OSA Updated
Apakah Anda sering mengalami:
Bangun tidur dg perasaan tidak segar, masih cape dan ingin tidur kembali?
Sakit / nyeri tenggorok saat bangun tidur ?
Mengantuk di siang hari ?
Kelelahan berkepanjangan
sekalipun cukup tidur?
Apakah Anda Mendengkur?
Mungkin Anda mengalami Obstructive Sleep Apnea....
apakah OSA itu? benarkah mengorok bisa menimbulkan kematian mendadak?
benarkah mengorok menyebabkan hipertensi dan penyakit jantung? dapatkan
semua jawabannya di:
Seminar "Obstructive Sleep Apnea Updated":
- pada Sabtu, 25 Oktober 2008 pk8-14
- di Auditorium Fakultas Kedokteran Unversitas Atma Jaya, Kampus Pluit
(kompleks RS Atma Jaya)
Jl.Pluit Raya no.2 Jakarta Utara
- peserta: dokter umum dan mahasiswa kedokteran
- pembicara:
dr.Rimawati Tedjasukmana SpS,RPSGT (Pengantar Sleep Medicine),
dr.Syahrial M Hutauruk SpTHT-KL (Koordinator Kelompok Studi Snoring&OSA
PP Persatuan Dokter Ahli THT dan Bedah Kepala Leher Indonesia ->
Penatalaksanaan OSA&Snoring oleh dokter THT),
dr.Pudjo Astowo SpP(K) (dokter Spesialis Paru dari RS Persahabatan ->
cPAP sebagai golden standard untuk penanganan OSA),
drDewi SpS M.Kes(dokter Spesialis Saraf dari FK Atma Jaya ->
Cerebrovascular Disease dan OSA),
drAndreas Prasadja, RPSGT (dokter Sleep Clinic RS Mitra Kemayoran -> OSA
Syndrome),
talkshow dengan kesaksian dari mantan penderita OSA (Mr.Alexander Ecker)
Moderator: dr.Satya Joewana Sp.KJ(K) dan dr.Liliana Sugiharto MS, PAK
Harga tiket:(termasuk Lunch, Snack, Seminar Kit, Sertifikat, SKP)
- mahasiswa kedokteran 35 ribu
- AMSA member 30 ribu
- Dokter&dokter muda 50 ribu
Silakan transfer ke:
rekening BCA # 037-235-2718
an Peter Mulyono Wijaya
lalu simpan tanda bukti transfernya dan konfirmasi via SMS ke
081932270678
Mau Produktif? Tidur!
Kehidupan saat ini sarat dengan target dan tenggat waktu. Banyak orang ingin terus menerus aktif dan tajam sepanjang hari. Sehingga manusia berusaha mencari teknologi yang dapat menopang aktivitasnya tanpa perlu istirahat.
Di masa lalu, keinginan ini diwujudkan dengan ditemukannya berbagai zat stimulan yang membuat seseorang terus aktif dan bersemangat. Hanya sayang, sampai saat ini belum ditemukan zat yang dapat benar-benar menggantikan tidur. Lihat saja stimulan terpopuler saat ini, kopi. Kafein memang dapat menahan kantuk, tapi kemampuan otak untuk bekerja terus menurun tak tertahankan.
Manusia tetap membutuhkan tidur. Tak ada satu zat pun di dunia yang dapat menggantikan efek restoratif tidur.
Tidur
Tidur mempunyai beberapa tahap berdasarkan gelombang otak. Ada tahap tidur ringan, tidur dalam, lalu tidur mimpi. Pada tahap tidur dalam, terjadi proses-proses perbaikan jaringan tubuh yang rusak. Ini ditandai dengan dikeluarkannya growth hormone oleh tubuh. Hingga saat bangun tubuh akan terasa segar dan fit penuh.
