Lab TidurKlinik Mendengkur - Gangguan Tidur

Informasi Mendengkur, dengkur, ngorok, sleep apnea, mengantuk, insomnia, CPAP, Kesehatan Tidur


Blog For Free!


Archives
Home
2013 May
2013 March
2013 January
2012 December
2012 November
2012 October
2012 June
2012 March
2012 February
2011 October
2011 August
2011 July
2011 June
2011 May
2011 March
2011 February
2011 January
2010 December
2010 November
2010 October
2010 September
2010 August
2010 June
2010 May
2010 April
2010 February
2010 January
2009 December
2009 November
2009 October
2009 September
2009 August
2009 July
2009 June
2009 May
2009 April
2009 March
2009 February
2009 January
2008 December
2008 November
2008 October
2008 September
2008 August
2008 June
2008 May
2008 April
2008 March
2008 January
2007 November
2007 October
2007 August
2007 July
2007 May
2007 March
2007 February
2006 September
2006 July
2006 June
2006 May
2006 April
2006 March

My Links
Unduh Catatan Tidur
Tanya Dokter Anda
Mitra Keluarga
American Academy of Sleep Medicine
sehat-online
Rumah Sakit Mitra Kemayoran
Kelompok Tidur Sehat, Facebook

tBlog
My Profile
Send tMail
My tFriends
My Images

Sponsored
Create a Blog!



Mendengkur dan Risiko Kanker Otak
05.07.13 (10:08 am)   [edit]
Pasien mendengkur yang menderita sleep apnea ternyata mempunya risiko 1,47 kali lebih tinggi untuk menderita kanker otak, dibanding yang tidak. Penelitian yang dilakukan oleh dokter Huang Chun Hao dari Taiwan ini memantau 112.555 penderita sleep apnea, dan 112.555 orang lainnya yang sehat.

Penelitian ini melihat rekam medis penderita sejak tahun 2000. Beberapa pasien diikuti selama lebih dari 10 tahun. Hasilnya, kejadian tumor ganas otak di antara penderita sleep apnea setiap tahunnya adalah 2,96 setiap 10.000 orang.

Sleep apnea

Orang yang sedang ngorok memang tampak nyenyak dan nyaman, tapi tahukah Anda bahwa tidur mendengkur mengandung bahaya besar? Ya, bahaya tersebut bernama sleep apnea, yang artinya henti nafas saat tidur. Penderita sleep apnea, mengalami penyempitan saluran nafas saat tidur hingga udara tak ada yang bisa lewat. Walau gerakan nafas tetap ada, penderita sleep apnea seolah tercekik tak bisa bernafas.

Sebentar ia akan tersedak dan mengambil nafas. Sayangnya semua ini terjadi saat tidur, hingga penderita sleep apnea tak menyadari apa yang terjadi pada dirinya. Padahal, kadar oksigen dalam tubuh berulang kali turun naik.

Penelitian lain

Kadar oksigen normal manusia saat tidur adalah 90%-100%. Penderita sleep apnea bisa turun jauh di bawah itu. Penelitian di Spanyol tahun lalu menemukan bahwa mereka yang mengalami penurunan kadar oksigen hingga di bawah normal saat tidur, mempunyai risiko terkena kanker hingga 68%. Penelitian yang diterbitkan pada the American Journal of Respiratory and Critical Care Medicine itu menyebutkan bahwa penderita sleep apnea memiliki risiko 4,8 kali lebih besar untuk meninggal karena kanker.

Beberapa penelitian di AS menyebutkan angka penderita sleep apnea sejumlah 3% sampai 20% dari penduduk. Sementara yang benar-benar terdiagnosa baik dan dirawat hanya 20% nya saja. 80% sisanya tidak mendapat perawatan apa-apa. Artinya sekian banyak penderita sleep apnea tetap menanggung risiko kesehatan yang tidak ringan.

Di Indonesia belum ada penelitian berskala besar tentang sleep apnea. Tetapi melihat penelitian-penelitian di negara-negara lain, diduga jumlahnya tak jauh berbeda. Lihat saja di sekeliling kita, rekan atau kerabat, pasti ada yang mendengkur.

Bagi seorang dokter ahli kesehatan tidur, sleep apnea bukanlah gangguan tidur yang sepele. Sleep apnea telah diketahui berakibat langsung pada hipertensi, kesehatan jantung dan pembuluh darah, serta mengakibatkan penyakit diabetes, stroke dan impotensi. Belum lagi akibatnya pada kualitas hidup yang disebabkan oleh hipersomnia atau kantuk berlebihan. Jika ada kerabat atau sahabat yang mendengkur, peringatkan. Anda menyelamatkan nyawanya.

 
Tidur dan Kecantikan Kulit
05.07.13 (10:07 am)   [edit]
Tidur adalah proses aktif yang melingkupi 1/3 waktu hidup manusia. Sayangnya hanya sedikit penelitian yang membahas hubungan kesehatan tidur dengan kecantikan kulit. Padahal, kita sudah lama mendengar tentang beauty sleep. Ya, artinya tidur dapat mempercantik kulit seseorang. Lihat saja, ketika kita kekurangan tidur, kulit tampak kusam tak bercahaya. Ini disebabkan oleh meningkatnya hormon stres hingga meningkatkan peradangan/inflamasi pada kulit yang tentu buruk akibatnya pada kualitas kulit.

Kesehatan Kulit dan Kurang Tidur

Keduanya ternyata saling berhubungan erat. Gangguan tidur menurunkan kualitas kulit, bahkan memperburuk penyakit kulit, sementara penyakit kulit sendiri dapat mengganggu kualitas tidur. Kurang tidur akan memperburuk kondisi kulit. Begitu kita kekurangan tidur, sel-sel inflamasi dalam tubuh akan meningkat. Tandanya, jerawat bermunculan, kulit jadi sensitif, reaksi alergi kulit memburuk dan iritasi pada kulit pun jadi semakin parah. Semakin kurang tidur, semakin banyak kita membutuhkan produk-produk perawatan kulit.

Kurang tidur juga akan merusak struktur kecantikan alami kulit. Sel-sel inflamasi yang meningkat kadarnya akan merusak asam hialuronat dan kolagen. Keduanya adalah bahan yang membuat kulit kenyal dan bercahaya.

Gangguan pada tidur, akan membuat penyakit-penyakit yang berhubungan dengan sistem imun kita jadi semakin buruk. Penyakit-penyakit kulit seperti psoriasis dan eksim (eczema) akan kambuh saat mengalami kekurangan tidur. Psoriasis misalnya bukan semata penyakit kulit, ia juga merupakan petanda adanya peningkatan inflamasi. Adanya penyakit kulit yang tak kunjung sembuh, juga bisa jadi petanda adanya gangguan tidur yang belum terdeteksi.

Jam Biologis Kulit

Kulit berperan dalam mengontrol suhu dan pengeluaran cairan. Ini berkaitan dengan jam biologis dan pengaturan suhu inti tubuh (core body temperature).

Supra chiasmatic nucleus (SCN) memang merupakan pusat pengatur irama jam biologis. Tetapi ada juga pengatur jam biologis yang bersifat perifer. Kulit lewat kemampuannya untuk menjaga keseimbangan cairan dan melepaskan panas, juga turut mengatur jam biologis ini.

Kulit juga mempunyai kemampuan untuk merasakan perbedaan suhu sekitar, sehingga ia dapat memberi sinyal kepada otak untuk menjaga keseimbangan suhu inti tubuh tetap di sekitar 37 derajat celcius.

Suhu inti tubuh akan bergerak naik di siang hari, sementara beranjak malam akan mulai menurun dan mencapai titik terendah saat menjelang tidur. Suhu panas tubuh perlahan dikeluarkan lewat kulit.

Kadar kortisol tertinggi dicapai di pagi hari dan terus menurun sepanjang hari. Menjelang malam kadarnya akan menurun dan mencapai titik terendah saat akan tidur. Kortisol memiliki efek anti-inflamasi. Diduga, turunnya kadar kortisol ini berperan pada meningkatnya rasa gatal di malam hari pada penderita penyakit kulit.

Kecantikan

Hidrasi tubuh dijaga saat tidur. Ketika tidur, kelembaban kulit dikembalikan. Jika kita kurang tidur, tentu saja kulit jadi lebih kering dan kusam. Kerutan juga akan tampak dengan jelas saat kita kekurangan tidur.

Mencapai tahap tidur dalam, tubuh mengeluarkan growth hormone (hormon pertumbuhan). Hormon ini pada anak-anak penting untuk proses tumbuh kembang. Sedangkan pada orang dewasa, hormon ini berperan untuk memicu perbaikan sel-sel yang rusak. Jika kita kurang tidur, sel-sel kulit yang rusak akan mati, tanpa adanya sel-sel pengganti yang baru. Akhirnya proses penuaan pun akan datang dini.

Proses tidur juga berperan penting dalam menjaga kelangsingan tubuh. Tahukah Anda, bahwa kondisi kurang tidur akan meningkatkan nafsu makan dan mengganggu proses metabolisme hingga sulit menurunkan berat badan? Ya, saat kurang tidur terjadi ketidak seimbangan hormonal yang sebabkan nafsu makan tak terbendung. Akibatnya kita akan lebih banyak ngemil dan memilih makanan berkalori tinggi.

Untuk menjaga kecantikan kulit perhatikan beberapa tips tidur sehat berikut :

- Jagalah jadwal tidur yang teratur dan cukup. Ini akan memudahkan proses tidur secara umum. Biasakan membuat ritual persiapan tidur yang menyenangkan. Persiapkan dengan meredupkan lampu, memutar musik yang lembut, lalu lakukan perawatan kulit. Kondisi rileks akan memudahkan dan menjaga kualitas tidur.

- Minum banyak cairan selama beraktivitas di siang hari untuk menjaga keseimbangan cairan. Sementara, menjelang tidur batasi minum karena minum terlalu banyak dapat mengganggu tidur karena kebutuhan untuk kencing.

