauh lebih berbahaya dibandingkan mengendara sambil mabuk. Karena biasanya kita menganggap enteng rasa kantuk," tutur dokter Andreas Prasadja, RPSGT, ahli tidur dari Sleep Disorder Clinic, RS Mitra Kemayoran Jakarta.
Yang perlu diperhatikan adalah kemampuan bekerja. Di waktu-waktu menjelang subuh, biasanya kita sedang amat mengantuk, sehingga kemampuan menganalisis data ataupun monitoring akan terasa sangat berat.
Karenanya, jika memungkinkan, pada mereka yang bekerja malam harus diselingi tidur sejenak, guna mempertahankan kemampuan kerja. Waktu tak bisa diganti karena pola tidur malam dan siang hari amat berbeda. Meski demikian, sangat disarankan untuk segera tidur setelah selesai menjalankan kerja malam.
Ditambahkan oleh Dr Andreas, kerja gilir (shift) harus diatur dengan baik. Idealnya, kerja gilir per dua hari searah jarum jam, misalkan dengan siklus dua hari masuk pagi, lalu dua hari masuk siang, dua haris masuk malam, dan dua hari libur.
Mereka yang mengalami kerja gilir, menurut Dr Andreas, rawan menderita gangguan tidur. Itu sebabnya mereka sebaiknya langsung tidur ketika pulang kerja, dengan menjaga suasana kamar tetap gelap dan sunyi.
Waktunya hormon kerja
Sebenarnya waktu tidur dari malam hari tidak bisa digantikan menjadi pagi atau siang hari. Itu karena irama sirkadian kita tidak bisa dibohongi. Walaupun kamar sudah digelapkan, tubuh kita tetap mengenali waktu sebagai siang hari.
Tidur diperlukan, terutama malam hari karena di saat tidur banyak hormon yang bekerja. Selain hormon melatonin, hormon yang hanya diproduksi saat gelap, di tahap tidur juga dikeluarkan hormon pertumbuhan.
Hormon ini berperan dalam proses peremajaan sel. Itu sebabnya jika kualitas tidur tidak baik, orang akan kelihatan cepat tua.
International Classification of Sleep Disorder menyebutkan, pekerja shift berisiko lebih tinggi untuk menderita penyakit kardiovaskular dan pencernaan. Bekerja di luar jam normal juga menghilangkan waktu bersosialisasi, sehingga memengaruhi kesehatan jiwa seseorang.
Para pekerja gilir malam juga berisiko mengalami kanker. Pada saat tidur, kadar sel-sel pembunuh alami dalam darah sangat tinggi. Ini adalah sel penguat daya tahan tubuh, termasuk dari serangan sel tumor atau kanker. Karena itu, tidurlah kalau sudah malam. Betah melek cuma mengundang penyakit.
(GHS/Diana Yunita Sari)
Tidur Kurang, Diabetes Datang
Kamis, 13 Agustus 2009 | 15:27 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta -Satu lagi faktor yang terbukti meningkatkan munculnya penyakit diabetes selain gaya hidup malas-malasan dan makan banyak. Kurang tidur juga jadi penyebab penyakit yang yang diakibatkan meningkatnya kadar gula dalam darah ini.
"Temuan kami menyimpulkan mengkombinasikan gaya hidup tak sehat ala Barat dengan kurangnya waktu tidur akan meningkatkan risiko kelebihan berat badan hingga memunculkan diabetes," kata Dr. Plamen Penev, dari University of Chicago, Illinois, dan peneliti senior dalam penelitian ini.
Penev dan koleganya meneliti 11 perempuan dan lelaki sehat usia paruh baya yang memiliki gaya hidup tak aktif selama 14 hari. Selama itu pula mereka mendapat akses makanan gratis dengan perngurangan waktu tidur mulai dari 8,5 jam hingga 5,5 jam tiap malam.
Selama masa pengurangan waktu tidur ini tiap orang diminta tidur lebih lambat dan bangun lebih cepat secara berangsur-angsur, hingga berhutang waktu tidur sampai dua jam per hari. Pada saat pengujian inilah para partisipan menunjukkan perubahan respon pada hasil tes gula darah. Mereka menunjukkan hasil yang mirip dengan orang yang menjelang terjangkit penyakit diabetes.