Daya tahan tubuh juga bekerja optimal pada saat kita tidur. Saya sering mendapatkan pertanyaan dari pasien yang oleh karena pekerjaannya terpaksa mengurangi waktu tidur. Mereka menanyakan obat atau makanan yang dapat menopang daya tahan tubuh. Padahal konsumsi vitamin atau suplemen akan percuma jika tidurnya kurang.
Tidur mimpi dipercaya sebagai tahapan dimana kemampuan mental, kognitif dan emosional kita dijaga. Pada tahap ini, gelombang otak tampak mirip dengan saat sadar. Tetapi hubungan kita dengan luar seolah terputus, sehingga kita seperti berada di alam lain. Walaupun isi mimpi tidaklah nyata, tetapi emosi yang dirasakan amatlah nyata. Jika memimpikan peristiwa sedih, kita benar-benar merasa sedih. Bahkan saat terbangun pun kita masih merasa sedih, namun lega karena kita sadar bahwa semua hanyalah mimpi.
Sementara isi mimpi merupakan letupan-letupan ingatan yang acak, muatan emosi dalam mimpi biasanya berhubungan dengan alam perasaan saat akan tidur. Itu sebabnya para ahli psikoanalis, percaya bahwa dengan menggali isi mimpi seseorang, mereka dapat mengakses perasaan seorang pasien. Freud bahkan mengatakan bahwa semua emosi yang tidak dapat diungkapkan saat sadar, dapat diekspresikan secara aman dalam mimpi.
Sebuah penelitian yang dilakukan oleh National Sleep Foundation menunjukkan bahwa siswa yang mempunyai cukup tahapan tidur mimpinya mempunyai prestasi yang lebih baik dibanding yang kurang. Kenakalan remaja pun tampak kurang pada siswa dengan kecukupan tidur mimpi yang baik.
Penelitian lainnya menunjukkan bahwa dengan mencukupi tidurnya, sekelompok orang muda merasa jauh lebih baik, produktif dan bahagia dibanding sebelumnya. Padahal sebelumnya (dengan jadwal tidur yang kurang) mereka merasa tidak mempunyai masalah dengan prestasi kerja.
Produktivitas
Jawaban terhadap kebutuhan untuk meningkatkan produktivitas sepertinya tidak melulu pada penambahan waktu kerja. Melakukan pekerjaan dalam kondisi kurang tidur, malah akan kontra-produktif. Contoh ekstrem adalah ketika kita baru tidak tidur semalaman, di siang hari terasa sulit berkonsentrasi, mengantuk, dan ‘mood’ kita pun jadi jelek. Bagaimana jika kita hanya kurang tidur? Hanya tidur 5-6 jam semalam misalnya? Sama saja, hanya saja dengan intensitas yang berbeda. Tetapi penurunan produktivitas sedikit saja sudah merugikan. Apalagi dengan kekurangan tidur yang terus menerus, hutang tidur akan semakin menumpuk sampai akhirnya terjadi penurunan kemampuan mental, kognitif dan emosional yang nyata.
Berikut adalah sedikit panduan kebiasaan tidur yang sehat:
- Cukupi kebutuhan tidur, sekurangnya 8 jam perhari.
- Sembilan jam sebelum tidur, hindari konsumsi kafein. Kafein baru hilang dari peredaran darah setelah 9-12 jam. Jika Anda merasa dapat menikmati kafein tanpa mengganggu tidur, hati-hati. Ini bisa jadi tanda Anda kekurangan tidur atau menderita hipersomnia.
- Tiga jam sebelum tidur, usahakan Anda sudah selesai berolah raga. Olah raga memang membuat tubuh lelah, tetapi justru meningkatkan kadar adrenalin yang menyegarkan otak.
- Satu jam sebelum tidur, tinggalkan semua pekerjaan dan biasakan untuk mengistirahatkan tubuh dan pikiran dengan kegiatan-kegiatan menyenangkan namun bersifat santai. Hindari aktifitas yang membuat kita ‘excited.’
- Jika sudah benar-benar mengantuk baru naik ke tempat tidur. Jangan melakukan kegiatan apa pun di tempat tidur selain tidur dan seks.
