Lab Tidur Sleep Disorder Clinic - Jakarta

Informasi Seputar Kesehatan Tidur


Blog For Free!


Archives
Home
2008 June
2008 May
2008 April
2008 March
2008 January
2007 November
2007 October
2007 August
2007 July
2007 May
2007 March
2007 February
2006 September
2006 July
2006 June
2006 May
2006 April
2006 March

My Links
Tanya Dokter Anda
sehat-online
Online Education in Sleep Management
Respironics
Tidur Sehat dan Gangguannya, Harian "Suara Merdeka"
Artikel Gangguan Tidur "Tabloid NOVA"
Liputan 6 SCTV
American Academy of Sleep Medicine
RES MED
hanyawanita.com
Resindo Medika
Mendengkur, Jurnal Nasional
Mitra Keluarga
Puritan Bennett Sleep

tBlog
My Profile
Send tMail
My tFriends
My Images


Sponsored
Blog


blog-indonesia.com
Click here to join tidur_sehat
Click to join tidur_sehat

Hipertensi dan Mendengkur (Ngorok)
10.23.07 (6:26 pm)   [edit]

Tahukah Anda bahwa salah satu penyebab hipertensi adalah mendengkur? Ya, Anda tentu terkejut dengan pernyataan ini. Ngorok atau kebiasaan mendengkur, ternyata merupakan salah satu gejala gangguan tidur yang bernama sleep apnea yang artinya henti nafas saat tidur.

Penelitian oleh Peppard dan kawan-kawan menyatakan bahwa sepertiga penderita hipertensi juga menderita sleep apnea. Sementara pengalaman di klinik kami menunjukkan bahwa 42% dari penderita sleep apnea ternyata memiliki riwayat hipertensi atau mempunyai peningkatan tekanan darah berarti saat bangun tidur. Komite khusus penangan hipertensi di Amerika pada tahun 2003 juga telah menerbitkan sebuah lembar panduan yang menyebutkan sleep apnea sebagai salah satu penyebab hipertensi.

Obstructive Sleep Apnea, nama lengkap dari sleep apnea, merupakan gangguan tidur yang paling banyak diderita, namun paling sering juga diabaikan. Sebab, disamping masyarakat yang sudah terlanjur menganggap mendengkur sebagai tidur lelap yang wajar, para dokter pun hanya memperhatikan kondisi pasiennya pada koridor saat terjaga.

Untunglah penelitian di bidang kedokteran tidur telah berkembang pesat hingga, kini di negara-negara maju, pengamatan tidur pasien sudah menjadi tindakan pemeriksaan rutin pada pasien-pasien hipertensi yang mendengkur. Pemeriksaan polysomnography (PSG) merupakan pemeriksaan standar di laboratorium tidur untuk mendiagnosa berbagai gangguan tidur termasuk sleep apnea.

Pada orang normal, tekanan darah selalu mengalami sedikit penurunan saat tidur, yang biasa disebut dengan ‘dipping.’ Sedangkan pada penderita sleep apnea dengan tekanan darah normal yang tidak mengalami ‘dipping,’ biasanya akan beresiko untuk menderita hipertensi di kemudian hari.

Orang yang mendengkur biasanya mengalami periode ‘tanpa dengkuran’ yang kemudian diikuti dengan suara dengkuran keras (gasping/chocking.) Sebenarnya periode tanpa dengkuran itu adalah periode henti nafas. Henti nafas disini berarti tidak adanya pertukaran udara akibat tersumbatnya saluran nafas, walaupun gerakan nafas tetap ada.

Setelah mengalami henti nafas, tubuh akan merespons dengan membangunkan otak agar dapat mengambil nafas sejenak. Tetapi periode bangun singkat ini pun tidak disadari oleh penderitanya. Akibatnya proses tidur terpotong-potong sepanjang malam, hingga penderita sleep apnea merasa tidurnya tidak pernah memberikan rasa segar. Itu sebabnya penderita sleep apnea sering merasa kantuk di siang hari (hypersomnia.)

Periode bangun singkat ini juga mengakibatkan peningkatan aktivitas syaraf simpatis yang juga meningkatkan tekanan darah. Peningkatan tekanan darah saat tidur, lama kelamaan akan diikuti dengan peningkatan tekanan darah saat terjaga.

