Trend kesehatan modern kini juga memperhatikan tidur sebagai salah satu pilar penopang kesehatan selain olah raga dan keseimbangan nutrisi.
Di pagi hari kita merasakan manfaat dari tidur yang menyegarkan dan memberi energi baru untuk menghadapi hari yang akan kita jelang. Ini disebabkan oleh kortisol yang dihasilkan pada saat tidur. Kortisol dihasilkan menjelang pagi saat proses tidur mendekati akhir. Dalam tidur terjadi juga pembaruan dan perbaikan sel-sel yang rusak yang dipicu oleh Growth Hormone yang dihasilkan tubuh pada tahap tidur dalam.
Kurang tidur atau proses tidur yang terganggu jelas merugikan kesehatan dan performa kita di siang hari. Mulai dari kurangnya motivasi, penurunan kemampuan konsentrasi dan daya ingat, hingga buruknya suasana hati. Kondisi kurang tidur juga menurunkan daya tahan tubuh seseorang. Belum lagi adanya beberapa penelitian belakangan ini yang membuktikan hubungan kurang tidur dengan tekanan darah tinggi dan resiko menderita diabetes. Tetapi efek kurang tidur yang paling nyata terlihat adalah pada kulit yang tampak kusam dan tak segar.
Nikotin
Dalam bidang kesehatan tidur, nikotin digolongkan dalam kelompok zat stimulan. Stimulan merupakan zat yang memberikan efek menyegarkan seperti halnya kafein dan coklat. Namun demikian, ada juga sebagian efek dari nikotin yang menenangkan sehingga perokok dapat merasa tenang dan santai saat menghirup asapnya.
Namun efek stimulan dari nikotin ternyata lebih kuat, ini dibuktikan dengan penelitian Punjabi dan kawan-kawan di tahun 2006 yang meneliti efek nikotin pada pola tidur seseorang. Perokok ternyata membutuhkan waktu lebih lama untuk tertidur dibanding orang yang tidak merokok. Mereka jadi sulit tidur.
Kecanduan Rokok
Pada penelitian selanjutnya yang dipublikasikan pada Februari 2008, Punjabi dan kawan-kawan lebih menyoroti efek kecanduan rokok pada pola tidur. Secara teoritis, nikotin akan hilang dari otak dalam waktu 30 menit. Tetapi reseptor di otak seorang pecandu seolah ‘menagih’ nikotin lagi, sehingga mengganggu proses tidur.
Pada pecandu akut yang baru mulai kecanduan rokok, selain lebih sulit tidur, mereka juga dapat terbangun oleh keinginan kuat untuk merokok setelah tidur kira-kira 2 jam. Setelah merokok mereka akan sulit untuk tidur kembali karena efek stimulan dari nikotin. Saat tidur, proses ini akan berulang dan ia terbangun lagi untuk merokok.
Sedangkan pada tahap lanjut, perokok mengalami gangguan kualitas tidur yang dipicu oleh efek ‘menagih’ dari kecanduan nikotin. Dari perekaman gelombang otak di laboratorium tidur, didapatkan bahwa perokok lebih banyak tidur ringan dibandingkan tidur dalam; terutama pada jam-jam awal tidur. Akibatnya, dari penelitian tersebut didapatkan, jumlah orang yang melaporkan rasa tak segar atau masih mengantuk saat bangun tidur pada perokok adalah 4 kali lipat dibandingkan orang yang tidak merokok.
Menghentikan Kecanduan
Salah satu penyebab pecandu rokok sulit menghentikan kebiasaan merokok adalah gangguan tidur yang dipicu oleh efek ‘menagih’ yang dialami. Ini pun menjadi masalah baru ketika seseorang mencoba beberapa macam plester maupun obat-obatan pengganti nikotin.
Beberapa obat pengganti nikotin mempunyai efek stimulan yang sama dengan nikotin, sehingga menyebabkan penderita sulit tidur jika diminum di malam hari. Sedangkan jenis obat yang lainnya juga menyebabkan efek kecanduan yang sama seperti nikotin.
Untuk itu, strategi penghentian rokok perlu juga memperhatikan waktu dan jam biologis seseorang.
#####
Kita semua sudah memahami berbagai kerugian dari kebiasaan merokok. Mulai dari gangguan jantung dan pembuluh darah hingga gangguan kehamilan pada wanita. Kini dengan ditambahnya pengetahuan dari sisi kedokteran tidur, bertambah lagi alasan untuk menghentikan atau tidak memulai kebiasaan buruk yang bernama merokok.
Tanpa sengaja, dokter muda ini mendalami masalah gangguan tidur. Setelah nyemplung, ia justru makin ketagihan. Kini ia jadi orang pertama di Indonesia yang mendalami masalah ini.
Kenapa Anda tertarik mendalami bidang yang masih langka ini? Sebenarnya ini kebetulan yang akhirnya jadi ketagihan. Jadi tak sengaja sekarang jadi "dokter tidur".
Kok bisa begitu? Awalnya dari kebijakan Rumah Sakit Mitra Kemayoran (tempat Andreas bekerja) yang punya visi dan misi ingin menjadi rumah sakit yang paling maju. Maka tahun 2002 dibukalah Sleep Laboratory. Kalau di luar negeri, kan, soal sleep medical ini sangat maju. Tapi dalam perkembangannya kurang baik.
Penyebabnya? Mungkin karena tenaga medisnya kurang menguasai. Akhirnya pemilik RS menawarkan ke saya untuk belajar sleep medical.
Wah, tawaran menarik, dong. Semula saya agak pesimis. Opo sing dipelajari (apa yang dipelajari, Red) sleep medical itu. Apa menariknya dan gunanya. Tapi ya sudahlah, diterima saja. Akhirnya saya belajar dasar-dasar sleep medical ke Singapura. Ternyata sleep medical itu luar biasa penting dan menarik.
Pandangan Anda soal ilmu itu jadi terbuka ? Benar... Saya jadi terbuka. Bahkan sepulang dari Singapura saya malah minta ke pemilik RS, "Pak...tolong saya disekolahin lagi." Akhirnya, saya mendalami Sleep Medicine and Technology di Universitas Sydney, Australia. Tepatnya sejak 28 November - 9 Desember 2005. Setelah itu saya ke Amerika untuk ujian agar diakui secara internasional. (Setelah lulus dr. Andreas yang semula bekerja sebagai dokter umum di RS Mitra Kemayoran berhak menyandang title RPSGT - Registered Polysomnographic Technologist.)
Ada dokter lain di Indonesia yang juga belajar sleep technology? Tidak ada. Kebetulan saya yang pertama di Indonesia. Di Malaysia saja belum ada dokter yang belajar soal ini. Anehnya, banyak pejabat Indonesia yang berobat karena gangguan tidur itu ke Malaysia.
Berarti belum tersosialisasikan, dong? Benar. Memang tugas saya untuk menyosialisasikan. (Ada beragam cara yang dilakukan Andreas menyosialisasikan soal gangguan tidur ini. Salah satunya lewat sebuah blog (http://sleepclinicjakart a.tbl...) miliknya yang membahas informasi seputar kesehatan tidur. Andreas juga punya cita-cita menerbitkan buku soal kesehatan tidur yang bisa dibaca masyarakat umum.)
Apa sih yang Anda dapat dari belajar sleep technology? Sangat menarik mendalami kesehatan tidur. Semula saya beranggapan, gangguan tidur hanya sebatas insomnia. Dan penanganannya mau diapain lagi ? Paling diberi obat tidur atau ditenang-tenangin. Tapi ternyata gangguan tidur itu banyak sekali. Ada ngorok, sleep talking, sleep walking, narcolepsi dan sebagainya. Dan semua itu tidak saya dapatkan selama kuliah di Fakultas Kedokteran.
