Untuk Rekan Sejawat yang Sering Berjaga Malam
Beberapa waktu lalu, saya mendengar berita seorang rekan sejawat yang di pagi buta tertidur di kursi pengemudi. Karena tidak terjadi kecelakaan apa pun, ini terdengar sebagai insiden biasa yang sering kita alami sebagai seorang dokter. “Resiko pekerjaan;” Ungkap rekan tersebut. Tetapi kejadian ini menyimpan bahaya yang berpotensi fatal. Hati saya, jadi tergelitik untuk sekedar menuangkan tulisan sederhana ini. Semoga berkenan bagi rekan-rekan sekalian.
Pekerja shift adalah orang-orang yang memiliki jadwal bekerja diluar jam wajar pekerjaan 8:00-17:00. Diantaranya adalah para pekerja kesehatan atau dokter yang sering kali harus berjaga malam melayani panggilan darurat atau menerima konsultasi di tengah malam. Padahal kebutuhan tidur kita sering kali tak tergantikan, akibatnya beban hutang tidur akan membebani kita dan akhirya dapat membahayakan diri sendiri dan/atau pasien yang sedang kita rawat.
Berbagai bencana menjadi buktinya, antara lain kecelakaan Exxon Valdez, pabrik kimia Bhopal, bencana nuklir Chernobyl dan tak terhitung kecelakaan lalu lintas yang menjadi santapan sehari-hari di media. Kalau kita perhatikan, beberapa kecelakaan sering kali terjadi menjelang pagi, dimana dorongan untuk tidur sedang amat kuat. Tetapi apakah ketiduran menjadi satu-satunya bahaya? Tidak, kemampuan otak untuk menganalisa, mengambil keputusan serta merespon bahaya juga mengandung resiko yang tidak kecil.
Menurut International Classifications of Sleep Disorders, pekerja shift mempunyai resiko lebih tinggi untuk menderita penyakit-penyakit kardio-vaskuler dan gastrointestinal. Bekerja di luar jam kebiasaan juga menghilangkan waktu untuk bersosialisasi sehingga mempunyai resiko tersendiri terhadap kesehatan jiwa seseorang.
Saya ingat sekali ketika ko-ass dulu, seorang rekan dekat sering sekali mengalami kecelakaan saat pulang dari RS. Karena tidak pernah terjadi kecelakaan yang fatal, biasanya kita hanya tertawa dan mengolok-oloknya. Tetapi kini, lelucon itu tidak terasa lucu lagi ketika membayangkan apa yang bisa terjadi jika ia masih terus mengantuk dan mengendara. Mengendara dengan kantuk jauh lebih berbahaya dibanding mengendara sambil mabuk. Karena biasanya kita menganggap enteng kantuk yang kita rasakan.
Bahaya yang ditanggung menjadi berlipat, ketika yang mengalami adalah seorang dewasa muda. Karena mereka mempunyai kebutuhan tidur 8,5-9,25 jam sehari. Suatu hal yang mustahil bagi seorang ko-ass untuk bisa memenuhinya. Tak heran jika kita temui para mahasiswa dan dokter muda ini terkantuk-kantuk atau bahkan tertidur di dalam ruang perkuliahan atau perpustakaan.
Tetapi di usia ini mereka mempunyai keuntungan tersendiri. Jam biologis mereka, memang baru mengantuk setelah lewat tengah malam, hingga lebih mudah beradaptasi dengan jadwal jaga malam.
Sedangkan ketika usia sudah mencapai 50 tahun, walau kebutuhan tidur sudah menurun, kemampuan untuk beradaptasi dengan jadwal kerja malam akan berkurang drastis. Akibatnya, ketika bekerja di malam hari, otak jadi kurang produktif. Apalagi jika pekerjaan tersebut bersifat membosankan, seperti memperhatikan monitor ataupun mengamati tanda-tanda vital yang monoton.
Jam-jam yang paling berat adalah pada sekitar pukul 3.00-4.00 dini hari. Pada waktu inilah kita sering membuat kesalahan. Ini juga berlaku jika kita menerima telepon laporan maupun konsultasi dari Rumah Sakit. Ketika mendadak terbangun dari tidur dalam, kita tidak dapat secara langsung tune-in. Diperlukan beberapa saat sebelum kesadaran penuh tercapai.
Mitos bahwa tidur merupakan sebuah kemalasan sudah usang. Justru dengan tidur yang sehat kita dapat memperoleh produktivitas yang maksimal.
“The future lies in your dream... So go to SLEEP!”
