Hilangkan Henti Nafas dengan CPAP
Sleep apnea atau lengkapnya Obstructive Sleep Apnea (OSA) adalah henti nafas saat tidur yang disertai dengan mendengkur. Menurut Praktisi Kesehatan Tidur, Dr. Andreas Prasadja, RPSGT, OSA dianggap berbahaya karena dapat menyebabkan beberapa penyakit seperti hipertensi, gangguan jantung dan storke. Bahkan berbagai penelitian pun menunjukkan hubungan erat antara diabetes dan sleep apnea.
Obstructive Sleep Apnea terjadi karena adanya penyumbatan jalan nafas. Penyumbatan jalan nafas ini bisa disebabkan oleh faktor anatomis jalan nafas, struktur rahang yang kecil dan neuromotor yang melemah.
Sedangkan anatomi jalan nafas yang sempit bisa disebabkan oleh bentuk leher yang pendek tetapi besar, besarnya pangkal lidah, melunaknya langit-langit mulut, pembesaran amandel dan adenoid, serta besarnya uvula atau anak lidah. Sementara struktur rahang yang kecil, seperti banyak terdapat pada orang Asia juga dapat mempersempit jalan nafas.
Suara dengkuran merupakan tanda penyempitan saluran napas atas. Ketika udara melawati saluran yang sempit, tekanannya akan meninggi. Tekanan inilah yang menyebabkan struktur jalan nafas yang lunak bergetar dan timbullah suara dengkuran.
Derajat Keparahan Sleep Apnea
Derajat keparahan OSA diketahui dengan menghitung rata-rata jumlah berhenti nafas per jam (Apnea-Hypopnea Index/AHI). Pembagiannya sebagai berikut :
AHI 0-5/jam : normal, hanya mendengkur tetapi tanpa OSA.
AHI 5-15/jam : OSA ringan.
AHI 15-30/jam : OSA sedang, dan
AHI >30/jam : OSA berat.
Penanganan Sleep Apnea
Seperti penanganan medis lainnya, perawatan sleep apnea juga dimulai dengan cara konservatif. Jika dinilai kurang memadai, maka dilanjutkan dengan tindakan invasif atau pembedahan.
Dijelaskan oleh Dr. Andreas, cara konservatif dimulai dengan usaha untuk menurunkan berat badan, tidur miring serta menghindari alkohol dan obat-obat hipnotik. Dengan tidur miring, maka lidah akan terjatuh ke samping sehingga tidak menghalangi jalan nafas. Efek alkohol memang dapat membantu awal tidur, tetapi juga dapat melemaskan otot-otot pernafasan sehingga dapat menyebabkan sleep apnea. Sementara itu, beberapa obat tidur pun dapat menghambat rangsang nafas.
Continuous Positive Airway Pressure pertama kali diperkenalkan oleh Prof. Colin Sullivan di tahun 1981. Tahun 1985, CPAP sangat populer di kalangan medis sehingga d igunakan secara luas di seluruh dunia. Sedangkan di Indonesia sendiri baru digunakan di tahun 2000-an. Kini CPAP menjadi standar emas bagi perawatan sleep apnea.
Menurut Dr. Andreas, prinsip unit CPAP itu mudah. Alat tersebut akan meniupkan udara bertekanan positif untuk membuka sumbatan di jalan nafas. Dengan demikian, henti nafas yang menyebabkan proses tidur terpotong tidak terjadi.
Penggunaan CPAP memerlukan beberapa waktu untuk beradaptasi. Kebanyakan penderita dapat langsung merasakan manfaatnya. Namun edukasi tentang penggunaan, perawatan, dan cara beradaptasi menjadi sangat penting. Untuk itu, klinik gangguan tidur yang baik juga memiliki program CPAP trial, dimana tenaga kesehatan yang terlatih secara khusus dapat memperkenalkan dan melatih penderita menggunakan CPAP dengan baik dan nyaman.
Dr. Andreas mengatakan, pasien dengan OSA yang ringan, maka diindikasikan untuk menggunakan CPAP. Sedangkan untuk OSA sedang dan berat, maka diwajibkan untuk memakai CPAP.
Berbagai Jenis Masker
Dr. Andreas memberitahukan, ada berbagai jenis masker, yaitu :
Selain itu, ada pula macam-macam CPAP seperti, Fixed yaitu CPAP dengan moda tekanan yang sama sepanjang malam; Auto-PAP yaitu CPAP dengan moda tekanan otomatis yang dapat disesuaikan sepanjang malam dengan kebutuhan pasien dan Bi-level PAP yaitu PAP dengan tekanan inspirasi (tarikan napas) dan ekspirasi (buang nafas) yang berbeda.
Dr. Andreas memberitahukan, CPAP ini dapat digunakan selama orang tertidur. Alat yang harga termurahnya sembilan jutaan ini minimal digunakan selama 4 jam dalam sehari. Dengan menggunakan CPAP, maka orang yang tadinya mendengkurpun menjadi tidak mendengkur sama sekali. Sehingga sleep apnea juga pastinya tidak terjadi. So.. jika Anda tidak ingin mengalami henti nafas, maka gunakan saja alat ini..tentunya dengan terlebih dahulu berkonsultasi dengan dokter . Deppy Marlinda
Perhatikan Posisi Tidur & Waktu Tidur Anda!
Semua orang pasti pernah tidur. Entah itu tidur siang atau malam. Tidur biasanya diidentikkan dengan waktunya mengistirahatkan mata dan tubuh. Namun apakah posisi dan waktu tidur Anda sudah benar?
Menurut praktisi kesehatan tidur Dr. Andreas Prasadja, RPSGT, sebenarnya semua posisi tidur itu baik. Namun sebenarnya dalam konteks kesehatan, posisi tidur yang baik berkaitan dengan posisi tulang belakang. Posisi tidur yang terbaik adalah tulang belakang tegak dan bukan lurus. Yang dimaksud dengan tegak di sini memang bukan berarti tulang belakang lurus. Sebab dalam keadaan normal tulang belakang memang melengkung dalam derajat tertentu dan tidak sepenuhnya lurus.
Meski kepala menggunakan bantal dan tubuh ditopang kasur, posisi tulang belakang tetaplah harus tegak. Begitu pula dengan berbagai posisi tidur baik telentang, miring kanan-kiri maupun tengkurap. Hal yang terpenting adalah posisi tidur haruslah tegak. Untuk ibu hamil disarankan untuk miring, karena perut sudah membesar.
Manfaat dari tulang belakang yang tegak adalah menghindari terjadinya kelainan bentuk tulang belakang. Seperti sakit pinggang, HNP (Hernia nukleus pulposus: pergeseran piringan tulang belakang), kiposis (bungkuk), dan lain-lain.
Untuk masalah tidur, sulit rasanya untuk orang mengatur posisinya. Sebab ketika orang tertidur pulas, maka ia tidak menyadari bagaimana posisi tidurnya. Namun menurut Dr. Andreas, ketika orang tidur dan merasa tidak nyaman dengan posisinya, maka orang tersebut akan mengubah posisinya.