Sebenarnya yang paling berbahaya itu apa? Ngorok alias mendengkur.
Lho, ada yang menganggap, ngorok itu pertanda tidurnya pulas? Memang ngorok itu ada yang bahaya ada yang tidak.Dan selama ini banyak yang menganggap kalau ngorok itu biasa, bukan hal yang berbahaya.Jangankan di sini, di Amerika ada penelitian bahwa 1 banding 5 orang menderita sleep apnea atau berhentinya napas saat tidur karena ngorok. Dan celakanya 80 persennya tidak terdeteksi. Di negara maju saja kondisinya seperti itu, apalagi di Indonesia. Jangankan masyarakat umum, dokter juga banyak yang enggak paham. Itu yang membuat banyak gejala OSA tidak terdeteksi. (Ini dibuktikan saat Andreas akan mengadakan senimar di sebuah RS. Ketika ia mengajukan tema OSA - Obstructive Sleep Apnea atau berhenti napas saat tidur - panitianya yang juga dokter masih menanyakan apa itu OSA.)
Akibatnya apa jika tidak terdeteksi? Penanganan yang salah. Misalnya orang yang ngantukan dan cepat capek mungkin kalau itu gejala dari OSA. Tapi orang itu mengira mengidap gula darah.
Bagaimana sih untuk mengetahui apakah ngorok itu bahaya atau tidak? Saya akan melakukan wawancara dulu. Digali apa keluhannya. Setelah itu baru periksa. Nah, dalam pemeriksaan saya tak pernah menggunakan stetoskop yang selalu menjadi simbol seorang dokter.
Apa, dong, alatnya? Laboratorium tidur. Pasien semalam harus menginap di laboratorium tidur. (Laboratorium ini letaknya di seberang ruang praktek Andreas. Kamar yang kira-kira ukuran 3 x 6 meter ini berisi sebuah tempat tidur, sofa dan beragam alat untuk mendeteksi "kegiatan" pasien selama tidur. Hasil rekam medik itu terhubung ke sebuah komputer).
Saat pasien tidur direkam napasnya, gelombang otaknya, jantungnya, dll. Setelah itu baru saya analisa. Seru lo, membaca hasilnya. Kalau membaca rontgent, kan, sekali liat langsung bisa dianalisa. Tapi membaca hasil rekam dari laboratorium tidur itu harus per frame. Satu frame merekam selama 30 detik. Dan saya harus membaca rekaman selama dia tidur yang paling tidak antara 6 sampai 8 jam. Tidak terbayang kan, berapa banyaknya karena terbagi dalam 30 detik. Dan itu harus dibaca satu-satu. Gelombang otaknya dulu, setelah selesai baru jantungnya, napasnya, dan seterusnya.
Perlu dokter dengan kualifikasi khusus untuk membaca hasilnya? Ya, karena alat dan software-nya juga khusus. Terapinya selain obat juga kami anjurkan pasien memakai alat bantu napas saat tidur. Alat itu berupa masker yang dihubungkan ke sebuah kotak yang bisa memompa udara saat saluran napas tersumbat.
Sebenarnya bagaimana, sih, bisa dikatakan berhenti napas saat ngorok? Gerakan napas tetap ada tapi saluran napas tersumbat. Dada tetap naik turun, sementara oksigen drop dan karbondioksida jadi naik. Memang dalam tubuh ada sensor yang mengirim perintah ke otak saat karbondioksida naik. Orang jadi terjaga dan saluran napas terbuka lagi. Tapi meski otak terjaga, orang itu tidak terbangun. Akibatnya, karena otak sering terjaga, maka menjadikan kualitas tidurnya buruk. Bangun jadi tidak segar, capek, sulit konsentrasi, masih ngantuk meski sudah tidur 8 jam, dll.
Ada efek yang lebih buruk lagi? Saat otak sering terjaga akan membuat tensi naik. Nadi jadi cepat dan bisa berakibat ke jantung. Metabolisme juga terganggu yang berakibat darah mengental. Resikonya bisa stroke dan jantung koroner.
Omong-omong, jadi dokter cita-cita dari kecil? Enggak sih. Daftar saja, eh....ternyata diterima. Akhirnya ya, dijalani saja.
Sebenarnya setelah lulus dokter, sudah punya rencana mengambil spesialis apa? Wah, belum. Tapi begitu ada kesempatan mendalami bidang ini, ya diambil saja. (Andreas adalah dokter lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Atmajaya, Jakarta tahun 2002. Suami dari Kristandi Madona, seorang psikolog yang bekerja di sebuah perusahaan swasta ini, 16 Mei mendatang tepat berusia 33 tahun. Kini ayah dari Khiara Monica ini dipercaya mengelola Sleep Disorder Clinic RS Mitra Kemayoran. Ayahnya seorang pelukis, sementara ibunya apoteker.)
Suka melukis juga? Enggak tuh. Bakat ayah tidak menurun ke saya.
Anda kalau tidur jam berapa? Jam 21.30. Saya ini anti begadang. Lain halnya kalau diajak makan, ayo saja. Prinsip saya, makan banyak olahraga secukupnya.
Olahraga apa yang biasa Anda lakukan? Dulu saya masih suka berenang. Tapi sekarang ini sudah tak punya waktu lagi. Paling hanya nyepeda ke kantor yang jaraknya hanya 5 kilo. Selain sebagai olahraga, sepeda juga sebagai hobi. (Di komunitas pehobi sepeda, Andreas tak pelit berbagi advis kesehatan lewat milis. Ia kerap memberi "pencerahan" soal kesehatan kepada teman-teman komunitasnya).
Tidak dilarang istri nyepeda ke kantor? Justru dia yang nyuruh. SUKRISNA, Tabloid NOVA http://www.tabloidnova.com/ar...;channel=profil
Jika ya… Anda mungkin menderita Obstructive Sleep Apnea (OSA)
Obstructive Sleep Apnea (henti nafas saat tidur) adalah gangguan tidur yang ditandai dengan tidur mendengkur (ngorok) dan rasa kantuk berlebih. Dengan penanganan yang tepat, OSA dapat diatasi.
Henti nafas terjadi sebagai akibat dari menyempitnya jalan nafas atas saat tidur. Akibatnya, kadar oksigen dalam darah menurun dan akan memicu otak untuk terbangun sejenak (micro arousal) tanpa terjaga. Ini akan memotong proses tidur sehingga kualitas tidur menjadi buruk. Tak heran jika penderitanya cenderung mengantuk di siang hari.
OSA adalah gangguan tidur serius yang diderita oleh 1 dari 5 orang dewasa. Joint National Committee on Prevention, Detection, Evaluation and Treatment of High Blood Pressure di tahun 2003 telah menyatakan bahwa OSA adalah salah satu penyebab hipertensi yang dapat dikenali dan dirawat. Lebih jauh lagi OSA pun dikaitkan dengan berbagai gangguan jantung, stroke dan diabetes.
Resiko OSA Bagi Kesehatan:
Satu dari tiga penderita hipertensi juga menderita OSA(1) dan 80% penderita hipertensi yang resisten terhadap pengobatan juga menderita OSA(2).
Setengah dari jumlah penderita payah jantung kongestif juga menderita OSA(3).
Penderita OSA mempunyai resiko 7 kali lebih banyak untuk terserang stroke(4).
