Sleep Disorder Clinic - Jakarta

Pekerjaan, Performa dan Tidur

Kehidupan saat ini menuntut kita untuk selalu aktif, tajam, kreatif dan produktif setiap saat. Di setiap kesempatan, sedapat mungkin kita tampil prima dan penuh vitalitas. Kita sering kali mengorbankan tidur untuk mengejar deadline, menyelesaikan berbagai tugas, atau bahkan untuk melepas penat dengan menikmati berbagai hiburan hingga larut malam. Untuk itu kita pun mengkonsumsi berbagai stimulan, mulai dari kopi, berbagai vitamin, hingga minuman berenergi yang kini banyak beredar di pasaran.
Amat disayangkan, karena salah satu faktor yang sebenarnya juga penting malah kita lupakan; yaitu tidur. Tidur dalam kapasitasnya sebagai faktor kesehatan yang harus diperhatikan telah diabaikan. Padahal tidur amatlah penting bagi kesehatan, kebugaran, dan juga performa kita. Dengan tidur yang teratur dan cukup, kita telah meningkatkan daya tahan tubuh kita. Sebuah penelitian pada pasien-pasien di ICU menyatakan bahwa pasien-pasien tanpa gangguan tidur lebih tahan terhadap serangan infeksi dibandingkan dengan pasien lain dengan gangguan tidur. Atau cobalah pada diri Anda jika terkena flu, dengan tidur yang cukup tentu lebih cepat pulih bukan?
Sebuah penelitian lain yang dilakukan oleh National Sleep Foundation lebih jauh meneliti akibat tidur pada performa mental dan emosional seseorang. Untuk beberapa waktu para relawan diharuskan tidur di laboratorium yang khusus dirancang agar nyaman untuk ditiduri. Sementara di siang hari mereka beraktifitas seperti biasa. Perlu ditekankan bahwa para relawan ini sebelumnya merasa tidak ada masalah dengan produktifitas mereka. Pada beberapa malam pertama, mereka tidur selama 9-10 jam untuk membayar hutang tidur yang sudah menumpuk karena kebiasaan tidur yang tak teratur. Untuk malam-malam selanjutnya, mereka seperti terprogram untuk tidur 7,5-8,5 jam dengan rata-rata 8 jam semalamnya. Pada awal dan akhir penelitian ini mereka diberi berbagai uji kecerdasan dan emosional. Hasil akhir menunjukkan bahwa dengan tidur yang teratur tingkat kecerdasan dan kondisi emosional mereka jauh lebih baik. Yang mengejutkan, beberapa peserta penelitian bahkan ingin melanjutkan proses ini karena merasakan perubahan emosional dan produktifitas secara drastis, padahal sebelumnya mereka merasa cukup sehat dan produktif.
Dari sini ditemukan bahwa rata-rata kebutuhan tidur seseorang adalah 8 jam seharinya. Jika Anda merasa lelah dan kurang bersemangat, selain menikmati secangkir kopi, cobalah lihat pola tidur Anda juga. Apakah sudah cukup 8 jam sehari? Apakah kualitasnya sudah cukup baik? Apakah Anda merasa tidur Anda terganggu?
Atau cobalah bereksperimen. Atur tidur Anda agar mencukupi 8 jam seharinya dengan waktu yang teratur. Bangun selalu pada jam yang sama setiap pagi. Jika harus keluar dari jadwal, jangan tidur terlambat lebih dari 2 jam, atau bangun lebih siang / awal lebih dari 1 jam. Setelah Anda merasa nyaman dengan jadwal tidur yang telah Anda buat, lihatlah performa dan kondisi temperamen Anda. Lebih baik?

Selamat mencoba...

0 Comments

Gambaran Pola Tidur - Arsitektur Tidur

Gambaran pola tidur, lazim disebut sebagai arsitektur tidur terdiri dari dua tahapan utama yaitu; tahap REM dan tahap NREM (baca: non-REM.) Tahap NREM dibagi lagi menjadi 4 tahapan yang berurutan dari tahap 1 hingga 4.

