Tidur Sehat di Facebook
Jika Anda pemerhati kesehatan, terutama kesehatan tidur, dan kebetulan mempunyai account di Facebook silahkan bergabung di http://groups.to/tidur_sehat/...
Bagi Anda yang sekedar ingin bertanya, berkonsultasi atau berkomentar silahkan ikut bergabung juga.
Salam,
Dr. Andreas Prasadja, RPSGT
Anak Hiperaktif Belum Tentu ADHD
ADHD (attention-deficit/hyperac tivity disorder) adalah gangguan perilaku yang berkaitan dengan proses tumbuh kembang anak yang ditandai dengan hiperaktifitas, impulsivitas dan kurangnya kemampuan untuk berkonsentrasi. Meskipun Maya tidak dikategorikan sebagai ADHD, si Ibu tidak bisa mengabaikan keadaan anaknya yang amat aktif, tak bisa diam dan mudah rewel tersebut. Dan ia amat terkejut sewaktu dokter menjelaskan bahwa kondisi hiperaktifitas anaknya tersebut mungkin sekali berkaitan dengan tidur ngorok Maya.
Sleep Apnea Pada Anak
Sleep apnea adalah gangguan tidur yang ditandai dengan mendengkur dan rasa kantuk berlebih. Sleep apnea, yang artinya henti nafas saat tidur, pada orang dewasa menjadi penyebab hipertensi berbagai penyakit jantung, diabetes hingga stroke. Pada anak, sleep apnea, menjadi lebih serius karena ternyata berhubungan langsung dengan proses tumbuh kembangnya.
Coba perhatikan anak yang sedang tidur ngorok. Pada suatu saat suara ngorok tersebut akan hilang, dan anak tampak sesak seolah tercekik. Yang terjadi sebenarnya adalah penyempitan jalan nafas yang mengakibatkan udara tidak dapat masuk atau keluar. Gerakan nafas akan menghebat karena sesak. Akibat oksigen yang merosot dan kadar karbondioksida yang meroket, si anak akan terbangun disertai suara hentakan keras seolah nafas baru terbebas. Episode bangun ini disebut sebagai episode bangun mikro (micro arousal) karena walau gelombang otak terbangun, namun si anak tidak terjaga. Dan episode ini terus berulang sepanjang malam hingga mengganggu kualitas tidur. Akibatnya, ia akan terus berada dalam kondisi kurang tidur, walaupun sebenarnya sudah tidur cukup. Anak, untuk melawan rasa kantuknya justru jadi semakin aktif secara fisik.
Sekarang bayangkan jika anak Anda yang normal, dalam tidurnya setiap 20-30 detik sekali ditepuk hingga terbangun. Apa yang terjadi? Tentu di siang hari dia akan rewel, sulit berkonsentrasi dan cenderung hiperaktif. Bagaimana jika setiap tidur ini terjadi? Tak heran jika banyak anak penderita sleep apnea yang tampilannya jadi mirip dengan ADHD.
Belakangan, wacana sleep apnea banyak dibicarakan. Para dokter anak pun sudah amat peka terhadap masalah ini. Hanya sayang, kita masih terlalu terpaku pada artikel-artikel yang menyatakan bahwa anak gemuklah yang biasanya ngorok. Padahal ini tidak sepenuhnya benar. Seperti Maya halnya. Dia termasuk anak yang tidak gemuk. Malah cenderung langsing. Berdasarkan berbagai penelitian di Korea, ras Asia tidak perlu gemuk untuk menderita sleep apnea. Ini disebabkan oleh struktur rahang kita yang lebih sempit dan leher yang lebih pendek dibanding ras Eropa.
Tidur pada Anak
Proses tidur amatlah penting bagi seorang anak. Karena proses tumbuh kembang justru terjadi pada saat tidur. Pada tahap tidur dalam, dikeluarkan growth hormone yang berperan dalam proses pertumbuhan. Sedangkan pada tahap tidur mimpi, dipercaya sebagai tahap tidur dimana kemampuan kognitif, mental dan emosional dijaga.
Dengan adanya sleep apnea, proses tidur akan terpotong-potong. Akibatnya proses tumbuh kembang pun terganggu. Kecerdasan dan potensi-potensi mental lain yang seharusnya tumbuh dan berkembang saat tidur, tidak tumbuh. Kondisi emosionalnya pun buruk, anak jadi rewel dan mudah marah. Karena mengantuk, anak juga semakin aktif dan sulit memusatkan perhatian.