Penderita OSA juga mempunyai resiko 7 kali lipat untuk mengalami kecelakaan lalu lintas(5).
60%-70% pasien Diabetes tipe 2 juga menderita OSA(6,7).
Sumber:1.Sjostrom et al, 20022.Logan et al, 20013.Javaheri et al, 20054.Basseti et al, 19995.Young T et al, 19976.Resnick et al, 20037.Einhom et al, 2005
Kabar baiknya adalah, dengan perawatan yang tepat dan cermat OSA dapat diatasi dengan efektif, sehingga meningkatkan kualitas hidup serta mencegah berbagai penyakit lanjutan yang mungkin diderita.
Gejala OSA
Jawablah beberapa pertanyaan berikut, untuk mengetahui kemungkinan Anda menderita OSA.
Apakah ada orang lain yang memberitahu bahwa Anda mendengkur?
Adakah yang melihat Anda seolah sesak nafas atau tercekik saat tidur?
Apakah Anda sering merasa kurang segar saat bangun tidur?
Apakah di siang hari Anda merasa mengantuk/lelah?
Apakah Anda sering sulit berkonsentrasi?
Apakah Anda menderita hipertensi dan/atau diabetes?
Jika jawabannya adalah Ya, kemungkinan Anda menderita OSA. Untuk itu, berkonsultasilah dengan dokter Anda atau segera hubungi Sleep Disorder Clinic terdekat.
Pemeriksaan
Tahapan pertama adalah dengan membicarakan masalah Anda dengan dokter, untuk mengetahui kemungkinan gangguan tidur yang diderita.
Jika perlu, Anda harus melakukan pemeriksaan Polisomnografi di laboratorium tidur.
Alternatif lain dari polisomnografi adalah dengan apnea screening yang lebih murah namun jauh kurang lengkap sehingga pada beberapa kasus akhirnya pasien harus diperiksakan lagi dengan polisomnografi lengkap.
Perawatan
Standar internasional perawatan OSA adalah dengan menggunakan nasal continuous possitive airway pressure (CPAP.) Prinsip kerjanya adalah meniupkan udara bertekanan positif untuk membuka penyempitan jalan nafas.
Penggunaannya amatlah mudah. Namun demikian penderita harus melewati tahap tertentu yang bernama CPAP trial. Tahapan ini amat penting untuk mengetahui besarnya tekanan yang diperlukan, sebaran tekanan dan juga kenyamanan pemakaian. Yang paling penting adalah evaluasi mengenai seberapa jauh keluhan pasien berkurang.
Alternatif lain adalah dengan jalan pembedahan ataupun penggunaan alat bantu yang dikenakan di dalam mulut.
Dengan berkembangnya teknologi kedokteran, beberapa prosedur THT pun dapat dilakukan pada penderita OSA. Salah satu yang termuktahir adalah dengan celon radio-frequency yang amat aman dan nyaman. Kebanyakan prosedur ini bahkan dapat dilakukan satu hari tanpa perlu rawat inap.
Semua tahapan terapi dapat dilakukan di bawah satu atap. Bahkan beberapa pasien yang memerlukan kombinasi antara tindakan THT dan penggunaan CPAP dapat dengan nyaman melakukannya di klinik gangguan tidur.
OSA dan
Kualitas Hidup
Penderita OSA selalu berada dalam kondisi kurang tidur walaupun sebenarnya telah tidur cukup lama. Ini disebabkan proses tidur yang terpotong-potong akibat periode henti nafas singkat yang terjadi setiap kali nafas terhenti.
Jika seseorang menderita OSA, ia akan mempunyai resiko mengalami kecelakaan kerja maupun lalu lintas dua kali lipat lebih besar(1). Sebuah penelitian lainnya bahkan menyatakan bahwa OSA dianggap sebagai salah satu kriteria seseorang tidak mampu bekerja(2). Tidak jarang penderita OSA tidak berani lagi mengendara akibat dianggap punya hobi ‘nabrak’.
Penderita OSA sering kali harus berusaha keras agar tetap terjaga di saat bekerja. Banyak juga penderita OSA dicap sebagai pemalas akibat rasa kantuk berlebih yang menderanya.
Sumber:1.Ulfberg et al, 20002.Sivertsen et al, 2007
OSA dan Diabetes
OSA berhubungan dengan glucose intolerance dan insulin resistance, sehingga dianggap turut berperan mengembangkan diabetes. Berkurangnya kadar oksigen dan periode bangun singkat (micro arousal) akibat sleep apnea turut menjembatani terjadinya gangguan metabolisme(1).
Sebuah penelitian oleh Resnick dan kawan-kawan di tahun 2003 menyatakan bahwa 58% dari penderita diabetes tipe dua juga menderita OSA(2).
Beberapa penelitian lain menunjukkan bahwa dengan penggunaan CPAP pada penderita OSA yang juga menderita diabetes akan mengakibatkan perbaikan sensitivitas terhadap insulin dan penurunan kadar gula darah secara berarti (3,4).
Sumber:1.Punjabi and Beamer, 20052.Resnick et al, 20033.Harsch et al, 20044.Babu et al, 2005
OSA, Hipertensi dan
Penyakit Kardiovaskuler
Berbagai penelitian telah membuktikan bahwa hipertensi berkaitan erat secara independen dengan OSA. Periode bangun singkat (micro arousal) akan meningkatkan sistem syaraf simpatis yang pada gilirannya akan meningkatkan tekanan darah. OSA juga menyebabkan jantung harus bekerja berat pada suasana rendah oksigen di saat tidur. Akibatnya penderita OSA juga rentan menderita berbagai gangguan jantung.
Lebih dari 35% penderita OSA juga menderita hipertensi. 83% penderita hipertensi juga menderita OSA(1).
80% pasien dengan hipertensi yang resisten terhadap pengobatan juga menderita OSA(2).
Penelitian lainnya menunjukkan bahwa OSA meningkatkan resiko seseorang menderita penyakit kardiovaskuler hingga lima kali lipat, terlepas dari usia, kegemukan, kebiasaan merokok maupun tekanan darahnya(3).
Dua penelitian berbeda dilakukan pada pasien OSA yang juga menderita hipertensi. Dengan menggunakan CPAP terdapat rata-rata penurunan tekanan darah sebesar 10 mmHg(4,5). Sementara Joint National Committee on Prevention, Detection, Evaluation and Treatment of High Blood Pressure di tahun 2003 menyebutkan OSA sebagai penyebab hipertensi yang utama(6).
Sumber:1.Bixler et al, 20002.Sjostrom et al, 20023.Pecker et al, 20024.Becker et al, 20035.Logan et al, 20036.Chobanian et al, 2003
OSA dan Stroke
Berbagai penelitian kini mengemukakan hubungan antara OSA dan stroke. Sebuah penelitian oleh Bassetti dan kawan-kawan menyatakan bahwa pendengkur mempunyai resiko dua kali lipat untuk terkena stroke dibanding yang tidak mendengkur(1).
OSA menyebabkan peningkatan resiko seseorang untuk menderita stroke lewat beberapa mekanisme, antara lain: hipertensi, disfungsi endotel, inflamasi dan aterosklerosis, hiperkoagulasi, aterogenesis dan trombosis(2).
Penderita stroke yang juga menderita OSA, mengalami kesulitan dalam proses pemulihan paska stroke. Dengan rasa kantuk berlebih yang disebabkan oleh OSA, penderita stroke seolah tak bertenaga dan tak mempunyai motivasi untuk melakukan latihan-latihan fisioterapi yang dibutuhkan demi pemulihan fungsi-fungsi ototnya.
