Lab Tidur Sleep Disorder Clinic - Jakarta

Informasi Seputar Kesehatan Tidur


Blog For Free!


Archives
Home
2008 June
2008 May
2008 April
2008 March
2008 January
2007 November
2007 October
2007 August
2007 July
2007 May
2007 March
2007 February
2006 September
2006 July
2006 June
2006 May
2006 April
2006 March

My Links
Tanya Dokter Anda
sehat-online
Online Education in Sleep Management
Respironics
Tidur Sehat dan Gangguannya, Harian "Suara Merdeka"
Artikel Gangguan Tidur "Tabloid NOVA"
Liputan 6 SCTV
American Academy of Sleep Medicine
RES MED
hanyawanita.com
Resindo Medika
Mendengkur, Jurnal Nasional
Mitra Keluarga
Puritan Bennett Sleep

tBlog
My Profile
Send tMail
My tFriends
My Images


Sponsored
Blog


blog-indonesia.com
Click here to join tidur_sehat
Click to join tidur_sehat

Bahaya Dibalik Lelapnya Dengkuran
09.27.06 (12:34 pm)   [edit]

Setiap malam kita membaringkan tubuh, memejamkan mata, mulai melayang-layang dari satu pikiran ke pikiran lain dan akhirnya terlelap dalam mimpi. Sebuah proses sehari-hari yang amat biasa. Tetapi tahukah Anda bahwa kegiatan sehari-hari ini pun penting untuk diperhatikan demi kesehatan kita?

Sepertiga dari seluruh hidup manusia dihabiskan dalam kondisi tidur. Saat tidur, sama seperti saat terjaga, juga rentan terhadap berbagai penyakit dan gangguan. Salah satunya yang paling sering terjadi namun paling sering pula luput dari perhatian adalah Obstructive Sleep Apnea (OSA.)

OSA adalah henti nafas sementara sewaktu tidur (apnea berarti henti nafas,) yang gejala utamanya adalah mendengkur dan Excessive Daytime Sleepiness (EDS.) Dalam ilmu kedokteran tidur yang baru mulai berkembang 50 tahun belakangan ini saja, OSA merupakan sebuah gangguan tidur yang underdiagnosed dan undertreated. Apalagi dengan adanya anggapan masyarakat bahwa mendengkur merupakan tanda tidur yang nyenyak.

OSA disebabkan oleh jatuhnya lidah ke belakang saat tidur pada saluran nafas atas yang menyempit. Akibatnya walaupun dada dan perut terus kembang kempis untuk menghirup, udara tidak ada yang dapat lewat. Kondisi ini berlangsung berulang kali sepanjang malam dan setiap kalinya bisa berlangsung selama 10-60 detik. Anda dapat mencoba dengan menahan nafas sambil melihat jam, berapa lama Anda dapat bertahan?

Dalam tubuh terdapat sebuah sistem pengaman yang menjaga kadar oksigen dalam darah. Sebuah sensor selalu siap membaca kadar karbondioksida darah yang terlalu tinggi. Setiap kali nafas terhenti dan karbondioksida darah meningkat, sensor ini akan aktif dan merangsang tubuh untuk bernafas. Dalam keadaan tidur rangsang yang diakibatkan oleh sensor ini akan membangunkan penderitanya. Walaupun tidak sampai terjaga, mini arousal yang diakibatkan sudah mengganggu proses tidur hingga terpotong-potong (fragmented.) Dan perlu diingatkan bahwa sensor ini pun lama kelamaan dapat bertoleransi dengan kadar karbondioksida yang tinggi, akibatnya periode henti nafas pun berlangsung semakin lama.

Pada kesehatan fisik, sleep apnea dapat berbuntut pada hipertensi, jantung hingga stroke. Kadar oksigen yang berfluktuatif dapat merusak lapisan sel dalam pembuluh darah yang bertugas menghasilkan zat yang melenturkan. Akibatnya pembuluh darah pun mengeras. Ditambah dengan kadar kolesterol yang tinggi akan mempercepat terjadinya hipertensi.