- Tidurlah dalam suasana yang gelap. Dengan demikian melatonin (hormon tidur) akan diproduksi optimal.

- Gunakan sprei yang lembut dan nyaman. Ganti secara rutin untuk menjaga kebersihannya dan tetap bebas dari tungau atau debu yang dapat memancing alergi.

- Posisi tidur terlentang akan mengurangi risiko terjadinya kerutan pada wajah.

 

dr. Andreas Prasadja, RPSGT



 
Anak Ngorok Rentan Gangguan Perilaku dan Kesulitan Belajar
05.07.13 (10:06 am)   [edit]

Mendengkur merupakan gejala utama sleep apnea. Sebuah penyakit tidur yang amat berbahaya karena pada orang dewasa menyebabkan hipertensi, diabetes, penyakit jantung, depresi hingga stroke. Tetapi bagaimana jika terjadi pada anak? Sebuah penelitian baru pada jurnal SLEEP tunjukkan bahwa, sleep apnea pada anak bisa mengarah pada gangguan perilaku yang mirip dengan ADHD, atention deficit hyperactivity disorder.

Ngorok dan sleep apnea

Sleep apnea artinya henti nafas saat tidur. Gejala utamanya adalah mendengkur dan kantuk berlebihan yang biasa disebut dengan hipersomnia. Tetapi pada anak, tampilan mengantuk berbeda dengan orang dewasa. Untuk melawan rasa kantuk anak malah menjadi hiperaktif. Coba perhatikan anak-anak kita, ketika mengantuk malah menjadi rewel.

Mendengkur disebabkan oleh menyempitnya saluran nafas saat tidur. Akibat saluran nafas yang melemas saat tidur, aliran udara jadi terganggu. Bahkan, walau gerakan nafas tetap ada, tak ada udara yang dapat mengalir masuk maupun keluar. Seolah tercekik, penderita akan terbangun singkat, tanpa terjaga untuk menarik nafas.

Karena terbangun tanpa terjaga proses tidur jadi terpotong-potong. Gangguan pada proses tidur disertai penurunan kadar oksigen ini yang diduga berujung pada gangguan perilaku.

Penelitan

Penelitian yang dilakukan di University of Arizona, Tucson ini dilakukan dengan melihat data dari the Tucson Children's Assesment of Sleep Apnea Study (TuCASA) yang dilakukan dalam rentang 5 tahun, pada anak dengan usia 6-11 tahun. Penelitian pada 263 orang anak ini melihat pengaruh sleep apnea pada perilaku.

Sleep apnea didiagnosa dengan polisomnografi (laboratorium tidur), lalu orang tua dan anak diperiksa juga lewat sejumlah kuesioner dan alat pemeriksaan psikologis. Pemeriksaan dilakukan dalam dua rentang waktu, saat pertama penelitian dimulai dan lima tahun kemudian.

Dari pemeriksaan tidur didapati, ada 23 anak yang sebelumnya tak mendengkur, tapi setelah 5 tahun terdiagnosa dengan sleep apnea; 21 anak tetap menderita sleep apnea, sejak awal penelitian hingga akhir penelitian (selama 5 tahun); dan terakhir ada 41 anak yang awalnya menderita sleep apnea tetapi diakhir penelitian sudah sembuh.

Setelah dinilai perilaku pada anak-anak tersebut didapati bahwa anak yang baru menderita sleep apnea punya kemungkinan 4-5 kali lebih besar untuk alami gangguan perilaku. Sementara anak-anak yang menderita sleep apnea dari awal penelitian hingga akhir (selama 5 tahun) punya risiko alami gangguan perilaku sampai enam kali lipat.

Dibandingkan anak yang tak menderita sleep apnea sama sekali, anak dengan sleep apnea punya kemungkinan lebih besar untuk dilaporkan orang tuanya mangalami hiperaktivitas, gangguan konsentrasi, gangguan komunikasi, kemampuan sosial dan merawat diri yang kurang, serta gangguan perilaku.

Anak yang menderita sleep apnea dari awal hingga akhir penelitian dilaporkan orang tuanya memiliki gangguan belajar hingga 7 kali lipat. Penelitian ini juga laporkan bahwa anak-anak ini punya kemungkinan tiga kali lipat untuk mendapat nilai C atau lebih rendah.

Kesimpulan

Penelitian ini menunjukkan bahwa mendengkur pada anak memiliki risiko yang tidak kecil. Akibat sleep apnea pada anak tak bisa diremehkan. Kita sudah lama mengetahui bahwa mendengkur dan sleep apnea menyebabkan gangguan proses tumbuh kembang. Kini kita juga tahu akibatnya pada perilaku dan kemampuan belajar anak.

Kebanyakan sleep apnea anak disebabkan oleh bengkaknya kelenjar adenoid dan amandel, hingga perawatan utama biasanya diarahkan pada pengangkatan kedua kelenjar ini. Strategi menunda-nunda dan berharap kedua kelenjar ini akan mengecil dengan sendirinya sudah harus ditinggalkan. Kita lihat sendiri dari hasil penelitian ini betapa merugikannya jika sleep apnea dibiarkan tidak dirawat selama lima tahun.

Ingat juga, bahwa pembedahan bukanlah satu-satunya perawatan sleep apnea bagi anak. Ada juga perawatan dengan gunakan continuous positive airway pressure (CPAP). Namun patut diakui bahwa penggunaan CPAP pada anak tidaklah mudah.

Diagnosa yang tepat diperlukan untuk menyingkirkan segala keraguan. Untuk itu diperlukan pemeriksaan yang seksama. Disamping pemeriksaan THT, diperlukan juga pemeriksaan tidur untuk tegakkan diagnosa adanya sleep apnea. Pemeriksaan tidur dengan polisomnografi (PSG) dapat dilakukan di laboratorium tidur yang tentu telah dibuat bersahabat dengan anak.

dr. Andreas Prasadja, RPSGT



 
Perawatan Mendengkur - OSA Ternyata Justru Hemat
03.30.13 (2:24 pm)   [edit]

Ketika mendengar keluhan mendengkur, kebanyakan perusahaan atau asuransi di Indonesia langsung menganggap ini sebagai faktor kosmetik saja, hingga tak dianggap penting bagi kesehatan maupun produktivitas. Hanya suara yang mengganggu. Tapi kenyataannya tidaklah demikian. Mendengkur merupakan gejala utama dari penyakit tidur bernama Obstructive Sleep Apnea (OSA).

Sebuah tulisan dari Bruce Sherman, MD pada editorial Journal of Clinical Sleep Medicine memberikan prespektif tentang biaya, penghematan serta manfaat perusahaan untuk membiayai karyawan-karyawannya menjalani pemeriksaan dan perawatan OSA. Meski kebanyakan orang di Indonesia membiayai dirinya sendiri untuk perawatan kesehatan, pandangan dokter Bruce pantas disimak mengingat manfaat dan penghematan yang bisa diraih dengan melakukan perawatan mendengkur.

Obstructive Sleep Apnea

OSA telah diketahui diderita oleh banyak orang, dari berbagai penelitian didapati angka 3% hingga 20% dari populasi orang dewasa di AS menderita penyakit tidur ini. Sayangnya 80%-85% nya tidak terdiagnosa dengan baik, apalagi dirawat. Akibatnya angka penderita hipertensi, penyakit jantung, diabetes, stroke, kecelakaan lalu lintas dan kerja, serta kematian mendadak turut meningkat. Sesuatu yang patut direnungkan untuk kondisi kita di Indonesia.

OSA terjadi karena menyempitnya saluran nafas saat kita tidur, hingga udara tak ada yang dapat lewat. Pendengkur terdiam, dengan dada dan perut naik turun berusaha menarik nafas, namun seolah tercekik, udara tak dapat mengalir masuk atau keluar. Sesak! Selanjutnya sistem pengaman tubuh akan membangunkan otak sejenak hingga pendengkur dapat bernafas kembali. Saat itu tiba-tiba pendengkur tampak tersedak atau mengeluarkan suara keras.

Kualitas tidur orang yang mendengkur selalu buruk. Istilahnya hipersomnia, kantuk berlebihan walau sudah cukup tidur. Dari sudut pandang perusahaan, karyawan yang mendengkur tampak sebagai pribadi yang mudah capek, mengantuk, ceroboh dan lamban. Penderita OSA terus mengantuk hingga membutuhkan kafein dan nikotin untuk mempertahankan konsentrasinya. Sayang semua zat stimulan ini hanya menunda kantuk tanpa menyegarkan otak kembali. Artinya? Produktivitas nya buruk.

Keselamatan kerja pun terancam. Mulai dari kemampuan mengendara yang buruk hingga kebugaran untuk menjaga monitor atau mengoperasikan alat-alat berat. Penderita OSA juga kerap mengalami kecelakaan lalu lintas.

Bagi kesehatan OSA berhubungan dengan berbagai penyakit kronis seperti hipertensi, diabetes, depresi dan kegemukan. Yang mana kesemuanya membutuhkan biaya yang tak sedikit untuk jangka waktu lama.

Penghematan Biaya

Penelitian tahun 2010 yang dipublikasikan pada the Journal of Occupational and Environmental Medicine, menunjukkan bahwa dengan perawatan OSA perusahaan justru melakukan penghematan. Peneliti mengikuti klaim asuransi para pengemudi truk. 156 pengemudi dengan OSA dirawat dengan CPAP, sementara 92 pengemudi terdiagnosa dengan OSA namun menolak perawatan. Hasilnya ongkos kesehatan dapat dihemat hingga 41% pada pengemudi dengan OSA yang dirawat.

Penelitian sebelumnya pada jurnal CHEST di tahun 2002 meneliti rekam medis dari 773 pasien mendengkur yang telah didiagnosa menderita sleep apnea dan dibandingkan dengan subyek yang tidak mendengkur. Mereka juga melihat sebelum terdiagnosa OSA, para pasien ini menderita penyakit apa saja. Hasilnya tunjukkan bahwa penderita OSA menggunakan jasa pelayanan medis lebih banyak dibanding yang tidak mendengkur. Sebelum terdiagnosa dengan OSA, kebanyakan pasien ini ternyata berobat ke dokter karena masalah penyakit jantung-pembuluh darah, terutama hipertensi.