Disamping itu, kadar oksigen yang rendah juga turut berperan. Fluktuasi kadar oksigen dalam darah akan merusak lapisan endotel pembuluh darah. Padahal endotel amat penting untuk menjaga kelenturan pembuluh darah, akibatnya ia akan mengeras dan meningkatkan tekanan darah.

Wanita hamil yang mengalami peningkatan berat badan drastis juga rentan untuk menjadi pendengkur. Penumpukan lemak di daerah leher dapat mempersempit saluran nafas. Akibatnya para wanita pendengkur ini pun beresiko untuk mengalami hipertensi pada kehamilan yang dapat berakhir pada kondisi pre-eklamsia.

Penggunaan Continuous Possitive Airway Pressure (CPAP) yang merupakan standar emas perawatan sleep apnea dapat mengembalikan tekanan darah menjadi normal. Berbagai penelitian telah menunjukkan efek terapi berupa berkurangnya rasa kantuk di siang hari, hilangnya suara dengkuran hingga terkontrolnya tekanan darah dengan penggunaan CPAP.

Selain hipertensi, sleep apnea juga dapat menyebabkan berbagai gangguan jantung, diabetes hingga stroke.

2 Comments
 
Mendengkur (Ngorok), Obstructive Sleep Apnea
10.08.07 (3:20 pm)   [edit]

Dalam film, buku ataupun komik seringkali kita temukan karakter seorang pemalas, yang gemuk, mudah tertidur, ngorok (mendengkur) dan selalu ‘absent minded’ / ‘clumsy.’ Bahkan dalam kehidupan sehari-hari pun kita sering menemui orang-orang seperti ini. Gambaran seperti ini disebut sebagai Pickwickian Syndrome oleh beberapa ahli respirasi di tahun 1956. Ini merujuk pada karakter Joe si gendut yang diambil dari tulisan Charles Dickens pada koran Pickwick.

Karena kurangnya perhatian pada segala sesuatu yang berkaitan dengan tidur, pemeriksaan ‘sleep study’ pada pasien-pasien dengan Pickwickian Syndrome baru dilakukan di tahun 70-an. Dari pemeriksaan Polysomnography (PSG,) barulah diketahui bahwa penderita Pickwickian Syndrome mendengkur (ngorok) dan mengalami henti nafas di waktu tidur. Karakteristik PSG pada penderita akhirnya memberikan gambaran baru bagi penderita Excessive Daytime Sleepiness (EDS) yang sebelumnya dinyatakan sebagai penderita narcolepsy. Dan atas prakarsa Christian Guilleminault akhirnya pemeriksaan PSG rutin akhirnya dilengkapi dengan perkaman fungsi-fungsi pernafasan1. Pada perkembangan selanjutnya, istilah Pickwickian Synd. ditinggalkan dan diganti dengan Obstructive Sleep Apnea (OSA) yang dianggap lebih tepat.

Obstructive Sleep Apnea (OSA) merupakan gangguan tidur yang terutama ditandai dengan mendengkur dan kantuk berlebih2. Dua gejala yang mudah ditemui di sekitar namun jarang menjadi perhatian kita. Masyarakat kita sudah terlanjur menganggap mendengkur sebagai tidur lelap yang wajar. Akibatnya OSA seringkali tidak terdiagnosa, apalagi dirawat. Padahal OSA telah diakui sebagai faktor resiko tunggal dari hipertensi, gangguan jantung hingga stroke.

Patofisiologi dan Presentasi Klinis

OSA disebabkan oleh menyempitnya saluran nafas atas secara periodik saat tidur. Penyempitan ini bisa disebabkan oleh kelainan struktur anatomis atau gangguan neuromuskular3.

Saat inspirasi tekanan intraluminal akan meninggi menciptakan sebuah ‘suction reflex’ yang direspons oleh otot-otot dilator saluran nafas yang akan mempertahankan terbukanya jalan nafas. Namun tonus otot-otot ini melemah saat tidur. Ini menyebabkan penyempitan saluran nafas dan meningkatnya tahanan terhadap aliran udara. Kelainan struktur anatomi yang menyempitkan saluran nafas atas tentu akan memperberat penyempitan sehingga terjadi penyumbatan saat tidur4.