Sumber:
1.Bassetti et al, 2006
2.Foster et al, 2007
Wanita Juga Menderita OSA
Sudah menjadi pandangan umum bahwa yang tidur mendengkur adalah pria. Sebenarnya tidak demikian. Gejala sleep apnea pada wanita tidaklah sejelas pada pria. Jika pria mendengkur keras dan mengeluhkan kantuk luar biasa, wanita biasanya hanya menceritakan keluhan cepat lelah, capek, tak bersemangat, merasa depresi, tekanan darah yang tinggi atau terlalu sering tidur siang.
Di usia muda, mendengkur dapat menjadi tanda dari hipertensi yang dipicu oleh kehamilan dan keterlambatan pertumbuhan janin(1). Bayi-bayi yang lahir dari ibu pendengkur lebih sering mempunyai berat badan lahir yang rendah.
Ibu hamil dapat menderita OSA sebagai akibat dari kombinasi antara penambahan berat badan dan pembengkakkan jalan nafas atas. Kebiasaan mendengkur selama kehamilan dapat dianggap sebagai tanda peningkatan tekanan darah dan peningkatan resiko pre-eklamsia(2).
Sedangkan di usia yang lebih matang, kejadian sleep apnea tiga kali lebih sering pada usia paska menopause dibanding sebelumnya(3).
Sumber:
1.Franklin et al, 2000
2.Svanborg et al, 2007
3.Bixler et al, 2001
Mendengkur pada Anak
Mendengkur pada anak juga harus diwaspadai. Periode henti nafas yang terjadi akan mengakibatkan terpotongnya proses tidur. Hanya saja, jika pada orang dewasa akan tampak sebagai kantuk berlebih, pada anak-anak, mereka justru semakin aktif untuk melawan rasa kantuknya. Gejala-gejala OSA pada anak tidak se-khas pada orang dewasa.
Gejala OSA pada anak(1,2):
Mendengkur
Tampak sesak saat tidur
Kantuk berlebih di siang hari
Bernafas lewat mulut
Pembesaran amandel dan adenoid
Gelisah saat tidur
Gangguan perilaku berupa sifat agresif, hiperaktif dan sulit berkonsentrasi.
OSA pada anak dapat mengganggu proses pertumbuhan. Pada tahap tidur dalam tubuh anak mengeluarkan hormon pertumbuhan yang penting dalam pengaturan tumbuh kembangnya(3). Proses tidur yang terpotong juga akan berakibat langsung pada kemampuan mental dan emosionalnya(4,5).
Sumber:
1.Muzumbar H dan Arens R, 2008
2.Guilleminault et al, 2004
3.Chan et al, 2004
4.Rosen et al, 2004
5.Emancipator et al, 2006
OSA dan Sosial Ekonomi
OSA berdampak amat luas, selain pada kesehatan, OSA juga berkaitan erat dengan hubungan sosial dan kondisi perekonomian seseorang. Bayangkan beban ekonomi seseorang yang harus berulang kali ke dokter atau dirawat di rumah sakit akibat hipertensi, gangguan jantung, diabetes hingga stroke yang harusnya dapat diperingan jika saja OSA-nya dirawat. Tak heran, jika asuransi di negara-negara maju memilih untuk mengganti semua biaya pemeriksaan dan perawatan OSA.
Penderita OSA, sering kali kita dapati dalam kondisi emosional yang labil hingga rentan untuk terkena depresi(1). Ini dipicu oleh ‘kondisi kurang tidur’ yang dideritanya. Sementara itu, penggunaan CPAP sebagai terapi terbukti memperbaiki status emosional dan gejala-gejala depresi yang terdapat pada penderita OSA(2).
Secara ekonomi, OSA juga amat memberatkan penderitanya. Ini disebabkan oleh berbagai penyakit yang berkaitan dengan OSA, terutama hipertensi dan penyakit-penyakit kardiovaskuler lainnya(3).
Sebuah penelitian menyatakan bahwa penderita OSA, dalam waktu 10 tahun sebelum terdiagnosa, membutuhkan berbagai pelayanan kesehatan hingga dua kali lipat dibanding yang tidak menderita OSA. Sementara, penelitian yang sama juga menunjukkan bahwa penderita OSA mengalami rawat inap di rumah sakit hingga dua kali lebih lama dibanding yang tidak. Akibatnya pasien pun harus mengeluarkan biaya hingga dua kali lipat. Sedangkan, setelah dirawat, pengeluaran untuk perawatan kesehatan berkurang hingga setengahnya(4).
Penelitian lainnya menunjukkan manfaat penggunaan CPAP pada penderita OSA. Dalam dua tahun sebelum perawatan dengan CPAP, pasien OSA memerlukan 413 hari perawatan di RS, selanjutnya ia hanya dirawat 54 hari di RS dalam dua tahun setelah menggunakan CPAP. Sementara pasien yang tidak menggunakan CPAP justru mengalami peningkatan jumlah rawat inap di RS, dari 137 hari sebelum perawatan menjadi 188 hari setelah perawatan(5).
Beberapa waktu lalu headline berbagai media menyorot tentang marahnya Presiden Yudhoyono melihat salah satu pejabat yang tertidur ditengah pengarahan yang beliau berikan. Media Indonesia, dalam editorialnya menganggap masalah mengantuk ini sebagai soal sepele yang seharusnya tidak perlu diurus oleh seorang presiden. Memang masalah kantuk bukan menjadi porsi seorang presiden untuk mengatasinya, tetapi ini sama sekali bukan soal sepele.
Kantuk disebabkan oleh kondisi kurang tidur. Kondisi kurang tidur bisa disebabkan oleh kurangnya jam tidur atau kurangnya kualitas tidur. Kurangnya waktu tidur masih bisa disiasati dengan mencukupi kebutuhan tidur. Tetapi bagaimana jika tidur sudah cukup lama, namun masih merasa mengantuk? Inilah yang dalam kedokteran tidur disebut sebagai hipersomnia atau Excessive Daytime Sleepiness (EDS.)
Hipersomnia
Hipersomnia adalah sebuah gejala gangguan tidur, dimana penderitanya merasa mengantuk walaupun sudah cukup tidur. Penderita hipersomnia biasanya mengeluhkan rasa kantuk berlebih, bangun tidur tidak segar, cepat mengantuk, sulit berkonsentrasi, cepat lelah, menurunnya daya ingat dan gangguan-gangguan lain yang jelas menurunkan produktivitas.
Gangguan tidur yang menyebabkan hipersomnia adalah narkolepsi, sindroma tungkai gelisah dan sleep apnea. Narkolepsi, yang sering dikenal sebagai ‘serangan tidur,’ merupakan gangguan tidur yang amat jarang. Sebuah laporan dari Dauvilliers dan Mignot, secara terpisah menyebutkan angka prevalensi 0,013%-0,067% di Inggris, Perancis, Hong Kong dan Amerika. Penderita narkolepsi mengantuk amat sangat hingga mudah tertidur sepanjang hari. Mereka juga mengalami katapleksi, yaitu lumpuh tiba-tiba seolah pingsan yang dipicu emosi kuat (biasanya emosi gembira.)
Sindroma tungkai gelisah adalah gangguan syaraf kaki yang menyebabkan rasa tidak nyaman hingga memberikan dorongan untuk menggerak-gerakkan kaki (gelisah.) Gangguan ini biasanya dikaitkan dengan penyakit syaraf degeneratif seperti parkinson, tingginya kadar ureum atau rendahnya kadar zat besi dalam darah. Repotnya selain menyebabkan kesulitan tidur, sindroma tungkai gelisah juga menyebabkan kualitas tidur jadi buruk. Ini disebabkan oleh gerakan kaki secara periodik dalam tidur yang menyebabkan otak terbangun tanpa terjaga.