Perusahaan-perusahaan dan asuransi tentu mencari cara sehemat mungkin untuk perawatan kesehatan bagi para karyawan. Tak heran jika perusahaan-perusahaan di AS saat ini mengedepankan pencegahan dibandingkan pengobatan. Perawatan mendengkur, OSA, termasuk dalam tindakan pencegahan penyakit kronis.

Biaya diagnosa dan perawatan OSA merupakan beban besar yang harus ditanggung oleh asuransi atau perusahaan. Mulai dari pemeriksaan tidur, hingga perawatan dengan CPAP atau pembedahan membutuhkan biaya yang tak sedikit. Namun biaya yang dikeluarkan ternyata justru menjadi penghematan di masa depan.

Perusahan-perusahan di AS sudah semakin sadar akan kesehatan tidur. Anggaran belanja kesehatan untuk karyawan pun semakin maju hingga meletakkan perawatan OSA sebagai salah satu prioritas utama.

Perawatan OSA meningkatkan produktivitas, keselamatan kerja dan kesehatan.



 
Proses Pematangan Saraf Terjadi Saat Tidur
03.30.13 (2:23 pm)   [edit]

Masih ragu dengan pentingnya kesehatan tidur? Bukti-bukti ilmiah tentang pentingnya tidur terus bertambah. Nah, yang terbaru adalah tentang pentingnya tidur bagi perkembangan otak.

Penelitian yang terbit pada American Journal of Physiology: Regulatory,Integrative and Comparative Physiology, edisi Februari 2013 menunjukkan perubahan-perubahan gelombang otak tidur pada masa pra remaja. Pematangan sel-sel saraf ini terjadi pada peralihan masa kanak-kanak ke remaja.

Tidur memiliki tahapannya sendiri sepanjang malam berdasarkan gelombang otak selama tidur. Dua pembagian besar adalah tahap tidur REM dan tidur NonREM. Tahapan tidur NonREM (NREM) dibagi lagi menjadi tahap tidur N1, N2 dan N3. N1 merupakan tahap tidur ringan, N2 tidur sedang, dan N3 adalah tahap tidur dalam.

Penelitian ini melihat gelombang otak delta dan theta pada tahap tidur REM dan NonREM di rentang usia 6-18 tahun. Lalu dinilai perubahan-perubahan gelombang delta yang terjadi. Perubahan delta power seiring bertambahnya usia berkaitan langsung dengan proses pematangan otak dan kemampuan berpikir kompleks manusia.

Delta power NREM meningkat sejak usia 6 hingga 8 tahun lalu menurun. Penurunan aktivitas delta tampak paling banyak di usia 12-16,5 tahun. Sementara pada tidur REM sejak usia 6 tahun aktivitas delta justru sudah menurun, dan terus turun hingga usia 16 tahun.

Penemuan baru ini menunjukkan bagaimana proses tidur penting bagi perkembangan otak anak-remaja. Terutama dalam rentang empat setengah tahun, dari usia 12-16,5 tahun tidur jadi amat penting. Melihat perubahan pada gelombang otak tidur, sebenarnya merupakan cerminan bagaimana proses tumbuh-kembang dan pematangan saraf-saraf otak terjadi.

Jadi, jika tidur dianggap sebagai fase kehidupan yang tidak aktif, ternyata justru sebaliknya. Segala proses tumbuh-kembang dan pematangan kemampuan otak justru terjadi saat tidur.



 
Kemesraan Tidur, Hubungan Tidur Sehat dan Percintaan
01.26.13 (1:01 pm)   [edit]

Tahukah Anda jika hubungan percintaan juga sangat dipengaruhi oleh tidur?

Ya, sebuah penelitian yang dilakukan oleh University of California, Berkeley menyatakan bahwa pasangan dari orang yang kurang tidur sering merasa kurang dihargai. Penelitian ini tunjukkan bagaimana tidur bisa memengaruhi romantisme sebuah hubungan. Bisa dikatakan orang yang tak mencukupi kebutuhan tidurnya merasa terlalu lelah untuk berterima kasih.

Lebih dari 60 pasangan diteliti. Mereka diminta untuk mencatat pola tidur harian. Mereka juga diminta untuk mencatat efek tidur yang lelap atau tidak pada pasangan. Apakah pasangan jadi merasa dihargai saat tidurnya lelap, dibanding rasa yang sama saat tidur tak nyenyak. Saat lain, pasangan-pasangan ini direkam video saat diberi tugas untuk memecahkan suatu masalah. Mereka yang tidurnya kurang, tampak kurang menghargai pasangannya. Secara umum, penelitian buktikan bahwa mengantuk sebabkan kita cenderung emosional, egois dan mementingkan diri sendiri. Kebutuhan pasangan jadi terabaikan.

Tidur, memengaruhi suasana emosi di pagi hari. Bisa saja seseorang tidur pulas, tetapi jika pasangannya tak tidur nyenyak yang jadi korban adalah keduanya. Akhirnya atmosfir emosi mereka pun jadi negatif.

Kebiasaan di ranjang pasangan juga bisa menjadi masalah. Seseorang yang terbiasa tidur dalam kondisi tenang, tentu akan terganggu dengan kebiasaan menonton TV pasangannya. Atau suara dengkur pasangan.

Tahukah Anda, mendengkur adalah penyebab perceraian nomor 3 di AS setelah perselingkuhan dan masalah ekonomi?

Suara dengkuran memang mengganggu tidur pasangan. Tetapi ada kondisi lain yang juga mengganggu, yaitu penyakit tidur bernama sleep apnea, atau henti nafas saat tidur.

Sleep apnea sudah lama kita ketahui sebabkan kualitas tidur penderitanya jadi buruk. Akibatnya walau sudah tidur cukup, pendengkur selalu bangun lelah dan terus mengantuk sepanjang hari. Kondisi mengantuk yang disebut hipersomnia ini tentu sebabkan seseorang jadi emosional, dan kurang peka terhadap kebutuhan pasangannya.

Beberapa penelitian di tahun 2010-2012 yang melibatkan pencitraan otak membuktikan bahwa pendengkur mengalami kerusakan pada bagian-bagian tertentu otak yang mengatur fungsi kemampuan kognitif dan emosional. Salah satunya adalah area yang mengatur kemampuan seseorang untuk menerima masukan, kemampuan mendengar. Dalam konteks hubungan percintaan: pengertian dan perhatian.

Masalah menjadi lebih kompleks, ketika libido turut menurun sebagai akibat dari sleep apnea.

Mendengkur bukan masalah remeh. Selain sebabkan hipertensi, gangguan jantung, diabetes hingga stroke bagi si pendengkur, pasanganlah yang sebenarnya menjadi korban.

Sebuah penelitian lain yang diterbitkan pada jurnal kedokteran SLEEP 2011 nyatakan bahwa kunci kebahagiaan perkawinan adalah istri yang tidur cukup. Tiga puluh lima pasangan dicatat pola tidurnya dengan actygraphy, lalu disurvei tentang suasana emosi pasangannya. Hasilnya, para istri yang terganggu tidurnya dilaporkan cenderung mengekspresikan emosi negatif oleh sang suami.

-------------------

Kemesraan dan ranjang tak melulu harus dikaitkan dengan seks. Tidur yang selama ini dianggap episode tak aktif ternyata punya peranan besar. Tidur yang sehat, penting bagi kesehatan dan kebahagiaan setiap orang. Jika kesehatan tidur belum menjadi prioritas dalam kehidupan keluarga, sebaiknya Anda mulai dari sekarang.



 
Mengantuk Berlebihan
01.15.13 (1:42 pm)   [edit]

Kadang kala kita memang merasa lelah dan mengantuk. Setelah jam makan siang, kantuk berkunjung dan membuat kita menguap dan mengusap-usap mata. Tetapi sebagian dari kita ada yang amat sulit menahan kantuk. Bahkan kalau diperhatikan ia sepanjang hari bolak-balik menyeduh kopi dan merokok untuk sekedar mempertahankan kemampuan konsentrasi. Inilah mengantuk berlebihan!

Kantuk berlebihan, di AS dialami oleh 20% populasi, diketahui membuat kita lamban dan ceroboh. Tentu saja mengganggu performa di kantor, pekerjaan dan sekolah. Bahkan bagi pengendara, mengantuk adalah ancaman utama keselamatan di perjalanan.

Orang yang mengantuk juga cenderung agresif dan emosional. Tak heran jika kantuk pada siswa berhubungan dengan kenakalan di kelas. Atau penelitian yang sebutkan bahwa wanita yang cukup tidur akan menjamin kebahagiaan perkawinan. Ya, kesehatan tidur juga akan menentukan kesehatan emosi dan hubungan antar personal manusia.

Mengantuk Normal? Atau tidak?

Kantuk berbeda dengan fatigue (lelah). Fatigue adalah rasa lelah kehabisan tenaga hingga ingin beristirahat. Tapi istirahat dalam artian bukan tidur. Mengantuk berlebihan juga harus dibedakan dengan perasaan tertekan atau depresi. Mereka yang merasa tertekan tak mau melakukan aktivitas, bahkan yang sebelumnya menggembirakan.

Mengantuk berlebihan bukanlah penyakit tersendiri. Kantuk berlebih bisa disebabkan oleh banyak hal, atau bisa juga disebabkan oleh penyakit-penyakit tidur yang lebih serius.

Yang perlu dibedakan pertama kali adalah apakah kantuk ini bersifat normal atau patologis. Normal jika memang disebabkan oleh kurangnya durasi tidur. Masyarakat modern memang tak memprioritaskan tidur, konon demi produktivitas. Akibatnya kesehatan tidur tak diperhatikan. Selain mengorbankan waktu tidur, banyak kebiasaan-kebiasaan kita yang sebenarnya tak sehat bagi tidur. Koneksi internet, cahaya 24 jam, minuman berkafein, berolah raga di malam hari, dan lain-lain.