Berikut adalah beberapa tips bagi yang sering bekerja di malam hari:
- Shift sebaiknya dibuat sesuai dengan jarum jam. Contoh pada tiga shift: dua hari pagi, dua hari sore, dua hari malam dan dua hari libur.
- Buat lingkungan tidur senyaman mungkin (tenang, sejuk dan gelap.) Jagalah kebiasaan tidur yang baik (sleep hygiene.)
- Berolah raga dengan teratur. Tapi hindari berolah raga sebelum tidur.
- Usahakan tidur siang sebelum jaga malam.
- Jaga menu makan. Di malam hari biasanya kita cenderung lapar, tetapi sebaiknya jangan makan makanan yang terlalu berat.
- Ketika berjaga malam, kalau memungkinkan untuk tidur, tidurlah selama 20-30 menit. Jika tidur lebih lama, dikhawatirkan kita memasuki tahap tidur dalam. Akibatnya kita tidak bisa benar-benar langsung terjaga, dan dalam kondisi seperti ini kita rentan berbuat kesalahan.
- Ketika shift malam akan berakhir, hindari kafein dan cahaya terang. Ini untuk mempermudah tidur setibanya di rumah. Bila perlu di perjalan, gunakan kaca mata gelap.
- Jika kantuk tak tertahankan, sebaiknya jangan mengendara pulang. Tidurlah dulu sejenak, atau gunakan kendaraan umum agar lebih aman.
Pencekik di Tengah Malam
Dalam kehidupan sehari-hari kita sering menemui rekan atau keluarga yang sering mengantuk, tampak selalu lelah, ceroboh, lamban dan tidur mendengkur. Karakter seperti ini, sering menjadi bahan lelucon dan dianggap lucu. Bahkan tak jarang orang-orang seperti ini dianggap pemalas dan kurang berkompeten dalam pekerjaannya. Tapi tahukah Anda bahwa mereka kemungkinan besar menderita sleep apnea, dimana penderitanya tercekik setiap malam hingga tak bisa bernafas dalam tidur?
Obstructive Sleep Apnea
Sleep apnea adalah sebuah gangguan tidur yang berarti henti nafas saat tidur dengan gejala utama mendengkur dan rasa kantuk berlebih. Menurut Young dan kawan-kawan, sleep apnea diderita oleh 4% populasi pria dan 2% wanita di Amerika. Bukan angka yang kecil. Coba saja lihat ke sekitar kita, berapa orang yang Anda kenali sebagai pendengkur?
Epsiode henti nafas disebabkan oleh penyempitan jalan nafas. Pada saat tidur, organ-organ lunak di jalan nafas melunak hingga terjatuh dan menyempitkan saluran. Sering kali penyempitan menyebabkan sumbatan sehingga udara tak dapat lewat. Jadi walaupun gerakan nafas tetap ada, pertukaran udara tidak terjadi. Akibatnya si penderita seperti tercekik, dan karena sesaknya, tubuh otomatis membangunkan otak. Sayangnya episode bangun yang dialami berlangsung amat singkat (micro arousal) sehingga si penderita tidak tahu dirinya terbangun-bangun sepanjang malam. Yang ia tahu, ia bangun dengan rasa tidak segar dan mudah mengantuk di siang harinya.
Akibat Sleep Apnea
Karena proses tidur yang terpotong-potong, penderita sleep apnea akan selalu berada dalam kondisi kurang tidur, walaupun sebenarnya telah tidur cukup lama. Mereka akan merasa lelah, mudah emosi, sulit berkonsentrasi dan mengantuk. Bayangkan saja bagaimana rasanya jika kita tadi malam hanya tidur 2 jam. Persis seperti itulah yang dirasakan penderita sleep apnea. Hanya saja, kita mengalaminya setelah kurang tidur, sedangkan pendengkur akan merasakannya setiap hari. Tentu saja kondisi ini akan mengurangi kualitas hidup dan produktivitas sehari-hari. Khusus bagi yang setiap hari mengendara dan mengoperasikan alat-alat berat, kondisi ini akan menjadi amat berbahaya. Bukan saja karena kantuk, tetapi justru karena kemampuan refleks yang berkurang.
Namun, bahaya sesungguhnya dari sleep apnea adalah penyakit-penyakit lanjutannya. Sleep apnea sudah diakui menjadi salah satu penyebab hipertensi, gangguan jantung, diabetes dan stroke. Hingga tak heran jika di negara-negara maju, tata laksana penyakit-penyakit itu sudah memasukkan pemeriksaan dan perawatan sleep apnea.