Saat seseorang mulai mengantuk, perlahan-lahan kesadaran mulai meninggalkan dirinya. Pada saat di antara sadar dan tertidur ini, kita memasuki tahap 1 tidur. Tahap 1 adalah tahap drowsiness, dimana seseorang masih menyadari kondisi di sekelilingnya sehingga masih merasa belum tertidur. Pada beberapa gangguan tidur, seperti OSA atau PLMS, penderitanya mengeluhkan tidur yang tidak dalam karena kewaspadaannya. Ia sadar penuh akan pembicaraan orang lain di sekitar atau suara TV yang masih menyala. Ia merasa belum tidur, padahal orang lain menilai ia sudah terlelap karena dengkurannya yang membahana.

Setelah beberapa saat, kita bisa kembali terbangun kaget karena sensasi terjatuh atau berguling, lalu segera kembali ke tahap 1  NREM. Atau bisa juga merasa tak dapat bergerak sama sekali hingga panik dan menimbulkan rasa sesak (harus dibedakan dengan sesak karena OSA.) Ini adalah kondisi normal yang disebut sleep paralysis dan bisa terjadi pada siapa pun. Gerakan bola mata yang tadinya bergerak-gerak saat sadar akan melambat lalu menghilang. Begitu pula dengan gerakan nafas yang semakin melambat dan teratur.

Tak lama kemudian kita akan semakin dalam tertidur dan masuk ke tidur tahap 2 NREM. Gelombang otak lambat masih menjadi latar, tetapi sesekali muncul gelombang khas berupa kompleks K dan sleep spindles. Pada tahap ini, ambang sadar semakin tinggi sehingga semakin sulit dibangunkan. Kita baru akan bangun dengan sentuhan atau panggilan yang berulang-ulang. Tahap tidur kedua adalah tahap tidur yang paling banyak dialami seseorang, kira-kira 50% dari total tidur satu malam.

 

 

Setelah kira-kira sepuluh menit dalam tahap 2, kita akan masuk ke tahap tidur yang lebih dalam yaitu tahap 3, yang bersama tahap 4 sering disebut tidur dalam atau tidur slow wave. Disebut tidur slow wave karena gelombang otak yang semakin lambat (slow wave) dengan frekuensi yang lebih rendah pula. Semua tampak teratur pada laporan EEG. Tahap 3 lebih merupakan masa peralihan ke tahap 4.

Dalam tidur slow wave inilah hormon pertumbuhan (growth hormone) dan prolaktin dikeluarkan oleh tubuh. Hormon pertumbuhan akan digunakan oleh tubuh untuk pertumbuhan (pada anak) dan perbaikan jaringan yang rusak. Hormon ini diperlukan untuk mempertahankan keutuhan maupun kemudaan jaringan tubuh. Sedangkan prolaktin adalah hormon yang biasanya banyak terdapat pada ibu yang menyusui. Sedangkan fungsinya pada saat tidur masih belum dapat dijelaskan.

Tahap tidur ini adalah tahap tidur terdalam, dimana biasanya diperlukan rangsangan yang lebih kuat untuk membangunkan. Ketika bangun dari tidur dalam, kita tidak dapat langsung sadar sempurna. Kita memerlukan beberapa saat untuk memulihkan diri dari rasa bingung dan disorientasi.

Dari tahap 4 biasanya kita akan mulai mendaki lagi perlahan hingga ke tahap 2. Setelah beberapa waktu mulai terjadi perubahan besar, dimana bola mata bergerak-gerak dengan cepat dan EEG menunjukkan aktivitas otak yang meningkat drastis. Gelombang otak menunjukkan aktivitas yang sama seperti saat bangun. Ini adalah tanda seseorang memasuki tahap tidur REM dan hanyut dalam mimpi. Akan tetapi tubuh tidak dapat merespons aktifitas otak karena semua tonus (tegangan) otot menghilang sama sekali. Periode lumpuh sementara ini menjadi semacam pengaman, bayangkan jika kita bergerak-gerak dalam tidur seseuai dengan mimpi, mengigau? Berjalan sewaktu tidur? Bagaimana jika dalam mimpi kita diserang dan harus mempertahankan diri?