Sementara mengantuk yang tak normal adalah rasa kantuk yang masih ada walau tidur telah rutin cukup. Penyakit tidur yang bisa menyebabkan adalah sleep apnea, periodic limb movements in sleep atau narkolepsi. Sleep apnea paling banyak diderita namun diabaikan. Karena penderitanya hanya tahu dia bangun tak segar dan mengantuk berlebihan tanpa tahu apa yang ia alami sepanjang malam. Hanya dari orang lain, biasanya pasangan, ia tahu dirinya mendengkur. Sayangnya kebanyakan penderita tak mengaitkan kebiasaan ngorok dengan kantuk yang dialami.

Akibat Mengantuk

Apa pun penyebab mengantuk berlebihan, sebaiknya didiskusikan dengan dokter. Siapa tahu sakit kepala yang sering dialami berkaitan dengan kantuk. Peningkatan tekanan darah, atau penurunan daya tahan tubuh juga bisa disebabkan oleh mengantuk berlebihan.

Banyak orang akan dibantu untuk mengubah jadwal serta kebiasaan-kebiasaan tidurnya agar lebih sehat. Sementara sebagian lainnya memerlukan pemeriksaan medis yang lebih serius. Pemeriksaan di laboratorum tidur adalah salah satunya.

Kalau Anda merasa lamban, terus mengantuk, kurang produktif, hampir alami kecelakaan atau sering membuat kesalahan konyol, jangan cuma mengambil kopi dan terus “memaksakan” diri. Masa depan dan nyawa menjadi taruhannya. Bill Clinton sendiri mengatakan bahwa kesalahan-kesalahan yang ia buat kebanyakan ia lakukan saat ia kelelahan. Bayangkan jika di pekerjaan Anda sampai dicap pemalas dan lamban. Atau dianggap tak bisa berkembang, kurang inovatif bahkan tak punya kreativitas. Kesehatan tidur akan menjamin produktivitas dan karir terus meningkat, karena tidurlah vitamin otak sesungguhnya.

Apalagi dalam konteks berkendara, dengan terus mengemudi saat mengantuk, kita bukan hanya membahayakan diri saja, keselamatan orang lain juga. Ingat saja berbagai kecelakaan fatal di media, hampir semua disebabkan oleh kantuk. Fakta dari Centers for Disease Control and prevention (CDC), AS, 1 dari 24 pengendara mengaku pernah tertidur di perjalanan.

Akibat mengantuk pada kesehatan juga tak main-main. Berbagai penelitian menghubungkan kantuk dengan buruknya kesehatan jantung dan pembuluh darah. Mengantuk juga menyebabkan kegemukan dan obesitas. Bahkan tatalaksana tekanan darah tinggi yang dikenal dengan dokumen JNC7 sudah memasukan penyakit tidur sleep apnea sebagai salah satu penyebab utama hipertensi.

Waspada Mengantuk Berlebihan

Mengantuk berlebihan diderita luas namun banyak orang tak menyadarinya. Entah karena sudah terlalu lama diderita hingga dianggap biasa, atau karena konsumsi kafein sepanjang hari. Tapi mengantuk berlebihan nyata pengaruhi kesehatan, keselamatan dan kualitas hidup seseorang.

Perhatikan kesehatan tidur, biasakan juga untuk membicarakan kebiasaan tidur dengan dokter. Mengantuk berlebihan bukan kondisi yang normal, bukan juga kemalasan. Mengantuk berlebihan bisa diatasi, atau diobati. Sayang jika diabaikan begitu saja.

dr. Andreas Prasadja, RPSGT



 
Tentang Tidur
01.12.13 (10:47 am)   [edit]

Hal-hal yang seharusnya Anda tahu tentang tidur

Masyarakat modern semakin berkurang tidurnya. Penelitian Wehr telah membuktikan bahwa dalam lingkungan tanpa penunjuk waktu kita akan tidur 7-8 jam setiap malamnya. Sayangnya denyut kehidupan modern tak mengijinkan itu. Masyarakat terbiasa terpapar cahaya terang dan saling terhubung 24 jam tanpa henti. Bola lampu, listrik, komputer, internet hingga ponsel pintar adalah temuan-temuan manusia yang menggeser kebiasaan tidur kita.

Tapi kita masih butuh tidur! Berikut saya jabarkan sedikit pengetahuan tentang tidur.

  1. Tahukah Anda bahwa TIDUR adalah salah satu sains yang terbaru.

Hingga tahun 50-an saat tidur dianggap sebagai saat tak aktif. Tak ada yang terjadi saat tidur. Dokter pun beranggapan bahwa saat tidur adalah saat yang aman, karena pasiennya tampak tidur damai bebas dari rasa sakit. Tapi kenyataannya tidak demikian. Sejak ditemukannya tidur Rapid Eye Movements (REM), kita tahu bahwa gelombang otak tidur bisa sangat aktif seperti saat kita terjaga. Demikian juga dengan sumber penyakit. Ternyata banyak sumber penyakit yang disebabkan oleh berbagai penyakit tidur.

  1. Kurang tidur membuat Anda gemuk!

Ya, mengantuk ternyata membuat sistem metabolisme kita terganggu. Hormon-hormon yang mengatur nafsu makan berubah keseimbangannya hingga kita cenderung lapar. Celakanya secara otomatis kita mencari makanan yang manis dan asin. Ya, itu berarti kita bernafsu utk menikmati junk-food.

  1. Tidur adalah vitamin otak yang sesungguhnya.

Kemampuan otak sangat dipengaruhi oleh tidur. Kecerdasan, daya ingat, konsentrasi, ketelitian, kreativitas hingga kemampuan untuk menghitung dengan cepat hanya dibangun saat tidur. Proses tidur yang kompleks menentukan kualitas manusia. Mau tingkatkan produktivitas? Tidurlah yang sehat.

  1. Wanita yang cukup istirahat adalah wanita yang bahagia.

Penelitian membuktikan bahwa kurang tidur membuat wanita kurang bahagia. Kurang tidur dianggap lebih mengganggu dibandingkan faktor-faktor lain yang menyebabkan stres. Salah satu kunci pernikahan yang bahagia adalah wanita yang cukup tidur. Jadi, para suami, atasi kebiasaan mendengkur Anda.

  1. Tidur berkaitan dengan kanker.

Wanita yang tidur kurang dari 7 jam tiap harinya mempunyai risiko 47% lebih tinggi untuk menderita kanker payudara, walaupun ia orang yang sehat, menjaga diet dan berolah raga rutin. Bandingkan dengan wanita buta. Risiko mereka mengalami kanker payudara lebih rendah 50%. Karena paparan cahaya yang terbatas, tidur mereka pun lebih panjang dan teratur. Kadar hormon melatonin mereka pun didapati lebih tinggi, sedangkan estrogen lebih rendah.

dr. Andreas Prasadja, RPSGT



 
Dengkur "Sleep Apnea" Diatasi, Janin Sehat (Mendengkur, Kehamilan dan Preeclampsia)
01.05.13 (1:53 pm)   [edit]

Sebuah penelitian baru yang dilakukan di Australia menunjukkan bahwa mengatasi mendengkur pada ibu hamil, dengan gunakan continuous positive airway pressure (CPAP) akan menyehatkan janin.

Penelitian yang dilakukan oleh Colin Sullivan, Natalie Edwards, dan tim ini bertujuan untuk melihat efek CPAP pada ibu hamil yang mengalami preeclampsia dan pada janin yang dikandungnya.

Mendengkur dan Kehamilan

Mendengkur merupakan gejala dari sleep apnea atau henti nafas saat tidur. Sleep apnea disebabkan oleh menyempitnya saluran nafas pada saat tidur hingga aliran udara terhambat. Gerakan nafas masih nampak namun akibat tersumbatnya saluran nafas, udara tak dapat lewat. Akibatnya terjadi penurunan kadar oksigen darah. Pada orang dewasa, sleep apnea merupakan penyebab utama meningkatnya tekanan darah, hipertensi. Ia juga menjadi penyebab berbagai gangguan jantung, peningkatan gula darah hingga stroke. Selain itu sleep apnea juga menurunkan kualitas hidup akibat kantuk berlebihan atau biasa disebut hipersomnia.

Wanita yang sedang hamil, memasuki kehamilan 20 minggu menjadi mendengkur dan berisiko menderita sleep apnea. Ini disebabkan oleh peningkatan berat badan dan membengkaknya saluran nafas akibat peningkatan hormon-hormon kehamilan.

Beberapa tahun belakangan ini banyak penelitian yang menunjukkan bahwa mendengkur pada ibu hamil meningkatkan risiko mengalami preeclampsia dan hipertensi pada kehamilan. Sementara ini diduga, sleep apnea menyebabkan preeclampsia lewat mekanisme yang sama dengan berkembangnya hipertensi pada orang dewasa tak hamil yang mendengkur.

Preeclampsia ditandai dengan peningkatan tekanan darah dan kadar protein pada urine. Preeclampsia dialami oleh 5%-7% kehamilan, dan dapat menyebabkan gangguan perkembangan hingga kematian pada janin.

Dengkur Hilang, Janin Sehat

Mendengkur memang telah lama terbukti dapat menyebabkan preeclampsia. Namun efeknya pada janin belum banyak diteliti.

Colin Sullivan adalah penemu CPAP untuk mengatasi ngorok, sleep apnea. Ia bersama timnya ingin melihat efek perawatan mendengkur pada janin dengan cara merekam aktivitas janin lewat ultrasound. Semakin aktif gerak janin, semakin sehat pula janin tersebut.

Hasilnya gerak janin meningkat dari 319 pada saat mendengkur menjadi 592 setelah dengkur diatasi dengan CPAP. Pada saat ibu tidur mendengkur gerak janin menurun menjadi 7,4 perjam. Sementara saat ngorok diatasi dengan CPAP, aktivitas janin meningkat jadi 12,6 perjam.