Hipertensi misalnya, sejak tahun 2003, Joint National Committe on Hypertension mengeluarkan dokumen petunjuk tata laksana hipertensi yang dikenal dengan JNC VII. Dalam kartu tersebut terdapat bagan perawatan hipertensi, dan penyebab hipertensi yang pertama adalah sleep apnea. Jangan heran nanti jika Anda didiagnosa dengan hipertensi, dokter juga akan menanyakan tentang kebiasaan mendengkur. Sementara sejak Februari 2008, International Diabetes Federation sudah menganjurkan agak penderita diabetes turut ditanyakan tentang kebiasaan mendengkur.
Hubungan antara sleep apnea dan penyakit-penyakit tersebut, berkaitan dengan episode bangun singkat yang terjadi sepanjang malam. Akibat dari proses tidur yang terpotong-potong, sistem saraf simpatis turut tinggi aktivitasnya sehingga meningkatkan tekanan darah, denyut jantung dan menyebabkan gangguan metabolisme berupa meningkatnya kadar gula dan kekentalan darah.
Tata Laksana
Pertama, seorang pendengkur harus diperiksa terlebih dahulu di klinik gangguan tidur. Di sana ia akan diminta untuk menjalani pemeriksaan tidur dengan menggunakan alat Polysomnography (PSG) di laboratorium tidur. Di samping itu, pemeriksaan THT secara seksama juga diperlukan.
Di laboratorium tidur pasien direkam fungsi-fungsi tubuhnya selama tidur sehingga didapatkan gambaran secara umum. Yang direkam adalah aliran udara, gelombang otak, fungsi-fungsi pernafasan dan jantung, serta posisi tidur. Dari perekaman akan didapatkan derajat henti nafas seseorang yang dihitung dari jumlah rata-rata henti nafas perjam atau Apnea Hypopnea Index (AHI.) Dimana AHI <5/jam berarti ia hanyalah pendengkur tanpa henti nafas, henti nafas 5-15 kali perjam sleep apnea ringan, 15-30 adalah sedang dan lebih dari 30 perjam berarti berat.
Dari pemeriksaan ini baru diketahui arah perawatan. Standar perawatan sleep apnea adalah dengan menggunakan masker hidung yang dihubungkan dengan alat CPAP (Continuous Possitive Airway Pressure.) Sedangkan langkah lainnya adalah lewat pembedahan. Tapi terkadang, pasien juga ada yang membutuhkan keduanya.
Tidur Sehat Maksimalkan Potensi Anak
Koran Sindo, Sunday, 12 April 2009
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/vi ew/228766/" title="http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/vi ew/228766/" target="_blank"http://www.seputar-indonesia....
Sejak Januari 2009 Pemerintah DKI telah menjalankan kebijakan memajukan jam masuk sekolah dari pukul 07.00 pagi menjadi 06.30 pagi. Efektif, pola tidur anak-anak ini akan terganggu. Sebagai seorang dokter, Saya merasa berkewajiban mengingatkan akibat buruk dari kebijakan ini.
Sementara negara-negara maju (terutama Amerika) kini justru sedang menjalankan gerakan memundurkan jam masuk sekolah menjadi pukul 08.30 pagi. Ini dilakukan semata- mata untuk meningkatkan kualitas generasi mudanya.
Manfaat Tidur
Tidur dibagi menjadi beberapa tahap, yakni tidur ringan (N1),tidur sedang (N2), tidur dalam (N3) dan tidur mimpi (R).Setelah memejamkan mata,sebentar kemudian kita merasa amat santai dan pikiran melayang-layang tak tentu arah.
Ini adalah tahap tidur N1. Begitu kita mulai tak sadar akan lingkungan sekitar, kita memasuki tidur N2.Beberapa saat kemudian kita masuk ke N3.Dalam fase tidur dalam ini kita akan sulit dibangunkan.Ketika terbangun pun kita akan mengalami disorientasi sejenak. Dari N3, kita akan naik kembali ke N2 beberapa saat lalu masuk ke tahap tidur R (mimpi). Dari R kita kembali ke N2 lalu N3, ke N2 lagi lalu R, dan begitu seterusnya hingga beberapa siklus.