Ketika jalan nafas tersumbat, dada tetap berusaha untuk memompa udara masuk. Akibatnya tekanan dalam dada meningkat sehingga jantung terhimpit dan menjadi sulit mengembang untuk menarik darah masuk. Karena himpitan ini pompa jantung menjadi tidak maksimal dan mengakibatkan masalah baru bagi jantung.

Anda tentu pernah melihat orang yang tidur mendengkur. Setelah mendengkur beberapa waktu, untuk beberapa saat suaranya akan terhenti, namun dada dan perut semakin kencang berusaha menarik nafas selama beberapa detik hingga akhirnya terdengar seuara tersedak yang diikuti dengan tarikan nafas panjang dan dengkuran pun kembali membahana. Ini adalah ciri khas penderita sleep apnea.

Aliran udara nafas saat tidur

Aliran udara nafas saat tidur.

mendengkur

Saluran nafas menyempit, hingga timbul bunyi dengkuran.

apnea

Saluran nafas menyempit total, hingga aliran nafas terhenti.

Tidur yang terpotong-potong menyebabkan kualitas tidur yang buruk sehingga penderita OSA sering kali tidak merasa segar saat bangun tidur. Pada beberapa kasus penderitanya bahkan merasa tidak tidur sama sekali dan datang ke dokter dengan keluhan insomnia. Gangguan tidur ini berbuntut panjang pada kualitas hidup seseorang. Sakit kepala di pagi hari, selalu merasa lelah, kemampuan konsentrasi dan daya ingat yang menurun, temperamental hingga libido yang menurun merupakan sekumpulan gejala yang merujuk pada Excessive Daytime Sleepiness.

EDS dapat berakibat pada kualitas hidup yang buruk. Seperti seorang pasien, sebutlah Tn. Eko (bukan nama sebenarnya,) seorang eksekutif sebuah perusahaan yang dalam kurun waktu 5 tahun telah mengeluhkan rasa lelah. Begitu lelah dan mengantuknya hingga untuk mengendara 1 jam saja ia sudah tak mampu hingga harus dibantu oleh sopir pribadi. Padahal baginya mengendarai mobil kesayangan mengandung kenikmatan tersendiri. Prestasi di kantor terasa terus menurun. Beberapa janji temu, harus diingatkan oleh sekretarisnya. Celakanya dalam rapat-rapat penting ia sering kali kehilangan konsentrasi bahkan tertidur. Tn. Eko telah mengkonsumsi berbagai minuman berenergi dan bercangkir-cangkir kopi untuk mempertahankan produktifitasnya, tetapi ia sudah tidakk tahan lagi dengan kondisinya. Ketika bertemu dengan saya, Eko sedang mempertimbangkan kemungkinan untuk pensiun dini.

Untuk menegakkan diagnosa, Eko mengikuti prosedur pemeriksaan bernama Sleep Study yang menggunakan alat bernama polysomnography. Sleep study merupakan perekaman fungsi-fungsi tubuh saat tidur. Yang direkam adalah gelombang otak, gerakan bola mata, tegangan otot, aliran udara nafas, gerakan nafas, kadar oksigen dalam darah hingga gerakan kaki.  

Hanya dengan menghabiskan satu malam di dalam laboratorium tidur yang didesain demi kenyaman pasien, gangguan tidurnya dapat segera ditemukan. Hasilnya berupa angka indeks henti nafas (Apnea Hypopnea Indeks-AHI) 65/jam yang berarti sleep apnea yang parah.

AHI <5/jam adalah normal, 5-14/jam ringan, 15-30/jam sedang dan >30/jam adalah sleep apnea berat. Perlu ditekankan, bahwa pemeriksaan ini mempunyai nilai yang amat penting sebelum dilakukan terapi. Kita memerlukan  nilai obyektif tentang penyakit yang diderita sebagai pijakan awal. Jika tidak, kita akan kesulitan menentukan jenis terapi dan perbaikan dari terapi yang dilakukan nantinya.

