Delapan Bahaya Mendengkur Bagi Kesehatan
Mendengkur merupakan gejala utama dari sleep apnea selain rasa kantuk berlebih. Sleep apnea yang artinya henti nafas saat tidur, dapat berdampak langsung pada kesehatan dan kualitas hidup seseorang.
Sleep apnea terjadi ketika otot-otot saluran nafas melemas saat tidur. Akibatnya jalan nafas menyempit hingga menyumbat hingga tidak ada udara yang dapat lewat. Episode henti nafas bisa terjadi selama 10 detik sampai lebih dari satu menit. Karena sesak, badan akan terbangun sejenak untuk menarik nafas, tanpa disadari penderitanya. Akibatnya proses tidur jadi terpotong-potong. Henti nafas bisa terjadi ratusan kali semalamnya.
Periode henti nafas ini menyebabkan perubahan drastis pada kadar oksigen dan tekanan darah seseorang. Jika sleep apnea dibiarkan, tubuh Anda akan terus terbebani dan akhirnya bisa berujung pada banyak penyakit. Berikut adalah 8 resiko kesehatan yang berhubungan dengan sleep apnea:
1. & nbsp; Tekanan darah tinggi.
Berbagai penelitian telah membuktikan bahwa sleep apnea adalah salah satu penyebab utama dari hipertensi. Peningkatan tekanan darah berkaitan langsung dengan derajat keparahan sleep apnea. Semakin parah derajat sleep apnea, semakin berat juga peningkatan tekanan darah. Peningkatan tekanan darah juga bisa dialami oleh anak-anak yang menderita sleep apnea.
2. & nbsp; Penyakit jantung.
Sleep apnea yang tidak dirawat merupakan salah satu faktor resiko untuk menderita penyakit jantung. Penyakit jantung merupakan penyebab kematian utama di Amerika pada tahun 2005. Sleep apnea meningkatkan resiko denyut jantung yang tidak beraturan, penyakit jantung koroner, serangan jantung dan penyakit jantung kongestif. Sebuah penelitian di tahun 2006 yang diungkapkan dalam Journal of the American College of Cardiology menyebutkan bahwa sleep apnea bahkan mempengaruhi bentuk jantung seseorang. Jantung penderita sleep apnea membengkak dan menebal dindingnya di satu sisi, serta berkurang kemampuan memompanya.
3. & nbsp; Stroke.
Sleep apnea meningkatkan resiko seseorang untuk terserang stroke (penyebab kematian nomor 3 di Amerika tahun 2005.) Peningkatan kekentalan darah pada penderita sleep apnea menjadi penyebab utama meningkatnya resiko stroke.
4. & nbsp; Kerusakan otak.
Penelitian di jurnal Sleep tahun 2008 memberikan gambaran pencitraan otak yang membuktikan kerusakan permanen pada otak penderita sleep apnea. Kerusakan terjadi pada bagian otak yang mengontrol ingatan, emosi dan tekanan darah.
5. & nbsp; Depresi.
Riset menunjukkan bahwa depresi sering terjadi pada penderita sleep apnea. Bahkan sleep apnea ringan saja sudah meningkatkan resiko terkena depresi. Peningkatan resiko depresi akan naik seiring dengan peningkatan derajat keparahan henti nafas.
6. & nbsp; Diabetes.
Sleep apnea akan mengganggu metabolisme hingga tubuh tidak mentoleransi glukosa dan juga resisten terhadap insulin. Diabetes tipe 2, juga salah satu penyebab kematian utama, terjadi ketika badan tidak dapat memanfaatkan insulin secara efektif. Berbagai penelitian juga menunjukkan bahwa sleep apnea menjadi penyebab terjadinya diabetes.
7. & nbsp; Obesitas.
