Apakah Anda selalu merasa lelah? Apakah Anda mendengkur? Jika ya… Anda mungkin menderita Obstructive Sleep Apnea (OSA) Obstructive Sleep Apnea (henti nafas saat tidur) adalah gangguan tidur yang ditandai dengan tidur mendengkur (ngorok) dan rasa kantuk berlebih. Dengan penanganan yang tepat, OSA dapat diatasi. Henti nafas terjadi sebagai akibat dari menyempitnya jalan nafas atas saat tidur. Akibatnya, kadar oksigen dalam darah menurun dan akan memicu otak untuk terbangun sejenak (micro arousal) tanpa terjaga. Ini akan memotong proses tidur sehingga kualitas tidur menjadi buruk. Tak heran jika penderitanya cenderung mengantuk di siang hari. OSA adalah gangguan tidur serius yang diderita oleh 1 dari 5 orang dewasa. Joint National Committee on Prevention, Detection, Evaluation and Treatment of High Blood Pressure di tahun 2003 telah menyatakan bahwa OSA adalah salah satu penyebab hipertensi yang dapat dikenali dan dirawat. Lebih jauh lagi OSA pun dikaitkan dengan berbagai gangguan jantung, stroke dan diabetes. Resiko OSA Bagi Kesehatan: - Satu dari tiga penderita hipertensi juga menderita OSA(1) dan 80% penderita hipertensi yang resisten terhadap pengobatan juga menderita OSA(2).
- Setengah dari jumlah penderita payah jantung kongestif juga menderita OSA(3).
- Penderita OSA mempunyai resiko 7 kali lebih banyak untuk terserang stroke(4).
- Penderita OSA juga mempunyai resiko 7 kali lipat untuk mengalami kecelakaan lalu lintas(5).
- 60%-70% pasien Diabetes tipe 2 juga menderita OSA(6,7).
Sumber: 1. Sjostrom et al, 2002 2. Logan et al, 2001 3. Javaheri et al, 2005 4. Basseti et al, 1999 5. Young T et al, 1997 6. Resnick et al, 2003 7. Einhom et al, 2005 Kabar baiknya adalah, dengan perawatan yang tepat dan cermat OSA dapat diatasi dengan efektif, sehingga meningkatkan kualitas hidup serta mencegah berbagai penyakit lanjutan yang mungkin diderita. Gejala OSA Jawablah beberapa pertanyaan berikut, untuk mengetahui kemungkinan Anda menderita OSA. Apakah ada orang lain yang memberitahu bahwa Anda mendengkur?- Adakah yang melihat Anda seolah sesak nafas atau tercekik saat tidur?
- Apakah Anda sering merasa kurang segar saat bangun tidur?
- Apakah di siang hari Anda merasa mengantuk/lelah?
- Apakah Anda sering sulit berkonsentrasi?
- Apakah Anda menderita hipertensi dan/atau diabetes?
Jika jawabannya adalah Ya, kemungkinan Anda menderita OSA. Untuk itu, berkonsultasilah dengan dokter Anda atau segera hubungi Sleep Disorder Clinic terdekat. Pemeriksaan Tahapan pertama adalah dengan membicarakan masalah Anda dengan dokter, untuk mengetahui kemungkinan gangguan tidur yang diderita. Jika perlu, Anda harus melakukan pemeriksaan Polisomnografi di laboratorium tidur. Alternatif lain dari polisomnografi adalah dengan apnea screening yang lebih murah namun jauh kurang lengkap sehingga pada beberapa kasus akhirnya pasien harus diperiksakan lagi dengan polisomnografi lengkap.Perawatan Standar internasional perawatan OSA adalah dengan menggunakan nasal continuous possitive airway pressure (CPAP.) Prinsip kerjanya adalah meniupkan udara bertekanan positif untuk membuka penyempitan jalan nafas. Penggunaannya amatlah mudah. Namun demikian penderita harus melewati tahap tertentu yang bernama CPAP trial. Tahapan ini amat penting untuk mengetahui besarnya tekanan yang diperlukan, sebaran tekanan dan juga kenyamanan pemakaian. Yang paling penting adalah evaluasi mengenai seberapa jauh keluhan pasien berkurang. Alternatif lain adalah dengan jalan pembedahan ataupun penggunaan alat bantu yang dikenakan di dalam mulut. Dengan berkembangnya teknologi kedokteran, beberapa prosedur THT pun dapat dilakukan pada penderita OSA. Salah satu yang termuktahir adalah dengan celon radio-frequency yang amat aman dan nyaman. Kebanyakan prosedur ini bahkan dapat dilakukan satu hari tanpa perlu rawat inap. Semua tahapan terapi dapat dilakukan di bawah satu atap. Bahkan beberapa pasien yang memerlukan kombinasi antara tindakan THT dan penggunaan CPAP dapat