Mendengkur ringan saja ternyata sudah memengaruhi aliran darah ke janin. Akhirnya janin berusaha melindungi diri dengan mengurangi aktivitasnya. Dengan gunakan CPAP, mendengkur akan hilang dan menormalkan asupan darah ke janin hingga janin pun kembali sehat.

Penelitian

Penelitian yang dipublikasikan pada jurnal SLEEP Januari 2013 ini dibagi dalam 3 bagian. Pertama, aktivitas janin diamati dengan ultrasound pada 20 ibu hamil yang tak mendengkur. Lalu aktivitas janin juga direkam sepanjang malam pada 20 ibu dengan preeclampsia sedang-berat dan 20 ibu hamil normal. Hasilnya, gerak janin saat tidur pada kelompok yang menderita preeclampsia jauh lebih rendah (289) dibanding dengan yang normal (689).

Tahap selanjutnya gerakan janin pada 10 orang ibu dengan preeclampsia sedang-berat direkam selama dua malam. Malam pertama ibu dibiarkan mendengkur tanpa perawatan CPAP. Malam kedua dengkuran diatasi dengan CPAP. Hasilnya aktivitas janin membaik setelah dengkuran ibu diatasi.

Mendengkur atau ngorok pada kehamilan tak dapat dianggap sepele lagi. Dengkuran ringan saja ternyata sudah memiliki risiko terhadapa kesehatan ibu dan calon bayi nantinya. Penelitian ini telah membuktikan bahwa penanganan mendengkur memperbaiki kesehatan janin.


dr. Andreas Prasadja, RPSGT

Tulisan ini dibuat untuk mengenang Dr. Natalie Edwards, pelopor penelitian kedokteran tidur, khususnya tentang mendengkur, dan kesehatan tidur pada wanita.



 
Kantuk yang Membunuh (Mengantuk dan Keselamatan Berkendara)
01.05.13 (1:49 pm)   [edit]

Kecelakaan lalu lintas sering berakibat fatal. Baru-baru ini sebuah mobil bekecepatan tinggi menabrak mobil di depannya hingga pintu terbuka dan menewaskan 2 nyawa. Berdasarkan berbagai berita di media, dikatakan bahwa pengendara dalam kondisi mengantuk. Sungguh menyedihkan.

Tidur yang sehat dalam konteks berkendara merupakan dasar keselamatan. Karena kualitas-kualitas yang menentukan kemampuan untuk berkendara dibangun, dirawat dan disegarkan hanya saat tidur. Mengantuk merupakan tanda seseorang tidak layak untuk berkendara!

Mengendara dalam keadaan mengantuk sama bahayanya dengan mengendara dalam kondisi mabuk. Jangan tunggu tertidur, mengantuk saja sudah berbahaya. Saat mengantuk kemampuan konsentrasi, kewaspadaan, serta refleks jadi buruk.

Data

Powell dan kawan-kawan di tahun 2001 menyatakan dalam penelitiannya bahwa mengendara dalam kondisi mengantuk sama bahayanya dengan mengendara dengan kadar alkohol 0,8 (batas kadar alkohol legal untuk berkendara).

The American Automobile Association (AAA) memperkirakan 1 dari 6 kecelakaan lalu lintas mematikan dan 1 dari 8 kecelakaan yang menyebabkan perlu dirawat di RS, disebabkan oleh kantuk! Di Indonesia, data Operasi Ketupat 2011 mencatat penyebab kecelakaan akibat kendaraan tak layak adalah 449 kejadian, jalan tak layak 387 kejadian, sementara kecelakaan yang diakibatkan oleh pengendara yang mengantuk adalah 1018!

Angka yang fantastis, namun tampaknya masih diabaikan di Indonesia. Kenapa? Karena kita belum meletakkan kesehatan tidur sebagai salah satu prioritas kehidupan kita. Kesehatan tidur masih diabaikan. Padahal kecelakaan akibat kantuk apalagi menyebabkan kematian, amatlah sia-sia. Kantuk bisa dicegah dan diatasi dengan cara yang benar!

Kebutuhan Tidur

Semua orang butuh tidur. Kita tak dapat berfungsi baik tanpa tidur yang cukup.

Kebutuhan tidur manusia dibagi berdasarkan kelompok umur. Dewasa butuh sekitar 7-8 jam tidur setiap harinya. Sementara remaja hingga usia pertengahan 20 masih membutuhkan 8,5-9,25 jam tidur sehari! Sesuatu yang amat sulit dicapai mengingat denyut kehidupan modern saat ini. Tak heran jika kelompok usia dewasa muda adalah kelompok yang paling kekurangan tidur dan paling tinggi angka kecelakaannya.

Kurang tidur jelas membuat kita mengantuk. Tetapi karena adanya jam biologis di otak kita, ada jam-jam tertentu yang membuat kita mengantuk walaupun sudah cukup tidur, misalkan pada jam setelah makan siang atau jam pagi buta dimana matahari baru akan terbit. Kondisi kurang tidur akan melipat gandakan kantuk pada jam-jam tersebut. Pack dan kawan-kawan di tahun 1995 mencatat bahwa kecelakaan lalu lintas sering terjadi pada jam-jam tadi.

Aktivitas yang menyenangkan akan menutupi rasa kantuk. Tetapi kondisi mengantuk sebenarnya tetap ada. Kantuk akan datang menyergap begitu aktivitas bersifat monoton atau membosankan. Mengendara di jalan lurus yang lapang merupakan aktivitas yang monoton. Jadi bukan kebosanan yang membuat mengantuk, kantuknya sudah ada hanya saja tak muncul ketika aktivitas sedang tinggi.

Kantuk Berlebihan

Tak ada yang disebut dengan kebanyakan tidur. Yang ada adalah kantuk berlebihan walau durasi tidur sudah cukup. Ini disebut dengan hipersomnia. Penderitanya tetap mengantuk walau sudah cukup tidur. Kondisi seperti ini tentu akan membahayakan bagi orang yang pekerjaannya mengendara, di menara kontrol bandar, pengawas di reaktor nuklir dan lain-lain.

Penyebab hipersomnia adalah gangguan-gangguan tidur seperti periodic limb movements in sleep, narkolepsi dan yang paling sering adalah sleep apnea atau ngorok.

Jangan remehkan mendengkur. Ia bertaruh nyawa dalam tidurnya karena episode henti nafas yang ia alami selama tidur. Penderita sleep apnea selalu mengantuk walau durasi tidurnya cukup. Tak heran jika di beberapa negara Eropa pendengkur yang belum dirawat henti nafasnya dilarang untuk berkendara.

Cegah & Atasi Mengantuk

Mengantuk bisa kita cegah. Mudah kok, kita hanya perlu meningkatkan prioritas tidur dalam jadwal sehari-hari kita.

Minuman penambah energi, kafein atau nikotin bukanlah jawaban yang tepat. Karena zat-zat ini hanyalah menunda kantuk, otak yang sudah lelah tetap kehilangan kemampuannya. Ada saatnya kita membutuhkan stimulan, dan ada caranya. Bukan asal mengantuk kita lalu menenggak kopi. Kafein akan bekerja setelah 30 menit. Jadi idealnya saat berkendara jarak jauh dan mengantuk, kita berhenti dulu. Minum kafein atau minuman penambah energi, lalu tidur selama 20-30 menit. Saat bangun, kita mendapatkan manfaat kebugaran tidur dan kesegaran kafein.

Tak ada satu zat pun di dunia yang dapat menggantikan efek restoratif tidur.

Jika tetap mengantuk setelah tidur cukup, mungkin menderita gangguan tidur yang sebabkan hipersomnia, kantuk berlebihan. Periksakan diri ke dokter dan atasi hipersomnia ini. Orang dengan hipersomnia yang sudah parah akan tetap mengantuk walau sudah konsumsi kafein. Jangan mengendara sampai dinyatakan dokter ahli aman untuk berkendara.


dr. Andreas Prasadja, RPSGT


Tanda-tanda Kantuk Membahayakan:

  • Sulit berkonsentrasi pada jalan, dan mulai mengerjapkan mata berulang kali.

  • Mulai keluar jalur.

  • Mengendara dengan menyandarkan kepala.

  • Seolah melamun, dan melupakan perjalanan selama 10-15 menit yang telah lewat.

  • Merasa lelah, mudah tersinggung dan agresif.


Mencegah Kantuk:

  • Cukupi kebutuhan tidur setiap hari (7-9 jam sehari).

  • Tak perlu terburu-buru di jalan.

  • Untuk perjalanan jarak jauh, usahakan ada teman untuk diajak berbincang atau bahkan bergantian.

  • Istirahat setiap 2 jam.

  • Jika mengantuk, berhenti sejenak, minum kopi atau minuman penambah energi, lalu tidur. Setelah bangun baru lanjutkan perjalanan.

  • Kantuk berlebihan dan mendengkur? Segera periksakan diri.



 
Mengatasi Mendengkur Perbaiki Kemampuan Otak
01.05.13 (1:47 pm)   [edit]

Mendengkur telah diketahui menjadi tanda dari sleep apnea atau henti nafas saat tidur. Penelitian yang dipublikasikan pada jurnal kedokteran SLEEP ungkapkan efek pengobatan ngorok pada kemampuan kognitif dan mental manusia.

Sleep Apnea

Mendengkur sering kali diselingi oleh henti nafas saat tidur. Henti nafas terjadi akibat saluran nafas yang menyempit saat tidur. Akibatnya, walau gerak nafas masih ada, udara tak ada yag bisa masuk ataupun keluar. Biasanya penderita akan tampak sesak dalam tidurnya.

Akibat sesak, mekanisme pengaman tubuh akan membangunkan otak sejenak tanpa terjaga. Lalu diikuti dengan episode seolah tersedak atau batuk-batuk. Walau terbangun-bangun sepanjang malam, penderita tak menyadari. Ia hanya merasa bangun tak segar walau tidur sudah cukup.

Efek lain dari henti nafas saat tidur tentu berkurangnya kadar oksigen dalam darah. Kadar oksigen dan karbondioksian terus naik dan turun selama tidur. Kadang kala bahkan sampai membahayakan nyawa.