Setelah tahapan REM selama kurang lebih sepuluh menit, kita kembali ke tahap 2 dan seterusnya hingga satu siklus terpenuhi. Sepanjang malam siklus ini akan berulang-ulang kita alami. Mendekati pagi hari, hormon kortisol pun dilepaskan. Normalnya hormon ini dikeluarkan untuk menghadapi stress, tetapi kini ia dikeluarkan untuk mempersiapkan diri menghadapi hari baru dengan segar.

0 Comments

Sekilas Sejarah Kedokteran Tidur

Ilmu dan seni kedokteran tidur baru berkembang setengah abad terakhir, akan tetapi pemikiran tentang tidur terdapat berserakan di sepanjang sejarah kehidupan manusia. Kepercayaan tradisional banyak berkembang di seputar proses penuh misteri ini. Tengok saja kepercayaan-kepercayaan akan tafsir mimpi, atau pendapat yang mengatakan bahwa dalam tidur jiwa berkelana menjelajahi semesta. Beberapa pemikir-pemikir ternama juga menyumbangkan idenya tentang proses seputar tidur dan mimpi, diantara mereka tersebutlah Aristoteles, Hippocrates, Freud, Pavlov dan masih banyak lagi

Perkembangan ilmiah yang penting, antara lain:

  • 1875   Richard Caton, merekam aktifitas otak dengan EEG (elektroencefalografi)
  • 1937   Loomis dkk, menggunakan EEG untuk merekam aktifitas otak saat tidur. Menghasilkan dasar-dasar penggolongan tahapan tidur.
  • 1953   Kleitman dan Aserinsky, mengungkap tahapan tidur REM dan hubungannya dengan mimpi.
  • 1957   Kleitman dan Dement, dasar-dasar kedokteran tidur berupa arsitektur tidur yang menyempurnakan penggolongan tahapan tidur menjadi 4 tahap NREM (baca: non REM) dan 1 tahap REM. Dimulai dengan tidur ringan di tahap 1 NREM, semakin dalam ke tahap 2 hingga 4, kembali ke tahap 3, 2, lalu jatuh bermimpi pada tahap tidur REM dan kembali ke tahap 2 dan seterusnya. Siklus ini terus berulang selama tidur.

Seiring dengan perkembangan di bidang ilmiah, gangguan-gangguan tidur pun semakin dikenali. Ini mendorong para dokter untuk semakin mengenali kelainan-kelainan tersebut, dan mulai mencari jalan keluarnya. Di Amerika pusat-pusat penelitian dan penanganan gangguan tidur mulai bermunculan. Kesadaran akan kesehatan tidur semakin meluas, hingga terungkap bahwa jutaan orang ternyata menderita gangguan tidur tanpa menyadarinya.

Standard emas dalam mendiagnosa maupun meneliti gangguan tidur adalah sleep study yang lebih dikenal dengan sebutan Polisomnografi (PSG.) Istilah PSG diperkenalkan oleh Holland, Dement dan Raynal di tahun 1974.

Sleep Study, Polisomnografi (PSG)

PSG terdiri dari:

  • Perekaman gelombang listrik otak (EEG)
  • Gerakan bola mata (EOG)
  • Tegangan otot (EMG)
  • Denyut jantung (EKG)
  • Gerakan nafas 
  • Aliran udara nafas
  • Gerakan kaki
  • Posisi tubuh
  • Kadar oksigen dalam darah 

Yang membuatnya berbeda dari pemeriksaan medis lainnya adalah PSG memberikan gambaran keseluruhan aktifitas tubuh selama tidur. Bukan hanya potongan-potongan sesaat kondisi tubuh, seperti pemeriksaan darah misalnya. PSG merekam segala sesuatu yang terjadi mulai dari saat pasien tertidur, melewati tahapan-tahapan tidur serta setiap proses perubahan nafas, tegangan otot, gelombang otak, gerakan mata yang terjadi dalam setiap tahap tidur, hingga saat bermimpi dan akhirnya bangun.