dengan nyaman melakukannya di klinik gangguan tidur. OSA dan Kualitas Hidup Penderita OSA selalu berada dalam kondisi kurang tidur walaupun sebenarnya telah tidur cukup lama. Ini disebabkan proses tidur yang terpotong-potong akibat periode henti nafas singkat yang terjadi setiap kali nafas terhenti. Jika seseorang menderita OSA, ia akan mempunyai resiko mengalami kecelakaan kerja maupun lalu lintas dua kali lipat lebih besar(1). Sebuah penelitian lainnya bahkan menyatakan bahwa OSA dianggap sebagai salah satu kriteria seseorang tidak mampu bekerja(2). Tidak jarang penderita OSA tidak berani lagi mengendara akibat dianggap punya hobi ‘nabrak’. Penderita OSA sering kali harus berusaha keras agar tetap terjaga di saat bekerja. Banyak juga penderita OSA dicap sebagai pemalas akibat rasa kantuk berlebih yang menderanya. Sumber: 1. Ulfberg et al, 2000 2. Sivertsen et al, 2007 OSA dan Diabetes OSA berhubungan dengan glucose intolerance dan insulin resistance, sehingga dianggap turut berperan mengembangkan diabetes. Berkurangnya kadar oksigen dan periode bangun singkat (micro arousal) akibat sleep apnea turut menjembatani terjadinya gangguan metabolisme(1). Sebuah penelitian oleh Resnick dan kawan-kawan di tahun 2003 menyatakan bahwa 58% dari penderita diabetes tipe dua juga menderita OSA(2). Beberapa penelitian lain menunjukkan bahwa dengan penggunaan CPAP pada penderita OSA yang juga menderita diabetes akan mengakibatkan perbaikan sensitivitas terhadap insulin dan penurunan kadar gula darah secara berarti (3,4). Sumber: 1. Punjabi and Beamer, 2005 2. Resnick et al, 2003 3. Harsch et al, 2004 4. Babu et al, 2005 OSA, Hipertensi dan Penyakit Kardiovaskuler Berbagai penelitian telah membuktikan bahwa hipertensi berkaitan erat secara independen dengan OSA. Periode bangun singkat (micro arousal) akan meningkatkan sistem syaraf simpatis yang pada gilirannya akan meningkatkan tekanan darah. OSA juga menyebabkan jantung harus bekerja berat pada suasana rendah oksigen di saat tidur. Akibatnya penderita OSA juga rentan menderita berbagai gangguan jantung. Lebih dari 35% penderita OSA juga menderita hipertensi. 83% penderita hipertensi juga menderita OSA(1). 80% pasien dengan hipertensi yang resisten terhadap pengobatan juga menderita OSA(2). Penelitian lainnya menunjukkan bahwa OSA meningkatkan resiko seseorang menderita penyakit kardiovaskuler hingga lima kali lipat, terlepas dari usia, kegemukan, kebiasaan merokok maupun tekanan darahnya(3). Dua penelitian berbeda dilakukan pada pasien OSA yang juga menderita hipertensi. Dengan menggunakan CPAP terdapat rata-rata penurunan tekanan darah sebesar 10 mmHg(4,5). Sementara Joint National Committee on Prevention, Detection, Evaluation and Treatment of High Blood Pressure di tahun 2003 menyebutkan OSA sebagai penyebab hipertensi yang utama(6). Sumber: 1. Bixler et al, 2000 2. Sjostrom et al, 2002 3. Pecker et al, 2002 4. Becker et al, 2003 5. Logan et al, 2003 6. Chobanian et al, 2003 OSA dan Stroke Berbagai penelitian kini mengemukakan hubungan antara OSA dan stroke. Sebuah penelitian oleh Bassetti dan kawan-kawan menyatakan bahwa pendengkur mempunyai resiko dua kali lipat untuk terkena stroke dibanding yang tidak mendengkur(1). OSA menyebabkan peningkatan resiko seseorang untuk menderita stroke lewat beberapa mekanisme, antara lain: hipertensi, disfungsi endotel, inflamasi dan aterosklerosis, hiperkoagulasi, aterogenesis dan trombosis(2). Penderita stroke yang juga menderita OSA, mengalami kesulitan dalam proses pemulihan paska stroke. Dengan rasa kantuk berlebih yang disebabkan oleh OSA, penderita stroke seolah tak bertenaga dan tak mempunyai motivasi untuk melakukan latihan-latihan fisioterapi yang dibutuhkan demi pemulihan fungsi-fungsi ototnya. Sumber: 1. Bassetti et al, 2006 2. Foster et al, 2007 Wanita Juga Menderita OSA Sudah menjadi pandangan umum bahwa yang tidur mendengkur adalah pria. Sebenarnya tidak demikian. Gejala sleep apnea pada wanita tidaklah sejelas pada