Dengan tegaknya diagnosa, ada beberapa pilihan terapi. Pertama dengan menjalani operasi uvulo palato pharyngeo-plasty (UPPP.) Yaitu suatu prosedur operatif yang bertujuan melebarkan saluran nafas atas dengan menyayat sebagian kecil langit-langit mulut beserta anak lidah (uvula.) Ada juga prosedur operatif lainnya, seperti somnoplasty dan pillar procedure, yang kesemuanya merupakan tindakan untuk melebarkan saluran nafas atas.

Setelah mempertimbangkan resiko operasi dan adanya kemungkinan kambuh, Eko memilih jalan kedua yaitu dengan menggunakan masker yang dihubungkan dengan sebuah mesin bernama Continuous Positive Airway Pressure (CPAP.) Pada prinsipnya, alat yang ditemukan oleh Prof. Sullivan dari Sydney Univ. di tahun 80an ini meniupkan udara bertekanan positif yang akan mendorong dan menjaga jalan nafas atas agar tetap terbuka.

Kesulitan Eko untuk beradaptasi dengan masker merupakan masalah utama. Tetapi setelah malam kedua penggunaan ia sudah tidur dengan lelap dan merasakan kesegaran kualitas tidur yang sudah lama tidak dirasakannya. Perlahan namun pasti kualitas hidupnya pun membaik, dan ia mengatakan pada saya bahwa ia seolah telah dilahirkan kembali. Semangat bekerjanya telah kembali, pikirannya telah kembali tajam dan ia pun sudah kembali berkendara sendirian. Obat-obat hipertensi yang berjumlah 3 macam, kini pun telah dikurangi hingga satu macam saja setiap harinya.

Namun masalah baru muncul. Sang istri yang semula menderita insomnia karena suara dengkuran kini tetap tidak dapat tidur dengan nyenyak. Ia terbiasa dengan suara dengkuran dan polah gelisah suaminya saat tidur. Setelah menggunakan CPAP, kini istrinya sering terbangun khawatir melihat suaminya dalam keadaan begitu tenang. Ia memegang dada suami tercinta untuk memastikan ia bernafas. Setelah melihat ekspresi kedamaian dan yakin akan gerakan nafas lembut sang suami ia pun kembali tidur dengan tersenyum puas.

2 Comments
 
Perawatan OSA
09.27.06 (12:30 pm)   [edit]

Perawatan OSA sedapat mungkin dimulai dengan pendekatan konservatif. Jika pendekatan konservatif tidak dapat dilakukan atau tidak sesuai dengan harapan pasien maupun dokter, baru dipertimbangkan pendekatan operatif.

Pendekatan konservatif pertama, adalah dengan perubahan gaya hidup. Seperti mengatur tidur agar cukup 8 jam sehari, mengurangi berat badan (jika gemuk) dan tidur dengan posisi miring.

Jika hasil pemeriksaan PSG menyatakan OSA yang parah, pendekatan awal tadi tidaklah cukup, sehingga diperlukan bantuan alat bantu berupa CPAP (Continuous Positive Airway Pressure.) Perawatan konservatif ini tidaklah menyakitkan, aman dan tanpa tindakan infasif maupun obat-obatan. Pasien hanya perlu mengenakan masker yang dihubungkan dengan unit CPAP selama tidur. Unit ini hanya meniupkan udara bersih bertekanan yang akan membuka saluran nafas atas. Pada awalnya penggunaan masker selama tidur dirasakan kurang nyaman, tetapi setelah merasakan manfaat di pagi hari semua rasa kurang nyaman tadi menjadi tak berarti. Apalagi dengan kemajuan teknologi dibidang kedokteran tidur, CPAP masa kini sudah jauh lebih nyaman. Tak mengherankan jika kedokteran tidur internasional menyatakan bahwa CPAP adalah terapi pilihan bagi penderita OSA sedang dan berat.