Tahap tidur N3, disebut juga sebagai tahap tidur restoratif karena pada tahap tidur ini semua sel yang rusak diperbaiki. Pada anak khususnya, di tidur N3, dikeluarkan hormon pertumbuhan yang amat penting bagi proses tumbuh kembang anak. Sementara tidur R dipercaya sebagai tahap tidur di mana kemampuan kognitf, mental, dan emosional dijaga. Dalam tahap tidur ini juga terjadi proses konsolidasi memori. Bayangkan jika anak Anda setelah bersusah payah menghafal, tetapi mengalami kekurangan tidur R.Tentu saja kemampuan mengingatnya jadi menurun.
Karena pentingnya kedua tahap tidur ini, ketika mengalami kekurangan tidur, otomatis akan terjadi aksi ”balas dendam” dengan meningkatkan persentasi tidur N3 dan R. Berbagai penelitian belakangan ini, bahkan membuktikan pentingnya kedua tahap tidur ini bagi kemampuan belajar siswa!
Jam Biologis
Di dalam tubuh manusia terdapat jam biologis yang berdetak menentukan saatsaat yang baik untuk beraktivitas ataupun beristirahat. Dengan menyesuaikan jadwal aktivitas dengan jam biologis,produktivitas kita akan menjadi maksimal.
Contoh paling mudah adalah dengan melihat pola aktivitas remaja. Mereka bangun pada pagi hari untuk mengejar masuk kelas pada pukul 06.30 pagi. Saat pelajaran dimulai,banyak di antara mereka yang seolah masih mengawang-awang sulit berkonsentrasi. Untuk benar-benar menyerap pelajaran,mereka membutuhkan usaha keras.
Namun, ketika mendekati pukul 09.00, seolah ada energi baru yang menyusup. Suasana hati lebih gembira, mengikuti pelajaran pun jadi terasa lebih mudah dan menyenangkan.Ini berlangsung hingga jam pulang sekolah. Sementara pada malam hari, tak jarang kita temui remaja yang sedang asyik belajar atau berkarya pada pukul 21.00- 22.00, di mana orangtuanya sudah mulai mengantuk. Bahkan, sering kita dengar keluhan remaja yang sulit tidur jika belum lewat tengah malam.
Sebenarnya, ini normal bagi jam biologis mereka. Pada anak-anak usia SD pun demikian. Meskipun mereka dapat tidur sekitar pukul delapan malam, kebutuhan tidur mereka masih berkisar 10-11 jam. Artinya, mereka optimal bangun pada pukul 06.00-07.00 pagi. Berbagai data membuktikan manfaat tidur bagi anak.
Penelitian Dr Kyla Wahlstrom membuktikan bahwa dengan memundurkan jam masuk sekolah hingga pukul 08.40,angka absensi siswa menurun,nilai-nilai mereka membaik, prestasi olahraga meningkat, dan yang mengejutkan angka kenakalan pun menurun drastis. Sebab, tidur yang cukup akan membuat emosi lebih stabil sehingga mereka lebih merasa bahagia. Pada tahun 2000,Meier juga memublikasikan bahwa anak yang merasa cukup istirahat memiliki daya tangkap yang tinggi, citra diri yang positif,dan motivasi tinggi untuk meningkatkan performanya di kelas.
Akibat Kurang Tidur
Pada anak, dengan adanya jam biologis, kita tidak dapat begitu saja memajukan jam tidur.Akibatnya, dengan memajukan jam masuk sekolah, jelas mereka akan kekurangan tidur. Dengan berkurangnya tidur,segala manfaat yang dapat diperoleh dari tidur akan berkurang,dan ini bersifat permanen.
Bayangkan,jika seorang anak SD tidur pukul 20.00 dan pada pukul 05.00 pagi harus dibangunkan.Pada saat akan membangunkan, perhatikan bahwa ada gerakan bola mata di balik kelopak mata yang menutup rapat.Itu bisa pertanda anak sedang bermimpi, berarti ia sedang mengembangkan potensi otaknya.Jika dibangunkan, berarti kita memotong proses perkembangan itu, dan potensi yang seharusnya tumbuh akan hilang selamanya! Kita pun harus mempertimbangkan siswa usia remaja yang sudah bisa mengendara.
Pada usia ini mereka sering kali mempertaruhkan nyawa hanya untuk bisa cepat sampai ke sekolah.Tahukah Anda bahwa mengendara dengan kantuk, jauh lebih berbahaya daripada mengendara sambil mabuk?
Kesimpulan
Tidur bukanlah sifat pemalas seperti yang menjadi anggapan orang selama ini. Justru dengan tidur yang sehat, anak dapat memaksimalkan potensi diri sehingga produktivitas meningkat.