pria. Jika pria mendengkur keras dan mengeluhkan kantuk luar biasa, wanita biasanya hanya menceritakan keluhan cepat lelah, capek, tak bersemangat, merasa depresi, tekanan darah yang tinggi atau terlalu sering tidur siang. Di usia muda, mendengkur dapat menjadi tanda dari hipertensi yang dipicu oleh kehamilan dan keterlambatan pertumbuhan janin(1). Bayi-bayi yang lahir dari ibu pendengkur lebih sering mempunyai berat badan lahir yang rendah. Ibu hamil dapat menderita OSA sebagai akibat dari kombinasi antara penambahan berat badan dan pembengkakkan jalan nafas atas. Kebiasaan mendengkur selama kehamilan dapat dianggap sebagai tanda peningkatan tekanan darah dan peningkatan resiko pre-eklamsia(2). Sedangkan di usia yang lebih matang, kejadian sleep apnea tiga kali lebih sering pada usia paska menopause dibanding sebelumnya(3). Sumber: 1. Franklin et al, 2000 2. Svanborg et al, 2007 3. Bixler et al, 2001  Mendengkur pada Anak Mendengkur pada anak juga harus diwaspadai. Periode henti nafas yang terjadi akan mengakibatkan terpotongnya proses tidur. Hanya saja, jika pada orang dewasa akan tampak sebagai kantuk berlebih, pada anak-anak, mereka justru semakin aktif untuk melawan rasa kantuknya. Gejala-gejala OSA pada anak tidak se-khas pada orang dewasa. Gejala OSA pada anak(1,2): - Mendengkur
- Tampak sesak saat tidur
- Kantuk berlebih di siang hari
- Bernafas lewat mulut
- Pembesaran amandel dan adenoid
- Gelisah saat tidur
- Gangguan perilaku berupa sifat agresif, hiperaktif dan sulit berkonsentrasi.
OSA pada anak dapat mengganggu proses pertumbuhan. Pada tahap tidur dalam tubuh anak mengeluarkan hormon pertumbuhan yang penting dalam pengaturan tumbuh kembangnya(3). Proses tidur yang terpotong juga akan berakibat langsung pada kemampuan mental dan emosionalnya(4,5). Sumber: 1. Muzumbar H dan Arens R, 2008 2. Guilleminault et al, 2004 3. Chan et al, 2004 4. Rosen et al, 2004 5. Emancipator et al, 2006 OSA dan Sosial Ekonomi OSA berdampak amat luas, selain pada kesehatan, OSA juga berkaitan erat dengan hubungan sosial dan kondisi perekonomian seseorang. Bayangkan beban ekonomi seseorang yang harus berulang kali ke dokter atau dirawat di rumah sakit akibat hipertensi, gangguan jantung, diabetes hingga stroke yang harusnya dapat diperingan jika saja OSA-nya dirawat. Tak heran, jika asuransi di negara-negara maju memilih untuk mengganti semua biaya pemeriksaan dan perawatan OSA.
Penderita OSA, sering kali kita dapati dalam kondisi emosional yang labil hingga rentan untuk terkena depresi(1). Ini dipicu oleh ‘kondisi kurang tidur’ yang dideritanya. Sementara itu, penggunaan CPAP sebagai terapi terbukti memperbaiki status emosional dan gejala-gejala depresi yang terdapat pada penderita OSA(2). Secara ekonomi, OSA juga amat memberatkan penderitanya. Ini disebabkan oleh berbagai penyakit yang berkaitan dengan OSA, terutama hipertensi dan penyakit-penyakit kardiovaskuler lainnya(3). Sebuah penelitian menyatakan bahwa penderita OSA, dalam waktu 10 tahun sebelum terdiagnosa, membutuhkan berbagai pelayanan kesehatan hingga dua kali lipat dibanding yang tidak menderita OSA. Sementara, penelitian yang sama juga menunjukkan bahwa penderita OSA mengalami rawat inap di rumah sakit hingga dua kali lebih lama dibanding yang tidak. Akibatnya pasien pun harus mengeluarkan biaya hingga dua kali lipat. Sedangkan, setelah dirawat, pengeluaran untuk perawatan kesehatan berkurang hingga setengahnya(4). Penelitian lainnya menunjukkan manfaat penggunaan CPAP pada penderita OSA. Dalam dua tahun sebelum perawatan dengan CPAP, pasien OSA memerlukan 413 hari perawatan di RS, selanjutnya ia hanya dirawat 54 hari di RS dalam dua tahun setelah menggunakan CPAP. Sementara pasien yang tidak menggunakan CPAP justru mengalami peningkatan jumlah rawat inap di RS, dari 137 hari sebelum perawatan menjadi 188 hari setelah perawatan(5). Sumber: 1. Schröder dan O’Hara, 2005 2. Schwartz et al, 2007 3. Smith et al, 2002 4. Ronald et al, 1999 5. Peker et al, 1997
|