Sedangkan sleep apnea merupakan gangguan tidur yang paling banyak diderita. Peppard dan kawan-kawan menyebutkan bahwa 1 dari 5 orang Amerika menderita penyakit ini. Namun karena gejalanya yang dianggap biasa, gangguan tidur ini pun jadi sering diabaikan. Tanda utama dari sleep apnea adalah hipersomnia dan mendengkur.
Mendengkur
Dalam masyarakat kita, sudah wajar jika menganggap mendengkur merupakan tidur yang lelap. Begitu pula dengan karakter-karakter yang selalu lelah, mudah tertidur dan mendengkur dicap sebagai pemalas. Sebenarnya tidak demikian, mereka cepat lelah dan tertidur akibat sleep apnea yang diderita. Bukan karena kemalasan.
Sleep apnea yang artinya henti nafas saat tidur merupakan gangguan tidur yang berbahaya, terutama bagi mereka yang mengendara atau mengoperasikan peralatan berat. Laporan dari Scandinavian Journal of Work Environment Heealth menyebutkan bahwa penderita sleep apnea beresiko mengalami kecelakaan dua kali lipat dibanding orang normal.
Selain kantuk berlebih, bahaya sesungguhnya dari sleep apnea adalah kaitannya dengan berbagai penyakit. Laporan dari Joint National Committee on Prevention, Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure menyebutkan sleep apnea sebagai penyebab hipertensi utama yang dapat dikenali. Lebih jauh lagi, banyak penelitian juga membuktikan adanya kaitan erat antara sleep apnea dengan berbagai gangguan jantung hingga stroke.
Sementara satu tahun terakhir, banyak penelitian yang menghubungkan sleep apnea dengan diabetes. Dari dua penelitian berbeda oleh Resnick dan Einhorn, dinyatakan bahwa 60%-70% penderita diabetes tipe dua juga menderita sleep apnea.
Kesehatan Tidur
Kantuk jelas menghambat produktifitas, karena orang yang mengantuk jelas mengalami penurunan kemampuan mental, hingga sulit berkonsentrasi maupun memecahkan masalah. Tetapi kantuk bukanlah tanda kemalasan.
Kantuk juga tidak dapat dipandang sebagai masalah sepele. Karena bagi penderita gangguan tidur, dorongan kantuk memang tak tertahankan. Bahkan kantuk berlebih merupakan tanda gangguan tidur yang berkaitan dengan berbagai penyakit serius seperti hipertensi, gangguan jantung, diabetes hingga stroke.
Mungkin sudah saatnya bagi Indonesia untuk lebih memperhatikan kesehatan tidur.
Dr. Andreas Prasadja, RPSGT
sleep technologist
Berpraktek di Sleep Disorder Clinic – RS. Mitra Kemayoran, Jakarta.
Obstructive Sleep Apnea (OSA) merupakan salah satu gangguan tidur terkait pernafasan yang diduga berperan pada berbagai penyakit kardiovaskular dan serebrovaskular. Bahkan OSA dapat meningkatkan mortalitas serta kejadian stroke berulang. Adanya intermiten hipoksia diyakini menjadi penyebab aktivasi sistim simpatis, disfungsi endotel, proses inflamasi, gangguan koagulasi dan disregulasi metabolik. Dengan demikian penegakan diagnosis dan penatalaksanaan OSA tidak hanya menjadi tantangan tersendiri dalam mencegah kejadian stroke, namun menjadi salah satu tatalaksana stroke secara paripurna.
Kata Kunci: Obstructive Sleep Apnea (OSA), Stroke, Disfungsi endotel.
Abstract
Obstructive Sleep Apnea (OSA) is one of the sleep disordered breathings that related to various kind of cardiovascular and cerebrovascular diseases. Even OSA can increase the mortality and also the occurrence of recurring stroke. Intermittent hypoxia believed to be the cause of sympathetic activation, endothelial dysfunction, inflammation process, coagulation dysfunction and metabolic deregulation. Thereby the diagnose and management of OSA not only becoming separate challenge in preventing the occurrence of stroke, but become an inclusive step in stroke management.
Stroke merupakan masalah kesehatan yang menjadi perhatian dalam hal pencegahan maupun tatalaksananya. Hal tersebut disebabkan semakin banyak kejadian dan kecacatan akibat stroke. Stroke merupakan penyebab kematian nomor tiga setelah penyakit jantung dan keganasan serta menjadi penyebab kecacatan utama.(1) Insidensi stroke sekitar 2-18/1000 setahun dan merupakan penyakit neurologis yang sering memerlukan perawatan rumah sakit.(2) Berdasarkan pembagian menurut subtipe, stroke iskemik lebih sering terjadi dibandingkan stroke hemoragik. Berbagai faktor resiko stroke sudah lama dikenal, namun tidak demikian dengan homosistein, petanda inflamasi dan gangguan tidur terkait pernafasan. Berikut akan dibahas keterkaitan salah satu gangguan terkait pernafasan yaitu Obstructive Sleep Apnea (OSA) dengan gangguan serebrovaskular.