Sesak Napas Bukan Karena Posisi Tidur
Mungkin anda salah satu orang yang sering mengalami sesak napas saat tidur. Menurut Dr. Andreas, sesak napas bukan disebabkan salah posisi tidur. Namun, gejala tersebut mungkin disebabkan oleh sleep apnea, yaitu sebuah gangguan tidur berupa henti napas saat tidur.
Bagaimana dengan Waktu Tidur Anda?
Waktu tidur anak usia sekolah yang terbaik adalah 10 sampai 11 jam. Sedangkan untuk orang dewasa muda adalah 9 jam 15 menit sampai 9,5 jam. Lalu untuk orang dewasa adalah 8 jam. Sedangkan usia di atas 50 tahun adalah 6 – 7 jam.
Dr. Andreas memberitahukan, bahwa orang harus memahami, bahwa kurang tidur itu sebenarnya sebuah kondisi pola tidur yang berbeda-beda antara orang remaja, dewasa maupun anak-anak.
Secara umum, kebutuhan tidur orang dewasa muda berkisar 8,5 – 9,25 jam per hari. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, orang dewasa muda memiliki cara tersendiri dalam mengatur pola tidurnya. Namun biasanya pola tidur orang dewasa muda berubah-ubah alias tidak menentu. Saat orang lain mulai mengantuk pada pukul 21.00 atau 22.00, justru mereka bersemangat untuk bekerja, belajar atau menyelesaikan tugas-tugasnya. Rasa kantuk baru akan menyerang sekitar tengah malam, yaitu pada pukul 00.00 – 01.00, bahkan ada yang tidak tidur hingga pagi.
Oleh karena itu, maka orang yang kurang tidur akan mengalami hutang tidur. Hutang tidur yang menumpuk dapat berakibat pada berkurangnya kemampuan mental, konsentrasi, daya ingat, prodktivitas dan refleks sewaktu berkendara.
Selain itu, menurut Dr. Andreas, efek dari kekurangan tidur bisa mengakibatkan gangguan matobolisme, buruknya daya tahan tubuh, perbaikan sel-sel jaringan yang jelek, mengantuk dan lelah. Intinya orang kurang tidur sama dengan tidak produktif.
Nah… Jika Anda ingin terhindar dari sakit yang disebabkan karena tulang belakang dan tidak ingin menjadi orang yang tidak produktif, maka mulai sekarang perhatikanlah posisi dan waktu tidur Anda!.Deppy Marlinda
O Klinik, O Channel TV


Berawal Coba-coba, Justru Jadi Pertama
Majalah Dokter Kita, Desember 2009
Siapa yang mengira, kalau seseorang dapat gelar dokter karena tidak sengaja? Dan siapa juga yang menyangka, jadi dokter kesehatan tidur pertama di Indonesia karena keceblos? Itulah Dr. Andreas Prasadja, RPSGT, yang mengakui bahwa semuanya itu serba kebetulan dan coba-coba.
Setelah lulus SMA, Dr. Andreas tidak memiliki tujuan ingin kuliah dimana dan mengambil jurusan apa. Lalu Dr. Andreas mencoba mengikuti tes perguruan tinggi dan mengambil jurusan kedokteran. Siapa yang mengira, hasil coba-coba itulah membuat dirinya diterima menjadi mahasiswa di Universitas Katolik Atmajaya.
Selama menjalani pendidikan kedokterannya dan setelah lulus kuliah tahun 2000, tak pernah sedikitpun terbesit di otaknya apakah setelah lulus dokter umum akan menjalani pendidikan spesilisasi atau tidak. Begitu juga untuk menjadi dokter kesehatan tidur pertama di Indonesia.
Dokter Tidur Pertama
Beberapa tahun setelah lulus dari kuliah kedokteran, Dr. Andreas praktek di salah satu rumah sakit swasta di daerah Kemayoran sebagai dokter jaga. Dari situlah akhirnya dirinya menjadi dokter kesehatan tidur pertama di Indonesia.
Dr. Andreas bercerita, bahwa semua berawal dari dirinya yang diperkenalkan kedokteran tidur oleh pemilik rumah sakit tempatnya bekerja. Saat itu, di rumah sakit tersebut telah memiliki laboratorium tidur, hanya saja belum ada dokter yang menjalani. Akhirnya Dr. Andreas diminta untuk belajar tentang hal tersebut.
”Sempat bingung. Untuk apa laboratorium tidur? Kalau orang ingin tidur, ya tidur saya,” ungkap dokter kelahiran Jakarta, 16 Mei 1975.
September 2005, Dr. Andreas dikirim ke Singapura untuk mengikuti Polysomnography Course and Sleep Medicine Review. Dari sanalah Dr. Andreas terbuka terhadap kesehatan tidur. Akhirnya ketika pulang dari sana, Dr. Andreas pun kembali meminta dikirim untuk menambah pengetahuannya tentang Sleep Medicine and Technology di Sydney University, Australia.
Berapa tahun kemudian, Dr. Andreas mengikuti ujian tentang kesehatan tidur dan mendapatkan gelar RPSGT atau Registered Polysomnographic Technologist di Amerika Serikat tahun 2008. Selain itu, ujian tersebut pun untuk mendapatkan pengakuan internasional dalam bidang kesehatan tidur. Beruntungnya Dr. Andreas adalah dokter pertama di Indonesia dengan keahlian tersebut.
”Ibaratnya semua itu berawal dari saya dicemplungin, lalu kelelep dan jadi asik,” ujar suami dari Kristanti Madona.
Pendidikan yang dijalani Dr. Andreas berupa kursus selama dua minggu. Meskipun waktunya singkat, tetapi ilmu yang diperoleh dan pendidikan yang dijalani sangat penting. Sehingga membuat dirinya menjadi tertarik untuk mendalami masalah kesehatan tidur.
Jatuh Cinta Kesehatan Tidur
Dokter yang memiliki anak bernama Chiara Monica ini tidak pernah menyangka bahwa kesehatan tidur sangatlah menarik dan penting. Itulah yang membuat dirinya jatuh cinta pada kesehatan tidur.
Selama ini dirinya berpikir bahwa gangguan tidur itu hanyalah sebatas tidak bisa tidur. Padahal, kenyataannya salah satu gangguan tidur seperti mengantuk justru bisa menurunkan kualitas hidup seseorang.
Selain itu, ketertarikan Dr. Andreas pada masalah kesehatan tidur itu juga karena dirinya jadi bisa membaca dan menganalisa gelombang otak dan fungsi tubuh yang lain ketika tidur, serta melihat gangguan tidur seperti henti nafas (sleep apneu).
Meskipun Dr. Andreas tertarik melihat itu semua, tapi sejujurnya dirinya merasa kasihan pada pasiennya yang mengalami gangguan tidur. Sebab ketika tidur, di antara mereka ada yang mengalami henti nafas sekian detik, atau sangat mengantuk, lemas, tidak bisa konsentrasi dan lain-lain.