"Jika bisa dikonfirmasi dengan hasil penelitian lain, penelitian ini akan menunjukkan bahwa gaya hidup sehat tak hanya soal pola makan sehat dan aktifitas fisik, tapi juga bagaimana tidur berkualitas," kata Penev. Hasil penelitian ini akan diterbitkan di Journal of Clinical Endocrinology and Metabolism, edisi September 2009.
REUTERS
link: http://www.tempointeraktif.co...,20090813-192446,id.html
Urusan Tidur? Pria dan Wanita Memang Berbeda
Rabu, 15 Juli 2009 | 00:31 WIB
Bahkan, salah seorang penelitinya, Edward Suarez, PhD., yang juga gurubesar psikiatri di universitas tersebut, menyatakan bahwa gangguan tidur pada wanita juga menunjukkan gejala naiknya risiko terkena penyakit kardiovaskular. Hal itu tidak terjadi pada pria yang mengalami gangguan tidur yang sama.
Mengapa ada perbedaan seperti itu? Jawabannya, karena pria dan wanita memiliki sistem hormonal yang berbeda. Menurut Suarez, kondisi hormon pada wanita, sangat berpengaruh pada suasana hati, kondisi perasaan, keseimbangan insulin, dan tentu saja kualitas tidur. Contohnya, asam amino tritophan dan hormon melatonin yang membantu tidur, terkait pada fungsi serotonin pada otak, yang bekerja mengendalikan mood. Artinya, jika tidur terganggu, maka fungsi serotonin pun otomatis bakal ikut kocar-kacir.
Hal senada juga disebutkan dr. Andreas Prasadja, spesialis di bidang tidur dari Sleep Disorder Clinic, Rumah Sakit Mitra Kemayoran, Jakarta. “Karena faktor hormonal pula, masalah tidur pada wanita menjadi lebih kompleks,” ujarnya
Pada saat hamil, misalnya. Pada trimester pertama, akibat tingginya hormon progesteron, seorang wanita yang biasanya tidur 5-6 jam sehari, biasanya jadi tidur lebih banyak, antara 7-8 jam sehari. Memasuki trimester kedua, progesteron masih meningkat, namun lebih lamban. Pada masa trimester kedua inilah wanita hamil baru dapat tidur dengan lebih baik.
Tapi, di usia kehamilan ini pula, banyak wanita yang justru menderita sleep apnea. “Ini ditandai dengan tidur mendengkur,” kata Andreas. Sleep apnea pada masa kehamilan bisa terjadi akibat pertambahan berat badan dan membengkaknya saluran napas. Kondisi ini sebaiknya benar-benar diperhatikan. Soalnya, menurut Andreas sleep apnea pada masa kehamilan amat berbahaya, karena dapat memicu hipertensi dan berujung pada pre-eklamsia.
Saking seriusnya, di sejumlah rumah sakit di negara- negara maju, khususnya di bagian perawatan ibu hamil, sudah banyak didirikan pusat-pusat CPAP (Continuous Positive Airway Pressure) atau terapi untuk sleep apnea. Dan, pada trimester terakhir, gangguan tidur berupa insomnia bisa menyerang kembali, akibat posisi tidur yang serba sulit dan kecemasan akan proses kelahiran.
Di Indonesia, meski tidak dikhususkan untuk ibu hamil, kini ada laboratorium tidur yang bisa memonitor aktivitas tidur Anda. Sudah dibuka di beberapa tempat. Di Jakarta misalnya, ada di RS Persahabatan, RS Mitra Keluarga Kemayoran, dan RS Medistra. Seperti telah disebutkan dalam artikel tidur sebelumnya (Koran Tempo, 8 Juli 2009), sebaiknya Anda memilih laboratorium dengan fasilitas polysomnography tipe 1 yang memiliki minimal tujuh channel. Yaitu bisa merekam gelombang otak, mengukur tonus otot di dagu dan kaki, menganalisa suara dengkuran, membaca gerakan bola mata, mengukur aliran udara nafas, gerakan nafas (dada dan perut), melakukan rekam jantung, mengukur kadar oksigen, juga menilai posisi tidur (miring kiri, kanan, terlentang, tengkurap), dan lainlain. Dan Lab tersebut juga harus ditunggu oleh tenaga profesional khusus di bidangnya, serta hasil dari analisa alat tersebut harus dianalisa serta dibaca oleh dokter yang khusus di bidang tidur. TIM INFO TEMPO
TIP
Jangan Merokok
Ada berbagai cara dan siasat ampuh untuk mengatasi gangguan sulitnya tidur. Selain berkonsultasi dengan ahlinya, minum segelas susu hangat mungkin bisa membantu. Ini karena susu mengandung tritophan, yaitu senyawa kimia yang bisa membantu kita terlelap. Hindari kafein dan minuman beralkohol, yang bisa membuat Anda terjaga sepanjang malam. Ini juga berlaku untuk nikotin. Hindari merokok saat hendak tidur atau jika Anda terbangun di tengah malam.