Sebelum ditemukannya CPAP terapi pilihan OSA adalah dengan melakukan tracheostomy, yaitu dengan melubangi leher dan memasang sebuah selang pernafasan, sehingga penderita dapat bernafas bebas melalui saluran nafas buatan tersebut. Tetapi prosedur ini sudah lama ditinggalkan.

Pendekatan operatif juga merupakan pilihan yang baik. Namun pemilihan jenis terapi haruslah hati-hati berdasarkan PSG (sleep lab.) dan pemeriksaan THT yang teliti.

Setiap tindakan, harus sesuai dengan kondisi masing-masing pasien. Misalkan pada pasien dengan OSA ringan atau normal (AHI 0-15) namun merasa tidak nyaman dengan suara dengkurannya dapat memilih prosedur Pillar (pemasangan implant.) Atau operasi pengangkatan amandel dan adenoid yang menjadi terapi pilihan bagi penderita OSA usia kanak-kanak.

Uvulo palato pharyngeo plasty merupakan salah satu teknik operasi yang bisa dilakukan. Namun tidak semua pasien dapat dioperasi dengan teknik ini Bahkan banyak literatur dan penelitian di luar negeri masih menyatakan bahwa keberhasilan teknik ini masihlah terlalu bervariasi. Penggunaan laser pada teknik ini sempat mencuat, namun kembali tenggelam dengan dilaporkannya berbagai rasa tidak nyaman yang dirasakan pasien pasca operasi.

Sementara ini teknik yang operasi yang paling maju adalah dengan face-enhancement procedure, dimana ruangan di saluran nafas atas diperbesar dengan memotong lalu memajukan kedua rahang pasien. Keberhasilan teknik yang memakan waktu paling tidak 4 jam di ruangan operasi ini dilaporkan cukup baik di negara-negara maju.

Teknik lain yang dilakukan pada pendengkur tanpa sleep apnea adalah dengan somnoplasty yang bisa dilakukan dengan mudah dan cepat. Teknik ini dilakukan dengan melukai jaringan menggunakan energi radio-frequency. Diharapkan luka tersebut akan menyembuh dan membentuk jaringan parut yang lebih keras sehingga dapat meluaskan jalan nafas.
0 Comments
 
Pemeriksaan di Laboratorium Tidur / Polysomnography (PSG)
09.22.06 (11:49 am)   [edit]

 

Sebuah kepedulian baru mulai berkembang dalam masyarakat Indonesia, kepedulian akan kesehatan tidur. Kesadaran ini dipicu oleh perkembangan dunia kedokteran tidur tanah air yang mengikuti perkembangan teknologi kedokteran internasional.

Kemajuan teknologi dibidang kesehatan tidur dipelopori oleh William C. Dement dan mentornya Nathaniel Kleitman di awal tahun 50-an dengan penelitian-penelitan mereka terhadap proses tidur. Dement dan Kleitman adalah dua orang dokter psikiatri yang mendedikasikan diri mereka untuk meneliti tidur manusia dengan menggunakan perekaman gelombang otak (EEG) dan gerakan bola mata (EOG.) Penelitian mereka mencapai puncak dengan dirumuskannya arsitektur tidur berupa tahapan-tahapan tidur yang berulang secara periodik setiap malam. Penemuan ini kemudian menjadi inspirasi bagi peneliti-peneliti lain untuk mulai bertualang menjelajahi dunia baru, yaitu dunia tidur.

Kemudian dunia kedokteran tidur mulai membuahkan hasil berupa berbagai gangguan tidur. Penemuan terpenting adalah narkolepsi dimana penderitanya selalu dalam keadaan mengantuk dan sering mengalami serangan lumpuh otot sementara. Berlawanan dengan pemahaman sebelumnya bahwa gangguan tidur adalah tidak dapat tidur atau tidur kurang berkualitas yang lebih dikenal dengan insomnia, kini dunia mengenal gejala gangguan tidur yang sering disebut sebagai Excessive Daytime Sleepiness (EDS) atau hypersomnia.