Kerap kali orang menganggap bahwa orang-orang yang sering mengantuk atau banyak tidur adalah orang yang pemalas dan tidak produktif. Padahal mereka mengantuk mungkin karena tidurnya terganggu. ”Tidur adalah langkah awal untuk meningkatkan produktivitas,” tegas Dr. Andreas.
Dr. Andreas menyontohkan, jika sebuah pekerjaan yang dikerjakan oleh orang yang cukup tidur dapat dikerjakan dalam waktu setengah jam, tapi jika dikerjakan oleh orang yang kurang tidur atau mengantuk, tugas tersebut dikerjakan selama dua jam. Manakah yang produktif?
Menurut Dr. Andreas, yang dikutip dari pendapat Bapak Kedokteran Tidur Prof. William C. Dement, ”Sayang sekali banyak orang yang berada dalam kondisi mengantuk dan tidak produktif.” Padahal itu semua bisa diatasi, kalau saja mereka mau mengatur pola tidurnya dan mengetahui mekanisme tidur, seperti adanya hutang tidur, jam biologis dan lain-lain.
Selain itu, kutipan favorit Dr. Andreas yang lain adalah lebih mudah menilai status kesehatan seseorang itu dari mengamati tidurnya, bukan dari mengamati kebiasaan olahraga maupun kebiasan makanannya. Karena untuk mencapai kesehatan yang paripurna, diperlukan tiga komponen kesehatan yaitu olahraga, nutrisi yang seimbang dan tidur.
Dokter Pun Mengalami Gangguan Tidur, Bagaimana dengan Anda?
Dr. Andreas memiliki harapan agar masyarakat bisa perhatian terhadap masalah kesehatan tidurnya. Sebab bukan hanya masalah kurang tidur atau mengantuk saja yang terjadi karena gangguan tidur, tetapi banyak faktor dan ini bisa terjadi oleh siapapun, bahkan dirinya yang dokter kesehatan tidur pun mememiki gangguan tidur.
Dr. Andreas mengakui bahwa dirinya juga mengalami gangguan tidur yaitu sleep apnea atau henti napas ketika tidur. Untuk itu, ketika tidur, Dr. Andreas selalu mengunakan masker hidung yang dihubungkan dengan unit CPAP atau Continuous Positive Airway Pressure yang dapat menghindari terjadinya gangguan tersebut.
Dokter yang selalu bersepeda pulang-pergi kantor ini, tidak merasa malu atau kerepotan menggunakan alat transportasi tersebut. Menurutnya, orang yang merasa dirinya sehat, lalu menggunakan alat tersebut pasti akan merasa tidak nyaman. Namun orang yang mengalami sleep apnea, pasti akan merasa nyaman dan terlelap saat tidur.
”Motivasi saya menggunakan alat itu, karena saya tidak ingin mengalami sleep apnea dan penyakit lainnya. Apalagi menggunakan alat itu membuat saya tertidur pulas dan bangun dengan segar,” ujar dokter yang memiliki hobi fotografi dan bersepeda.
Perkembangan Kesehatan Tidur
Menurut Dr. Andreas, perkembangan kesehatan tidur sudah berjalan di Indonesia. Dilihat dari pendidikan, beberapa spesialisasi seperti THT, neurologi dan interna sudah mulai menyinggung soal kesehatan tidur di kurikulumnya. Meski belum ada mata kuliah khusus tentang kesehatan tidur.
Kalau dilihat dari pelayanan kesehatan, sudah banyak rumah sakit yang memiliki keinginan untuk membuka klinik tidur dan laboratorium tidur. Selain itu juga sudah ada beberapa rumah sakit yang membuat klinik tidur, hanya saja berdasarkan penglihatan Dr. Andreas, ada beberapa rumah sakit yang justru salah memilih alat. Menurutnya, mungkin disebabkan karena pengetahuan yang kurang tentang hal tersebut dan itu sangat disayangkannya.
Dr. Andreas berharap, bagi mereka yang memiliki fasilitas kesehatan, semoga saja bisa melayani masalah tersebut. Karena kasihan sekali, orang-orang dari daerah yang jauh seperti Papua, Banjarmasin, Medan, Palembang, Bali dan lain-lain, jika harus datang ke Jakarta hanya untuk berobat. Apalagi banyak pasien yang datang padanya karena mengalami sleep apnea dan tidak bisa tidur.
Ayo Bangun!
Sebagai dokter kesehatan tidur pertama di Indonesia, ia memiliki tanggung jawab besar bagi negaranya terutama tentang permasalahan kesehatan tidur. Untuk itu Dr. Andreas selalu berusaha untuk tetap aware terhadap masalah tesebut. Hal yang telah dilakukannya adalah dengan menulis buku Ayo Bangun!, yang membahas tentang masalah gangguan tidur. Selain itu Dr. Andreas juga melibatkan diri dalam seminar dan website yang membahas tentang kesehatan tidur.
”Selanjutnya saya ingin membuat buku lagi tentang kesehatan tidur. Hanya saja waktunya makin sempit, karena sudah banyak pasien yang membutuhkan saya,” ujar dokter yang baru saja menekuni hobi memasak. Deppy Marlinda
Gaya Hidup yang Merampas Tidur
Ternyata tidak demikian. Selain stres banyak faktor-faktor lain yang mempengaruhi proses tidur kita. Berikut adalah beberapa kebiasaan atau gaya hidup yang dapat memperpanjang kondisi terjaga.
Stimulan
Minuman berkafein dan alkohol. Di Indonesia kebiasaan minum alkohol tidak begitu populer. Tetapi sebagian orang beranggapan bahwa dengan minum alkohol akan mempermudah tidur. Ini ada benarnya, tetapi begitu tidur efek alkohol justru membuat tidur tidak dalam. Akibatnya kualitas tidur seseorang jadi buruk. Sedangkan minuman berkafein sudah terlanjur menjadi minuman sehari-hari. Tak jarang, banyak orang yang bergantung pada kafein untuk menopang produktivitasnya. Padahal, kafein hanya akan menyingkirkan rasa kantuk tanpa meningkatkan kemampuan otak. Jalan terbaik sebenarnya adalah dengan mengatur tidur dan pola konsumsi kafein. Kafein akan bekerja selama 9-15 jam di badan kita. Untuk itu batasi konsumsinya hingga 12-15 jam sebelum tidur. Minuman yang mengandung kafein antara lain kopi, teh, cola dan berbagai minuman berenergi.
Olah raga
Berolah raga di malam hari juga sudah menjadi kebiasaan masyarakat perkotaan. Entah karena menunggu macet, atau dengan alasan kesibukan, banyak orang baru sempat berolah raga di malam hari. Padahal jarak waktu selesai berolah raga dan tidur yang ideal adalah 3 jam. Dengan berolah raga memang tubuh akan terasa capek, tetapi adrenalin akan meningkat. Adrenalin akan membuat kita lebih terjaga. Akibatnya walaupun badan terasa lelah, otak seolah tak mau berhenti beristirahat.