Jika tak bisa meninggalkan kopi di malam hari, setidaknya minumlah dalam waktu empat hingga enam jam sebelum waktu tidur. Cara tersebut akan membuat Anda tertidur dengan lebih mudah.
link: http://www.tempointeraktif.co...,20090715-187196,id.html
Tidur Yuk...
Rabu, 04 Maret 2009 | 10:52 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: ........Sleep my child and peace attend thee, All through the night .....
Boleh jadi, itu adalah penggalan dari syair favorit yang juga Anda nyanyikan saat mengantar si kecil tidur. Tapi tidur bukan cuma nyaman karena memejamkan mata atau membaringkan tubuh di ranjang yang empuk dan hangat. Tidur juga bisa membuat Anda lebih sehat, bahkan saat tidurlah hormon pertumbuhan diproduksi.
Ironisnya, tidur masih menjadi sesuatu yang tak penting di negeri ini. Tidur masih dianggap sebagai fase pasif yang tidak produktif. Tengok saja di kiri kanan Anda, berapa banyak rekan yang mengeluh pusing, mudah lelah, mengantuk dan tak fokus di siang hari. Lalu, apa tindakan mereka? “Kebanyakan memilih minum kopi, multivitamin, minuman berenergi, atau zat stimulan lainnya,” ujar dr. Andreas Prasadja, spesialis ahli di bidang tidur dari Sleep Disorder Clinic -Rumahsakit Mitra Kemayoran, Jakarta. Padahal, menurut Andreas, mereka seharusnya memperhatikan kesehatan tidurnya.
Bagaimana sebetulnya tidur sehat itu? “Salah satu tandanya, saat bangun, kita merasa segar, penuh vitalitas dan bersemangat,” ujar Andreas.
Jika mengikuti proses tidur yang baik, maka kita akan melalui dua tahap gelombang otak yang di dunia kedokteran, dibagi menjadi tahap Non REM dan tahap REM (R). Tahap Non REM dibagi tiga menjadi N1, N2 dan N3.
Saat mulai memejamkan mata, perlahan kita masuk tahap N1. Ini ditandai dengan melambatnya nafas sehingga orang akan melihat kita sudah tertidur. Tapi, sebetulnya kita masih cukup sadar dengan sekeliling. Lalu, masuk tahap N2, dan kita tidak lagi sadar akan sekeliling, tetapi masih mudah dibangunkan.
Semakin dalam, kita akan masuk ke tahap N3 dimana terjadi perbaikan sel-sel tubuh yang rusak. Seseorang yang dibangunkan pada tahap tidur N3 akan merasa sedikit disorientasi sebelum bisa sadar penuh. Pada anakanak, dalam tahap ini dihasilkan growth hormone yang berperan penting pada proses tumbuh kembangnya. Pada orang dewasa, hormon pertumbuhan ini berperan untuk memperbaiki berbagai sel dan jaringan yang rusak.
Berlanjut ke tahap N3, kita akan kembali ke N2 dan masuk ke tahap R. Dalam tidur R, kita bermimpi. Gelombang otak menjadi sangat aktif, namun sebaliknya tubuh malah dilumpuhkan sebagai mekanisme pengaman agar tubuh tak bergerak sesuai mimpi. Para ahli kesehatan tidur percaya bahwa pada tahap tidur R inilah kemampuan kognitif, mental dan emosional seseorang dijaga.