Menjelang tahun 1970 muncul pasien-pasien yang semula diduga menderita narkolepsi, tetapi ternyata hasil pemeriksaan laboratorium tidur tidak menunjukkan tanda-tanda narkolepsi. Setelah penelitian panjang, ditemukanlah sebuah gangguan tidur bernama Obstructive Sleep Apnea (OSA.) Selain menderita kantuk berlebihan di siang hari (EDS,) pasien-pasien ini ditemukan tidur dalam keadaan mendengkur diikuti periode henti nafas yang diakhiri dengan periode bangun mini (mini arousals) yang hanya terbaca pada perekaman gelombang otak namun sama sekali tidak diketahui oleh si penderita.

Dengan ditemukannya sleep apnea sebagai sebuah gangguan tidur yang banyak diderita oleh masyarakat luas, perekaman standar dalam laboratorium tidur menyertakan juga perekaman kadar oksigen darah, aliran nafas hidung, dan gerakan nafas. Baru di tahun 1974, Holland, Dement dan Raynal memperkenalkan istilah Polysomnography (PSG) untuk menyebut prosedur pemeriksaan sleep study yang dilakukan di laboratorium tidur.

Kini, laboratorium-laboratorium tidur berkembang di seluruh dunia. Setiap rumah sakit di negara maju telah memiliki laboratorium tidur. Laboratorium tidur telah menjadi standar pemeriksaan untuk menegakkan diagnosa bagi penderita yang diduga menderita gangguan tidur.

Standar internasional PSG meliputi perekaman:

  • Gelombang listrik otak (EEG)
  • Gerakan bola mata (EOG)
  • Tegangan otot (EMG)
  • Irama jantung (EKG)
  • Dengkuran
  • Gerakan nafas (dada dan perut) 
  • Aliran udara nafas
  • Gerakan anggota tubuh
  • Posisi tubuh saat tidur
  • Kadar oksigen dalam darah 
Yang membuatnya berbeda dari pemeriksaan medis lainnya adalah PSG memberikan gambaran keseluruhan aktifitas tubuh selama tidur. Bukan hanya potongan-potongan sesaat kondisi tubuh, seperti pemeriksaan darah misalnya. PSG merekam segala sesuatu yang terjadi mulai dari saat pasien tertidur, melewati tahapan-tahapan tidur serta setiap proses perubahan nafas, tegangan otot, gelombang otak, gerakan mata yang terjadi dalam setiap tahap tidur, hingga saat bermimpi dan akhirnya bangun.
0 Comments
 
Pertanyaan Seputar Laboratorium Tidur / Polysomnography (PSG)
09.22.06 (11:43 am)   [edit]

Mengapa harus melakukan pemeriksaan Polysomnography (PSG) di laboratorium tidur?

Pemeriksaan Polysomnography penting dilakukan untuk menegakkan diagnosa gangguan tidur yang mungkin Anda derita. PSG juga penting sebagai pijakan awal menentukan terapi gangguan tidur (OSA misalnya,) dan untuk mengevaluasi hasil terapi yang telah dilakukan.

Dimana dapat dilakukan pemeriksaan PSG?

PSG dapat dilakukan di klinik-klinik gangguan tidur yang terdapat di rumah sakit-rumah sakit terkemuka di Indonesia. Sayangnya belum banyak rumah sakit yang memiliki laboratorium tidur. Tetapi dalam waktu dekat akan semakin banyak rumah sakit yang mengembangkan laboratorium tidur.

Dengan begitu banyak pemeriksaan dalam PSG apakah pasien dapat tidur? 

Pemeriksaan PSG tidak ada yang bersifat infasif ataupun menyakitkan. Beberapa orang mungkin merasa kurang nyaman, tetapi kebanyakan dapat tidur dengan baik. Bahkan ada beberapa yang tidur lebih banyak dari yang ia kira.

Persiapan apa yang perlu dilakukan sebelum melakukan pemeriksaan PSG?