Dengan demikian, mungkin Pemerintah DKI dapat mempertimbangkan kembali kebijakannya, dan memundurkan jam masuk sekolah agar sesuai dengan jam biologis anak. Hasilnya nanti, kesehatan, kecerdasan, kreativitas, dan kebahagiaan anak-anak bangsa akan terjamin.(*)
Dr Andreas Prasadja, RPSGT
Sleep Physician, Sleep Disorder Clinic – RS Mitra Kemayoran Jakarta,
Pagi ini saya kedatangan seorang pasien berkebangsaan Amerika dengan riwayat narkolepsi. Wow... amat jarang di Indonesia mendapati pasien dengan narkolepsi, apalagi dengan kondisi seperti dirinya. Tapi kegirangan saya begitu cepat berubah menjadi keprihatinan setelah mengevaluasi dirinya.
Di awal wawancara, dengan sopan ia memohon maaf jika tiba-tiba tertidur. Ini adalah salah satu tanda dari narkolepsi, kantuk yang amat sangat. Tak heran jika terkadang narkolepsi disebut juga serangan tidur.
Narkolepsi atau narcolepsy dalam bahasa Inggris mempunyai empat gejala utama (the classic tetrad) yaitu, kantuk berlebih, katapleksi, halusinasi hipnagogik dan lumpuh tidur.
Karena kantuknya, pria berusia 31 tahun ini membutuhkan beberapa tidur siang setiap hari. Ia akan tertidur tanpa bisa ditahan selama 20-25 menit, dan bangun dengan perasaan segar. Sayangnya dalam waktu satu atau dua jam dia sudah mengantuk kembali.
Di pagi hari, ketika akan bangun, ia mengalami halusinasi berupa pengalaman-pengalaman menyeramkan. Ini yang disebut halusinasi hipnagogik. Pada tahap ini tubuhnya turut melumpuh tak dapat digerakkan akibat lumpuh tidur.
Sedangkan di saat terjaga, ia sering kali harus malu akibat serangan katapleksi yang dialami. Katapleksi adalah serangan lumpuh yang dipicu oleh emosi yang kuat. Bisa berupa marah, takut, kaget atau gembira. Pada tahap awal, ia bisa tampak seperti orang bodoh karena otot-otot wajah yang melemah. Mulutnya membuka, dan lidahnya keluar. Jika ini berlanjut, misalkan karena lelucon yang amat lucu, ia bisa tiba-tiba terjatuh lunglai seolah tak ada tulang yang menahan tubuhnya. Tapi jangan salah, pada saat tersebut ia sama sekali tidak kehilangan kesadarannya. Setelah dibiarkan beberapa menit, ia dapat memulihkan kembali kontrol atas otot-ototnya, dan orang-orang disekitarnya bisa saja marah karena mengira ia berpura-pura semaput.
Banyak pengalaman konyol namun menyedihkan terjadi di sekitar dirinya. Misalkan karena terlalu terburu-buru hendak membonceng sepeda motor, tiba-tiba ia melemas dan terjatuh. Atau ketika di tempat keramaian ia terjatuh dan orang sekitarnya langsung memanggilkan ambulans, padahal ia tidak memerlukannya.
Narkolepsi merupakan gangguan tidur yang misterius yang sampai kini belum dapat dipastikan penyebabnya. Namun kita tahu bahwa ia menyerang sistem pengaturan mimpi. Dalam tidur mimpi terdapat kesadaran mimpi dan pelumpuhan otot-otot besar sebagai pengaman agar kita tak berpolah sesuai mimpi. Nah, pada narkolepsi ini, gelombang tidur mimpi bisa sewaktu-waktu menyusup pada saat terjaga. Akibatnya seseorang bisa bermimpi saat sadar, atau berhalusinasi, dan bisa juga tiba-tiba melumpuh saat terjaga. Yang paling rawan adalah ketika berada di batas antara tidur dan sadar, seorang penderita biasanya mendapat serangan halusinasi yang khas yaitu berupa adanya sosok orang lain di kamar tidur.
Bagi pasien narkolepsi kita ini, ia amat menderita karena obat-obat yang dibutuhkannya dilarang dibawa masuk ke Indonesia. Para petugas salah menyangka obat methylphenidate sebagai methamphetamine (ekstasi.) Tetapi ia juga amat mensyukuri hidupnya, karena kini ia ditemani seorang istri Indonesia yang amat memperhatikan segala kekurangan dan kebutuhannya sebagai seorang penderita narkolepsi.