0 Comments

Selalu Mengantuk - Excessive Daytime Sleepiness (EDS)

 

 

Excessive Daytime Sleepiness, atau Hypersomnia dalam Bahasa Indonesia mungkin dapat dikatakan sebagai kantuk berlebih di siang hari. Ini merupakan salah satu gejala seseorang menderita gangguan tidur.

EDS merupakan gejala yang penting dalam mendeteksi adanya gangguan tidur. Apa saja?

Yang paling ringan, seseorang bisa saja memang kelelahan dan kurang tidur. Karena kesibukan di dunia modern, seseorang dituntut untuk produktif sehingga tidak jarang mengorbankan jadwal tidur. Tapi tahukah Anda, bahwa tidur yang kurang malah akan menurunkan produktifitas? Bahkan daya tahan tubuh pun akan berkurang.

Kemungkinan lainnya adalah gangguan tidur yang pernah saya ceritakan sebelumnya yaitu Obstructive Sleep Apnea (OSA) dan Periodic Limb Movements (PLMS) yang menyebabkan tidur menjadi terpotong-potong (fragmented.)

Yang mungkin paling jarang ditemui adalah Narcolepsi, dimana seseorang sulit menahan dorongan untuk tidur yang selalu datang menyerang. Bahkan di siang hari saat sedang beraktifitas.

Tapi jangan cepat-cepat mengira bahwa Anda menderita gangguan tidur karena merasa lelah. Lihat faktor-faktor yang lain, seperti kecukupan vitamin, mineral dan nutrisi.

Anda mungkin mengalami Excessive Daytime Sleepiness, jika kebanyakan dari gejala ini Anda alami:

  • Selalu merasa lelah
  • Sering mengantuk
  • Sering tertidur dalam rapat
  • Kurang bersemangat
  • Sulit berkonsentrasi
  • Menjadi pelupa
  • Libido menurun

101 Comments

Are you superhuman?

Every night as the sun sets, very delicate timing mechanisms in our brains send chemicals through our body initiating the gradual slide into sleep. As the sun rises the next morning, our bodies are transported back to reality and to waking consciousness. Generally, we remember nothing and do not realise we are sleeping whilst we are asleep.


So what is sleep? The definition remains elusive. However, sleep has two principle features. The first is that sleep erects a barrier between the conscious mind and the outside world. If a sound is loud enough - like thunder overhead, then the sleeper can be woken. The second feature of normal sleep is that it is readily reversible. If intense or persistent stimulation does not wake the sleeper, then they are either unconscious or dead. Furthermore, we know that sleep occurs naturally, unlike a coma, and it occurs daily in humans. Importantly we all need good quality sleep.


Assessing Sleep
We can assess sleep by measuring the electrical activity of the brain. When we first snuggle up in bed, we gently drift off into very light sleep (Stage 1). This shows characteristic changes in brain-wave activity and generally occurs for a very short period of time. There follows slightly deeper sleep (Stage 2), which also has very characteristic brain-wave activity. Over a whole night of say 8 hours, most of the night will be in Stage 2. After Stage 2, the deep and importantly recuperative sleep (Stages 3 and 4 - Slow-Wave Sleep) occurs. This is essential for the body to be able to recover before the next day starts. About 20 to 25% of the night is spent in Stages 3 and 4 in a normal sleep pattern. As the night progresses towards morning, less Stage 3 and 4 sleep occurs. This is replaced by increasing periods of dreaming (REM) sleep, which cycles every 90 to 120 minutes throughout the night. Each sleep period becomes longer, but it is very difficult to remember your dreams unless you wake up in them, which often occurs early in the morning. Irritatingly, if you wake up in a dream your enjoying it is very difficult to get back into the same dream! By monitoring the brain waves throughout the night, we can assess the stage of sleep and determine the amount of each type of sleep stage - wake, stages 1 - 4 and REM.