PSG tidak memerlukan persiapan khusus selain kondisi rambut yang bersih, penggunaan minyak rambut dan sejenisnya tidak diperkenankan. Pemasangan alat dilakukan pukul 21:00, tetapi pasien diharapkan sudah berada di dalam kamar pukul 19:00 untuk beradaptasi terlebih dahulu dengan suasana ruang tidur yang baru.

Apa yang terjadi setelah pemeriksaan?

Pukul 6:00 pagi alat sudah dilepas dan pasien dapat langsung mandi untuk beraktivitas seperti biasa. Beberapa laboratorium tidur bahkan menawarkan sarapan ringan bagi pasien-pasiennya. Hasil perekaman akan dibaca dan dinilai oleh dokter yang berkualifikasi di bidang tidur, dan kemudian dibuatkan laporannya. Proses ini biasanya berlangsung antara 2 hingga 3 hari. Kemudian pasien dapat bertemu dengan dokternya lagi untuk mengambil hasilnya.

Apa yang harus dipersiapkan sebelum melakukan pemeriksaan di laboratorium tidur?

Tidak memerlukan persiapan khusus, hanya saja pasien diharuskan untuk membersihkan terlebih dahulu rambut, dan tidak diperbolehkan menggunakan bahan-bahan apapun pada rambut (seperti foam, gel, minyak rambut dll.) Pasien dapat membawa serta perlengkapan tidur agar merasa nyaman selayaknya tidur di rumah sendiri. Misalkan bantal khusus atau mungkin boneka bagi pasien anak-anak.
2 Comments
 
Parasomnia
09.04.06 (3:21 pm)   [edit]

Banyak gangguan tidur yang ‘heboh’ dan misterius, seperti berjalan sewaktu tidur, mengigau, teror saat tidur (night terrors) dan gangguan perilaku saat tidur REM (REM Behavior Disorder - RBD.) Semua gangguan ini masuk dalam kategori parasomnia (dari bahasa latin yang berarti menjelang / hampir tidur.) Menurut Prof. Dement, perekaman gelombang otak penderita parasomnia tampak bolak-balik antara tidur dan bangun, seolah otak cukup terjaga untuk mengirimkan impuls-impuls gerakan, tetapi tidak cukup untuk mengingat atau sadar akan keadaan sekeliling. Inilah sebabnya penderita parasomnia tidak ingat akan kejadian sewaktu serangan.

Sleepwalking & Sleeptalking

Sleepwaking, somnabulism atau tidur berjalan adalah gangguan dimana penderitanya berjalan dalam tidur. Fenomena yang dikenal di Indonesia sebagai ngelindur ini cukup sering terjadi. Yang khas, saat bangun penderitanya tidak ingat sama sekali akan kejadian itu, maupun mimpi yang berkaitan dengan gerakan yang ia lakukan malam sebelumnya. Ini karena gangguan terjadi pada tahap tidur NREM, dan terutama pada awal-awal tidur dimana hutang tidur masih banyak menumpuk. Tidur NREM adalah fase tidur tanpa mimpi (meskipun beberapa literatur mengatakan bahwa mimpi bisa terjadi di semua tahapan tidur.)

Begitu pula dengan mengigau, somniloquy atau sleeptalking. Mengigau merupakan vokalisasi saat tidur, bisa berupa kata-kata yang jelas atau hanya sekedar gumaman. Kondisi ini bisa dipicu oleh keadaan emosional-psikologis, demam atau tidur yang terganggu.

Mengigaui biasanya berlangsung pada tahap tidur dangkal, atau kadang kala pada tahap mimpi (tidur REM.) Jika terjadi dalam tahap tidur mimpi, biasanya terjadi bersesuaian dengan mimpi yang mengejutkan, seperti melihat pencuri atau melihat sebuah kecelakaan. Kata-kata yang keluar bisa berkaitan erat dengan mimpi atau bahkan berlainan sama sekali, misalkan dalam mimpi meneriakkan “maling!” tetapi kata yang keluar adalah “mama!“ Walau demikian, biasanya si pengigau tidak ingat apa yang dikatakan atau bahkan mimpinya sendiri.