Gangguan Tidur Bukan Insomnia Semata
Keluhan gangguan tidur disebabkan terutama oleh ‘kondisi kurang tidur’ (sleep deprivation.) Kondisi kurang tidur disebabkan oleh jumlah tidur yang kurang atau kualitas tidur yang kurang. Sehingga keluhan pasien dengan ‘kondisi kurang tidur’ bisa luas sekali, mulai dari sulit tidur, tidur-tidur ayam, tidur tidak dalam, bangun tidak segar, selalu mengantuk, cepat lelah, mudah tertidur, sakit kepala yang menetap, vertigo, depresi, hipertensi hingga berbagai gangguan jantung.
Sayangnya di Indonesia frasa gangguan tidur terlanjur identik dengan insomnia. Sementara keluhan kantuk berlebih, juga biasa disebut hipersomnia, kurang diperhatikan. Padahal kantuk berlebih amat mengganggu produktivitas bahkan menyimpan potensi bahaya yang tidak kecil.
Persentase penderita gangguan tidur amat bervariasi. Di klinik gangguan tidur kami, yang terbanyak adalah kasus sleep apnea (henti nafas saat tidur,) diikuti dengan insomnia, sindroma tungkai gelisah, parasomnia baru lalu narkolepsi.
Penderita sleep apnea terbanyak adalah pria dengan perbandingan 90% pria dan 10% wanita. Padahal berdasarkan penelitian di luar negri penderita pria dan wanita sama besarnya. Penyebabnya adalah gejala sleep apnea pada wanita tidak sejelas pada pria. Jika pria mendengkur keras, wanita mempunyai dengkuran yang lebih ‘sopan’. Dan lagi wanita lebih tahan kantuk dibanding pria, sehingga jika pada pria jelas terdapat kantuk berlebih, pada wanita hanyalah keluhan cepat lelah atau kesulitan berkonsentrasi. Di negara-negara maju, penanganan sleep apnea sudah menjadi bagian dari tata laksana hipertensi. Bahkan International Diabetes Federation, sejak Februari 2008 sudah menyarankan agar pasien diabetes diperiksakan kemungkinannya menderita sleep apnea.
Penderita dengan diagnosa insomnia dua pertiga-nya adalah wanita dengan sebaran usia terbanyak pada usia 40 tahunan. Patut diwaspadai juga, bahwa banyak remaja / dewasa muda yang mengeluhkan kesulitan tidur namun sebenarnya masih dalam batas normal. Begini, dalam tubuh kita ada jam biologis yang mengatur segala denyut kehidupan seperti rasa lapar, menstruasi dan kantuk. Usia dewasa muda mempunyai jam biologis yang unik, dimana mereka butuh tidur selama 8,5 jam – 9,25 jam seharinya dengan jam kantuk baru lewat tengah malam. Tak heran, jika banyak orang muda yang merasa sulit tidur pada jam-jam 10 malam sementara orang lain di rumahnya sudah terlelap. Ini juga sebabnya banyak orang muda yang betah ‘gaul’ hingga larut malam, dan tertidur di kampus atau kantor. Ini akan berlangsung hingga letupan-letupan hormon mereda di usia mendekati 30 tahun. Nah, banyak pasien di usia ini yang datang dengan keluhan sulit tidur namun akhirnya dinyatakan normal dan tidak menderita insomnia. Banyak juga pasien wanita yang datang dengan keluhan sulit tidur, ternyata terdiagnosa menderita sleep apnea atau sindroma tungkai gelisah. Mereka biasanya merasakan kualitas tidur yang buruk sehingga cepat merasa lelah di siang hari.
Penderita sindroma tungkai gelisah tidak mengenal gender. Mereka mengeluhkan sulit tidur, akibat rasa tidak nyaman pada kaki yang mendorong mereka untuk menggerak-gerakkan kaki. Rasa tak nyaman ini digambarkan sebagai rasa pegal, sakit, keram atau sekedar kesemutan. Gangguan ini biasanya disebabkan oleh penyakit syaraf degeneratif (parkinson, alzheimer), tingginya kadar ureum dalam darah atau malah kekurangan zat besi.