Olah raga memang menjadi faktor penting demi menjaga kesehatan dan penampilan. Tapi olah raga saja ternyata tidak menjamin kesehatan seseorang. Sesuai dengan konsep The Triumvirate of Health, untuk mencapai kesehatan yang paripurna, dibutuhkan tiga komponen penting, yaitu kebugaran fisik (olah raga), keseimbangan nutrisi dan tidur yang sehat. Tidur yang sehat juga akan meningkatkan produktivitas.
Kebiasaan Tidur
Kebiasaan tidur yang baik akan menjamin tidur yang nyaman. Biasakan untuk tidur diwaktu-waktu yang sama. Dengan demikian Anda telah men-set jam biologis untuk beristirahat. Setelah terbiasa, kantuk akan datang dengan sendirinya pada jam-jam tersebut. Sebaliknya, jam tidur yang tidak teratur akan mengacaukan pola tidur Anda.
Tidur tanpa persiapan akan merampas tidur. Siap untuk tidur bukan hanya mengantuk saja. Siap untuk tidur adalah mengantuk dan rileks. Padahal banyak orang yang demi produktivitas, ingin terus bekerja hingga kantuk tak tertahankan lagi. Akibatnya mereka merasa lelah tanpa bisa memejamkan mata. Setengah jam atau lima belas menit sebelum tidur, lepaskan semua pekerjaan dan aktivitas yang terlalu menyibukkan mata serta pikiran. Televisi termasuk didalamnya. Lalu lakukan aktivitas yang menyenangkan dan menenangkan. Sekedar membaca atau melakukan perawatan kulit. Setelah merasa cukup santai dan mengantuk, barulah naik ke tempat tidur.
Ngorok dan Serangan Jantung di Malam Hari
Mendengkur, disertai dengan kantuk berlebih merupakan dua gejala utama dari Obstructive Sleep Apnea. Sleep apnea, berarti henti nafas saat tidur, merupakan penyebab hipertensi, diabetes, berbagai gangguan jantung dan stroke.
Saat tidur, saluran napas kita melemah hingga menyempit. Saat menyempit inilah aliran udara terhambat sehingga menggetarkan dinding saluran nafas yang lembek. Ini yang menyebabkan suara dengkuran yang mengganggu. Dalam proses tidur selanjutnya, jalan napas yang melemas ini dapat menyempit total hingga mengakibatkan sumbatan jalan napas. Walaupun dada dan perut masih bergerak berusaha menarik napas, sesungguhnya tidak ada udara yang dapat lewat sehingga dikategorikan sebagai henti napas. Akibatnya, kerja jantung yang seharusnya berdenyut santai pada saat tidur jadi berat. Belum lagi akibat gangguan metabolisme yang meningkatkan kekentalan darah.
Bulan Juli 2008, sebuah penelitian yang diterbitkan pada Journal of the American College of Cardiology, menyarankan agar orang-orang yang pernah mengalami serangan jantung saat tidur harus diperiksakaan kemungkinan mereka menderita sleep apnea.
Dari 92 orang pasien yang pernah mengalami serangan jantung, melalui pemeriksaan tidur, didapati 64 diantaranya menderita sleep apnea. Pasien yang menderita sleep apnea ataupun tidak, memiliki latar belakang pengobatan yang mirip. Yang menarik, waktu terjadinya serangan jantung pada kedua kelompok ini amatlah berbeda. Pasien yang menderita sleep apnea memiliki kemungkinan 6 kali lebih besar untuk mengalami serangan jantung di antara tengah malam hingga pukul 6 pagi. Sedangkan, pasien yang tidak menderita sleep apnea (tidak ngorok) kemungkinan besar mengalami serangan jantung antara pukul 6 pagi hingga sore hari. Jelasnya, pasien yang terkena serangan jantung antara tengah malam hingga jam 6 pagi, 91%-nya adalah penderita sleep apnea!
Dr. Virend Somers dari Klinik Mayo, peneliti senior pada penelitian ini mengatakan bahwa ia mengamati adanya perubahan EKG (rekam irama jantung) saat tidur pada penderita sleep apnea, yang menunjukkan bahwa jantung tidak mendapat suplai darah yang cukup saat tidur. Hingga ia berkesimpulan bahwa sleep apnea dapat menjadi pemicu serangan jantung di malam hari. Meskipun belum dapat dibuktikan secara nyata, melihat bukti-bukti yang ada, beliau tetap menyarankan agar setiap orang yang pernah mengalami serangan jantung di malam hari untuk diperiksakan sleep apnea-nya.
Yang Mendengkur Jangan Mengendara!
Sebuah penelitian yang diterbitkan pada the Annals of Internal Medicine, menunjukkan bahaya mengendara bagi penderita sleep apnea. Kelompok peneliti dari Australia tersebut menyatakan bahwa penderita sleep apnea yang tidak dirawat lebih rentan terhadap alkohol dan kekurangan tidur dibanding orang sehat yang tidak mendengkur, sehingga memiliki resiko tinggi untuk mengalami kecelakaan lalu lintas.
Sleep apnea adalah sebuah gangguan tidur yang ditandai dengan tidur mendengkur dan rasa kantuk berlebih (hipersomnia). Penderita sleep apnea mengalami penyempitan saluran nafas sehingga nafasnya terhenti berulang kali sepanjang malam. Karena sesak, otak penderita akan terbangun-bangun tanpa terjaga. Akibatnya ia merasa kantuk tanpa mengetahui penyebabnya. Sayangnya henti nafas ini, di mata orang awam hanya dikenali sebagai ngorok atau mendengkur.
Efek kantuk yang disebabkan sleep apnea tidak dapat dianggap remeh. Sebuah laporan di Amerika menyatakan angka kematian hingga 1.400 per tahunnya disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas yang berkaitan dengan penderita sleep apnea. Sedangkan di Inggris disebutkan bahwa penderita OSA (obstructive sleep apnea), mengalami kecelakaan lalu lintas 2 sampai 7 kali lebih sering dibanding orang lain.
Pada penelitian terbaru, kemampuan mengendara diujikan pada 38 penderita sleep apnea yang tidak dirawat dan 20 peserta normal. Penelitian tersebut juga menguji ketahanan penderita terhadap kekurangan tidur dan alkohol. Kedua faktor ini diketahui sebagai faktor utama yang menurunkan kemampuan mengendara seseorang.
Awalnya pengemudi yang menderita sleep apnea mengalami kesulitan untuk tetap berada di jalurnya. Bahkan kebanyakan mengalami tabrakan selama 90 menit pengujian.
Kemampuan mengendara penderita OSA semakin memburuk setelah tidur hanya 4 jam malam sebelumya. Begitu pula setelah mengonsumsi alkohol hingga kadarnya di darah mencapai 0,05 (masih dalam batas legal di Australia.)