Obstructive Sleep Apnea (OSA)
Gangguan tidur ini sudah disebut oleh Charles Dickens dalam salah satu tulisannya pada tahun 1836, salah satu tokoh dalam novel The Posthumous Papers of the Pickwick Club mempunyai kebiasaan mendengkur dan mudah tertidur saat siang hari. Sedangkan dalam dunia kedokteran, Broadbent pada tahun 1877 pertama kali melaporkan gangguan tidur tersebut yang ditandai rasa kantuk berlebih saat siang hari. Namun demikian perkembangan dunia kedokteran dalam bidang kesehatan tidur tersebut berkembang lambat. Bahkan diagnosis apnea tidur dengan menggunakan polisomnografi baru dilaporkan tahun 1965 di Jerman.(3)
Prevalensi OSA sekitar 0,3-7,5% pada populasi(4), namun demikian di Amerika kasus yang tidak terdiagnosis mencapai 82-93% pada kelompok usia dewasa muda.(3) Bahkan sekitar 26% populasi mempunyai resiko OSA, terutama pada kelompok umur 30-49 tahun (25%) dan 50-64 tahun (33%).(5) Pria lebih sering mengalami OSA dibandingkan wanita (25% : 10%),(6) namun demikian pasca menopause perbandingan tersebut menjadi sama.(3) Faktor resiko lain diantaranya obesitas, lingkar leher berlebih, abnormalitas kraniofasial, hipotiroid dan akromegali.(7) OSA terjadi akibat tertutupnya pharing secara total maupun parsial sehingga tubuh akan berusaha untuk meningkatkan aliran udara pernafasan yang melibatkan sangkar iga dan otot abdomen.(8) Kriteria diagnosis apnea tidur berdasarkan Apnea-Hypopnea Index (AHI), dalam 1 jam tidur terdapat minimal 5 kali atau lebih periode apnea atau hipopnea serta adanya sekurangnya salah satu keluhan seperti mendengkur, tidur gelisah, nyeri kepala pagi dan kantuk berlebih saat siang.(8,9) American Academy of Sleep Medicine membuat derajat OSA sebagai berikut; derajat ringan (AHI 5-15), sedang (AHI 16-30) dan berat (AHI > 30).(9) Apnea merupakan periode henti nafas yang lebih dari 10 detik sedangkan hipopnea ditandai dengan penurunan aliran udara nafas hingga 50% atau penurunan saturasi oksigen hingga 4%.(8,9)
Apnea tidur obstruktif kemungkinan besar dapat terjadi pada individu dengan kebiasaan mendengkur, obesitas, hipertensi dan kantuk berlebih.(7) Penapisan dilakukan jika terdapat 2 dari 3 tanda-tanda klinis seperti mendengkur, kantuk berlebih dan obesitas atau hipertensi. Meski cara tersebut mempunyai sensitifitas 78-95%, namun spesifisitasnya hanya 41-63%.(7) Secara garis besar manifestasi klinis OSA dibedakan menjadi manifestasi klinis siang dan malam hari. Manifestasi klinis siang hari berupa kantuk berlebih kerap menjadi keluhan penderita OSA, hal tersebut dapat terjadi saat beraktifitas bahkan saat berkendaraan. Gangguan atensi, konsentrasi, memori, fungsi eksekutif hingga gangguan seksual menjadi keluhan lain dari OSA.(3) Manifestasi klinis malam hari berupa karakteristik saat tidur merupakan hal yang penting dan spesifik.Mendengkur dengan disertai periode gasping setelah episode sunyi selama 20-30 detik sering kali dialami penderita OSA. Tujuhpuluh lima persen episode sunyi diakhiri dengan gasping, suara tersedak, snorts, vokalisasi bahkan terkadang menyebabkan terbangun dari tidur.Sekitar 50% kasus mengalami diaphoresis pada leher dan dada serta kegelisahan tidur akibat usaha nafas akibat terjadinya obstruksi jalan nafas atas. Keluhan lain berupa nokturia (28%), mulut kering (74%), droling (36%). Pemeriksaan fisik sering kali didapatkan lingkar leher >40cm dan Basal Metabolisme Indeks (BMI) >28 kg/m2. Temuan lain diantaranya septum deviasi, hipertrofi konka, palatum durum yang sempit, orofaring yang sempit, makroglosia, ukuran maksila dan mandibula yang kecil, retrognathia, cross-bite dan maloklusi.(3,7)
OSA dan Stroke
Beberapa studi epidemiologi OSA dan penyakit-penyakit vaskular didapatkan suatu konsensus yang menyatakan OSA sebagai resiko faktor terhadap kejadian hipertensi, miokard infark dan stroke.(9) Suatu penelitian potong lintang yang melibatkan 1475 responden, didapatkan resiko stroke lebih besar pada OSA dengan AHI>20 meski sudah disingkirkan faktor perancu seperti hipertensi.(9) Pada literatur lain dilaporkan kebiasaan mendengkur saat tidur dapat meningkatkan resiko stroke hingga 2 kali.(3) Pria usia 40-65 tahun dengan gangguan tidur, saat dilakukan ultrasonografi karotis ditemukan adanya plak.(3) Bahkan Kaynak dkk (10) melaporkan gangguan tidur terkait pernafasan merupakan faktor predisposisi kejadian aterosklerosis serta akan memicu pembentukan plak.Sebenarnya OSA dan stroke saling berinteraksi secara bidireksional.(3) Namun demikian OSA sebagai faktor resiko stroke masih menjadi perdebatan dibandingkan dengan OSA yang terjadi paska stroke. Beberapa faktor yang diduga menjadi penyebab peningkatan resiko stroke pada OSA antara lain: hipertensi, disfungsi endotel, inflamasi dan aterosklerosis, hiperkoagulasi, aterogenesis dan trombosis.(3,9,11)
Patofisiologi
1. Aktivasi Sistim Saraf Simpatis.
Akibat episode berulang dari penyumbatan saluran nafas atas pada OSA, menimbulkan keadaan hipoksia intermiten dan perubahan tekanan intratorakal sehingga terjadi respon simpatis yang berlebih.(12) Akibatnya terjadi penurunan a-adrenergik dan b2-adrenergik serta peningkatan kadar katekolamin plasma.(9) Beberapa penelitian mencoba membuktikan terjadinya respon simpatis pada OSA. Adanya peningkatan kadar katekolamin urin pada OSA yang menurun setelah dilakukan tracheostomi, kemudian penelitian lain melaporkan terjadinya penurunan Muscle Sympathetic Nerve Activity (MSNA) yang responsif dengan keadaan oksigen berlebih saat periode apnea.(12) Disfungsi baroreflek serta sensitifitas kemoreseptor dilaporkan juga terjadi pada OSA. Peningkatan aktivitas simpatis tersebut akan meningkatkan tekanan darah. Wisconsin Sleep Cohort Study melaporkan kejadian hipertensi dari observasi selama 4 tahun pada responden dengan OSA.(9) Bahkan hampir 60% penderita OSA yang disertai hipertensi sering kali resisten terhadap terapi antihipertensi.(6)
2.Disfungsi Endotel
Endotel pembuluh darah berfungsi pada pengaturan mediator vasoaktif sebagai respon terhadap stimulus biokimia maupun fisik. Pada OSA terjadi perubahan vasodilator endothelium-dependent.(9) Permukaan endotel pembuluh darah akan berespon terhadap hipoksia dengan membentuk radikal bebas atau Reactive Oxygen Species (ROS) yang bereaksi dengan Nitric Oxide (NO) membentuk peroksinitrit.(9) Mediator vasodilator utama yang dilepaskan endotel adalah NO, pada OSA komponen tersebut berkurang sehingga mengurangi kemampuan pembuluh darah untuk berdilatasi. Carlson dkk (13) melaporkan penurunan aliran darah pada lengan sebesar 39% setelah pemberian asetilkolin yang berfungsi sebagai vasodilator dan bekerja pada permukaan pembuluh darah bersama NO. Sedangkan penelitian lain melaporkan reaktifitas vaskular kembali intak setelah pemberian donor NO, L-arginin dan penyekat kanal kalsium, hal ini membuktikan gangguan kemampuan vasodilatasi bukan disebabkan oleh disfungsi otot polos pembuluh darah namun karena terjadinya disfungsi komponen endotel.
Disfungsi endotel lain ditandai dengan peningkatan mediator vasokontriksi endotel seperti endotelin dan angiotensin II yang semakin mengganggu keseimbangan vasoaktif pembuluh darah.(12) Terjadinya disfungsi endotel akan mempercepat proses aterosklerosis. Pada OSA dilaporkan terjadi penebalan tunika intima-media serta perubahan kecepatan gelombang pulsasi arteri karotis-femoral. Namun demikian disfungsi endotel juga ditemukan pada keadaan hipertensi, hiperlipidemi, diabetes dan perokok, sehingga OSA tidak dapat dianggap sebagai faktor resiko disfungsi endotel karena adanya beberapa komorditas tersebut.