Sleep Deprivation
The study carried out by our three volunteers clearly demonstrates the effects of sleep deprivation. Their ability to carry out simple tasks such as driving, to concentrate on tasks, to be sociable all showed changes characteristic of sleep deprivation. Despite not sleeping properly for about 60 hours, their bodies rapidly recovered following a single night's sleep. This clearly demonstrates that the body can adapt and readily recover over short periods of sleep disruption.


This may also be the case for some of the many sleep disorders that are now recognized by sleep specialists. Some patients appear to have difficulty in getting to sleep and when they do, actually remaining asleep (Insomnia). Others will suddenly fall asleep sometimes without warning or have muscle weakness or excessive daytime sleepiness (Narcolepsy). Patients with breathing problems during sleep may stop breathing for short periods throughout the night (Sleep Apnoea). This disrupts the sleep pattern and results in excessive daytime sleepiness. When the patients are treated their sleep pattern returns to close to normal and their daytime sleepiness decreases. People often associate and confuse sleep apnoea with snoring. They both have the problem of noise and disturb other people. However sleep apnoea is more of a medical problem than snoring is, and patients need to be assessed correctly before any treatment.


Whatever the cause of disrupted sleep, it can have a knock-on effect. Sleep is needed by the body to recover at the end of each day. Lack of sleep, which may be due to life-style rather than a sleep disorder, may result in poor performance at work, increased risk of road traffic accidents, with about one-third of traffic accidents due to drivers falling asleep at the wheel, increased risk of accidents in the home or at work and changes in behaviour and mood. Excessive sleepiness and sleep disruption is not good for the individual or for those around them.


Dr. Adrian Kendrick, The Bristol Royal Infirmary

0 Comments

Mengigau - Sleeptalking

Mengigau, sleeptalking atau somniloquy merupakan vokalisasi saat tidur, bisa berupa kata-kata yang jelas atau bahkan sekedar gumaman. Kondisi ini bisa dipicu oleh keadaan emosional-psikologis, demam atau tidur yang terganggu.

Biasanya berlangsung pada tahap tidur ringan, atau kadang kala pada tahap mimpi (REM sleep.) Jika terjadi dalam tahap tidur mimpi, biasanya terjadi bersesuaian dengan mimpi yang mengejutkan, seperti melihat pencuri atau melihat sebuah kecelakaan. Kata-kata yang keluar bisa berkaitan erat dengan mimpi atau bahkan berlainan sama sekali, misalkan dalam mimpi meneriakkan “maling!” tetapi kata yang keluar adalah “mama!“ Si pengigau tidak ingat apa yang dikatakan atau bahkan mimpinya sendiri.

Ada sebuah gangguan tidur yang bernama REM Sleep Behavior Disorder (RBD), dimana penderitanya seringkali bermimpi harus mempertahankan diri dari serangan sehingga dalam tidur bergerak memukul, menendang dan juga mengigau. Gangguan ini banyak diderita oleh pria lanjut usia, dan biasanya diikuti dengan penyakit-penyakit syaraf degeneratif seperti parkinson. Diduga kuat RBD dapat disebabkan oleh beberapa obat psikiatris.

Diluar gangguan-gangguan tidur, mengigau sampai saat ini tidak dianggap sebagai suatu gangguan ataupun penyakit. Berkaitan dengan kepercayaan tradisional maupun supranatural, saya tidak berkompetensi untuk memberikan penjelasan.

5 Comments

Insomnia? nanti dulu...