Tahapan tidur dari R akan kembali ke N2, lalu ke N3, N2 lagi, lalu R , begitu seterusnya hingga bangun. Siklus tidur yang terpenuhi inilah yang membuat seseorang bangun dengan rasa segar, sehat dan penuh vitalitas.
Satu hal lagi, dalam tidur itu juga daya tahan tubuh kita bekerja optimal. Yang ini, kita bisa melihat perilaku saat tubuh lemah, hidung tersumbat, badan menggigil pasti selalu ingin ‘lari’ ke tempat tidur. Menurut Andreas, perilaku itu merupakan reaksi tubuh untuk melawan infeksi, dan tidur menjadi bagian penting. “Dalam kondisi itu, interleukin, salah satu sistem daya tahan tubuh meningkat, dan akan membuat tubuh cenderung untuk tidur,” ujarnya.
Tapi, proses tidur memang tak selamanya mulus. Salah satu gangguan tidur yang perlu diwaspadai adalah mendengkur. Mendengkur dianggap wajar oleh masyarakat kita. Padahal mendengkur merupakan salah satu tanda dari sleep apnea.
Sleep apnea atau henti nafas saat tidur menurut Andreas amat berbahaya karena menjadi penyebab hipertensi, penyakit jantung, diabetes dan stroke. Tragisnya, kebanyakan orang Indonesia rawan menderita sleep apnea. Jika literatur asing menyebutkan obesitas sebagai penyebab, tidak demikian dengan ras Asia. Ini karena struktur rahang kita yang lebih sempit, dan leher yang lebih pendek. Sebuah penelitian menyatakan 4 persen pada pria, dan 2 persen pada wanita, tapi data tersebut terjadi di Amerika. “Di Indonesia dicurigai jauh lebih banyak,” katanya menambahkan.
.....Guardian angels God will send thee, All through the night. SUSANDIJANI
TIP
4 Langkah Sebelum Tidur
Sulit tidur? Simak tip dari dr. Andreas Prasadja, RPSGT., spesialis ahli di bidang tidur dari Sleep Disorder Clinic -Rumahsakit Mitra Kemayoran, Jakarta. Pertama, sembilan jam sebelum tidur, hindari konsumsi kafein. Kafein baru hilang dari peredaran darah setelah 9-12 jam. Kedua, tiga jam sebelum tidur, usahakan menyelesaikan aktivitas berolahraga. Olahraga memang membuat tubuh lelah, tetapi justru meningkatkan kadar adrenalin yang menyegarkan otak. Ketiga, satu jam sebelum tidur, tinggalkan semua pekerjaan dan biasakan untuk mengistirahatkan tubuh dan pikiran dengan kegiatan-kegiatan menyenangkan namun bersifat santai. Keempat, jika sudah benar-benar mengantuk baru naik ke tempat tidur. Jangan melakukan kegiatan apa pun di tempat tidur selain tidur dan seks. SDJ
link: http://www.tempointeraktif.co...,20090304-163049,id.html
Sleep Apnea Meningkatkan Resiko Kematian Hingga 46%
Mereka mengatakan bahwa orang-orang dengan gangguan nafas selama tidur ini mempunyai resiko lebih tinggi untuk mengalami kematian oleh berbagai sebab dibandingkan dengan orang lain yang tidak menderita sleep apnea.
Sleep apnea adalah sebuah gangguan tidur berbahaya yang ditandai dengan tidur mendengkur dan rasa kantuk berlebih di siang hari. Lebih jauh lagi, sleep apnea mengakibatkan hipertensi, berbagai gangguan jantung, diabetes dan stroke. Sleep apnea terjadi akibat penyempitan saluran nafas selama tidur. Akibatnya pasokan oksigen akan berulang kali terhenti sepanjang malam.
Penelitian yang diterbitkan bertepatan dengan Hari Kemerdekaan Indonesia pada Public Library of Science journal PLoS Medicine ini meneliti 6.400 orang selama 8 tahun. Mereka yang telah terdiagnosa dengan sleep apnea berat lebih rentan 46% mengalami kematian oleh berbagai sebab.
Dalam populasi penelitian, diantara pria, 42,9% tidak mempunyai gangguan nafas selama tidur, 33,2% terdiagnosa dengan sleep apnea ringan, 15,7 % sedang dan 8,2%-nya mengalami sleep apnea yang parah. Sedangkan pada wanita 25% diantaranya terdiagnosa dengan sleep apnea ringan, 8% sleep apnea sedang dan 3% nya sleep apnea berat.