ADHD dan Tidur
Anak yang memang terdiagnosa ADHD pun harus tetap diperhatikan tidurnya. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa anak ADHD menunjukkan kemajuan yang berarti setelah dirawat gangguan tidurnya. Sebuah artikel di jurnal kedokteran SLEEP bahkan mengatakan bahwa anak ADHD merespon terapi stimulan dengan baik karena mereka mengalami kantuk berlebih (excessive daytime sleepiness.) Penelitian ini juga menyatakan bahwa 50% dari anak ADHD menderita sleep apnea, sedangkan pada anak normal hanya 22% yang menderita. Gangguan tidur lain yang juga sering ditemui pada anak ADHD adalah periodic limb movements in sleep (PLMS).
Penelitian lain yang dilakukan di Taiwan tahun 2004 menganjurkan agar seorang anak yang didiagnosa dengan ADHD juga diperhatikan tidurnya. Karena mereka menemukan bahwa penderita ADHD yang juga menderita sleep apnea memiliki kondisi yang lebih buruk dibanding anak ADHD tanpa gangguan tidur. Lebih jauh lagi, di tahun 2007 kelompok yang sama, menerbitkan penelitian mereka yang menunjukkan hubungan sleep apnea dengan terapi ADHD. Pada penelitian tersebut, mereka membuktikan bahwa anak ADHD penderita sleep apnea, bisa menghindari efek samping pengobatan ADHD jika sleep apnea-nya dirawat.
Untuk anak penderita ADHD pengobatan yang paling sering diberikan adalah golongan stimulan. Namun jadwal pengobatan yang kurang tepat malah dapat menyebabkan anak sulit tidur sehingga gejala ADHD semakin menjadi parah. Untuk itu, sesuaikanlah pemberian obat dengan jadwal tidur anak.
Perawatan
Seperti Maya, anak yang mendengkur harus menjalani pemeriksaan tidur di laboratorium tidur. Dalam pemeriksaan ini anak akan direkam fungsi-fungsi tubuhnya selama tidur sepanjang malam. Yang mengejutkan pada kasus Maya, ia mengalami henti nafas sebanyak 106 kali perjam.
Pemilihan terapi harus berdasarkan pemeriksaan tidur dan pemeriksaan THT yang seksama. Kebanyakan sleep apnea pada anak disebabkan oleh pembesaran adenoid dan tonsil sehingga terapi lebih diarahkan pada kedua organ tersebut. Namun ada juga kemungkinan harus menggunakan CPAP (continuous possitive airway pressure.)
Setelah Maya menjalani perawatan, kini ia tidur nyaman, tidak mendengkur, kantuk berlebih hilang, dan tidak hiperaktif lagi. Dan keluarga pun dapat tidur tenang mengetahui bahwa segala potensi dapat tumbuh pesat di saat Maya tertidur.
Gangguan Tidur Bisa Sebabkan Serangan Jantung
JAKARTA, SELASA - Meski kelihatannya remeh, mendengkur ternyata dapat menjadi pertanda buruk. Mendengkur atau ngorok merupakan ciri penyakit gangguan tidur yang disebut Sleep Apnea. Jika dibiarkan berlarut, dapat menyebabkan penyakit yang berbahaya, seperti jantung, stroke, diabetes dan hipertensi.
"Secara harfiah sleep apnea dapar diartikan henti napas saat tidur," terang Dr, Andreas Prasaja, seorang sleep scientist.
Pukul 0.3.00-0400 adalah waktu yang paling enak untuk tidur. Saat itu orang masuk dalam status tidur dalam atau REM (rapid eye movement). Pada saat ini, ada sistem pengaman tubuh yang dilumpuhkan. Akibatnya, henti napas akan makin panjang. Dengan begitu, beban jantung akan semakin berat. "Kalau tidak kuat maka dapat terkena serangan jantung pada saat tidur, dan meninggal," terang Andreas.
Gejala awal dari sleep upnea adalah adalah mendengkur, sering buang air keci di malam hari, mulut terasa asam karena asam lambung meningkat, dan sering terbangun di malam hari karena tersedak akibat henti nafas.
Akibat yang paling ringan dari sleep apnea adalah turunnya produktivitas karena kualitas tidur yang buruk. Kualitas tidur yang buruk menyebabkan tidak segarnya tubuh saat bangun. Akibatnya konsentrasi akan menurun saat bekerja karena orang akan mengantuk sepanjang hari.
Sleep apnea, menurut Andreas terjadi akibat menyempitnya jalan nafas. Di luar negeri penyebab utama penyempitan saluran napas biasanya kegemukan dan lemak yang menumpuk di seputar leher. Namun di Indonesia, penyempitan saluran napas bisa terjadi akibat bentuk rahang yang sempit dan bentuk leher yang pendek. "Dengan karakteristik seperti itu, kita tidak perlu menjadi gemuk untuk menjadi sleep apnea," jelas Andreas.