Parasomnia adalah gerakan yang tidak diinginkan selama tidur. Bisa berjalan dalam tidur, berbicara, atau bahkan makan dalam tidur! Jumlah penderitanya tidaklah banyak dan tidak memerlukan tindakan khusus. Terutama pada anak-anak, gangguan ini bisa hilang dengan sendirinya. Yang diperlukan adalah edukasi pada keluarga penderita agar memahami gangguan tidur yang dialami. Salah satu parasomnia yang menakutkan adalah night terrors/pavor nocturnus dimana seorang anak, ditengah malam seolah duduk terbangun, dengan pandangan mata terfiksasi pada satu sudut, menangis keras tanpa bisa ditenangkan. Ketika ditenangkan ia malah menangis semakin keras. Tapi setelah beberapa menit, ia akan diam lalu kembali tidur atau terbangun dalam kondisi bingung. Si anak biasanya tidak ingat sama sekali episode ini, karena memang tidak terjadi pada tahap tidur mimpi.
Narkolepsi tidak banyak diderita, hanya beberapa orang saja. Gangguan tidur ini ditandai dengan serangan kantuk tak tertahankan, otot lemas tiba-tiba setelah emosi kuat, dan fenomena 'tindihan.'
Mengapa Kita Tidur
Prof. William Dement, sang bapak kedokteran tidur, pernah mengatakan bahwa jika tidur tidak mempunyai manfaat berarti tidur merupakan sebuah kesalahan besar dari proses penciptaan. Tidak mungkin kita menghabiskan sepertiga hidup untuk tidur yang sia-sia. Lagi pula, bila kita lihat makhluk hidup di sekitar kita, semuanya mulai dari binatang peliharaan, reptil, ikan hingga nyamuk pun mempunyai fase tidak aktif yang bisa disebut sebagai tidur.
Mengapa kita tidur? Ini adalah pertanyaan yang sampai saat ini belum dapat dijawab secara pasti oleh para ilmuwan. Sementara, kebanyakan orang berpendapat bahwa tidur adalah saat istirahat bagi tubuh, agar siap menghadapi tantangan baru. Beberapa orang malah menjawab mereka tidur supaya tidak mengantuk. Sebuah jawaban yang lucu tapi mengandung kebenaran, karena seperti rasa lapar yang dihilangkan dengan makan, kantuk juga dihilangkan dengan tidur. Dan sama halnya dengan rasa lapar, kita pun tidak tahu pasti mengapa kita mengantuk.
Manfaat Tidur
Tidur tidaklah sia-sia. Untuk tahu manfaatnya, mudah saja. Apa yang Anda rasakan jika kurang tidur? Capek? Lelah? Sulit berkonsentrasi? Mudah sakit? Ya. Itulah manfaat tidur yang dapat kita rasakan.
Tidur merupakan sebuah proses yang amat aktif. Tidak seperti pandangan kita selama ini yang menganggap tidur sebagai fase pasif dari keseharian. Ketika kita berada dalam kondisi tidak sadar, bukan berarti tubuh kita mati. Justru amat aktif. Kerja otak kita berubah. Sedikit melambat, lalu memunculkan gelombang-gelombang otak yang diklasifikasikan oleh Dement dan Kleitman sebagai tahapan-tahapan tidur.
Melalui tahapan-tahapan tidur ini, tubuh kita juga memberikan respons yang berbeda-beda. Otot-otot tubuh yang melemas, nafas yang semakin teratur, denyut nadi yang melambat dan seiring dengan semakin dalamnya tidur berbagai hormon dan neurotransmiter pun dikeluarkan oleh tubuh. Salah satunya adalah Growth Hormone, yang pada anak-anak berperan penting dalam proses tumbuh kembang, sedangkan pada orang dewasa dianggap berperan dalam perbaikan jaringan-jaringan tubuh yang rusak. Bagian tubuh yang paling mudah diperhatikan adalah kulit. Bagaimana kulit orang yang kurang tidur? Lebih kusam bukan?