Insomnia adalah gangguan tidur yang paling sering dikeluhkan seorang pasien pada dokternya. Insomnia bisa berupa keluhan sulit tidur, kualitas tidur yang buruk, sulit mempertahankan tidur hingga sering terbangun, atau terbangun terlalu awal dan tidak bisa tidur lagi.

Insomnia dapat disebabkan oleh faktor psikologis, penyakit tertentu ataupun gangguan tidur lainnya.

Jika seseorang sedang mengalami tekanan secara psikologis, kadar adrenalin dalam darah akan meningkat dan membuatnya dalam keadaan segar. Menghadapi ini, obat tidur dapat membantu, akan tetapi jika masalah yang dihadapi berkelanjutan, tentu saja keluhan insomnia menjadi sulit diatasi.

Keluhan sulit tidur dapat juga disebabkan oleh penyakit lain yang menimbulkan rasa tidak nyaman seperti rasa sakit, mual, demam dan lain-lain.

Gangguan tidur lain yang dapat mengakibatkan keluhan insomnia antara lain OSA, Periodic Limb Movements atau delayed circadian rhythm. Pasien biasanya datang dengan mengeluhkan insomnia yang diderita, tetapi pasangannya mengatakan yang sebaliknya. Apa yang terjadi?

Penderita merasa dirinya tidak tidur, karena pikiran yang masih melayang-layang dan masih dapat mendengar suara-suara di sekelilingnya, padahal orang lain melihat bahwa ia sudah tertidur pulas. Ini disebabkan oleh kualitas tidur yang buruk. Tidur tidak dapat memasuki tahapan tidur yang dalam karena terganggu oleh dengkuran (OSA) atau gerakan kaki yang tidak disadari (Periodic Limb Movements.)

Ada pula keluhan insomnia yang salah kaprah, namun paling sering ditemui pada remaja atau dewasa muda. Mereka (usia 16-30 th.) menjelang akhir masa pubertas, mengalami pergeseran jam biologis, sehingga baru mengantuk setelah larut malam. Padahal kebutuhan tidurnya lebih lama dibanding orang dewasa, yaitu 8,5 - 9,25 jam.

Di saat orang lain mulai mengantuk pada jam 10 malam, mereka sedang dalam kondisi segar-segarnya, dan penuh semangat untuk menyelesaikan pekerjaan maupun belajar. Setelah lewat tengah malam, barulah kantuk menyerang. Sedangkan di pagi hari kegiatan perkuliahan atau pekerjaan menuntut untuk bangun awal, menyebabkan utang tidur. Ini semua diperburuk dengan kecenderungan untuk keluar malam di akhir pekan yang sebenarnya bisa digunakan untuk memenuhi utang tidur malam-malam sebelumnya. Tak mengherankan jika sering ditemui orang-orang dewasa muda yang bangun jauh siang hari di akhir minggu.

Kebiasaan menonton TV, bekerja ataupun bermain di depan komputer sebelum juga memperburuk keadaan. Ketegangan yang diakibatkan oleh aktivitas-aktivitas tadi bisa menyebabkan mata terlalu segar untuk dipejamkan. Belum lagi efek cahaya terang yang dapat mengelabui jam biologis yang sebenarnya diciptakan untuk membedakan waktu siang dan malam.

Jika Anda termasuk usia dewasa muda yang produktif, berhati-hatilah dengan kebiasaan tidur. Anda belum tentu menderita insomnia, hanya saja kebutuhan tidur Anda berbeda. Ketika orang lain mengantuk Anda segar, ketika orang lain mulai mengantuk, justru Anda-lah yang dalam kondisi segar bugar.