& nbsp; &n bsp;
3.Inflamasi
Inflamasi sistemik berperan pada kejadian aterosklerosis. Pada OSA terjadi peningkatan petanda inflamasi seperti C-Reactive Protein (CRP) dan Tumour Necrosis Factor (TNF)-a.(12) CRP merupakan petanda penting pada kejadian inflamasi, protein ini dibentuk oleh hepar dengan peran serta sitokin interleukin (IL)-6. Sedangkan TNF-amerupakan sitokin inflamasi yang dipengaruhi oleh regulator ekspresi gen inflamasi Nuclear Factor (NF)-kB. Peningkatan TNF-aakan meningkatkan aktivasi molekul adhesi selular –adhesion molecule-1- sehingga lekosit akan mudah melekat pada permukaan endotel pembuluh darah.(12) Disamping peningkatan adhesion molecule (CD15, CD11c) yang disebabkan peningkatan ROS pada periode hipoksia, adhesion molecule itu sendiri akan semakin meningkatkan produksi ROS intraseluler.(9) Keadaan hipoksia juga berperan pada peningkatan transkripsi faktor Hypoxia-Inducible Factor (HIF)-1 yang menyebabkan peningkatan vascular endothelial growth factor (VEGF).(12) Akibatnya kaliber pembuluh darah akan berkurang akibat pengaruh VEGF yang menyebabkan proliferasi otot polos pembuluh darah. Kadar VEGF serum setara dengan derajat hipoksia pada OSA. Penelitian lain melaporkan peningkatan mediator inflamasi lain seperti IL-4, IL-6 dan IL-18 serta biomarker stres oksidatif.(9)
4.Stress Oksidatif
Pada OSA terjadi pelepasan reactive oxygen species (ROS), radikal bebas akan meningkatkan aktifasi faktor transkripsi seperti NF-kB dan HIF-1. Pada hewan percobaan dilaporkan stress oksidatif akibat hipoksia menyebabkan apoptosis pada sel-sel neuron kortikal. Selain itu juga menimbulkan penurunan bioavaibilitas NO, meningkatkan peroksidasi lipid dan pembentukan isoprostan.(12)
5. Hiperkoagulasi
Beberapa penelitian melaporkan adanya peningkatan komponen pembekuan darah pada OSA. Pada OSA yang tidak ditatalaksana dengan baik ditemukan adanya peningkatan viskositas darah, bahkan pada penderita gangguan tidur terkait pernafasan yang terjadi pada anak dan dewasa dijumpai peningkatan kadar fibrinogen. Penelitian lain melaporkan aktivasi platelet yang berkurang dengan penggunaan CPAP.(12)
6.Disregulasi Metabolik
& nbsp; &n bsp; Resistensi insulin yang berkorelasi dengan berat badan, pada OSA resistensi insulin akan semakin bertambah dengan peningkatan AHI sehingga mempengaruhi toleransi glukosa.Pada OSA tanpa diabetik dilaporkan terdapat korelasi glycation end-product dengan periode intermiten hipoksia.(12) Disregulasi metabolik pada OSA juga terjadi dengan peningkatan leptin. Leptin merupakan hormon adiposit yang berperan pada pengaturan kebutuhan energi dan nafsu makan. Hipoksia mengaktifkan ekspresi gen leptin, namun demikian lebih banyak peneltian yang menghubungkan kadar leptin dengan adanya obesitas dan disfungsi lipid dibandingkan dengan kejadian OSA.
Diagnosis
Tampak keterkaitan antara OSA dan stroke, sehingga American Academy of Sleep Medicine merekomendasikan agar pasien-pasien dengan riwayat stroke ataupun TIA untuk dinilai kemungkinannya menderita OSA. Jika terdapat kecurigaan yang mengarah pada sleep apnea, pasien tersebut sebaiknya diperiksakan di laboratorium tidur (14). Baku emas diagnosis gangguan tidur adalah pemeriksaan polisomnografi (PSG) yang dilakukan sepanjang malam di laboratorium tidur.(15) Standar PSG meliputi perekaman aliran udara nafas, gerakan nafas, elektroensefalografi (EEG), elektromiografi (EMG), elektro-okulogrofi (EOG), elektrokardiografi (ECG), saturasi oksigen dan posisi badan.
PSG sendiri dibagi menjadi 4 tipe (14). Tipe pertama, merupakan PSG lengkap dengan minimum terdiri dari 7 channels dalam laboratorium dengan diamati oleh tenaga khusus sepanjang malam. Tipe kedua juga merupakan PSG lengkap, hanya saja pada pemeriksaannya dilakukan di tempat tinggal, tidak ditunggui seperti tipe pertama. Tipe ketiga merupakan pemeriksaan portable sleep apnea testing yang lebih dikenal dengan sebutan perekaman kardio-respiratori. Sedangkan tipe keempat hanya merekam aliran udara di hidung dan kadar oksigen. American Academy of Sleep Medicine, mengakui pemeriksaan Tipe 1 dan 3 sebagai pemeriksaan standar untuk mendiagnosa OSA (15), sementara Tipe 4 masih dianggap sebagai alat penyaring saja. Hanya saja, pada pemeriksaan tipe 3 diharuskan adanya tenaga berkualifikasi khusus yang membaca serta menganalisa hasil pemeriksaan secara manual, setara seperti pada tipe 1.
Dari pemeriksaan polisomnografi, dapat dilihat arsitektur tidur pasien serta derajat keparahan OSA yang dinilai dengan Apnea-Hypopnea Index (AHI). Selain itu kondisi pasien juga dapat dinilai dari jumlah micro-arousals yang memotong proses tidur, penurunan saturasi oksigen, denyut dan irama jantung, serta durasi tiap-tiap episode henti nafas. Menurut International Classification of Sleep Disorders2nd edition diagnosis OSA harus berdasarkan pada PSG dan manifestasi klinis.(17) Pasien dewasa biasanya mengeluhkan rasa kantuk berlebih di siang hari, rasa kurang segar saat bangun tidur, cepat lelah, insomnia, terbangun dengan rasa tersedak/tercekik atau keluhan dari pasangan yang merasa terganggu dengan suara dengkuran. Jika pasien tersebut simptomatik, AHI>5 sudah dianggap positif menderita OSA. Sedangkan pada pasien-pasien yang tidak mempunyai keluhan apa-apa selain mendengkur, AHI>15 baru dianggap positif.
Tatalaksana
Baku emas tatalaksana OSA adalah penggunaan nasal-CPAP (continuous positive airway pressure).(18) Nasal-CPAP yang pertama diperkenalkan oleh Colin Sullivan ini memberikan udara bertekanan positif untuk membuka sumbatan jalan nafas atas. CPAP yang dipergunakan secara luas mempunyai tantangannya sendiri yaitu kenyamanan sehingga pasien sulit untuk beradaptasi. Namun demikian hambatan ini dapat diatasi dengan berbagai kemajuan teknologi seperti autotitration dan jenis masker yang nyaman, serta edukasi yang baik. Manfaat penggunaan CPAP pada pasien stroke masih kontroversi,(2) namun demikian halnya pada gangguan kardiovaskular yang dapat menurunkan mortalitas. (19)
Alternatif tatalaksana OSA selain penggunaan CPAP adalah tindakan surgikal dan penggunaan alat bantu di mulut. Berbagai teknik surgikal seperti Uvulopalatopharyngoplasty (UPPP), jaw enhancement, glossectomy, tounge resection dan lainnya masih terus dikembangkan. Dengan kemajuan teknologi pembedahan yang semakin non-invasif, bukannya tidak mungkin di masa depan, pembedahan menjadi terapi primer bagi OSA.(20,21)
Kesimpulan
OSA diduga menjadi faktor resiko dari kejadian kardiovaskular dan serebrovaskular. Kendati tidak seperti halnya pada sistim kardiovaskular, OSA masih menjadi perdebatan sebagai faktor resiko stroke. Hipertensi, diabetes, obesitas merupakan komorbiditas yang sulit disingkirkan pada penderita OSA. Intermiten hipoksia berperan pada patofisologi berbagai komorbiditas tersebut. Dengan memperhatikan kemungkinan keterlibatan OSA pada stroke diharapkan dapat menjadi wacana dalam tatalaksana serta pencegahan stroke.