Selain itu, tubuh pun menghasilkan berbagai zat-zat anti untuk mempertahankan tubuh dari serangan virus dan kuman dari lingkungan. Ini diperlihatkan oleh sebuah penelitian yang diterbitkan oleh Journal of the American Medical Association di tahun 2002, yang menunjukkan respon munculnya antibodi setelah penyuntikan vaksinasi influenza pada dua kelompok orang. Kelompok pertama mempunyai kecukupan tidur yang baik, sementara kelompok kedua hanya tidur 4 jam selama 6 malam sebelum dilakukan penyuntikan. Sepuluh hari kemudian, kadar antibodi terhadap virus influenza diukur. Pada kelompok kedua, ternyata kadar antibodi terhadap virus influenza ternyata hanya 50% dibanding kelompok pertama yang cukup tidur.
Selain penelitian ini, banyak sekali penelitian-penelitian yang lebih terfokus pada berbagai sel daya tahan tubuh. Dan semuanya menunjukkan korelasi yang nyata antara tidur dan daya tahan tubuh terhadap penyakit infeksi maupun tumor. Namun demikian, cara paling mudah memahami hubungan antara tidur dan daya tahan tubuh adalah dengan melihat kondisi badan saat kita sakit. Ketika terserang demam, badan kita terasa lemah dan terus mengantuk. Nah, jika Anda ingin meningkatkan daya tahan tubuh, sepertinya penambahan berbagai vitamin saja belumlah cukup.
Tidur dan Produktifitas
Tahap tidur mimpi dipercaya sebagai tahapan tidur dimana kemampuan mental, kognitif dan emosional kita dijaga. Freud percaya bahwa pada tahap tidur ini emosi-emosi terpendam dapat dikeluarkan secara aman. Penelitian lainnya, mengaitkan kecukupan tahap tidur R (mimpi) dengan prestasi akademik. Pada anak-anak dengan tidur R yang cukup, mempunyai prestasi yang lebih baik.
Sementara penelitian lain melihat efek tidur cukup pada kemampuan mental seseorang. Penelitian yang dilakukan oleh National Sleep Foundation tersebut menunjukkan bahwa kelompok yang kurang tidur, walaupun mampu menghapal dengan baik, kurang dapat mengeluarkan ide-ide kreatif dari data yang dikumpulkan. Disamping itu, tarik pendapat yang dilakukan oleh yayasan yang sama menunjukkan bahwa angka kenakalan dan angka absensi para murid yang mencukupi kebutuhan tidurnya jauh lebih baik dari yang tidak.
Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda merasa cukup produktif dan penuh vitalitas? Apakah Anda merasa dapat menghadapi semua tantangan? Kebanyakan dari Anda pasti menjawab, ya. Anda merasa cukup aktif, cerdas dan penuh vitalitas walaupun dengan tidur yang pas-pasan. Tapi nanti dulu. Ada sebuah penelitian yang meneliti sejumlah orang muda. Mereka merasa cukup produktif dan bahagia dengan cara hidup mereka. Untuk beberapa minggu, mereka menghabiskan setiap sore di laboratorium tidur. Sementara di pagi dan siang hari, mereka beraktivitas seperti biasa. Selama mengikuti penelitian, mereka tidur secara teratur. Awalnya mereka tidur selama 9-10 jam, sepertinya ini untuk membayar hutang dari kekurangan tidur selama ini. Setelah satu minggu, tidur mereka berkembang secara teratur menjadi 7,5–8 jam. Yang mengejutkan, setelah satu bulan semua peserta ingin meneruskan pola tidur seperti ini. Mengapa? Karena menurut pengakuan mereka, kini mereka lebih produktif, percaya diri dan bahagia!
Anda mau mencoba?