Obesitas, pada ras kaukasia (Eropa) menjadi resiko utama sleep apnea. Tapi tidak demikian pada ras Asia yang memiliki struktur rahang lebih sempit dan leher yang pendek. Masalahnya, sleep apnea akan meningkatkan berat badan seseorang. Gangguan metabolisme akibat proses tidur yang terpotong-potong menyebabkan perubahan hormone-hormon yang mengontrol nafsu makan. Rasa kantuk yang diakibatkan juga menyebabkan penderitanya jadi malas berolah raga.
8. & nbsp; Mortalitas.
Dua penelitan di jurnal Sleep di tahun 2008 menunjukkan bahwa penderita sleep apnea mempunyai resiko kematian lebih tinggi dibanding yang tidak mendengkur. Resiko akan meningkat bersamaan dengan peningkatan derajat keparahan henti nafas. Apalagi jika sleep apnea dibiarkan saja!
Sleep apnea dapat dirawat. Bahkan tingkat keberhasilannya amat tinggi. Berbagai penelitian telah membuktikan bahwa penggunaan continuous positive airway pressure (CPAP) akan mengurangi resiko seseorang untuk menderita bahaya-bahaya yang telah disebutkan tadi.
Hikayat Ondine dan Bahaya Mendengkur
Ondine adalah seorang peri air dari mitologi Jerman. Sebagai seorang peri tentu saja ia amat cantik dan abadi. Pada suatu ketika, ia jatuh cinta pada seorang manusia biasa dan mengorbankan keabadiannya dengan menikahi Sir Lawrence, sang ksatria. Dalam upacara pernikahan, Lawrence mengucapkan sumpah: “My every waking breath shall be my pledge of love and faithfulness to you." Namun, setahun sesudahnya Ondine melahirkan anak bagi sang kekasih, dan perlahan proses penuaan pun mulai menyerang. Kecantikan Ondine memudar seiring dengan cinta sang suami. Lawrence pun mulai melirik gadis-gadis muda di sekelilingnya.
Suatu sore, Ondine sedang berjalan-jalan melewati kandang kuda dan ia mendengar suara dengkuran Lawrence yang amat dikenalinya. Di dalam salah satu istal ia melihat suaminya sedang terlelap sambil memeluk seorang perempuan muda. Pada saat itu ia pun murka, dan menunjuk sang suami. Seketika Lawrence merasa sesak dan terbangun. Ondine pun menjatuhkan kutuk: "You swore faithfulness to me with every waking breath, and I accepted your oath. So be it. As long as you are awake, you shall have your breath, but should you ever fall asleep, then that breath will be taken from you and you will die!"
Untuk selanjutnya “Kutukan Ondine” menjadi semacam nama tradisional bagi sindroma henti nafas saat tidur atau sleep apnea. Sleep apnea ditandai dengan tidur mendengkur dan rasa kantuk berlebih. Episode henti nafas diantara dengkuran akan membangunkan penderitanya akibat sesak nafas. Hanya saja episode bangun biasanya tidak disadari oleh si pendengkur. Sleep apnea menjadi fatal, karena menjadi penyebab tekanan darah tinggi, diabetes, berbagai penyakit jantung, stroke, hingga kematian. Penelitian terakhir juga menunjukkan bahwa sleep apnea menyebabkan kerusakan otak permanen.
Aktivitas Fisik Bantu Anak Tidur Nyenyak
Media Indonesia, Jumat, 24 Juli 2009
SEMAKIN lama anak-anak menghabiskan waktu bermalas-malasan di siang hari, bertambah panjang waktu yang mereka butuhkan untuk terlelap. Itu terungkap dalam studi peneliti dari Universitas Auckland, Selandia Baru.
Mereka mempelajari pola tidur 519 anak usia 7 tahun. Anak-anak itu dipasangi sebuah alat yang menginformasikan apakah mereka tertidur dan sadar, tetapi tidak aktif secara fisik atau aktif.
Hasilnya, anak-anak tersebut membutuhkan rata-rata 26 menit untuk terlelap setelah berbaring di tempat tidur. Secara keseluruhan kisarannya berada di antara 13 dan 42 menit. Singkatnya, anak-anak yang tidak aktif pada siang hari membutuhkan waktu yang lebih lama untuk tertidur. Setiap 1 jam periode tidak aktif, menambah 3,1 menit waktu yang dibutuhkan hingga mereka tertidur. (AFP/*/X-5)
Mendengkur Merusak Otak!