Setelah mengalami kekurangan tidur, 12 penderita sleep apnea mengalami tabrakan, sementara 8 orang lainnya mengalami hal yang sama setelah minum alkohol. Padahal pengendara yang sehat sama sekali tidak mengalami kecelakaan.
Dalam kondisi normal, 4 penderita sleep apnea mengalami kecelakaan, dibandingkan hanya satu orang dari kelompok peserta yang sehat.
Peneliti utama dari Adelaide Institute for Sleep Health, Andrew Vakulin, mengatakan bahwa, mengendara dalam keadaan kurang tidur atau setelah minum alkohol sudah cukup berbahaya bagi siapa pun. Tapi penemuan terkini mendapati bahwa penderita sleep apnea harus jauh lebih hati-hati lagi. Terutama jika mereka akan mengemudi lebih dari satu jam.
Sementara penelitian-penelitian sebelumnya telah menunjukkan peningkatan dalam keselamatan berkendara pada penderita sleep apnea yang telah dirawat.
Di negara-negara maju, kesehatan tidur dan keselamatan mengendara sudah amat diperhatikan. Inggris misalnya, semua pengendara yang diketahui mendengkur harus melaporkan dirinya pada Driver & Vehicle Licensing Agency (DVLA). Menurut peraturan di sana, jika seorang pengemudi terdiagnosa atau terduga menderita sleep apnea, ia tidak diperbolehkan mengendara sampai gejala kantuknya berkurang dan telah dikonfirmasi oleh tenaga medis. Bahkan pengendara kendaraan umum yang menderita sleep apnea harus diperiksa ulang secara berkala demi keselamatan penumpangnya. Ada pun perawatan utama sleep apnea adalah dengan menggunakan Continuous Positive Airway Pressure (CPAP).
Kematian akibat sleep apnea dapat terjadi disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas maupun kecelakaan kerja. Tetapi bukan itu saja, para ahli kesehatan tidur juga mengingatkan bahwa sleep apnea juga menjadi penyebab hipertensi, gangguan jantung, diabetes dan stroke, yang kesemuanya dapat meningkatkan resiko kematian seseorang.
Olah Raga, Diet dan Tidur
Berbagai informasi di sekeliling menyarankan agar kita menjaga kesehatan dengan berolahraga rutin dan makan makanan yang sehat. Bahkan teman-teman di ‘gym’ pun terus mengingatkan hal yang sama, kurangi makanan berlemak, jangan yang manis-manis, lakukan kardio… dan lain sebagainya. Tapi nyatanya, banyak dari kita sudah bersusah payah menjaga makan dan terus nge-’gym’ masih saja merasa tak bersemangat, cepat lelah dan sulit menurunkan berat badan.
Ada sesuatu yang kurang, dan itu adalah tidur. Ya, kita kurang memperhatikan tidur kita. Dengan tidur yang sehat (cukup dan berkualitas) kita bangun dengan segar, bugar dan penuh semangat. Kita pun tahu bahwa semua makhluk hidup membutuhkan tidur. Sedemikian pentingnya proses tidur, hingga bayi yang baru lahir menghabiskan 22 jam sehari dalam kondisi tidur. Ini untuk menjamin proses tumbuh kembang yang normal. Dan tahukah Anda, bahwa sistem daya tahan tubuh kita hanya bekerja optimal pada saat tidur? Ya, sehingga prlu diingat, segala macam vitamin yang kita berikan pada putra-putri kita akan percuma saja jika tidurnya kurang.
Tidur dan Obesitas
Masalah tidur yang paling berbahaya saat ini adalah sleep apnea, atau henti nafas saat tidur, yang ditandai dengan mendengkur dan kantuk berlebih. Kita juga juga tahu bahwa orang yang gemuk rata-rata tidur mendengkur. Tapi nanti dulu, bagi ras Asia (termasuk Indonesia) tidak perlu gemuk untuk menderita sleep apnea. Ini disebabkan oleh struktur rahang yang sempit dan leher yang pendek pada orang Asia. Henti nafas saat tidur, akan menyebabkan penderitanya terbangun-bangun (tanpa tersadar) dalam tidur. Akibatnya ia akan selalu berada dalam kondisi kurang tidur, walaupun sudah tidur cukup. Tak heran jika penderitanya mudah sekali mengantuk.
Kondisi kurang tidur, baik karena kualitas tidur yang buruk atau jam tidur yang kurang, memiliki nafsu makan yang tinggi. Ini disebabkan oleh menurunnya kadar leptin (hormon pengontrol nafsu makan.) Belum lagi pengaruh kondisi kurang tidur yang menyebabkan seseorang jadi malas untuk berolah raga. Ini menjadi semacam lingkaran setan. Dan untuk memutusnya, sleep apnea harus diatasi terlebih dahulu. Setelah kualitas tidur diperbaiki, akan lebih mudah bagi seseorang untuk menurunkan berat badan.
Berbagai penelitian juga menunjukkan bahwa perawatan sleep apnea akan memperbaiki kondisi kesehatan seseorang. Sleep apnea telah lama dihubungkan dengan hipertensi, gangguan jantung dan stroke. Bahkan di bulan Juni 2008, IDF (International Diabetes Federation) sudah menyarankan agar semua pasien diabetes tipe 2 diperiksa tentang kemungkinan sleep apnea. Caranya, mudah saja, tanyakan kebiasaan mendengkur!
Bagaimana dengan Anda sendiri? Untuk beraktifitas sehari-hari, berapa cangkir kopi yang harus Anda minum? Bagaimana dengan minuman berenergi? Coba pertimbangkan. Semakin Anda merasa lelah, semakin banyak kafein yang Anda butuhkan. Dan bukan saja kafein, pendampingnya seperti gula atau pemanis artifisial juga sudah menjadi konsumsi sehari-hari. Bahkan anak remaja pun minum minuman Cola sebagai pelengkap makan. Ini tentu kurang sehat. Semakin banyak kafein yang diminum, semakin terganggu juga tidur kita di malam hari. Ini menciptakan lingkaran setan yang lain. Kafein akan memberi pengaruh 9-15 jam. Untuk itu, aturlah konsumsi kafein. Nikmati kafein dengan aman, yaitu kira 12 jam sebelum tidur.
Olah raga dan Tidur
Semua orang sudah tahu manfaat olah raga bagi kesehatan. Dengan olah raga yang teratur, seseorang menjadi sehat, bugar, ‘alert’ dan penuh vitalitas. Penderita sleep apnea yang sudah dalam perawatan pun tetap dianjurkan untuk berolah raga. Tetapi untuk mendapatkan manfaat maksimal berolah raga, seseorang harus mengatur ‘timing’-nya dengan baik. Jarak waktu yang dianjurkan adalah tiga jam.