Dengkur Rusak Otak

Sleep apnea telah diketahui menyebabkan hipertensi, diabetes, penyakit jantung hingga stroke dan kematian. Namun mendengkur juga mengganggu kemampuan otak manusia.

Kemampuan kognitif-mental dan emosional penderita sleep apnea jelas terganggu. Kantuk berlebihan yang dialami jelas menurunkan konsentrasi, ketajaman analisa, daya ingat dan ketelitian. Emosi pun turut terganggu. Bayangkan saja, misalkan diri kita hanya tidur 2-3 jam di malam hari, bagaimana rasanya di pagi hari? Begitu juga yang dirasakan penderita sleep apnea setiap hari.

Dua penelitian di tahun 2008 dan 2009 sudah membuktikan lewat pencitraan otak bagaimana mendengkur merusak beberapa bagian otak. Terutama bagian-bagian yang bertanggung jawab pada kemampuan pengambilan keputusan, daya ingat dan emosi.

Penelitian selanjutnya dengan MRI juga buktikan bahwa wanita yang mendengkur mengalami kerusakan lebih parah dibanding pria. Efeknya pada kecenderungan depresi dan kecemasan juga didapati lebih tinggi dibandingkan pria.

Efek Perawatan

Kelompok peneliti dari Stanford menjalankan the Apnea Positive Pressure Long-term Efficacy Study (APPLES) yang ambisius. Penelitian yang dipimpin Clete Kushida ini ingin melihat efek perawatan sleep apnea dalam jangka panjang. Selama 6 bulan 1098 peserta diikuti dan diteliti.

Pendengkur menjalani pemeriksaan di laboratorium tidur. Yang terdiagnosa positif alami henti nafas saat tidur diberikan perawatan dengan gunakan continuous positive airway pressure (CPAP). CPAP adalah sebuah alat yang dihubungkan ke masker hidung pendengkur untuk mengatasi henti nafasnya. Suara dengkuran otomatis juga hilang dengan gunakan CPAP ini.

Setelah gunakan CPAP selama 2 bulan dan 6 bulan, para pasien ini diperiksa kemampuan kognitif-mental nya. Yang dites adalah kemampuan konsentrasi, kemampuan belajar dan daya ingat.

Hasilnya CPAP secara obyektif maupun subyektif, mengurangi rasa kantuk berlebihan yang dikeluhkan pendengkur.

Kemampuan untuk mengambil keputusan dan fungsi-fungsi lobus frontal otak didapati membaik setelah penggunaan CPAP selama 2 bulan. Sedangkan kemampuan konsentrasi dan belajar didapati tak mengalami perubahan setelah 6 bulan.

Tim peneliti menyimpulkan, terdapat hubungan yang kompleks antara sleep apnea dan kemampuan kognitif-mental. Tak banyak perbaikan yang ditemukan sekali bagian-bagian tertentu otak sudah alami gangguan. Untuk itu para ahli menekankan pentingnya penanganan mendengkur sesegera mungkin sebagai pencegahan kerusakan lebih lanjut.

dr. Andreas Prasadja, RPSGT



 
Terjaga Tengah Malam Disebabkan Gangguan Nafas Tidur
12.18.12 (10:46 am)   [edit]
Sebuah penelitian baru yang dilakukan oleh sebuah tim di Albuquerque, New Mexico memberikan prespektif baru tentang insomnia kronis. Penelitian yang sederhana dan masih dalam skala kecil ini mencoba untuk melihat secara obyektif kenapa penderita insomnia kronis sering terjaga di malam hari. Para peneliti mengumpulkan 20 orang penderita insomnia kronis untuk direkam tidurnya menggunakan polisomnografi (PSG) di laboratorium tidur. Hasilnya ternyata mengejutkan banyak ahli, 90% penyebab pasien terjaga adalah gangguan nafas saat tidur, sleep apnea! Padahal secara subyektif, para peserta penelitian menyatakan penyebab mereka terjaga adalah 50% tak tahu penyebabnya terjaga, 45% karena mimpi buruk, 35% karena dorongan untuk kencing, 20% karena gangguan lingkungan tidur dan 15% akibat rasa sakit. Tak satu pun peserta menduga dirinya terjaga akibat gangguan nafas. Bahkan 11 dari 20 peserta penelitian dinyatakan positif menderita sleep apnea. Padahal, sebelum penelitian para peserta sudah disaring. Jika menunjukkan gejala sleep apnea, seperti mendengkur atau kantuk berlebihan, peserta akan dicoret dari keikutsertaannya. Tak satu pun peserta yang mendengkur. Keluhan penderita insomnia bisa dikatakan berlawanan dengan penderita sleep apnea. Jika penderita sleep apnea mendengkur dan terus mengantuk, penderita insomnia justru mengeluhkan kesulitan memulai atau mempertahankan tidur. Penderita insomnia dengan kesulitan mempertahankan tidur, mudah terbangun di tengah malam dan biasanya sulit untuk tidur kembali. Sleep apnea merupakan gangguan nafas saat tidur yang menyebabkan penderitanya terbangun (arousal) akibat sesak. Penderita terbangun tanpa terjaga, hingga ia tak ingat terbangun berulang kali sepanjang malam. Akibat proses tidur yang terpotong-potong, penderita sleep apnea bangun tak segar dan terus mengantuk sepanjang hari. Para ahli menghipotesakan, keterjagaan di tengah malam berhubungan dengan kondisi hyperarousal pada penderita insomnia. Hyperarousal, untuk mudahnya diartikan sebagai kondisi terlalu tegang untuk tidur, akibatnya penderita mudah sekali terjaga. Diduga, episode bangun singkat yang disebabkan sleep apnea memicu penderita insomnia terjaga. Sayang penderita tak menyadari penyebabnya terjaga. Penderita hanya tahu ia terjaga. Selama ini, perawatan insomnia diarahkan pada hyperarousal. Lewat perawatan perilaku kognitif (cognitive behavior therapy for insomnia/CBTi) pasien diajarkan untuk mengenali tidurnya dan mengurangi ketegangannya. Misalkan dengan mengatur jadwal tidur, ritual persiapan tidur dan mengatur higiene tidur yang baik. Dengan sendirinya penderita jadi tak mudah terjaga. Jika sampai terjaga pun penderita insomnia akan mudah kembali tidur. Namun hingga kini penyebab keterjagaannya sendiri tak pernah jadi perhatian. Fokus perawatan diutamakan agar penderita dapat mudah kembali tidur. Penelitian ini telah memberikan kemungkinan baru dalam perawatan insomnia kronis. Jika selama ini perawatan insomnia kronis adalah dengan CBTi, cognitive behavior therapy for insomnia dan medikasi obat-obatan, dimasa depan ditambahkan juga dengan pemeriksaan dan perawatan sleep apnea. Penelitian- penelitian di masa depan diharapkan akan lebih mencerahkan. Bagi klinisi di praktek sehari-hari penelitian ini memberikan harapan baru untuk merawat pasien dengan insomnia kronis. Pemeriksaan tidur bisa memberikan petunjuk tentang penyebab penderita terjaga dan merawatnya.

 
Mendengkur dan Diabetes Sama Merusak Pembuluh Darah
12.12.12 (12:13 pm)   [edit]

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa orang yang ngorok dalam tidur mungkin sekali mengalami kerusakan pembuluh darah arteri, sama seperti yang ditemukan pada penderita diabetes. Tapi bukan sembarang mendengkur, karena suaranya sendiri tak mengganggu kesehatan. Henti nafas saat tidur atau sleep apnea yang menyertai suara dengkuran yang menjadi masalah.

Sleep Apnea

Gangguan nafas saat tidur ini memerupakan salah satu penyebab berbagai penyakit jantung dan pembuluh darah. Diantara suara dengkur, saluran nafas penderita sleep apnea bisa tertutup berulang kali hingga tak ada udara yang bisa masuk atau keluar sistem tubuh. Akibatnya oksigen dalam tubuh turun dan naik secara periodik.

Penurunan kadar oksigen dan peningkatan aktivitas simpatis memicu reaksi berantai yang berujung pada penurunan kesehatan jantung dan pembuluh darah. Tekanan darah yang meninggi merupakan akibat sleep apnea yang paling sering ditemukan. Ya, mendengkur berakibat buruk bagi kesehatan seseorang.

Sementara diabetes telah lama diketahui mempunyai resiko tinggi untuk menderita penyakit-penyakit jantung dan pembuluh darah. Diabetes sendiri kini didapati berhubungan langsung dengan ngorok dan sleep apnea. Penelitian ini ingin membandingkan efek buruk mendengkur dan diabetes, terhadap kesehatan jantung dan pembuluh darah.

Penelitian

Kelompok peneliti dari the Carol Davila University and Pharmacy, Bucharest, Rumania membandingkan kondisi pembuluh darah arteri pasien yang mendengkur dan terdiagnosa sleep apnea, dengan penderita diabetes.

Para ahli mengumpulkan 20 orang penderita sleep apnea tanpa diabetes, 20 orang penderita diabetes dan 20 orang sehat sebagai pembanding atau kontrol.

Pengukuran lapisan intima media pada arteri karotis dilakukan dengan ultrasound. Lapisan intima dan media diukur ketebalannya, dimana semakin tebal lapisan ini berarti semakin tinggi resiko pasien terganggu kesehatan jantung-pembuluh darah dan stroke.

Hasilnya ketebalan intima media penderita sleep apnea dan diabetes memiliki kemiripan. Penderita sleep apnea 0,94 mm, penderita diabetes 0,89 mm, sedangkan yang sehat hanya 0,64 mm. Disamping itu, arteri penderita sleep apnea dan diabetes juga didapati lebih kaku dibanding orang sehat. Ini menunjukkan ada penurunan fungsi arteri yang sama pada penderita sleep apnea dan diabetes.