Mendengkur atau ngorok adalah suatu fenomena tidur yang sering kita temui hingga sudah dianggap wajar. Tetapi dengkuran bukanlah sesuatu yang normal. Bahkan menyimpan bahaya fatal yang tidak bisa lagi dianggap sebagai lelucon.
Mendengkur merupakan sebuah tanda dari sleep apnea yang artinya henti nafas saat tidur. Penderita sleep apnea, nantinya dapat menderita hipertensi, gangguan jantung, diabetes hingga stroke.
Gejala sleep apnea selain mendengkur adalah menurunnya kualitas hidup yang ditandai dengan rasa kantuk, gangguan emosional, konsentrasi, menurunnya ingatan dan kemampuan analisa hingga kreativitas yang merosot. Selama ini, para ahli kedokteran tidur beranggapan bahwa penurunan kemampuan mental ini disebabkan oleh kondisi “kurang tidur” yang diderita. Namun berbagai penelitian di bidang neurologi kini dapat menunjukkan secara pasti kerusakan-kerusakan bagian otak yang terjadi pada penderita sleep apnea.
Sebuah penelitian yang dipublikasikan oleh Journal of Sleep Research, Februari 2009 menunjukkan bahwa henti nafas saat tidur atau obstructive sleep apnea tidak hanya mengganggu kualitas hidup tetapi juga merusak otak secara permanen.
Dalam penelitian yang dilakukan di Perancis tersebut dilakukan pencitraan otak pada 16 pendengkur yang baru saja didiagnosa menderita sleep apnea. Hasilnya, mereka menemukan kerusakan massa abu-abu di berbagai bagian otak. Ini menjelaskan kenapa penderita sleep apnea mengalami penurunan kemampuan ingatan maupun konsentrasi.
Kelompok peneliti di UCLA juga memberikan hasil yang mirip. Dalam publikasi mereka di Neuroscience Letters, Juni 2008 menunjukkan bahwa terjadi perubahan pada badan mamilari penderita sleep apnea dibandingkan dengan kontrol. Badan mamilari adalah salah satu bagian dari sistem limbik yang berperan pada fungsi kognitif dan emosional seseorang. Penurunan volume badan mamilari pada pendengkur diduga disebabkan oleh menurunnya kadar oksigen pada saat tidur.
Para peneliti yang sama juga mempublikasikan tulisan lain pada jurnal SLEEP di bulan Juli 2008. Pada tulisan tersebut disebutkan bahwa penderita sleep apnea mengalami kerusakan massa putih di berbagai bagian otak yang mengatur mood dan ingatan. Massa putih adalah serabut saraf otak yang diliputi oleh myelin yang berwarna putih.
Penderita sleep apnea dapat mengalami ratusan henti nafas setiap malamnya tanpa pernah ia sadari. Akibatnya kadar oksigen dalam darah dapat menurun drastis. Penurunan oksigen dan peningkatan tekanan darah dianggap bertanggung jawab dalam proses rusaknya saraf-saraf otak.
Dari hasil berbagai penelitian, jelas tampak bahwa sleep apnea harus dirawat segera. Ini dilakukan demi mencegah terjadinya berbagai penyakit dan kerusakan otak yang bersifat permanen.
Standar perawatan saat ini adalah dengan menggunakan CPAP. Bagi penderita sleep apnea, manfaat CPAP terbukti dapat menurunkan tekanan darah, mengontrol kadar gula dan memperbaiki kualitas hidup. Sayangnya perawatan ini belum tentu dapat mengembalikan bagian-bagian otak yang sudah terlanjur rusak.
Namun, para ahli menekankan bahwa penanganan “mendengkur” harus dilakukan sesegera mungkin agar kerusakan dan gangguan proses berpikir lebih lanjut dapat dicegah.