Saat terjadi sumbatan (apnea), kemoreseptor akan membaca kadar CO2 yang terlalu tinggi hingga mengirimkan sinyal untuk membangunkan otak3. Akibatnya otak akan terbangun sejenak (micro arousal) tanpa disadari penderita. Proses ini akan memotong-motong proses tidur. Tidur yang terpotong dan kondisi hipoxemia dianggap menurunkan kemampuan mental dan kognitif seseorang5.

Dua gejala utama OSA adalah mendengkur dan kantuk berlebih (EDS.) Kedua gejala ini amat nyata namun sering kali dianggap wajar. Masyarakat tidak pernah menghubungkan rasa kantuk berlebih dan mendengkur, sehingga ketika berkunjung ke dokter pun mereka tidak dapat mengungkapkan keluhan secara tepat. Tak heran jika OSA menjadi penyakit yang banyak diderita namun seolah berada di bawah pengawasan radar para pekerja kesehatan. Young dan kawan-kawan memperkirakan terdapat 5% penderita OSA di negara-negara Barat, yang biasanya tidak terdiagnosa, dan meningkatkan angka morbiditas akibat perubahan perilaku maupun penyakit kardiovaskular6.

Gejala-gejala lain yang dapat ditemukan pada pasien OSA2,7:

  1. Sakit kepala di pagi hari
  2. Nocturia
  3. Tersedak ataupun rasa kehabisan nafas saat tidur
  4. Kualitas tidur yang kurang nyenyak, sleep state misperception, insomnia
  5. Mulut terasa kering saat terbangun
  6. Konsentrasi terganggu
  7. Daya ingat menurun
  8. Mudah marah, emosional
  9. Hipertensi
  10. Nyeri dada di waktu malam
  11. Depresi
  12. Kelebihan berat badan (obesitas)
  13. Masalah seksual - Impotensi
  14. Bentuk leher yang pendek namun besar
  15. Kelainan cranio-facial, retrognathia

Dari sekian banyak gejala, biasanya para penderita tidak pernah mengaitkannya dengan kebiasaan tidur. Misalkan keluhan cepat lelah dan sering berkemih di malam hari dikaitkan dengan diabetes, padahal setelah diperiksakan hasil gula darah berada pada ambang batas normal tertinggi. Kini telah diketahui bahwa kadar oksigen darah yang fluktuatif dan periode ‘micro arousal’ yang berulang dapat mengganggu sistem metabolik pada pasien OSA melalui aktivasi sistem simpatis otak8. Resnick dan kawan-kawan lebih jauh menyebutkan bahwa 58% dari penderita Diabetes juga menderita OSA9.

Efek kardiovaskular dari OSA adalah bidang yang paling banyak menarik perhatian saat ini. Sistem kardiovaskuler terganggu oleh beberapa faktor, antara lain hipoxemia, meningkatnya tekanan intra-torakal, dan aktivasi sistem syaraf simpatis yang semuanya merupakan akibat dari sleep apnea10.

  • OSA akan meningkatkan tekanan transmural pada ventrikel kiri (LV) akibat terciptanya tekanan negatif intratorokal (Pit) dan meningkatnya tekanan darah sistemik (Bp.)
  • Tekanan darah sendiri meningkat sebagai akibat dari kondisi hipoxia, micro arousal dan meningkatnya aktivitas sistem syaraf simpatis (SNA.) Apnea juga akan menekan efek penghambat aktivitas simpatis dari reseptor peregangan paru, sehingga lebih meningkatkan lagi SNA.
  • Kombinasi dari meningkatnya LV dan irama jantung (HR) akibat meningkatnya SNA, akan meningkatkan kebutuhan O2, justru disaat suplai O2 ke otot jantung berkurang.
  • Keadaan ini secara akut menyebabkan iskemi jantung dan aritmia, serta secara kronis menyebabkan hipertrofi ventrikel kiri dan akhirnya menjadi payah jantung.

Dari keterangan gambar dapat kita lihat bahwa hipertensi berkaitan erat dengan OSA secara independen. Peppard dan kawan-kawan menyatakan bahwa sepertiga dari penderita hipertensi juga menderita OSA11. Sementara perawatan OSA dengan CPAP terbukti efektif ikut menurunkan tekanan darah12.

Diagnosis

Standar emas untuk mendiagnosis OSA adalah overnight Polysomnography (PSG) tipe 113,15. PSG meliputi perekaman aliran udara nafas, gerakan nafas, EEG, EMG, EOG, ECG, saturasi oksigen dan posisi badan. Pemeriksaan di laboratorium tidur dilakukan semalam penuh dengan hasil indeks rata-rata jumlah henti nafas dalam satu jam atau Apnea-Hypopnea Index (AHI.)