Banyak orang yang berpendapat bahwa dengan berolah raga, tubuh akan merasa lelah sehingga mudah tidur. Ini tidak sepenuhnya benar, saat olah tubuh adrenalin akan meningkat kadarnya dalam darah. Akibatnya walaupun tubuh capek, pikiran kita tetap segar sehingga menyulitkan untuk tidur. Penelitian Prof. Livingston juga menunjukkan hubungan antara suhu inti tubuh dengan tidur. Menjelang tidur, suhu inti tubuh akan menurun. Olah raga akan meningkatkan suhu tubuh, sehingga kita memerlukan waktu untuk menurunkannya sebelum tidur.
Celakanya, banyak pusat kebugaran yang buka hingga larut malam. Banyak juga manusia modern yang berolah raga di malam hari karena berbagai alasan seperti baru sempat, menunggu macet atau untuk membantu tidur. Padahal waktu yang paling tepat untuk berolah raga adalah di pagi atau sore hari. Olah raga di malam hari, akan mempersulit tidur. Pada beberapa orang, karena beban utang tidur, ia masih dapat tidur setelah berolah raga, tapi kualitas tidur akan berkurang. Tak heran jika ia nantinya masih merasa lelah setelah tidur cukup.
Hanya tidurlah yang mampu meningkatkan kemampuan kognitif, mental dan emosional. Tidak ada satu zat pun yang dapat menggantikan tidur. Artinya, kemampuan konsentrasi, analisa, kreativitas dan ketelitian kita amat bergantung pada tidur malam sebelumnya. Tidur bukanlah suatu sikap kemalasan. Justru tidur yang sehat akan meningkatkan produktivitas kita.
**************
Prof. Dement, bapak kedokteran tidur, mengemukakan konsep kesehatan yang disebut Triumvirate of Health. Dimana untuk mencapai kesehatan yang paripurna kita perlu memperhatikan tiga faktor: keseimbangan nutrisi, olah raga teratur dan Tidur yang sehat!
Peluncuran Buku
Peluncuran Buku tentang Kesehatan Tidur "Ayo Bangun! dengan Bugar karena Tidur yang Benar."

Healthy Life Metro TV
Di Sonora
Bersama Trans7
Istirahat Dulu, Ngopi Kemudian
Heru Triyono, Koran Tempo, 24 September 2009.
Link: http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2009 /09/24/Gaya_Hidup/krn.20090924.177089.id.html" title="http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2009 /09/24/Gaya_Hidup/krn.20090924.177089.id.html" target="_blank"http://www.korantempo.com/kor...
Entah firasat buruk apa yang merundung Andreas Prasadja pagi itu. Tiga kecelakaan sepeda motor secara berentetan terjadi di depan mata-kepalanya sendiri. Mulai perjalanan dari rumahnya di Cikini sampai tempat kerjanya di Kemayoran--dia melihat kejadian--peristiwa nahas itu terjadi di dekat Gambir, di Jalan Garuda, dan di Kemayoran.
Peristiwa ini terjadi pada pekan pertama Ramadan lalu. Menurut dia, sebagai ahli kesehatan tidur dari Rumah Sakit Mitra Kemayoran, rasa kantuk menjadi musabab rentetan kecelakaan tersebut.
Andreas, yang merupakan dokter kesehatan tidur pertama di klinik tidur pertama di Indonesia, menjelaskan, di bulan puasa banyak orang yang terlilit utang tidur karena mereka fokus menjalani ritual ibadah selama satu bulan penuh.
Dalam konteks mudik dengan berkendara sepeda motor atau mobil tentu saja sangat berbahaya bagi si pengendara dan orang lain. "Sayangnya, persepsi masyarakat bahwa rasa kantuk itu berbahaya sangatlah kurang," ujar Andreas saat berbincang-bincang lewat telepon dengan Tempo Rabu pekan lalu.
Maka para pemudik harus memperhatikan kesehatan tidur sebelum mereka berkendara. Persiapkan dengan baik, mulai kondisi kendaraan dan kelengkapannya, hingga bekal makanan dan minuman berenergi--seperti kopi--demi menjaga stamina selama perjalanan jauh.
Dan jangan lupa tidur yang cukup sebelum berangkat. Sebab, menurut dokter berkacamata, ini tidak ada satu zat pun yang bisa menggantikan tidur--termasuk dengan minum kopi.
Saat mengantuk, segala fungsi yang diperlukan untuk berkendara bakal menurun drastis. Termasuk fungsi paling penting, yakni kemampuan refleks menghadapi kemungkinan kecelakaan. Kala itu pengendara mulai menguap untuk menarik lebih banyak oksigen ke otak. Mata pun mulai terasa pedih dan berair. Ini adalah tanda awal kantuk.
Untuk menyiasatinya, para pengendara menenggak kopi atau minuman berenergi. Dan rasanya, zat kafein berhasil sementara dalam menjaga kesadaran dan kesegaran mata.
Namun, Andreas menjelaskan bahwa kondisi yang dipulihkan kopi tersebut tidak menyentuh ihwal kewaspadaan dan kemampuan refleks. "Yang bagus adalah istirahat sejenak lalu melanjutkan perjalanan setelah minum sedikit kopi atau minuman berenergi."
Selesai istirahat sejenak bukan berarti risiko mengantuk sirna begitu saja. Saat perjalanan semakin jauh, bahaya tetap mengintai ketika tanpa sadar pengendara sudah masuk dalam periode tidur mikro yang ditandai dengan antukan kepala. Dalam banyak kasus, banyak pengendara mobil atau motor yang ditinggal tidur oleh penumpang lainnya, sehingga sang pengendara tidak punya pengalihan akan rasa kantuknya. "Seharusnya ada salah satu penumpang (di mobil) yang menemani," kata Andreas.
Dari rasa lelah dan kantuk yang tak tertahankan itu, banyak pengendara yang lupa akan perjalanan yang mereka lalui selama 10-15 menit terakhir. Namun, pada umumnya mereka tetap meneruskan perjalanan dengan tenang.
Andreas memaparkan bahwa saat berkendara dengan rasa kantuk berat sebenarnya ada sebuah mekanisme otomatis yang membimbing mereka. "Tetapi saat itu otak sebenarnya sudah tertidur, sudah shutdown, dan pengendara menyetir pure dengan insting," dia menjelaskan.
Lebih jauh, berkendara--siang maupun malam hari--sama berisikonya. Dengan kelelahan hari raya dan utang tidur yang menumpuk, kantuk akan tetap menyerang dengan intensitas yang sama. Namun, menurut Andreas, manusia itu adalah makhluk cahaya yang beraktivitas di siang hari dan istirahat di malam hari. Semua diatur oleh jam biologis yang menentukan kapan beraktivitas dan kapan harus beristirahat. Bila orang beraktivitas di saat seharusnya istirahat, jam biologis secara otomatis akan mendatangkan kantuk.