Kedua gangguan ini sering terjadi pada usia muda, bahkan pernah dilaporkan kejadian sleepwalking pada balita yang baru bisa berjalan, meskipun lebih sering tejadi pada anak usia 4 hingga 7 tahun. Kebanyakan kebiasaan ini hilang sendiri setelah menginjak dewasa. Tetapi saat dalam kondisi kurang tidur yang ekstrem, gangguan sewaktu-waktu bisa menyerang.

Pavor Nocturnus

Sebuah parasomnia lainnya yang sering terjadi pada anak-anak adalah night terror, sleep terror, pavor nocturnus atau teror malam. Seorang anak bisa terbangun dengan tangisan histeris dan pandangan yang mengarah ke satu titik seolah takut akan sesuatu yang tak terlihat oleh kita. Kejadian ini begitu menakutkan karena anak sama sekali tidak merespon pelukan atau belaian orang tua untuk menenangkan. Setelah berlangsung sekitar 5-15 menit si anak, terdiam, memejamkan mata dan kembali tidur.

Bagi orang tua anak yang menderita night terror, tetap dianjurkan untuk memeluk dan menenangkan anak yang sedang mengalami serangan walaupun usaha Anda sepertinya sia-sia. Jika si anak akhirnya bangun dalam keadaan disorientasi, peran Anda untuk menenangkan amat penting. Bimbing ia kembali tidur, dan baru tanyakan tentang kejadian semalam di pagi harinya.

Pavor nocturnus sering terjadi pada usia antara 2-5 tahun, dan biasanya hilang dengan sendirinya di usia 7 tahun. Seperti tidur berjalan dan mengigau, pavor nocturnus juga dapat ditemukan riwayatnya dalam keluarga, meskipun tidak dikatakan menurun secara genetis.

Perawatan

Jika dalam keluarga Anda ada penderita parasomnia, perawatan terbaik adalah dengan memberikan pengertian dan support baginya. Buatlah lingkungan tidur yang aman, dengan memastikan tidak ada benda-benda pecah belah yang dapat tersenggol. Tidak jarang penderita sleepwalking tidur di kamar yang berperabotan minimal. Biasakan juga menempatkan kunci di tempat yang cukup rumit untuk mengambilnya, misalkan dalam kotak di dalam laci lemari tempat tidur. Karena biasanya penderita parasomnia kurang sadar dengan lingkungan sekitarnya, ia dapat mengenali sebuah pintu, tapi tidak dapat membuka atau mengambil kuncinya. Ini juga penting agar penderita tidak berjalan keluar rumah.

Kebanyakan kasus parasomnia tidak memerlukan pengobatan. Gangguan yang diderita bukanlah suatu bentuk gangguan psikologis maupun suatu penyakit yang berbahaya. Hanya saja ada beberapa hal yang harus dihindari, yaitu narkotika, alkohol dan kondisi kekurangan tidur. Karena ini semua dapat memicu  serangan. Sedangkan terapi-terapi tambahan seperti psikoterapi, relaksasi, hipnotis dan meditasi dilaporkan cukup membantu sebagai perawatan jangka panjang.

Menarik untuk disimak bahwa serangan parasomnia (tidur berjalan, mengigau maupun night terror) terjadi pada saat-saat awal tidur dimana hutang tidur masih tinggi. Dengan demikian, kondisi tersebut dapat memicu episode parasomnia. Untuk penderita sleepwalking usia remaja atau dewasa muda harus benar-benar memperhatikan jadwal tidurnya. Pahami jam biologis dan kebutuhan tidur satu harinya, dan hindari beraktivitas melewati waktu istirahat (baca bagian: Tidur pada Remaja – Dewasa Muda.)
0 Comments
 
Google

Apnea
Uploaded by prasadja

Wawancara Penderita OSA
Uploaded by prasadja

Penderita OSA
Video sent by prasadja

Wawancara Penderita OSA - TPI
Uploaded by prasadja

Sleep Lab
Uploaded by prasadja