Menurut American Academy of Sleep Medicine, AHI sama atau lebih dari lima dinyatakan positif menderita OSA. Sementara untuk menyatakan klasifikasi derajat OSA digunakan kriteria sebagai berikut14:

  • 5-15/jam: Ringan
  • 15-30/jam: Sedang
  • >30/jam: Berat

Namun sering kali derajat AHI tidak sesuai dengan keluhan klinis7. Misalkan seorang pria 24 tahun dengan AHI 32/jam, ternyata tidak mengalami rasa kantuk yang berarti. Seorang pria dengan AHI 17/jam, mempunyai keluhan kantuk yang berat hingga ia tidak berani mengendara sendirian. Begitu pula dengan seorang perempuan berusia 42 tahun yang mengeluhkan insomnia dengan sedikit kantuk di siang hari, memiliki AHI 12/jam.

Pemeriksaan PSG terbagi dalam 4 kategori15:

  • Tipe1: PSG lengkap, dengan seting laboratorium dan dibawah pengawasan.
  • Tipe2: PSG portabel yang komprehensif.
  • Tipe3: Cardiorespiratory sleep studies (screening.)
  • Tipe4: Perekaman dua bioparameter, oxymetry dan airflow (screening.)

Perawatan

Standar emas perawatan OSA adalah dengan menggunakan Continuous Possitive Airway Pressure (CPAP13.) CPAP memberikan udara bertekanan yang diharapkan akan membuka sumbatan pada oropharyng dengan demikian periode apnea tidak akan terjadi2. Namun penggunaan alat ini menghadapi tantangan tersendiri berupa proses adaptasi bagi penderita. Tidak jarang penderita merasa risih dengan tiupan udara bertekanan maupun masker yang harus dikenakan sepanjang malam. Belum lagi tanggapan keluarga dan lingkungan yang masih asing dengan penggunaan alat tersebut. Akan tetapi kemajuan teknologi dan rancangan masker telah menciptakan kenyamanan yang lebih baik bagi pasien. Untuk mengatasi kendala ini biasanya hanya diperlukan edukasi yang tepat bagi penderita dan keluarganya16.

Pilihan terapi lainnya berupa pembedahan masih belum memberikan hasil yang memuaskan. Teknik-teknik seperti Uvulopalatopharyngoplasty (UPPP), jaw enhancement, glossectomy, tounge resection, pillar implant procedure dan lain-lain, masih terus dikembangkan. Dengan kemajuan teknologi pembedahan yang semakin non-infasif, bukannya tidak mungkin di masa depan, pembedahan menjadi terapi primer bagi OSA17.

Dr. Andreas A. Prasadja, Sleep Technologist, Sleep Disorder Clinc – RS. Mitra Kemayoran
Dibawakan pada Seminar “Better Sleep, Better Life.”
Fakultas Kedokteran Unika Atma Jaya, Pluit, Jakarta, 14 April 2007.

Reference:

  1. Dement W. The Promise of Sleep. London: Pan Books, 2001; page 167-193.
  2. Sullivan CE, Issa FG. Obstructive sleep apnea in clinics. Chest Medicine Vol. 6, No. 4, December 1985; page 633-650.
  3. Sullivan CE, Grunstein RR, Marrone O, Berthon-Jones M. Sleep apnea - pathophysiology: upper airway and control of breathing. In Guilleminault. C. OSAS: Clinical Research and Treatment. New York: Raven Press, 1990; page 49-69.
  4. Boehlecke BA. OSAHS: Epidemiology and pathogenesis. Sleep Syllabus, 2006; page 49-58.
  5. Weaver TE, George CFP. Cognition and performance in patients with OSA. In Kryger MH, Roth T, Dement W. Principle and Practice of Sleep Medicine 4th Ed. Philadelphia: Elsevier, 2005; page 1023-1033.
  6. Young T, Peppard PE, Gottlieb DJ. Epidemiology of OSA: a population health perspective. Am J Respir Crit Care Med 2002; 165:1217-1239.
  7. Atwood CW. Obstructive sleep apnea: clinical presentation. Sleep Syllabus, 2006; page 44-48.
  8. Punjabi NM, Beamer BA. Sleep apnea and metabolic dysfunction. In Kryger MH, Roth T, Dement W. Principle and Practice of Sleep Medicine 4th Ed. Philadelphia: Elsevier, 2005; page 1034-1039.
  9. Resnick HE, Redline S, Shahar E, Gilpin A, Newman A, Walter R, Ewy GA, Howard BV, Punjabi NM; Sleep Heart Health Study. Diabetes and sleep disturbances: findings from the Sleep Heart Health Study. Diabetes Care 2003 Mar;26(3):702-9.
  10. Bradley TD, Floras JS. Sleep apnea and heart failure: Part I: obstructive sleep apnea. Circulation. 2003, 107:1671-8.
  11. Peppard PE, Young T, Palta M, Skatrud J. Prospective study of the association between sleep-disordered breathing and hypertension. N Engl J Med 2000, 342:1378-1384.
  12. Becker HF, Jerrentrup A, Ploch T, Grote L, Penzel T, Sullivan CE, Peter JH. Effect of nasal continuous positive airway pressure treatment on blood pressure in patients with obstructive sleep apnea. Circulation 2003, 107:68-73.
  13. Phillips B, Kryger MH. Management of obstructive sleep apnea-hypopnea syndrome: overview. In Kryger MH, Roth T, Dement W. Principle and Practice of Sleep Medicine 4th Ed. Philadelphia: Elsevier, 2005; page 1109-1121.
  14. AASM Task Force. Sleep-related breathing disorders in adults: recommendations for syndrome definition and measurement techniques in clinical research. Sleep Vol. 22, No. 5, 1999; page 667-689.
  15. Kushida CA, Littner MR, Morgenthaler T, Alessi CA, et.al. Practice parameters for the indications for polysomnography and related procedure: an update for 2005. Sleep Vol.28 No.4, 2005; page 499-519.
  16. Chervin RD, Theut S, Basseti C, Aldrich MS. Compliance with nasal CPAP can be improved by simple interventions. Sleep Vol.20, No.4, 1997; page 284-289.
  17. Powell NB, Riley RW, Guilleminault C. Surgical management of sleep-disordered breathing. In Kryger MH, Roth T, Dement W. Principle and Practice of Sleep Medicine 4th Ed. Philadelphia: Elsevier, 2005; page 1081-1097.


10 Comments
 
Mudik, Tanda Kantuk Membahayakan Perjalanan
10.05.07 (2:15 pm)   [edit]

Setiap tahun, menjelang Hari Raya Idul Fitri ada sebuah tradisi menyenangkan yang biasa dikenal dengan sebutan mudik. Berbondong-bondong kaum urban pulang ke kampung halaman untuk berkumpul dan berbagi suka dengan sanak keluarga.

Segala upaya dilakukan, dari menumpang pesawat terbang, kapal laut, kereta api, bus, mengendara mobil atau motor, bahkan bajaj pun tak ketinggalan meramaikan jalur-jalur mudik. Lalu lintas darat, laut dan udara meningkat drastis. Berdasarkan pengalaman dari tahun ke tahun kecelakaan lalu lintas pun semakin kerap terjadi. Kebahagiaan Hari Raya jadi ternoda akibat luka dan sakit karena kecelakaan di perjalanan. Bahkan tak jarang nyawa pun melayang sia-sia.

Untuk itu kita pun mempersiapkan diri dengan baik. Mulai dari kelengkapan kendaraan, peta, bekal makan-minum hingga tak ketinggalan juga berbagai bentuk stimulan, seperti kopi atau minuman bernergi, untuk mempertahankan stamina di perjalanan. Tetapi sering kali kita lupa untuk memperhatikan kesehatan tidur. Padahal tidur merupakan persiapan terpenting sebelum berkendara jauh.

Jika kita perhatikan berita di berbagai media, kantuk adalah penyebab kecelakaan lalu lintas nomor satu. Bayangkan jika para pengendara bus harus bolak-balik melayani trayek-trayek antar propinsi tanpa henti. Mereka harus berjaga sepanjang malam dan hanya punya waktu beberapa jam saja di siang hari untuk tidur. Pengendara kendaraan pribadi pun tak lepas dari bahaya kantuk.

Manusia adalah makhluk cahaya, yang artinya harus beraktivitas di siang hari dan beristirahat di malam hari. Kita tidak diciptakan untuk berjaga sepanjang malam. Namun berkat kemajuan teknologi, semakin banyak pekerjaan yang dapat dilakukan hingga jauh menembus malam, salah satunya adalah berkendara.