Tip dari Andreas, bagi pemudik yang berusia di atas 30 tahun, tidur 15 menit sudah bisa mencukupi satu siklus tidur. Lalu kenali juga gangguan-gangguan tidur yang menyebabkan kantuk berlebih. Seperti sleep apnea (ditandai dengan mendengkur), sindroma tungkai gelisah (kaki gerak-gerak saat tidur), dan narkolepsi atau sleep attack.
Suara musik dari walkman atau speaker mobil tetap tidak efektif memulihkan rasa kantuk. Karena itu, kenalilah tanda-tanda kantuk yang dapat membahayakan. "Berkendara dalam kondisi mengantuk sama bahayanya dengan berkendara sambil mabuk," Andreas mengingatkan.HERU TRIYONO
Tanda-tanda kantuk mulai membahayakan:
- Kehilangan konsentrasi, sering mengerjapkan mata atau mata terasa berat
- Pikiran menerawang
- Sulit mengingat yang telah dilewati, melewatkan rambu atau lampu lalu lintas
- Berulang kali menguap dan mengusap-usap mata
- Sulit menjaga kepala dalam posisi tegak
- Melenceng dari jalur, dan melanggar marka-marka jalan
- Merasa lelah dan mudah emosi
Apakah Anda berisiko? Sebelum berangkat periksa apakah Anda:
- Kurang tidur atau lelah (tidur kurang dari 6 jam memicu risiko 3 kali lipat)
- Menderita insomnia, gangguan tidur yang menimbulkan kualitas tidur buruk (mendengkur), atau menanggung banyak utang tidur
- Melakukan perjalanan jarak jauh tanpa jeda istirahat yang cukup
- Berkendara pada jam-jam tidur
- Mengkonsumsi obat-obatan yang membuat kantuk (antihistamin, antidepresan)
- Bekerja lebih dari 60 jam seminggu (meningkatkan risiko hingga 40 persen)
- Mengerjakan dua pekerjaan sekaligus dan pekerjaan utamanya dengan shift malam
- Meminum minuman beralkohol (walau sedikit)
- Berkendara sendirian atau melewati jalan yang panjang, sepi, dan membosankan
Sebelum berkendara, pengemudi sebaiknya:
- Tidur cukup. Pada orang dewasa 7,5-8,5 jam, sedangkan pada remaja atau dewasa muda (18-29 tahun) 8,5-9,25 jam. Persiapan tidur sebaiknya sudah dimulai, sekurangnya tiga hari sebelum keberangkatan.
- Untuk perjalanan jauh, usahakan jangan berkendara sendirian. Teman seperjalanan dapat membantu melihat tanda-tanda kantuk dan dapat menggantikan untuk sementara waktu. Penumpang sebaiknya tidak tidur dan mengobrol dengan pengendara.
- Hindari alkohol dan obat-obatan yang menyebabkan kantuk.
- Berkonsultasilah pada dokter atau klinik gangguan tidur jika mengalami kantuk berkepanjangan, sulit tidur di malam hari, dan/atau tidur mendengkur.
Sumber: buku Ayo Bangun! dengan Bugar karena Tidur yang Benar (dr Andreas Prasadja RPSGT, ahli kesehatan tidur Sleep Disorder Clinic, RS Mitra Kemayoran)HERU TRIYONO
Seorang Pasien Restless Legs Syndrome
Tapi ternyata, kasus yang dijumpai begitu rumit. Pasien seorang wantia berusia 73 th. dengan riwayat jantung koroner pasca pemasangan ring dua kali dalam setahun kemarin. Suami pasien menceritakan bahwa pasien sudah tidak tidur selama satu tahun! Mana mungkin?!?! Pikir saya. Suaminya sampai merasa ikut tak bisa tidur karena harus menjagai istrinya. Pasien bisa tertidur sejenak untuk kemudian terbangun kaget dan tak bisa tertidur kembali. Ketika ditanya tentang nafas, sang suami menyangkal kalau pasien mendengkur.
Suami pasien juga berpesan agar istrinya jangan diberi obat tidur, karena pernah suatu kali ia tertidur hingga 10 jam tanpa bisa dibangunkan setelah mengkonsumsi sebutir obat tidur.
Pasien tampak lelah tak bersemangat, pandangannya kuyu khas orang yang kekurangan tidur. Ia tak bisa berbaring lama. Ia merasa lelah namun bingung, karena ia mengantuk namun tak bisa tidur. Sebelum tidur ia biasa bermeditasi, tetapi belakangan untuk sekedar duduk diam dan berkonsentrasi pun ia sudah tak sanggup. Sebentar-sebentar ia harus berjalan atau mengurut-urut kakinya.
Ia tampak menggunakan kaus kaki. Saya tanya, apakah ia kedinginan. Tidak, menurutnya ia lebih nyaman menggunakan kaus kaki. Apakah ada rasa tidak nyaman di kaki ibu? Sakit, sebab asam urat yang tinggi.
Dalam wawancara, pasien tampak tertidur sejenak dan tiba-tiba terbangun kembali saat kaki bergerak kaget. Binggo!!!
Kemudian saya jelaskan bahwa ia menderita Restless Legs Syndrome (sindroma tungkai gelisah), berupa gangguan pada saraf kaki yang menyebabkan rasa tak nyaman (bisa sakit, pegal, kesemutan dan lain-lain.) Yang khas, rasa tidak nyaman tersebut baru hilang jika kaki digerak-gerakkan atau dipijat. Akibatnya penderita tidak bisa tidur karena dorongan untuk menggerakkan kaki. Yang merepotkan RLS sering dibarengi dengan PLMS (periodic limb movements in sleep) berupa gerakan periodik kaki seperti terkejut-kejut yang menyebabkan si penderitanya bangun.
Setelah dijelaskan bahwa obat yang diberikan bukanlah obat tidur, pasien mau meminumnya secara teratur sebelum tidur. Keesokan hari, putranya menghubungi saya, setelah setahun tak bisa tidur ibunya telah dapat tidur tanpa terputus selama 2 jam! Ibunya pun merasa jauh lebih segar dan merasa dapat berpikir jernih kembali. Malam-malam berikutnya pun ia dapat tidur dengan lebih baik lagi.
TIDURLAH… DAN JADI LEBIH PRODUKTIF
Oleh Lucky F. C. Lombu
Banyak orang yang terlanjur memposisikan tidur sebagai aktivitas biasa, yang dilakukan tiap malam. Setelah bekerja seharian, lelah, kemudian tidur. Tapi faktanya, tidur dan segala hal yang menyertainya tidaklah sesederhana meletakkan tubuh di atas kasur. Banyak hal yang bisa mempengaruhi dan dipengaruhi olehnya.