Menurut para peneliti tersebut, mereka yang dengan sleep apnea berat, dapat berhenti nafas selama 20-30 detik dan terbangun (namun tidak sampai tersadar dari tidur.) Derajat keparahan sleep apnea dilihat dari jumlah henti nafas perjam (AHI/apnea hypopnea index) dimana 0-5 kali perjam artinya mendengkur normal tanpa henti nafas, 5-15 kali perjam sleep apnea ringan, 15-30 kali perjam sleep apnea sedang dan lebih 30 kali perjam berarti sleep apnea berat. Pemeriksaan tidur dilakukan di laboratorium tidur dengan menggunakan alat polysomnography (PSG.)
Dibandingkan dengan pengalaman kami di Mitra Kemayoran, sleep apnea terberat pernah mencapai 109 kali perjam dengan durasi henti nafas terlama mencapai 120-an detik dan kadar oksigen terendah mencapai kurang dari 50%! Tentu saja ini amat berbahaya.
Data dari the National Heart, Lung, and Blood Institute menyebutkan bahwa 12 juta penduduk dewasa Amerika menderita sleep apnea. Sedangkan menurut the National Sleep Foundation diperkirakan mencapai 18 juta orang. Sayangnya di Indonesia belum ada penelitian berskala nasional yang memperhatikan gangguan tidur yang fatal ini. Mengingat struktur rahang ras Asia yang lebih sempit, dicurigai Indonesia memiliki lebih banyak penderita sleep apnea.
Menurut Dr. David Rapoport dari New York University yang juga turut serta dalam penelitian, perawatan terbaik saat ini adalah dengan menggunakan CPAP (continuous positive airway pressure), berupa masker yang memberikan udara bertekanan untuk membuka saluran nafas selama tidur. Sementara alternatif lainnya merupakan pembedahan, termasuk didalamnya pengangkatan amandel jika diperlukan. Pilihan lain adalah dengan menggunakan alat mulut yang bisa mendorong rahang bawah maju.
15-minute nap can make difference, expert says
Prodita Sabarini , The Jakarta Post , Jakarta &n bsp; | Fri, 08/14/2009 2:10 PM | Headlines
Taking a 15-minute nap during the day can restore one's energy and increase concentration, a sleep specialist says.
Sleep specialist Andreas Prasadja said Thursday that people in Indonesia were unaware of the importance of getting a good night's sleep and how to make up for a lack of sleep, meaning many people feel tired unnecessarily.
Sleep deprivation can be caused by difficulties in falling asleep and insomnia to bad quality sleep due to sleep apnea, he said.
One of way to restore one's energy is to take a short nap during the day, Andreas said. "One can take a nap at their desk or in their car. In Jakarta, people take at least an hour traveling anyway," he said.
He said Indonesians still associate sleep or being sleepy as a sign of laziness. "Feeling sleepy during the day time or feeling tired can actually be the result of a sleep disorder."
He added that sleep disorders can be dangerous. "Sleep apnea can be a silent killer," he said.
Andreas was speaking at the launching of his book Ayo Bangun! (Wake Up!), about healthy sleeping habits, and the relaunch of Mitra Kemayoran's Hospital Sleep Disorder Clinic.
The clinic, which opened in 2002, is the first of its kind in the country. Andreas is one of only two Indonesia's sleep specialists.
"Most cities abroad have at least one sleep center, but in Indonesia the awareness among both the public and the medical community about sleep is still low," he said.
He said a US study showed that one out of five Americans have a sleep disorder, but added that there has yet to be a similar study conducted among Indonesians. However, he said that the rate of sleep disorders was likely higher than that in the US.
He said that a common misconception in Indonesia is that people who snore sleep well. He said that if left untreated, snoring can cause hypertension, heart failure, diabetes or stroke.
Snoring is a type of sleep disorder clinically known as Obstructive Sleep Apnea (OSA).
"When people snore, their respiration tract gets clogged, due to the relaxing of muscles during sleep, and this makes them stop breathing. As a reflex the brain wake them up, often gasping for air. This means people who snore wake up continuously at night even though they might not be entirely conscious," he said.