Semua ini diatur oleh jam biologis yang menentukan kapan saat beraktivitas dan kapan harus beristirahat. Ketika kita beraktivitas di saat seharusnya beristirahat, jam biologis secara otomatis akan mendatangkan kantuk. Untuk lebih mudah memahami tanda-tanda kantuk mulai membahayakan, mari kita bayangkan sebuah perjalanan mudik yang menyenangkan bersama keluarga.

Dalam perjalanan, setelah beberapa waktu anggota keluarga yang lain sudah mulai tertidur satu persatu. Sendirian terjaga, kantuk pun mulai datang. Ketika kantuk menyerang, segala fungsi yang kita perlukan untuk mengendara akan menurun drastis. Kita mulai menguap untuk menarik lebih banyak oksigen ke otak, dan mata pun mulai terasa pedih dan berair. Ini adalah tanda awal kantuk yang paling mudah dikenali. Saatnya untuk beristirahat? Nanti dulu, perjalanan masih jauh, jika berhenti bisa terlambat. Kita pun menenggak kopi atau minuman berenergi untuk mempertahankan kesadaran. Untuk sementara kesegaran kembali menopang mata, tapi tahukah Anda bahwa dalam kondisi seperti ini kewaspadaan dan kemampuan refleks tidak ikut disegarkan! Jawaban yang lebih tepat adalah, beristirahat sejenak lalu melanjutkan perjalanan setelah minum sedikit kopi atau minuman berenergi.

Setelah beberapa waktu tangan kita berulang kali mengusap-usap mata yang mulai terasa penat. Tanpa sadar kepala pun mulai terantuk-antuk, tawaran rekan seperjalanan untuk menggantikan ditolak setelah menenggak lebih banyak kopi. Bahaya semakin mengintai karena tanpa sadar kita sudah masuk dalam periode tidur mikro yang ditandai dengan antukan kepala. Tapi untunglah ajakan rekan untuk bergantian telah membangunkan kita. Dosis kafein dalam darah yang ditingkatkan, sekali lagi dipercaya sebagai penopang kesadaran.

Setelah beberapa waktu, tiba-tiba kita tersadar telah mendekati tujuan tanpa ingat perjalanan yang telah kita lalui selama 10-15 menit terakhir. Seolah sadar dari lamunan kita pun meneruskan perjalanan dengan tenang. Apa yang terjadi? Sebenarnya, saat berkendara dengan kantuk ada sebuah mekanisme otomatis yang membimbing kita melalui perjalanan jika tertidur. Jadi kita telah tertidur dengan mata terbuka! Selama 10-15 menit itu kesadaran kita tertidur dan tubuh bergerak secara otomatis. Sekali lagi Tuhan Yang Maha Kuasa menyelamatkan kita dari maut. Saat-saat seperti itu kita masih dapat berkendara tanpa sadar, tetapi kemampuan untuk bereaksi terhadap kemungkinan kecelakaan adalah nol!

Setelah tiba di tujuan, kegembiraan dan kebahagiaan berjumpa dengan keluarga benar-benar menghilangkan lelah dan kantuk. Seluruh episode penuh bahaya yang baru saja dilalui sama sekali jauh dari benak kita, dan kita pun terlarut dalam kesibukan baru menyiapkan perayaan Hari Kemenangan.

Di kampung halaman penuh dengan hari-hari bahagia yang sibuk dan ramai. Tak jarang kita bercengkerama hingga larut malam untuk memuaskan rasa kangen. Di siang hari kita berkeliling untuk bersilaturahmi dengan para kerabat. Tanpa kita ketahui kita menumpuk hutang tidur tanpa sempat membayarnya. Setelah beberapa hari kita pun bersiap-siap untuk kembali ke ibu kota. Waktu perjalanan dipilih siang hari karena tubuh masih terasa lelah. Di pagi keberangkatan sedikit kantuk masih terasa, tetapi masih dapat diatasi, dan kita pun berangkat pulang. Dengan kelelahan Hari Raya dan hutang tidur yang menumpuk sebenarnya kita mengulangi perjalanan penuh bahaya sama seperti waktu berangkat. Walaupun perjalanan kita lalui di siang hari, kantuk tetap menyerang dengan intensitas yang sama. Oleh sebab itu istirahat yang cukup sebelum perjalanan pulang juga sama pentingnya.