Menurut dr. Andreas Prasadja, RPSGT, ahli kesehatan tidur dari RS Mitra Kemayoran yang juga adalah dokter kesehatan tidur pertama di klinik tidur pertama di Indonesia, kualitas tidur seseorang juga bisa mempengaruhi produktivitasnya. “Saya ingin mematahkan mitos: Tidur identik dengan malas. Salah! Tidur justru produktif,” kata dr. Ade –sapaan akrab dr. Andreas. Menurutnya, kemampuan produktivitas seseorang bergantung pada kualitas tidur. “Tidak ada satu zat pun yang bisa menggantikannya, termasuk stimulan seperti kopi maupun multivitamin. Stimulan hanya menghilangkan rasa ngantuk, tapi tidak menggantikan manfaat tidur,” kata penulis buku Ayo Bangun! Dengan Bugar Karena Tidur yang Benar.
ATASI GANGGUAN TIDUR
Banyak faktor yang membuat Anda tidak bisa tidur dengan mudah. Ingin mengatasinya? Coba baca dan temukan kebenaran –atau kesalahan– dari mitos-mitos berikut ini untuk mendapatkan tidur yang lebih berkualitas lebih baik.
Mitos: Olahraga sebelum tidur, membantu Anda tidur
Anda mengira, olahraga selain akan menambah vitalitas, juga akan membuat Anda lelah. Dengan kata lain akan membantu Anda tertidur. “Itu pendapat yang salah,” kata dr. Ade. “Badan memang capek, tapi dengan berolahraga adrenalinnya naik, sehingga otaknya menjadi semakin segar.”
Solusi: “Misalnya Anda selesai fitnes jam 9 malam. Kalau Anda tidur di atas jam 12 malam, mungkin masih bisa. Tapi kalau seperti saya yang biasa tidur jam 9 atau 10, hasilnya… tidak bisa tidur.” Maka, jagalah jarak waktu antara olahraga dengan jam tidur. Sebaiknya lebih dari tiga jam, menurut dr. Ade.
Mitos: Alkohol membuat Anda tertidur
Alkohol memang bisa membuat Anda tertidur. Atau untuk beberapa kasus lebih tepat disebut teler. Tapi, alkohol juga memiliki efek buruk. Anda tidak akan tertidur pulas, mudah terbangun, dan kepala Anda akan terasa pusing (karena mabok) saat Anda bangun. Alkohol membuat tidur seseorang tidak ‘mulus’, “Malah membuat kualitas tidur Anda menjadi tidak baik,” kata dr. Ade.
Solusi: Untuk menghasilkan tidur yang berkualitas, sebaiknya Anda tidak meminum alkohol menjelang tidur.
Mitos: Mendengkur tanda pulas
Selain rasa kantuk yang berlebih, mendengkur adalah tanda Anda terkena sleep apnea, atau henti napas saat tidur. Dan penyakit ini sangat berbahaya karena bisa menyebabkan hipertensi, diabetes, gangguan jantung, bahkan stroke.
Solusi: “Karena ini masalah yang serius sekali sehingga harus diperiksa,” katanya. Untuk itu, pasien harus menginap di laboratorium tidur. Ia akan ditempeli sensor yang akan merekam gelombangnya ketika ia tidur. Kemudian hasilnya akan diteliti dan diberikan tindakan lebih lanjut.
Mitos: Mendengar musik dan membaca adalah penghantar tidur
Semua hal yang membuat relaks bisa membantu Anda tidur. Tapi ingat, harus benar-benar membuat Anda relaks. Artinya, jika Anda sudah mendengar belasan jenis musik, atau membaca beberapa judul buku tapi Anda tidak relaks, Anda tetap tidak akan tertidur.
Solusi: “Saya selalu membiasakan pasien memiliki kebiasaan sebelum tidur. Sesuatu yang sehat, menyenangkan dan memberi efek relaks,” kata dr. Ade. Dan dengan asumsi orang pada umumnya mudah sekali bosan dengan aktivitas rutin, persiapkan penghantar tidur alternatif setiap harinya.
Mitos: Suhu udara dan cahaya mempengaruhi tidur
Mengenai suhu udara, itu tergantung selera masing-masing. “Tapi soal cahaya, harus gelap. Tidak bisa ditawar.” Alasannya, melatonin, semacam hormon tidur, hanya diproduksi oleh tubuh saat gelap.
Solusi: Sesuaikan suhu udara dengan kondisi yang Anda inginkan, lalu matikan lampu di ruangan Anda, dan tidurlah.
Mitos: Obat tidur tidak baik untuk tidur
Yang paling ditakuti dari obat tidur adalah adiksi dan toleransi. “Adiksi artinya kecanduan, dan toleransi dalam arti badan bertoleransi dengan dosis obat. Sehingga lama kelamaan butuh dosis yang makin tinggi. Di masa tahun 1960-an, jenis obat tidur masih terbatas sekali. Dan memang membuat kecanduan,” katanya.
Solusi: Obat-obatan sekarang, walau tetap ada efek sampingnya, cenderung aman. Untuk itu gunakan obat tidur dalam dosis yang tepat dan dalam pengawasan dokter.
Mitos: Utang tidur Anda bisa dibayar
Kalau hanya kurang setengah jam masih bisa dibayar. Kalau usia 30-an, paling tidur siang hanya 15 menit. Kalau usia 20-an, masih bisa tidur satu-dua jam. Sehingga kalau tidur malam kurang, siangnya masih bisa,” katanya. Hal ini disebabkan karena kemampuan adaptasi seseorang akan semakin menurun seiring bertambahnya usia. Termasuk juga kebutuhan tidurnya.
Solusi: Ketahui berapa lama kebutuhan tidur Anda. Banyak orang menganggap waktu tidurnya sudah cukup, tapi belum tentu benar. Cobalah tidur sampai Anda benar-benar merasa puas. Dan rasakan apakah Anda menjadi lebih produktif.
Mitos: Tidur lebih cepat lebih baik
“Itu hanya mitos!” kata dr. Ade. Misalnya Anda terbiasa tidur di atas jam 12 malam. Dan Anda dipaksa tidur jam 10. “Mana bisa? Ada jam biologis. Jam biologis saya dengan jam biologis Anda belum tentu sama. Jam biologis ini yang menentukan kapan kita segar, kapan kita ngantuk,” lanjutnya
Solusi: Ikuti saja jam biologis Anda.
Mitos: Stres bikin tidur
“Orang stres karena masalah sudah pasti tegang dan tidak bisa tidur,” kata dr. Ade. Tapi kalau stres karena beban pekerjaan yang bertumpuk, ditambah banyaknya beban utang tidur, Anda bisa saja mengantuk. Jadi, Anda mengantuk bukan karena Anda stres, tapi karena kurang tidur.
Solusi: Kendalikan stres Anda. Anda bisa menggunakan metode hipnoterapi untuk membantu memperbaiki kualitas tidur. Tetap, kebiasaan tidur yang baik harus diutamakan. “Ada pasien yang sudah sembuh, tapi kembali melakukan kebiasaan yang buruk. Hasilnya, kembali lagi,” katanya. (NIN)
[Dikutip dari Rubrik Solusi Majalah Men's Health Indonesia edisi Agustus 2009]