Fungsi endothelial juga didapati sama buruknya pada penderita sleep apnea dan diabetes. Pengukuran fungsi endothelial dilakukan untuk melihat kemampuan/kelenturan pembuluh darah melebar dan menyempit. Semakin lentur/kenyal, tentu semakin baik. Pada penderita sleep apnea, aliran dilatasi (melebar) amat terbatas, hanya 7,7%. Sementara penderita diabetes hasilnya mirip, yaitu 8,4%. Bandingkan dengan yang sehat, 19%.

Pasien dengan sleep apnea sedang dan parah memiliki arteri yang lebih kaku dibanding kontrol. Demikian juga dengan penderita diabetes. Dapat disimpulkan bahwa mendengkur dengan sleep apnea dan diabetes sama-sama memiliki resiko yang tingginuntuk menderita penyakit kardiovaskular.

Penutup

Penelitian ini tunjukan bahwa tidur ngorok tak bisa disepelekan. Mendengkur memiliki resiko menderita penyakit jantung-pembuluh darah yang sama dengan diabetes.

Jadi, jika Anda temukan sahabat atau kerabat yang mendengkur, jangan cuma ditertawakan. Peringatkan, Anda dapat menyelamatkan nyawanya!

 

dr. Andreas Prasadja, RPSGT



 
Wanita Pendengkur Alami Kerusakan Otak Lebih Parah
12.10.12 (2:10 pm)   [edit]

Mendengkur pada wanita ternyata lebih merusak otak dibandingkan pada pria. Ini diungkapkan pada penelitian yang dipublikasikan pada jurnal SLEEP edisi Desember 2012.

Sleep Apnea

Prof. William Dement, mengatakan: “Saya tak dapat menemukan satu pun gangguan kesehatan dalam dunia medis yang demikian umum diderita, sangat mengancam nyawa, mudah dikenali, dan amat mudah dirawat selain sleep apnea!”

Ngorok terlanjur dianggap wajar oleh masyarakat kita. Padahal akibatnya tak main-main. Mulai dari tekanan darah tinggi, obesitas, peningkatan gula darah, gangguan jantung, depresi, kematian dan kerusakan otak. Mungkin salah satu kegagalan evolusi manusia adalah saluran nafas yang melemas saat tidur. Akibat menyempitnya saluran nafas, aliran udara dari dan ke paru-paru jadi terganggu. Tak ada udara yang dapat lewat! Ketiadaan nafas (apnea) inilah yang menyebabkan banyak gangguan kesehatan.

Henti nafas saat tidur, sleep apnea, terjadi secara periodik sepanjang malam. Setiap kali nafas terganggu, terjadi penurunan kadar oksigen dan peningkatan tekanan dalam dada yang sebabkan kerja jantung berlipat ganda.

Setiap kali nafas tersumbat, setelah beberapa waktu penderita akan terbangun singkat seolah tersedak untuk menghirup nafas. Penderita tak akan ingat jika ia sesak dan terbangun-bangun ratusan kali sepanjang malam. Sebab episode bangun yang terjadi hanya berlangsung beberapa detik saja. Tetapi akibatnya pada kualitas hidup luar biasa. Tanpa tahu sebabnya, pendengkur selalu mengantuk. Kemampuan konsentrasi, analisa dan daya ingat menurun. Emosi pun turut naik turun dengan tajam.

Wanita Mendengkur

Penderita sleep apnea, diperkirakan sebanyak 5% dari populasi. Jenis kelamin apa pun, usia berapa pun, kurus atau gemuk bisa saja mendengkur dan menderita sleep apnea.

Banyak sudah penelitian di bidang mendengkur ini. Kebanyakan meneliti efeknya pada penyakit serius seperti hipertensi, penyakit jantung, diabetes dan stroke. Banyak juga penelitian yang melihat berbagai pengaruh ngorok pada kategori tertentu, misalkan pada kehamilan, anak-anak, pria dewasa, ataupun wanita.

Ya, wanita pun mendengkur! Wanita yang menderita sleep apnea memang tak sebanyak pria. Diperkirakan pendengkur wanita hanyalah separuh dari pria. Tetapi karakteristiknya berbeda. Misalkan derajat keparahan yang dilihat dari indeks henti nafas, pria cenderung lebih parah dibanding wanita. Akibat pada kesehatan jantung dan pembuluh darah pun tampaknya lebih parah pada pria. Namun, efek psikologis sleep apnea lebih nyata pada wanita, yaitu depresi dan kecemasan.

Ngorok Merusak Otak

Sekelompok peneliti di UCLA mempublikasikan penelitian mereka pada jurnal SLEEP 2008 yang menunjukkan adanya kerusakan bagian-bagian tertentu otak pada penderita sleep apnea. Dengan menggunakan alat pencitraan otak, para peneliti menemukan bahwa pendengkur dengan sleep apnea mengalami kerusakan massa putih di beberapa bagian otak yang mengatur ingatan dan mood. Massa putih adalah serabut otak yang diliputi oleh myelin yang berwarna putih.

Kelompok peneliti ini juga menerbitkan publikasi lain di Neuroscience Letters pada tahun yang sama. Deitmukan bahwa badan mamilari orang yang ngorok menalami perubahan. Badan mamilari adalah salah satu bagian dari sistem limbik yang berperan pada fungsi-fungsi kognitif dan emosi seseorang. Penurunan volume badan mamilari tersebut diduga kuat terjadi sebagai efek menurunnya kadar oksigen saat tidur.

Publikasi lain pada Journal of Sleep Research tahun 2009 menyatakan bahwa sleep apnea ternyata merusak otak secara penelitian. Tim peneliti dari Perancis itu, melakukan pencitraan otak pada 16 orang yang mendengkur dan baru didiagnosa menderita sleep apnea. Hasilnya, mereka menemukan kerusakan massa abu-abu di berbagai bagian otak. Ini juga menjelaskan kenapa pendengkur mengalami penurunan konsentrasi dan daya ingat.

Kerusakan Otak Pada Wanita

Penelitian terbaru yang dimuat dalam jurnal SLEEP Desember 2012 mencoba melihat efek kerusakan otak ini pada wanita yang mendengkur. Bisa dikatakan, ini adalah penelitian pertama yang mencoba melihat efek mendengkur pada wanita. Penelitian lain semua melihat efek kerusakan otak pada pria atau pada pria dan wanita sekaligus. Mempertimbangkan adanya perbedaan efek ngorok, sleep apnea pada wanita dibanding pria, para ahli ingin melihat perbedaan kerusakan otak juga berdasarkan jenis kelamin.

Mereka pun menilai massa putih pada syaraf otak dan membandingkannya antara penderita yang mendengkur dan tidak, serta terutama pada pria dan wanita.

Para peneliti mengamati 10 orang pendengkur wanita dan 20 pendengkur pria yang baru saja terdiagnosa menderita sleep apnea di UCLA sleep laboratory, bersama dengan 20 wanita dan 30 pria sebagai kontrol. Selain gangguan nafas saat tidur, subyek juga dinilai kondisi kantuk dan psikologisnya dengan menggunakan kuesioner. Terakhir, dilakukan pencitraan otak dengan menggunakan MRI.

Walau wanita yang mendengkur lebih jarang dibanding pria, pengaruh buruknya tampak lebih berat pada wanita. Kerusakan otak akibat sleep apnea ternyata lebih parah pada wanita dibanding pada pria dengan kondisi yang sama. Area frontal otak wanita penderita sleep apnea mengalami kerusakan. Padahal area ini penting untuk fungsi pengaturan mood dan pengambilan keputusan. Penilaian psikologis pada pendengkur wanita juga tunjukkan tingkat depresi dan kecemasan yang lebih tinggi.

Sementara para ahli berhipotesa bahwa kerusakan otak terjadi sebagai akibat dari berkurangnya kadar oksigen saat tidur. Namun kemungkinan lain juga harus dipertimbangkan. Misalkan depresi dan kecemasan yang meningkatkan aktivitas simpatis dan sel-sel inflamasi hingga merusak syaraf, atau justru kerusakan syaraf yang mendorong peningkatan depresi dan kecemasan pada wanita pendengkur. Masih banyak yang harus diteliti lebih lanjut.

Apa yang Bisa Kita Pelajari?

Jelas kerusakan otak merupakan salah satu akibat dari mendengkur dengan henti nafas saat tidur. Tetapi dari penelitian terbaru tampak bahwa efek sleep apnea pada kerusakan otak wanita ternyata lebih parah dibandingkan pada pria. Ini tunjukkan pada para dokter agar tak meremehkan dengkuran wanita. Wanita dengan keluhan cepat lelah, mengantuk, depresi dan mendengkur harus mendapatkan prioritas perawatan.

Pemeriksaan tidur sebagai alat diagnosa utama untuk ketahui bahaya tidaknya suatu dengkuran harus dilakukan sebelum melakukan perawatan. Derajat keparahan henti nafas pun harus dihitung lewat pemeriksaan yang sama.

Perawatan, baik lewat alat bantu gigi, CPAP atau pembedahan dapat dipertimbangkan tergantung kondisi setiap pasien. Sementara ini perawatan dengan continuous positive airway pressure (CPAP) menjadi pilihan utama. Penggunaan CPAP telah terbukti dapat menurunkan tekanan darah dan memperbaiki kondisi jantung serta kontrol gula darah.

Sayangnya kerusakan otak akibat sleep apnea bersifat permanen dan tak dapat dikembalikan walau sleep apnea dirawat. CPAP hanya dapat mencegah kerusakan lebih lanjut. Satu hal lagi yang mendorong agar perawatan sleep apnea harus dilakukan sesegera mungkin.

Mendengkur bukan lagi bahan tertawaan. Peringatkan sahabat atau kerabat yang mendengkur. Anda menyelamatkannya!


dr. Andreas Prasadja, RPSGT



 
Ngorok Sekilas Sejarah dan Pengalaman Klinis
12.03.12 (3:04 pm)   [edit]

Saya teringat di tahun 2005 ketika awal mulai berpraktik di sleep disorder clinic, ada seorang pasien yang amat khas menderita sleep apnea. Sebut saja namanya Bpk. Arman.

