Sleep Disorder Clinic - Jakarta

Wanita, Kehamilan dan Sleep Apnea

Sudah menjadi pandangan umum bahwa yang tidur mendengkur adalah pria. Sebenarnya tidak demikian. Gejala sleep apnea pada wanita tidaklah sejelas pada pria. Jika pria mendengkur keras dan mengeluhkan kantuk luar biasa, wanita biasanya hanya menceritakan keluhan cepat lelah, capek, tak bersemangat, merasa depresi, tekanan darah yang tinggi atau terlalu sering tidur siang.

Di usia muda, mendengkur dapat menjadi tanda dari hipertensi yang dipicu oleh kehamilan dan keterlambatan pertumbuhan janin(1). Bayi-bayi yang lahir dari ibu pendengkur lebih sering mempunyai berat badan lahir yang rendah.

Ibu hamil dapat menderita OSA sebagai akibat dari kombinasi antara penambahan berat badan dan pembengkakkan jalan nafas atas. Kebiasaan mendengkur selama kehamilan dapat dianggap sebagai tanda peningkatan tekanan darah dan peningkatan resiko pre-eklamsia(2).

Sedangkan di usia yang lebih matang, kejadian sleep apnea tiga kali lebih sering pada usia paska menopause dibanding sebelumnya(3).

Sumber:

1.  Franklin et al, 2000

2.  Svanborg et al, 2007

3. Bixler et al, 2001

 

 

Dr. Andreas Prasadja, RPSGT 

0 Comments

Tertidur Di Kelas, Narkolepsi? OSA?

Saya sering mendapat pertanyaan tentang kantuk berlebih. Baru-baru ini saya mendapatkan pertanyaan yang sama, namun si penanya sudah mencurigai dirinya menderita suatu gangguan tidur tertentu. Ia menanyakan kemungkinan dirinya menderita sleep apnea atau narkolepsi. Tulisan berikut saya tujukan untuk menjawab pertanyaannya.

Sering tidur di kelas mengindikasikan tanda hypersomnia. Hypersomnia adalah 'kondisi kurang tidur' yang disebabkan oleh kualitas tidur yang buruk, sehingga tetap mengantuk walaupun jumlah tidurnya sudah cukup. Jadi penderitanya bangun dengan perasaan tidak segar, disertai dengan rasa kantuk di siang harinya.

Penyebab tersering adalah obstructive sleep apnea yang ditandai dengan mendengkur. Henti nafas saat tidur disebabkan oleh penyempitan jalan nafas atas secara periodik selama tidur. Peningkatan CO2 akibat henti nafas, akan memicu chemoreceptor yg pada gilirannya akan membangunkan otak sejenak (micro arousal.) Proses ini akan berulang sepanjang malam, sehingga menyebabkan tidur yang terpotong-potong (fragmented sleep). Tapi penderita tidak menyadari dirinya terbangun-bangun sepanjang malam. Ini yang menyebabkan kantuk berlebih. Tapi akibat lanjutannya-lah yang sebenarnya menjadi perhatian kita. Sejak 2003, Joint National Committee on  Hypertension (JNC VII) sudah menyebutkan sleep apnea sebagai salah satu penyebab hipertensi. Sedangkan hubungan sleep apnea dengan diabetes, penyakit kardiovaskuler dan stroke masih dianggap sebagai risk factor. Namun demikian IDF (International Diabetes Federation) sejak Februari 2008 menganjurkan evaluasi kemungkinan menderita sleep apnea pada pasien diabetes tipe II. Ini disebabkan oleh tingginya prevalensi penderita diabetes type II yang juga menderita sleep apnea (yaitu 50-60%.)

Untuk menegakkan diagnosa OSA, diperlukan perekaman saat tidur yang baku emasnya adalah polysomnography (PSG.)

Sedangkan narkolepsi lebih jarang diderita. Narkolepsi merupakan gangguan mekanisme pengaturan tahap tidur REM (mimpi.) Jadi mudahnya, gelombang REM menyusup ke kesadaran. Akibatnya, bisa dikatakan penderita narkolepsi, tidur namun tidak sepenuhya terlelap dan sadar namun tidak sepenuhnya terjaga. Narkoleptik merasa amat mengantuk sepanjang hari. Narkolepsi mempunyai 4 gejala klasik (classic tetrad):

  • excessive daytime sleepiness (EDS)
  • cataplexy
  • hypnagogic/hypnopompic hallucination
  • sleep paralysis


EDS dirasakan amat berat. Misalkan bangun jam 8 pagi, jam 9 sudah mengantuk luar biasa. Setelah tidur setengah jam, ia bangun segar, tapi sudah mengantuk lagi setengah jam kemudian. Narkoleptik sulit menahan kantuknya.

Cataplexy adalah kelumpuhan mendadak yang dipicu oleh emosi kuat. Yang khas, narkoleptik bisa tiba-tiba merasa mau pingsan (tiba2 melumpuh) saat tertawa terbahak-bahak akibat film komedi yang sedang ditontonnya.

Hypnagogic hallucination merupakan mimpi disaat sadar, yang manifestasinya seperti halusinasi. Yang khas, halusinasi terjadi menjelang tidur atau justru menjelang terjaga, dan berisikan kehadiran sosok lain di dalam kamar. Sosok tersebut bisa seorang teman, kerabat yang telah meninggal, orang asing bahkan alien; tergantung dari latar belakang kebudayaan penderita. Halusinasi ini sering kali muncul bersamaan dengan sleep paralysis dimana penderita tidak dapat menggerakkan tubuhnya. Ini sama seperti yang terjadi pada tahap tidur REM, dimana seluruh otot besar tubuh dilumpuhkan, agar tubuh tidak bergerak-gerak sesuai dengan skenario mimpi.

Fenomena ini bisa terjadi pada orang normal yang mengalami kelelahan hebat (biasanya kurang tidur) sehingga terjadi mixed up gelombang otak. Dari gelombang otak sadar, cepat sekali masuk ke REM. Dalam berbagai kebudayaan ini dikenal dengan berbagai nama old hag, incubus dan di Indonesia dikenal dengan istilah 'tindihan'.

Untuk menegakkan diagnosa narkolepsi diperlukan overnight sleep study yang diikuti dengan multiple sleep latency test (MSLT). MSLT adalah PSG di pagi hari 1,5-3 jam setelah bangun tidur. Pemeriksaan dibagi menjadi 5 tidur siang (naps.) Setiap kalinya, pasien diberi waktu 20 menit untuk tertidur. Diagnosa narkolepsi ditegakkan jika ditemui mean sleep latency (waktu untuk tertidur) dibawah 5 menit atau dari 5 naps ditemukan 2 SOREMP (sleep onset REM periods.)

Sebelum menilai diri menderita sleep apnea maupun narkolepsi, coba periksa dulu jumlah tidur. Apakah sudah cukup? Pada usia mahasiswa/i (dewasa muda) mempunyai kebutuhan tidur 8,5-9,25 jam perhari, dengan jam biologis kantuk yang datang sekitar tengah malam. Dengan jadwal kuliah dan aktivitas di kampus, saya yakin kebanyakan mahasiswa/i menanggung banyak hutang tidur. Wajar jika tertidur di kelas.

 

0 Comments

Google
blog-indonesia.com
Click here to join tidur_sehat
Click to join tidur_sehat

Apnea
Uploaded by prasadja

Wawancara Penderita OSA
Uploaded by prasadja

Penderita OSA
Video sent by prasadja

Wawancara Penderita OSA - TPI
Uploaded by prasadja

Sleep Lab
Uploaded by prasadja