Seberapa parah gangguan ini dapat diketahui dari frekeuensi henti napas yang terjadi per jam. Apnea Hypopnea Index bisa digunakan. Jika henti nafas seseorang antara nol sampai lima per jam, itu masih normal. Bila 15-30 kali dalam satu jam, termasuk sedang. Berat, jika ia sudah terhenti nafasnya lebih dari 30 kali dalam satu jamnya.
Tidak ada obat untuk gangguan tidur. Selain operasi untuk membuka saluran napas, alat yang disebut Continuous Positive Air Way Pressure ( CPAP) dapat menyelesaikan masalah. "Ini adalah alat yang memberikan dorongan untuk membuka saluran pernafasan yang menyempit," jelas Andreas.
CPAP mirip masker yang dilengkapi tabung kecil untuk memompa udara bertekanan positif ke dalam saluran pernapasan, bentuknya sangat fleksibel sehingga tidak menggangu tidur. Untuk mencegah terjadinya sleep apnea datang kembali, CPAP ini sebaiknya digunakan selama tidur.
C5-09
SLEEP APNEA, Bukan Ngorok Biasa!
Koran SINDO, Monday, 02 March 2009
Link: http://www.seputar-indonesia....
MENDENGKURyang disertai henti napas lebih dari lima belas kali saat tidur bisa menjadi pertanda gangguan tidur serius. Bahkan,mengarah pada penyakit jantung. Seberapa serius Anda menanggapi persoalan mendengkur?
Simaklah cerita Ranti yang akhir tahun lalu pergi berlibur bersama teman-teman sekantornya ke Anyer. Untuk mengirit biaya, mereka hanya menyewa satu kamar hotel untuk berlima.
”Waktu malam pertama menginap, enggak nyangka seorang teman kami yang di kantor dikenal pendiam dan berwibawa ternyata mendengkur saat tidur. Saya dan teman-teman terbangun dan cekikikan mendengar dengkuran yang cukup kenceng. Besoknya pas kami bilang,eh dia jadi tersinggung,” tutur karyawati perusahaan telekomunikasi di Jakarta itu. Lain Ranti, lain pula Gina.
Kebiasaan suaminya mendengkur tiap malam hampir memicu mereka pisah kamar tidur.”Awalnya telinga saya tidak nyaman, kadang saya tutupibantalatau dengerinmusik pakai earphone.Tapi lama-lama terbiasa juga sih,”ujarnya. Sebagian besar masyarakat Indonesia masih menganggap mendengkur alias ngoroksebagai hal wajar atau ritual biasa saat tidur.
Bahkan, ada yang menganggap dengkuran sebagai penanda tidur pulas.Namun, perhatikan bahwa jika anak atau pasangan tidur Anda mendengkur disertai henti napas sejenak seperti orang tersedak, bisa jadi itu merupakan gejala gangguan tidur yang disebut sleep apnea.
Lalaine Gedal RPSGT, seorang sleep technologist besertifikat dari Amerika mengungkapkan, mendengkur jangan dianggap main-main dan bukan untuk dijadikan bahan tertawaan.Dengkuran ataupun sleep apnea terjadi karena ada sumbatan pada jalan napas, sehingga aliran udara lewat hidung dan tenggorokan terhambat. Akibatnya, napas seperti terputusputus atau terhenti selama beberapa detik.
”Kalau sumbatan ini terjadi di saluran napas atas maka disebut sindroma obstructive sleep apnea (OSA), yang berarti jalan napas tersumbat total,” tutur Lalaine dalam seminar awam tentang gangguan tidur yang diselenggarakan Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (PERDOSSI) dan Departemen Neurologi FKUI/- RSCM di Hotel Nikko Jakarta, pekan lalu.
Kasus henti napas saat tidur ini tak boleh disepelekan. Pasalnya, saat jalan napas tersumbat, pasokan oksigen ke dalam darah dan otak pun berkurang sehingga memicu otak untuk terjaga.Tapi meski otak terjaga, orang itu tidak terbangun. Hal ini memotong proses tidur dan kualitas tidur menjadi buruk.
Akibatnya, saat bangun jadi tidak segar, capek, sulit konsentrasi, masih ngantuk meski sudah tidur 8 jam, dan mengantuk di siang hari. ”Nah,jika hal ini terjadi setiap malam otomatis dapat mengganggu kemampuan otak, mental, termasuk kemampuan seseorang dalam mengambil keputusan,” ujar Lalaine seraya mengungkapkan beberapa gejala penyerta sleep apnea seperti mengantuk yang amat sangat,sering buang air kecil di malam hari, dan mulut terasa asam akibat meningkatnya asam lambung.
Sementara itu, sleep scientist dari RS Mitra Kemayoran Jakarta, Dr Andreas Prasaja, mengingatkan bahwa kasus sleep apnea yang dibiarkan berlarut-larut dapat memicu penyakit berbahaya seperti hipertensi, diabetes, hingga gangguan jantung bahkan stroke.