Daftar Pustaka
1. & nbsp; Wolf PA, Cobb JL, D’Agostino RB. Epidemiology of stroke. In: Barnett & nbsp; Hj, Mohr JP, Sltein BM, Yatsu FM, editors. Stroke pathophysiology, diagnosis and management. 2nd ed. New York: Churchill Livingstone; 1992.p3-27
2. & nbsp; Bassetti CL, Milanova M, Gugger M. Sleep-Disordered Breathing and Acute Ischemic Stroke: Diagnosis, Risk Factors, Treatment, Evolution, and Long-Term Clinical Outcome. Stroke. 2006;37:967.
3. & nbsp; Guilleminault C, Abad VC. Obstructive sleep apnea syndromes. Med Clin N Am 2004;88:611-630.
4. & nbsp; Sharma KS, Kumpawat S, Banga A, Goel A. Prevalence and risk factors of obstructive sleep apnea syndrome in a population of Delhi,India. Chest 2006;130:149-156.
5. & nbsp; Hiestand DM, Phillips PBB. Prevalence of risk factors for obstructive sleep apnea in the us: result from the 2005 sleep in America pole. Chest 2005;128(4): 133S.
6. & nbsp; Phillips BG, Somers VK. Hypertension and obstructive sleep apnea. Current Hypertension Reports 2003;S380-385.
7. & nbsp; Flemons WW. Obstructive Sleep Apnea. N Engl J Med 2002;347:498-503
8. & nbsp; Bradley TD, Floras JS. Sleep apnea and heart failure. Part I: Obstructive sleep apnea. circulation 2003; 107:1671-1678.
9. & nbsp; Foster GE, Poulin MJ, Hanly PJ. Sleep apnoea & hypertension: Physiological bases for a causal relation: Intermittent hypoxia and vascular function: implications for obstructive sleep apnoea. Exp Physiol 2007;92:51-65.
10.Kaynak D, Goksan B, Kaynak H, Degirmenci N, Daglioglu S. Is there a link between the severity of sleep-disordered breathing and atherosclerotic disease of the carotid arteries? Eur J Neurol 2003;10:487-93.
11.Kanel R, Dimsdale JE. Hemostatic alteration in patients with obstructive sleep apnea and the implications for Cardiovascular Disease. Chest 2003;124:1956-67.
12.Mc Nicholas WT, Bonsignore MR. Sleep apnoea as an independent risk factor for cardiovascular disease: current evidence, basic mechanism and research priorities. Eur Respir J 2007;29:156-178.
13.Carlson JT, Rangemark C, Hedner JA. Attenuated endothelium-dependent vascular relaxation in patients with sleep apnea. J Hipertens 1996;14:577-84.
14.Kushida CA, Littner MR, Morgenthaler T, Alessi CA, Bailey D, Coleman J et al. Practice parameters for the indications for polysomnography and related procedure: an update for 2005. Sleep 2005;28: 499-519.
15.Chokroverty S, Bhatt M, Goldhammer. Polysomnographic recording technique. Atlas of sleep medicine. Philadelphia: Elsevier; 2005. page 1-28.
16.Collop NA, Anderson WM, Boehlecke B, Claman D, GoldbergR, Gottlieb DJ, Hudgel D, Sateia M, Schwab R. Clinical guidelines for the use of unattended portable monitors in the diagnosis of obstructive sleep apnea in adult patients. J Clin Sleep Med 2007;3(7):737-747.
17.American Academy of Sleep Medicine. International classification of sleep disorders, 2nd Ed. American Academy of Sleep Medicine 2005; 51-55.
18.Grunstein R. Continuous Positive Airway Pressure treatment for Obstructive Sleep Apnea-Hypopnea Syndrome. Principles and Practice of Sleep Medicine 4th Ed. Philadelphia: Elsevier;2005. page 1066-1080.
19.Doherty LS, Kiely JL, Swan V, McNicholas WT. Long-term effects of nasal Continuous Positive Airway Pressure Therapy on Cardiovascular Outcomes in Sleep Apnea Syndrome. Chest 2005; 127: 2076-2083.
20.Phillips B, Kryger MH. Management of Obstructive Sleep Apnea-Hypopnea Syndrome: Overview. Principles and Practice of Sleep Medicine 4th Ed. Philadelphia: Elsevier; 2005. page 1109-1121.
21.Powell NB, Riley RW, Guilleminault C. Surgical management of sleep-disordered breathing. In Kryger MH, Roth T, Dement W. Principle and Practice of Sleep Medicine 4th Ed. Philadelphia: Elsevier;2005. page 1081-1097.
Berikut pengalaman seorang pasien kami yang dituangkan kepada Reader’s Digest Indonesia.
Selama hidupnya, Stephen Dave, 31, tak pernah menduga dirinya punya masalah tidur. “Memang saat tidur, saya selalu mendengkur keras. Tapi tidak pernah menyangka ada masalah walau istri saya suka komplain,” ujarnya.
Masalah bertambah serius saat Stephen menyadari bahwa dia sering dilanda rasa kantuk berat. “Walau sudah tidur selama 7-8 jam tiap malam, tetap saja saat berangkat kantor, kadang saya jatuh tertidur selama beberapa detik saat mengemudi di jalan tol,” ungkap Stephen yang bekerja sebagai product manager perusahaan elektronika.
Rasa kantuk tidak berhenti di situ saja. Kira-kira pukul 13.00-14.00, Stephen selalu merasa ngantuk berat. “Terlebih saat rapat yang panjang dan berlarut-larut, kadang saya ketiduran di tengah rapat,” katanya.
Untung masalah Stephen tidak berlarut-larut. Pada 2006, dia kebetulan mengunjungi sebuah rumah sakit yang memiliki sleep clinic. Di tempat itu, Stephen menemukan brosur mengenai sleep disorder yang menunjukkan gejala masalah tidur yang serupa dengan gangguan yang dialaminya. Langsung saja dia memeriksakan diri.
“Setelah diperiksa dan berkonsultasi, dokter menyatakan bahwa kualitas tidur saya buruk,” ungkap Stephen yang menginap di sleep clinic itu satu malam untuk menjalani tes. Menurut sang dokter, walau Stephen terlihat tidur selama 7-8 jam, namun otaknya tidak berhenti bekerja. Kondisi itu membuatnya tidak benar-benar tidur, sehingga wajar saja dia merasa ngantuk luar biasa keesokan harinya. Oleh dokter, Stephen diberi alat CPAP (Continuous Possitive Airway Pressure), yang memberi udara segar ke hidung untuk membuka saluran pernapasan. Alat itu membantu Stephen bernapas normal saat tidur. Hingga kini, setelah satu tahun mengenakan CPAP, kualitas tidur Stephen jadi baik. Kini tidak ada lagi masalah ketiduran saat menyetir atau rapat di kamus Stephen. “Istri pun tidak lagi komplain soal dengkuran keras saat saya tidur,” ujarnya senang.
Sebuah Masukan Kritis Bagi Rencana Memajukan Jam Sekolah dari Sisi Kedokteran Tidur
”Jam masuk sekolah akan dimajukan, dari pukul 07.00 menjadi pukul 06.30 atau 06.45. Dengan demikian, pergerakan kendaraan untuk mengantar anak- anak ke sekolah dapat menjadi lebih pagi dan tidak terlalu membebani lalu lintas,” kata Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo, Selasa (22/1) seperti dikutip oleh Kompas 23 Januari 2008. Langkah ini diambil oleh pemerintah DKI Jakarta demi pendistribusian kemacetan lalu lintas yang semakin menjadi di Ibu Kota.