Bpk. Arman datang mengeluhkan rasa lelah dan mengantuk sepanjang hari. Ia juga menekankan bahwa ia bukan seorang pemalas. Bahkan ia seorang pekerja keras. Hingga 10 tahun yang lalu ia termasuk orang yang workaholic. Karenanya ia dapat mencapai jabatan tinggi di usianya yang maih terbilang muda. Tetapi selama 10 tahun belakangan, perlahan ia mulai merasa lelah berkepanjangan. Semula ia abaikan gangguan ini. Tetapi lama kelamaan kelihatannya semakin berat hingga mempengaruhi performa kerjanya.

Bertahun-tahun ia berkeliling “berbelanja” dokter. Berbagai spesialis ia kunjungi, hingga perlahan kesehatannya mulai memburuk. Tekanan darah meningkat, sakit kepala kerap mendera dan ia pun semakin sulit berkonsentrasi. Pada suatu ketika ia bahkan harus menanggung malu karena tertidur di tengah rapat penting.

Saat pertama bertemu, ia sudah sampai pada titik akan menyerah. Dengan jujur ia ceritakan bagaimana kehidupan perkawinannya meretak akibat sifatnya yang menurut istrinya tak punya motivasi dan tak bersemangat. Perusahaannya pun mulai meminggirkan jabatannya.

Dengan beberapa pertanyaan saja, sudah dapat dipastikan penyakit yang dideritanya. Tetapi dibutuhkan pemeriksaan di laboratorium tidur untuk tegakkan diagnosa. Ya, Bpk. Arman mendengkur dalam tidur dan ia menderita sleep apnea.

Sekilas Sejarah

Sebenarnya gangguan tidur ini sudah ada sejak lama. Sedihnya, di era kedokteran molekuler ini, satu penyakit yang demikian luas diderita, dan demikian berbahayanya seolah luput dari pengamatan dokter.

Di tahun 1956, sekelompok ahli paru di Amerika meneliti tentang adanya pasien yang amat gemuk dan selalu mengantuk. Mereka menyebutnya dengan sebutan “Pickwickian Syndrome” mengambil tokoh Joe si anak gendut yang dituliskan oleh Charles Dickens yang terbit pada koran Pickwick. Joe digambarkan sebagai anak gendut, pemalas yang terus mengantuk, bahkan tertidur pada saat berdiri. Namun sayangnya kelompok peneliti ini hanya memeriksa pada saat subyek terjaga. Mereka menghubungkan kantuk berlebihan dengan kadar karbondioksida darah yang tinggi. Andai mereka mengamati tidur para subyek mereka akan melakukan penemuan luar biasa!

Baru di tahun 1965, ada dua kelompok peneliti Eropa yang menyatakan bahwa penderita Pickwickian Syndrome mengalami henti nafas secara periodik saat tidur. Sayang penelitian ini kurang mendapat perhatian, sebabnya sederhana, dunia kedokteran tak menganggap penting segala sesuatu yang berkaitan dengan tidur.

Tahun 1970, Prof. William Dement yang kini dikenal sebagai Bpk. Kedokteran Tidur, diminta untuk memeriksa pasien-pasien Pickwick. Penelitiannya mengkonfirmasi penelitian-penelitian sebelumnya tentang henti nafas saat tidur. Tapi istilah sleep apnea baru dikenalkan pada dunia setelah Christian Guilleminault bergabung dalam penelitian Dement di tahun 1972.

Jika sebelumnya Dement beranggapan bahwa ngorok dan sleep apnea disebabkan oleh obesitas, Guilleminault mengusulkan agar pemeriksaan tidur mulai memeriksa juga fungsi-fungsi pernafasan dan jantung pasien, dan merubah wajah kedokteran tidur secara drastis. Dahulu semua pasien dengan kantuk berlebihan dianggap sebagai narkolepsi. Tapi Dement dan Guillemanault menyadari bahwa mungkin juga banyak pasien yang semula dikira menderita narkolepsi ternyata menderita sleep apnea. Benar saja, pemeriksaan tidur pada pasien-pasien berikutnya ternyata menunjukkan bahwa kebanyakan dari mereka menderita sleep apnea.

Hingga saat ini, rumusan pemeriksaan di laboratorium tidur, masih mengikuti apa-apa yang diuraikan oleh Dement dan Guilleminault saat itu.

Sleep Apnea

Henti nafas saat tidur dapat terjadi berulang kali dalam tidur. Saluran nafas yang sempit, pada saat tidur akan melemas dan kolaps. Akibatnya penderita seolah tercekik tak dapat bernafas. Dalam sesak, tubuh akan membangunkan otak sejenak agar penderita terbangun dan bernafas, lalu tidur dan mendengkur lagi.

Walau ia berulang kali bangun, tapi di pagi hari penderita sleep apnea sama sekali tak ingat. Ia hanya terbangun sejenak tanpa terjaga. Sementara kadar oksigen naik turun sepanjang malam.

Setiap episode henti nafas bisa bervariasi, mulai dari 10 detik, 20 detik hingga satu menit lebih. Kadar oksigen pun turun dan naik sepanjang malam. Bayangkan juga kerja jantung yang memberat pada saat tidur. Ya, penderita sleep apnea bertaruh nyawa dalam tidurnya.

Perawatan

Tetapi perawatan penderita sleep apnea masih belum ada yang memuaskan. Saat itu penderita sleep apnea hanya dirawat secara simptomatis. Mereka hanya diberikan obat-obatan untuk mengatasi kantuk. Henti nafas sendiri tetap terjadi, dan penyakit-penyakit lanjutan dari sleep apnea pun tak dapat dicegah.

Dalam buku yang ditulisnya, Dement menceritakan pengalamannya merawat penderita sleep apnea. Ia pernah menemui penderita sleep apnea berusia 13 tahun yang telah mendengkur bertahun-tahun. Saat dirujuk, anak tersebut dalam kondisi menderita tekanan darah tinggi yang parah dan tidak dapat diatasi dengan obat-obatan. Setelah menjalani pemeriksaan, Dement menyarankan agar dilakukan tracheostomy, sebuah tindakan untuk membuat saluran nafas baru dengan membuat lubang di leher. Tindakan yang amat berani. Namun setelah nafas si anak berjalan lancar selama tidur, hipertensi yang dideritanya hilang begitu saja. Tetapi sayang, kondisi kurang oksigen selama tidur yang dialaminya bertahun-tahun telah menyebabkan kerusakan otak. Pemeriksaan kecerdasan dan kemampuan kognitif menunjukkan hasil yang buruk.

Sebagai alternatif tracheostomy, seorang dokter ahli paru Australia, Colin Sullivan di tahun 1981 memperkenalkan sebuah mesin bernama CPAP (continuous positive airway pressure). Dengan cerdas ia memodifikasi alat penyedot debu agar meniupkan tekanan. Lewat masker yang hanya menutupi hidung, udara bertekanan ditiupkan untuk mengganjal saluran nafas atas agar tak menutup.

Perawatan dengan CPAP dinilai yang paling efektif dan non infasif saat ini hingga dianggap sebagai baku emas perawatan. Sementara bentuk-bentuk perawatan lain juga diperkenalkan seperti beberapa tindakan bedah atau penggunaan dental appliances

Penderita Sleep Apnea

Kembali pada Bpk. Arman. Ia pun menjalani pemeriksaan tidur di laboratorium tidur. Alat yang digunakan bernama polisomnografi yang berasal dari bahasa Yunani poli (polus) berarti beberapa atau banyak, bahasa Latin somnus yang artinya tidur dan grafi dari grafein, bahasa Yunani untuk tulisan atau rekaman. Polisomnografi (PSG) berarti perekaman beberapa/banyak fungsi tubuh saat tidur.

Jangan bayangkan laboratorium tidur sebagai tempat yang menyeramkan. Syarat utama pemeriksaan tidur adalah kenyamanan.

Pemeriksaan tidur Bpk. Arman, terdapat episode-episode menegangkan. Dalam tidur nafasnya terhenti-henti. Sekali waktu ada henti nafas yang mencapai seratusan detik. Kadar oksigen dalam darahnya pun menurun hingga 60an persen. Padahal kadar oksigen kita saat terjaga adalah 98%-100%. Kerja jantung pun beberapa kali tampak berat. Suatu kali denyut nadinya melambat hingga 30an kali permenit.

Otaknya pun berulang kali terbangun akibat seringnya henti nafas. Istilah yang diperkenalkan oleh Dement dan Guilleminault untuk ukur derajat keparahan sleep apnea adalah AHI (apnea-hypopnea index) atau indeks henti nafas tidur. AHI Bpk. Arman adalah 74x/jam. Artinya, rata-rata ia mengalami henti nafas 74 kali setiap jamnya.

AHI 0-5x/jam adalah normal, 6-15x/jam ringan, 16-30x/jam sedang dan lebih dari 30x/jam sudah tergolong berat. Bpk. Arman termasuk kategori berat dan membutuhkan perawatan cepat.

Segera, Bpk. Arman dan keluarga menjalani program pemberian CPAP. Keluarga diminta untuk juga belajar memahami apa yang dialami Bpk. Arman. Program pemberian CPAP termasuk didalamnya pengenalan masker, pengenalan alat dan pengukuran tekanan yang tepat.

Selang beberapa waktu, ia mengabarkan perkembangannya. Pagi hari setelah ia menggunakan CPAP untuk pertama kali, ia amat terkejut. Tak pernah ia bangun dengan rasa segar bugar seperti ini. Berangsur, daya ingat, konsentrasi dan kebugarannya kembali. Ia juga melaporkan kini ia dapat dengan cepat mengambil keputusan dengan tepat. Perlahan tekanan darahnya pun kembali terkontrol dengan baik. Dada yang semula terasa pegal dan sakit saat bangun tidur tak ada lagi. Frekuensi bangun untuk kencing yang sebelumnya 2-3x tiap malam juga hilang. Karir dan kehidupan rumah tangganya kembali bergairah. Dalam kata-katanya: “seperti terlahir kembali!”

dr. Andreas Prasadja, RPSGT



 
blog-indonesia.com
Google