”Di negara maju, sleep apnea sudah termasuk dalam tata laksana penanganan penyakit- penyakit tersebut. Jadi, jika ada pasien hipertensi berobat,dokternya pasti akan bertanya: Anda ngorok tidak? Pasalnya, sleep apnea diketahui sebagai salah satu faktor risiko utama dari penyakit tersebut,” papar pria ramah itu.
Lebih lanjut Andreas memaparkan, berat-ringannya sleep apnea bukan ditentukan oleh keras-lembutnya volume dengkuran, melainkan frekuensi henti napas yang terjadi setiap jam. Dan, jika terjadi 15–30 kali dalam satu jam sudah termasuk gangguan sedang, dan berat jika frekuensinya mencapai lebih dari 30 kali per jam.
”Untuk mengetahui adanya gangguan, Anda bisa datang ke laboratorium tidur untuk direkam kondisi selama tertidur seperti pernapasan, gelombang otak dan jantung,”ungkapnya.( inda susanti)   ;
Snoring no laughing matter: Specialists
Prodita Sabarini , The Jakarta Post , Jakarta &n bsp; | Mon, 03/02/2009 2:13 PM | City
Link: http://www.thejakartapost.com...
Many Jakartans are unaware of the health and social risks that come with sleeping disorders, seeing insomnia as a regular part of urban life or assuming that snoring as a sign of deep sleep, a sleep specialist says.
Dr. Andreas Prasadja, a sleep physician at the Mitra Kemayoran Sleep Laboratory, pointed out a lack of sleep poses health risks and contributes to the number of traffic accidents in the city.
"We've heard about so many traffic accidents being caused by drivers falling asleep at the wheel," he said Friday at a seminar on sleeping disorders.
Andreas said he hoped to dispel two commonly believed false notions: Sleep as a sign for laziness and snoring was a sign of deep, restful slumber.
He said our urban lifestyle, which hails productivity and runs by the motto "work hard, play hard", has contributed to people's sleep problems.
For productivity's sake people force themselves to work long hours using stimulants which then keep users awake when it was time to rest. Light sleeping is not the only consequence: overuse of stimulants can lead to kidney failure.
He also said exercising just before going to bed can disrupt sleep as well as a brightly lit room, or snuggling up with our digital sidekicks, laptops and cell phones, before snoozing.
He said people should avoid taking stimulants - including caffeine, nicotine, and chocolate - nine hours before going to sleep, replacing them with relaxing drinks such as camomile tea.
He also encouraged people to finish their exercise regimes three hours before going to bed and to stop all work-related activities an hour before.
"When you feel really sleepy, then go to bed. Do not do anything in bed except sleep and have sex," he said.
Another sleep disorder which is the most common and the most dangerous but also the most ignored is snoring.
"Snoring is not a laughing matter. It's serious. If untreated it can cause hypertension, heart failure, diabetes or stroke," he said.
He said that hypersomnia, a condition where people feel excessive daytime sleepiness despite long nighttime sleep might be caused by sleep apnea, a sleep disorder characterized by pauses in breathing during sleep, common among people who snore.
"During sleep the muscles of the body relax, including the soft tissue around the air way in the throat area. These tissues can collapse and obstruct breathing during sleep, causing people to stop breathing until they gasp for air," he said.
To take in air, sufferers must wake over and over so they are never fully rested and can wind up with chronic, life-threatening consequences of extended sleep deprivation.
The importance of sleep, however, has yet to be fully understood by the public, including doctors, Andreas said.
"In Indonesia doctors diagnosing patients with hypertension or diabetes still rarely ask how well their patient is sleeping at night. In developed countries, that question is one the first questions the doctors ask a patient," he said.
Lalaine Gedal, a Singapore-based sleep physician, said the prevalence of sleep apnea among 35-year-olds is 20 percent among men, and 5 percent among women. Among the elderly, 60 percent of men have sleep apnea and 40 percent of women.
A patient of Andreas said he had not realized he had been suffering from sleep apnea until he became very tired every day, dozing off during meetings and even while driving.
For those who dread surgical interventions, an effective and noninvasive method for stopping snoring involves a machine. Andreas' patient now uses a Continuous Positive Airway Pressure device known as a CPAP.
The CPAP includes a mask with air tubes and a fan. It uses air pressure to push the user's tongue forward and keep the throat open. This allows air to pass through the airway consistently. It reduces snoring and prevents apnea wake-ups.
There are only two sleep specialists in Indonesia, both based in Jakarta. Andreas and Rimawati Tedjasukmana founded Thursday the Indonesian Society of Sleep Medicine, or INA Sleep.
Andreas said he hoped to educate people about sleeping disorders, through the organization.