Ada hal penting yang benar-benar harus dicamkan. Kecelakaan disebabkan kantuk masih sering terjadi walaupun peringatan untuk beristirahat sudah dicanangkan di spanduk-spanduk besar di sepanjang jalur mudik. Kenapa? Kecelakaan kerap terjadi karena pengendara tidak tahu kapan harus beristirahat. Pengendara sering kali menganggap dirinya masih terjaga penuh dan tidak tahu bahwa kantuk sudah membahayakan diri dan penumpang yang menjadi tanggung jawabnya. Untuk itu ingat-ingat dan kenalilah tanda-tanda kantuk yang dapat membahayakan.

Kenali juga gangguan-gangguan tidur yang menyebabkan kantuk berlebih, bukan saja insomnia. Rasa kantuk yang datang bukan pada waktunya justru lebih berbahaya. Tanyakan pada keluarga tentang tidur Anda. Bagaimana kondisi tidur? Apakah gelisah? Apakah kaki suka bergerak-gerak? Apakah mendengkur? Jika Anda merasakan gejala-gejala tersebut berkonsultasilah dengan dokter Anda atau Klinik Gangguan Tidur terdekat.

Akhir kata, dengan pengetahuan akan bahaya kantuk terhadap keselamatan berkendara saya harap kita semua dapat lebih memperhatikan kesehatan tidur. Sehingga perjalanan mudik pun menjadi lebih aman dan membahagiakan bagi Anda serta seluruh keluarga.

Selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin.

Dr. Andreas A. Prasadja

    & nbsp;  Sleep Technologist

 

 

 

Tanda-tanda kantuk mulai membahayakan:

  • Kehilangan konsentrasi, sering mengerjapkan mata atau mata terasa berat.
  • Pikiran menerawang.
  • Sulit mengingat apa-apa yang telah dilewati; atau melewatkan beberapa rambu atau lampu merah.
  • Berulang kali menguap dan mengusap-usap mata.
  • Sulit menjaga kepala dalam posisi tegak.
  • Melenceng dari jalur, dan melanggar marka-marka jalan.
  • Merasa lelah dan mudah terpancing emosi.

Apakah Anda beresiko? Sebelum berkendara, periksa apakah Anda:

  • Kurang tidur atau lelah (tidur kurang dari 6 jam akan meningkatkan resiko hingga tiga kali lipat.)
  • Menderita insomnia, kualitas tidur yang buruk (OSA), atau menanggung banyak hutang tidur.
  • Mengendara jarak jauh tanpa jeda istirahat yang cukup.
  • Mengendara pada jam-jam biasanya tidur.
  • Mengkonsumsi obat-obatan yang membuat kantuk (antihistamin, antidepresan atau obat flu.) 
  • Bekerja lebih dari 60 jam seminggu (meningkatkan resiko hingga 40%.)
  • Mengerjakan dua pekerjaan sekaligus dan pekerjaan utamanya adalah pekerjaan dengan shift malam.
  • Minum minuman beralkohol (walaupun hanya sedikit.)
  • Mengendara sendirian atau melewati jalan yang panjang, sepi dan membosankan.

Sebelum mengendara seorang pengemudi sebaiknya:

  • Tidur yang cukup. Pada orang dewasa 7,5-8,5 jam, sedangkan pada remaja atau dewasa muda (18-29 tahun) adalah 8,5-9,25 jam.
  • Untuk perjalanan jauh, usahakan jangan berkendara sendirian. Teman seperjalanan dapat membantu melihat tanda-tanda kantuk dan dapat menggantikan untuk sementara waktu. Penumpang juga sebaiknya tidak tidur dan terus mengobrol dengan pengendara.
  • Hindari alkohol dan obat-obatan yang menyebabkan kantuk.
  • Berkonsultasilah pada dokter atau klinik gangguan tidur jika mengalami kantuk berkepanjangan, sulit tidur di malam hari dan/atau tidur mendengkur.
3 Comments
 
Google

Apnea
Uploaded by prasadja

Wawancara Penderita OSA
Uploaded by prasadja

Penderita OSA
Video sent by prasadja

Wawancara Penderita OSA - TPI
Uploaded by prasadja

Sleep Lab
Uploaded by prasadja