Jika tidak pintar-pintar mengatur jadwal tidur, kebutuhan tubuh dan otak tidak akan terpenuhi. Akibatnya tubuh menjadi rentan terserang penyakit, dan kemampuan berolah raga pun merosot. Akibat lainnya, secara emosional Anda menjadi temperamental dan tanpa disadari kemampuan mental, produktifitas serta kreativitas juga menurun.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh National Sleep Foundation menunjukkan bahwa pemuda/i yang mengikuti jadwal tidur yang cukup dan teratur memiliki prestasi yang lebih baik dibidang akademis maupun olah raga. Untuk itu ikutilah panduan higiene tidur (sleep hygiene) dengan baik dan jangan cepat-cepat memvonis diri terserang insomnia!

0 Comments

Sekilas Kesehatan Tidur

Tidur adalah proses normal yang biasa kita alami setiap malam. Sedemikian biasanya sehingga dianggap sebagai bagian yang kurang penting bagi kesehatan kita.

Ada anggapan yang keliru tentang tidur, kita menganggap tidur sebagai fase pasif dari siklus kehidupan sehari-hari. Ini salah, karena tidur sebenarnya sebuah proses yang aktif. Ini dibuktikan dengan perekaman proses-proses biologis selama tidur yang dikenal dengan sebutan Polysomnography (PSG) namun lebih populer dengan sebutan Sleep Study. Dari perekaman gelombang otak (EEG), yang merupakan bagian dari sleep study, para ilmuwan menemukan bermacam-macam gelombang otak yang akhirnya menjadi dasar pembagian tahapan tidur.

Kekeliruan kedua adalah dengan menganggap tidur sebagai periode yang aman. Karena selama tidur seolah kita berada dalam mode auto-pilot. Memang mekanisme pengaturan tidur diatur oleh otak secara otomatis. Tetapi beberapa gangguan dapat terjadi selama tidur, bahkan bukan tidak mungkin bisa berakibat fatal. Anda pernah mendengar ada orang yang meninggal mendadak dalam tidur?

Meskipun kedokteran tidur baru berkembang 50 tahun belakangan ini saja, namun sudah banyak perkembangan yang dicapai. Proses tidur dan gangguan-gangguan tidur pun semakin banyak dikenal. Tetapi amat disayangkan bahwa pengetahuan ini tidak menyebar merata ke masyarakat luas. Banyak orang yang mengantuk karena tidak tahu cara mengatur tidur dengan baik. Mereka tidak menyadari mekanisme hutang tidur, dan dibiarkan menumpuk hingga pada akhirnya mengakibatkan turunnya produktifitas, buruknya pengambilan keputusan (seperti yang terjadi pada kecelakaan Chalenger), dan kecelakaan saat mengendara atau mengoperasikan alat berat.

Atas nama produktifitas, banyak manusia modern yang mengorbankan waktu tidur untuk bekerja. Tanpa disadari mereka menumpuk hutang tidur yang akan menurunkan produktifitas di siang hari berikutnya. Untuk dapat tetap berfungsi maksimal orang-orang ini mengandalkan kopi dan berbagai suplemen berenergi yang biasanya dikonsumsi secara berlebihan dan menyebabkan terganggunya pola tidur seseorang. Pada akhirnya, hutang tidur yang ditanggung akan semakin banyak dan semakin membebani aktifitas sehari-hari.

Gejala-gejala lain seperti sakit kepala di pagi hari, kantuk berlebihan di siang hari, penurunan konsentrasi, hipertensi dan masih banyak lagi; diderita bertahun-tahun tetapi tidak pernah terpikir untuk menghubungkannya dengan gangguan tidur. Karena kita tidak pernah tahu apa yang terjadi saat tidur. Tahukah Anda bahwa Anda mendengkur, jika tidak diberi tahu oleh orang lain?

Dr. Andreas A. Prasadja

2 Comments

Google
blog-indonesia.com
Click here to join tidur_sehat
Click to join tidur_sehat

Apnea
Uploaded by prasadja

Wawancara Penderita OSA
Uploaded by prasadja

Penderita OSA
Video sent by prasadja

Wawancara Penderita OSA - TPI
Uploaded by prasadja

Sleep Lab
Uploaded by prasadja